"Jadi begini, bisakah saya minta tolong ke kamu untuk sedikit menutup mulut atas kejadian tadi. Kamu tau kan jika hal tadi diketahui banyak orang saya bisa saja dipermalukan di depan umum? Jadi, saya harap kamu bisa lebih berhati-hati dalam berbicara nantinya," ucap Naresh.
Naresh benar-benar tak ada niatan untuk mengkonfirmasi jika apa yang telah dilihat Aruna tadi adalah kesalahan pahaman.
"B-baik, Pak. Kejadian tadi akan saya simpan untuk diri saya sendiri, Pak Naresh tidak perlu khawatir jika saya akan membocorkannya," ujar Aruna yakin.
Naresh tersenyum sedikit mendengar jawaban gadis di depannya itu, menahan agar tawanya tak pecah karena mendengar betapa seriusnya obrolan mereka itu.
"Baiklah, saya bisa sedikit lega sekarang. Sudah itu saja yang ingin saya bahas, kamu bisa kembali ke ruangan dan melanjutkan pekerjaan. Tolong nanti panggilkan Saga untuk masuk," ucap Naresh.
Aruna mengangguk dan segera berdiri dari tempat duduknya, sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan untuk pimpinan barunya itu. Aruna langsung membalikan badan dan berjalan menuju pintu keluar.
"Maaf Pak Saga, Pak Naresh menunggu anda di dalam," ucap Aruna sopan ketika melihat Saga yang sendirian di luar ruangan yang terlihat sangat sibuk dengan ponselnya.
Saga menoleh saat Aruna berbicara dan hanya mengangguk sebagai jawaban. Aruna pun setelah menyampaikan pesan dari bos barunya itu langsung pamit kepada Saga untuk kembali ke ruangannya.
Saga segera menyimpan ponselnya ke dalam saku dan bergegas masuk ke dalam ruangan Naresh.
"Permisi, Tuan," ucap Saga.
"Sekarang kita hanya berdua, kau bisa lebih formal tidak? Atau akan ku lempar kepalamu itu dengan dokumen-dokumen sialan yang membuatku pusing ini!"
"Baik, Tuan. Sebelum kamu melanjutkan pekerjaan, saya sedikit akan menyampaikan tentang apa yang ditemukan oleh orang suruhan saya di lapangan untuk mencari informasi terkait kematian tuan besar."
Naresh yang mendengar tentang itu langsung bersemangat, tujuan utamanya hidup sekarang adalah untuk menemukan dan menuntut balas atas kematian ayahnya dan juga untuk membayar rasa sakit yang harus Naresh dan ibunya alami.
"Katakan," ucap Naresh singkat.
"Begini, Tuan. Orang saya menemukan jika ada seseorang dengan pakaian serba hitam berada di sekitar mobil yang dipakai oleh tuan besar. Dan ada kemungkinan jika orang itu adalah orang suruhan dari musuh untuk menyabotase mobil. Tapi sialnya, orang itu memakai masker dan topi. Jadi, kita masih kesulitan untuk melacak siapa orang itu," jelas Saga.
"Bukankah kamu sudah memiliki nama orang yang berkemungkinan besar adalah otak dari kecelakaan ini? Apakah ada pergerakan dari mereka yang mencurigakan?" tanya Naresh.
"Saya sudah menugaskan orang untuk mengawasi dan mencari tau, tapi sejauh ini mereka masih belum menunjukkan pergerakan yang mencurigakan, Tuan. Mungkin karena masih terlalu dini untuk membongkar masalah ini, Tuan. Tapi saya akan berusaha untuk menemukan orang misterius yang tertangkap Kamera cctv ini agar bisa menemukan sedikit titik terang."
***
"Aruna ini sudah waktunya makan siang, apakah kamu benar-benar tak ingin pergi ke kantin dan makan bersama kita?" tanya Alin, salah satu rekan kerja satu bagian Aruna.
"Iya nih, masih banyak yang harus aku cek. sore nanti aku harus melaporkan data keuangan perusahaan pada bos baru kita," jawab Aruna.
"Begitukah? Oh iya, apakah dia bersikap dingin seperti awal kita bertemu tadi di lobi saat Pak Saga mengenalkan Pak Naresh?"
"Sudah jangan membahas hal yang tidak-tidak, kamu cepat pergi dan makan sana. Nanti saat kembali aku nitip belikan jus alpukat ya," jawab Aruna mencoba untuk tak membahas tentang bos barunya.
Aruna akan sangat merasa bersalah jika nantinya ia terpancing menggosip dengan temannya ini dan secara tak sengaja ia kelepasan membahas tentang skandal hubungan antara bos barunya itu dengan sesama jenis.
"Aish kau ini! Sepertinya bos baru kita itu akan menjadi idola baru dikalangan karyawati kita deh. Banyangkan jika orang setampan dia memiliki sikap yang dingin di depan orang, tapi ketika hanya berdua dia akan berubah menjadi sosok yang hangat dan menyenangkan-"
Aruna melemparkan bolpoin yang di pegangnya ke arah Alin untuk menyadarkan sahabatnya itu agar bangun dari dunia khayalannya.
"Berhentilah untuk mengkhayal yang tidak-tidak dan segeralah pergi dari sini sebelum jam istirahat selesai," ucap Aruna mematahkan semua khayalan Alin.
"Dasar, ya udah aku pergi duluan ya. Siapa tau nanti aku bisa bertemu dengan bos kita, nanti aku akan tebar pesona jika memang aku bertemu dengannya."
Aruna tak menanggapi sahabatnya itu dan kembali fokus ke layar komputer miliknya. Merasa tidak ditanggapi oleh sahabatnya, Alin berdecak dan memungut bolpoin yang jatuh di lantai lalu melemparkannya ke arah Aruna dan langsung pergi sebelum ia kena omel dari Aruna.
"Dasar Alin! Aku harap suatu saat Alin memergoki sendiri bos baru itu saat sedang bermesraan dengan karyawannya. Mau menggoda seperti apapun, jika dia tak menyukai lawan jenis hanya akan sia-sia. Aihh! Kenapa juga sih, orang setampan itu harus memiliki orientasi yang menyimpang," ucap Aruna yang setia berbincang dengan dirinya sendiri.
Aruna harus mengemban tugas yang sangat besar baginya. Menyimpan rahasia besar milik orang lain sendirian, sungguh sial sekali bagi Aruna.
***
"Baik saya akan segera ke sana, tolong tenangkan ibu saya," ucap Naresh pada orang diseberang sana.
Naresh lalu menutup ponselnya dan menyimpannya. Dengan tergesa-gesa ia keluar dari ruangannya.
"Saga tolong kamu tangani dulu pekerjaan kantor, aku harus ke tempat ibuku. Dan tolong katakan pada supir agar menyiapkan mobil," ucap Naresh pada Saga yang tengah duduk di meja kerjanya.
"Apakah perlu saya temani, Tuan?"
"Tidak usah, kamu di sini saja. Takutnya nanti tak ada yang menangani kantor jika kamu ikut. Aku bisa pergi sendiri," jawab Naresh.
Naresh meninggalkan tempat itu dan bergegas untuk keluar. Ia benar-benar harus menerima kenyataan jika ia akan sangat sibuk setelah ini. Tapi Naresh juga tidak bisa mengabaikan ibunya.
Setelah masuk ke dalam mobil. Supir langsung menyalakan mobil dan melesatkan mobil ke tujuan yang Naresh minta.
Tak perlu memakan waktu yang lama, Naresh sudah sampai di tempat ibunya dirawat. Naresh langsung berlari kecil menuju ruangan tempat ibunya dirawat.
Sampai di sana Naresh melihat ibunya yang sedang berontak dengan kedua tangannya dipegangi oleh suster yang berjaga.
"Bu ... Ibu tenang ya, ini Naresh, Bu. Ibu kenapa kok marah-marah? Apakah ada yang membuat ibu marah hari ini?" tanya Naresh dengan nada lembut.
Sandra hanya menatap wajah putranya itu sebentar lalu kembali berteriak-teriak memanggil nama suaminya dan menanyakan kemana suaminya pergi.
"Sepertinya depresi yang dialami ibu anda semakin hari semakin parah, saya tidak bisa menjamin kesembuhannya. Obat-obatan yang diberikan hanya bisa sedikit menenangkan ibu Sandra, itupun tidak dalam waktu yang lama," ucap dokter yang menangani Sandra.
"Tapi bagaimana sampai ibu bisa seperti ini, Dok? Apakah ada pemicu?" tanya Naresh.
"Seperti yang anda duga, Tuan. Tadi sepertinya ada yang berhasil masuk ke dalam ruangan ini dan menyampaikan berita atau apa yang membuat kondisi ibu anda memburuk."
Naresh mengepalkan tangannya mendengar apa yang baru saja dokter itu sampaikan.
"Seperti apa muka orang itu?" tanya Naresh.
"Menurut suster, tadi ketika mendengar suara teriakan dari ibu Sandra ada yang keluar dari ruangan ini. Orang itu memakai baju serba hitam, topi, dan juga wajahnya ditutupi masker, Tuan. Dan juga suster menemukan foto ini tergeletak di bawah samping kasur," ucap dokter.
Naresh menerima foto yang diberikan dokter itu. Matanya seketika membulat saat mengetahui apa yang dilihatnya saat itu.
"Sial! Pantas saja kondisi ibu memburuk, ternyata ada orang yang berencana memperburuk kondisi ibu. Siapapun orang itu, akan aku pastikan dia akan lebih menderita dari ibu!"
Naresh mengambil ponsel miliknya dan membuat panggilan telepon.
"Halo Saga, tolong kamu carikan beberapa orang yang nantinya akan bertugas menjaga ibu di rumah sakit. Sepertinya ada tikus yang akan mulai menampakan taringnya," ucap Naresh.
Setelah memberikan perintah itu, Naresh kembali menatap pilu dengan kondisi Sandra yang masih berteriak-teriak itu. Dan akhirnya Naresh menyerah karena sebanyak apapun ia berusaha untuk membujuk ibunya agar lebih tenang tak membuahkan hasil.
"Berikan ibu suntikan penenang saja, Dok. Sepertinya jiwanya sangat terguncang kali ini sampai ibu tak mengenaliku," ucap Naresh sedih.
Dokter itu mengerti dan langsung melakukan apa yang diminta Naresh. Dengan sedikit bersusah payah dokter itu menyuntikkan obat penenang pada Sandra. Sandra pun berangsur melemah lalu tertidur pulas efek dari obat itu.
Naresh mendekat dan menggenggam tangan ibunya. Dengan tatapan sedih dan air matanya mulai menitik, ia merasa sudah gagal menjaga ibunya karena disibukkan dengan aktivitas barunya di kantor.
"Naresh janji akan lebih waspada kali ini, Bu. Tolong bersabarlah lebih lama, Naresh akan berusaha lebih keras untuk mencari dan segera membalaskan dendam kita pada orang yang telah menghancurkan keluarga kita. Dan cepatlah pulih, Bu. Naresh rindu dimanjakan olehmu," ucap Naresh pada ibunya yang masih setia menutup matanya.
Naresh mencium punggung tangan ibunya dan meletakkan tangannya secara perlahan agar tak mengusik tidurnya. Naresh lalu bangun dan menghampiri dokter yang ditugaskan untuk menangani ibunya.
"Saya akan kembali ke kantor, tolong jaga ibu saya selagi saya tidak ada ya, Dok. Nanti juga akan ada penjaga tambahan di depan ruangan ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Jika ada masalah lagi tolong segera hubungi saya," ucap Naresh.
Diam-diam dari suster yang berjaga tersenyum sinis saat mendengar jika Naresh memberikan penjaga tambahan untuk menjaga ibunya. Sepertinya akan lebih sulit kali ini untuk suster itu melancarkan aksinya.