"Tapi, Kak ... aku hanya akan pergi sebentar kok, jadi aku harap kakak memberikan ijin ya. Lagi pula kan aku nggak setiap hari jugak pergi bermain, ini juga acara perpisahan yang teman sekolahku buat untuk aku," rengek Naya pada kakaknya yang dinginnya melebihi es itu.
Saga hanya diam tak sedikit pun ia terusik dengan rengekan adik semata wayangnya itu untuk pergi bersama dengan teman-temannya. Meskipun Saga tau dan percaya jika adiknya itu tak akan berani melakukan hal aneh yang dapat merugikan dirinya sendiri, tapi Saga sedikit tak percaya dengan beberapa teman laki-laki Naya.
Naresh masuk ke dalam rumah. Lamat-lamat ia mendengar suara Naya yang tengah merengek pada kakaknya. Naresh memperhatikan dari balik pintu, menyaksikan dua orang bersaudara itu tengah beradu argumen.
Saga yang tetap pada pendiriannya dan tak mengijinkan Naya untuk pergi, begitu pula dengan Naya yang masih bersikeras untuk pergi.
Karena tak ingin menyaksikan drama itu terlalu lama, Naresh akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar milik Saga tanpa ijin dan langsung memberikan pendapatnya tanpa diminta.
"Ya, Saga. Kau ini terlalu kolot untuk remaja jaman sekarang, kau tau itu bukan? Naya hanya ingin mengadakan perpisahan dengan temannya, tapi kenapa kamu malah mempersulitnya seperti ini?" tanya Naresh mencoba membantu Naya.
"Tuan, lebih baik anda beristirahat sekarang. Anda tidak perlu repot-repot mengurusi anak kecil nakal ini, saya memutuskan sesuatu pasti karena ada alasan, Tuan," jawab Saga.
Bola mata Naya membulat sempurna saat mendengar Saga dengan mudahnya menyebut jika dirinya masih anak kecil.
"Kenapa? Kamu tak terima kakak menyebutmu anak kecil?" tanya Saga saat menyadari ika adiknya telah memberikan satu tatapan tajam miliknya.
"Ishh kak Saga mah nggak bisa ngertiin aku, lagi pula aku juga sudah cukup dewasa kak. Aku bukan anak kecil yang bisa kak Saga atur harus ini dan itu, bukankah aku juga bisa menentukan pilihanku sendiri. Jika untuk masalah sekecil inipun kak Saga belum bisa menghargai apa yang aku inginkan, bagaimana jika suatu saat aku memiliki kekasih, Kak? Apakah nantinya kakak juga akan mencarikan aku jodoh seperti apa mau kak Saga?" ujar Naya dengan sedikit nada penuh ketidaksukaannya.
"Sudahlah, Saga. Berikan Naya kesempatan untuk menentukan pilihannya ada sendiri. Atau kalau kamu memang belum bisa sepenuhnya percaya, kamu bisa meminta beberapa pengawal untuk menemani dan mengawasi Naya," ucap Naresh memberikan solusi.
Naya tersenyum tulus pada Naresh, seolah ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya membujuk kakaknya itu.
Saga memijat keningnya yang merasa sedikit pusing harus memikirkan dua bayinya, yang sekarang sudah bisa diajak untuk bekerja sama untuk melakukan pemboikotan terhadap keputusan ada Saga.
"Baiklah kau bisa pergi, tapi akan ada pengawal yang terus menemani dan mengawasi kamu. Jika terjadi sesuatu di sana segeralah berteriak agar pengawal bisa sesegera mungkin mencari dan membantumu," ucap Saga.
Naya sangat senang akhirnya rencananya disetujui oleh kakaknya itu. Naya langsung beringsut untuk memberikan pelukan pada Saga.
Naresh yang memang sejak lama sudah terpisah dengan adiknya pun merasa itu karena tidak bisa mendengarkan bahkan saling usil dengan adiknya.
"Bisakah kalian tak menampilkan sisi manis ini di depanku? Bukannya aku ingin mengganggu atau menghentikan acara manis kalian ini, tapi aku hanya iri karena aku masih berjauhan dengan adikku. Dan kau Naya, apakah begini caramu berterimakasih pada orang yang sudah membantumu? Apakah kau tak ingin memberikan aku pelukan juga?" tanya Naresh.
Naya kebingungan untuk menjawab ataupun harus memberikan respon seperti apa atas permintaan Naresh. Naya melihat ke arah Saga, mencoba mencari tau apa jawaban yang harus diberikannya Naresh.
Saga mengerti dengan kebingungan sang adik, jadi Saga menganggukkan kepalanya sebagai bantuan atas jawaban yang diinginkan Naya.
"Apakah benar boleh?" tanya Naya k
dengan sedikit ragu terpancar dari wajahnya.
Naresh yang memang tidak suka basa-basi, langsung menarik lengan Naya dan merengkuh tubuh mungil gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri ke dalam pelukannya. Saga menatap momen manis itu dengan senyum bahagia, tak lupa ia mengambil momen itu menggunakan ponsel miliknya.
***
Aruna melepaskan kaus kaki miliknya dan langsung melemparkannya ke sembarang tempat. kemudian ia langsung memilih untuk membaringkan tubuhnya di kasur empuk miliknya.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu diketuk terdengar dari luar pintu kamar milik Aruna.Dengan segenap rasa malas yang kini menyerangnya, Aruna berusaha semaksimal mungkin untuk bangun untuk membukakan pintu kamarnya.
"Ternyata ayah, aku pikir tadi siapa," ujar Aruna saat mendapati ayahnya ada dibalik pintu miliknya.
"Memangnya kamu berharap siapa yang datang? Kenapa wajah itu ditekuk juga? Kamu tidak suka melihat ayah datang untuk menjenguk dan melihat putri Ayah yang cantik ini, Hem?" tanya Agra.
"Bukan begitu, Yah. Tapi tumben saja, biasanya ayah tak pernah datang ke kamarku, itu aja sih."
"Yakan dulu keadaannya berbeda, Sayang. Kalau dulu kan kamu belum bekerja dan masih banyak memiliki waktu untuk ayah, sedangkan sekarang kamu sudah harus bekerja demi mengejar karirmu," ucap Angkara.
Aruna mengangguk mengiyakan jika memang faktanya ia sangat dihadapkan oleh ayahnya. Ia sangat menyadari akan hal itu, sehingga jika ada jatah untuk libur Aruna pasti akan memilih untuk memakai jam istirahatnya itu untuk tidur, berbelanja, ataupun menghabiskan waktunya di rumah bersama kakaknya.
"Bagaimana hari kerja hari ini? Apakah ada yang membuat anak Ayah kelelahan hari ini?" tanya Agra.
"Baik kok, Ayah. Hanya sedikit lebih lelah aja dibandingkan sebelumnya karena tadi harus menyelesaikan banyak sekali dokumen, karena pimpinan baru di kantor meminta untuk melaporkan hasil kerjaku tadi," ujar Aruna menjelaskan.
"Aaa jadi dia sudah dikenalkan. Apakah dia seorang pemimpin yang baik?" tanya Agra.
"Dia sebenarnya baik dan juga cukup tegas. Dan juga tampan pastinya, teman sekantor pun banyak yang suka pada bos baru itu. T-tapi ...,"
"Tapi? Kamu juga menyukainya?"
"Bukan begitu, Yah. Justru kebalikannya, di hari dia pertama masuk. Orang itu justru membuat semua ekspektasi yang aku bangun menjadi hancur saja," ucap Aruna.
"Memangnya dia kenapa?"
"Aku memergoki bos baru itu sedang melakukan hubungan terlarangnya dengan orang kepercayaannya tuan besar, Yah."
"Lalu dimana letak kesalahannya?" tanya Agra.
"Ya gimana ya, sebenarnya kalo orang kepercayaan tuan besar itu wanita sih nggak masalah ya, Yah. Tapi di sini masalahnya dan yang bikin aku sampai tercengang lebih ke jijik sih, tadi tu mereka sedang melakukan hal tak senonoh di dalam lift. Dan aku kan dipanggil ke ruang pimpinan di lantai khusus, jadi aku terpaksa harus naik lift khusus itu juga. Eh taunya aku harus melihat adegan itu, Yah." Aruna menjelaskan semuanya detail masalah yang bisa membuatnya sampai hilang respect dan tak lagi menyukai bos barunya itu.
Agra mendapatkan informasi yang menarik dari sumber yang dapat dipercaya sekarang. Sebuah senyum yang sulit untuk diartikan kini menghiasi wajah Agra.
"Jika memang seperti itu adanya, lebih baik kamu menjaga jarak dengannya saja, sayang. Lagi pula bukankah dia baru saja kehilangan ayahnya? Bisa-bisanya dia secepat itu melupakan almarhum dan berbuat perbuatan seperti itu di tempat umum pula," ucap Agra.
"Ya begitulah, Yah."
Agra mengusap pucuk kepala anaknya sayang. Memberikan dukungan dan semangat pada Aruna dengan sebuah pelukan hangat.
"Kamu yang kuat ya, Nak. Lagi pula itu kan pilihan kamu sendiri, kemarin waktu baru wisuda ayah tawarkan untuk bekerja di perusahaan ayah kamu tidak mau. Selama bos kamu itu masih bisa bersikap profesional dalam bekerja, sepertinya itu bukanlah hal yang buruk. Lagi pula negara kita juga sekarang seperti sudah terbiasa dengan adanya kaum pelangi ini. Ya meskipun belum seterbuka di negara barat sana," tutur Agra memberikan wejangan kepada Aruna.
"Benar juga sih, Yah. Dulu ketika kuliah pun sebenarnya aku banyak melihat dan bahkan aku punya teman yang seperti ini, tapi dulu aku tak sesedih ini saat tau jika mereka adalah kaum pelangi," ucap Aruna.