Naya mengetuk pintu kamar Naresh pagi-pagi sekali. Dia sudah menyiapkan sarapan spesial yang telah ia siapkan sejak pagi untuk Naresh. Sebagai tanda terima kasih karena semalam ia sudah membantunya membujuk Saga.
"Kak, apakah kak Naresh masih tidur? Segeralah bangun, bersiap lalu mandi, Kak. Aku sudah menyiapkan sarapan spesial pagi ini untuk kakak," panggil Naya dari balik pintu kamar.
Merasa tak mendapatkan jawaban dari dalam kamar, Naya memutuskan untuk kembali ke kamarnya sebentar untuk menyiapkan keperluan sekolah miliknya. Hari ini ia sudah mulai aktif masuk di sekolah X, ia harus menjalani kehidupan barunya di sini. Meskipun sebenarnya ia akan sangat merasa kesulitan karena harus menyesuaikan diri lagi dari awal, padahal tak ada setaun lagi dia sudah akan lulus dari SMA.
Naya menyiapkan semua buku-buku yang harus ia bawa, lalu mematut diri di cermin. Setelah yakin dengan penampilannya Naya keluar dari kamar dan segera pergi ke ruang makan.
Sampai di sana ternyata ia belum mendapati siapapun di sana. Saga yang biasanya sudah bangun pun belum ia lihat hari ini. Naya memutuskan untuk pergi dan melihat ke kamar kakaknya.
Betapa terkejutnya ia saat mendapati kakaknya itu masih damai dalam dunia mimpinya. Tak ada tanda-tanda Saga akan segera meninggalkan dunia mimpinya yang sepertinya pagi itu sedang indah.
"Kak Saga! Apakah kakak tidak mau berangkat kerja? Ini sudah pagi, Kak!" Naya terpaksa menaikan suaranya agar Saga bisa terusik dan segera bangun.
Saga mulai menggeliat karena terusik dari tidurnya. Membuka perlahan kelopak matanya dan mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih bertebaran di dunia mimpi.
"Jam berapa ini?" tanya Saga.
"Ini sudah hampir jam tujuh, Kak. cepatlah bangun atau kakak akan benar-benar terlambat datang ke kantor hari ini," jawab Naya.
Saga langsung terbangun sempurna saat mengetahui jam dia terbangun. Ia langsung bergegas turun dari ranjang untuk pergi ke kamar mandi dan segera bersiap untuk pergi ke kantor.
"Apakah Kak Naresh sudah bangun?" tanya Saga sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Sepertinya belum kak, tapi tadi pagi aku sudah coba membangunkannya. Tidak ada jawaban sih saat aku ketuk pintu kamarnya tadi," jawab Naya.
"Baiklah, kamu tolong bangunkan dia lagi ya. Kalau kamu ketuk pintu ya dan tidak juga mendapat jawaban dari dia, kamu ambil saja kunci di almari samping kamarnya. Kamu masuk ke dalam kamar dan kamu paksa dia sampai dia mau bangun dan bersiap. Kakak akan mandi dulu, berusahalah sebisa mungkin untuk membangunkannya." Saga langsung masuk ke dalam kamar mandi sebelum Naya sempat menjawab.
Naya langsung pergi ke kamar Naresh dan melakukan apa yang kakaknya perintahkan.
"Aih ternyata sama saja kelakuannya dengan kak Saga," ucap Naya saat berhasil masuk ke dalam kamar milik Naresh menggunakan kunci cadangan.
Naya berjalan menuju samping kasur lalu mengguncang tubuh Naresh, berharap jika Naresh dapat dibangunkan dengan hanya satu kali gerakan.
"Kenapa aku harus dihubungkan dengan dua orang yang sangat susah dibangunkan saat sudah tidur." Naya kembali bermonolog dengan dirinya sendiri.
Frustasi melihat Naresh yang sepertinya sangat susah untuk dibangunkan dibandingkan Saga. Naya memilih untuk pergi ke dalam kamar mandi dan membasahi kedua telapak dengan air, lalu berjalan lagi keluar.
"Maaf ya kak, aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membangunkan kamu tapi kamu nggak mau bangun juga. Jadi, maaf sekali lagi karena harus menggunakan cara seperti ini," ucap Naya.
Naya langsung mengibaskan tangannya yang masih basah dengan air itu ke arah wajah Naresh. Dan benar saja, Naresh langsung terusik tidurnya. Naresh mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Aihh Naya kamu apa-apaan sih, kakak lagi tidur loh," ujar Naresh dengan sedikit nada marah di dalamnya.
"Maaf, Kak. Tapi ini semua juga salah kakak, coba saja kalo kakak aku bangunkan bisa langsung bangun. Pasti aku juga tak akan berbuat sejauh ini. Maaf ya kak sekali lagi, aku hanya ingin bilang jika sebentar lagi sudah jam tujuh. Kak Naresh harus segera bangun dan bersiap untuk pergi ke kantor," ucap Naya.
"Baiklah-baiklah, berikan aku waktu lima menit untuk mengumpulkan nyawaku," ucap Naresh.
Naya hanya bisa bergeleng-geleng kepala saat tau betapa susahnya membangunkan bos dari kakaknya ini.
"Tuan bisa pilih salah satu, anda bangun sendiri dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap atau saya akan membawakan air itu kemari," ujar Saga yang baru saja bergabung ke dalam kamar Naresh.
"Aishh! Tak bisakah kalian berdua berbaik hati sedikit padaku? Aku benar-benar masih mengantuk sekarang, tadi aku tidur pagi karena harus bermain game, Ga," ucap Naresh.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda kali ini. Di kantor hari ini akan banyak jadwal untuk anda, Tuan. Akan ada beberapa urusan yang tak bisa anda wakilkan dan harus anda datangi sendiri," ucap Saga.
"Aihh dasar manusia es! Ayah ... lihatlah ini, anakmu disiksa oleh orang kepercayaanmu, bahkan adiknya pun ternyata sudah memiliki bakat yang sama dengan kakaknya," ucap Naresh sambil menatap ke atas, berharap jika ayahnya kembali dan membelanya.
Naya hanya bisa tersenyum kecil melihat betapa kolokannya Naresh. Namun tak berapa lama senyumannya itu sudah hilang ketika Naresh memberikan tatapan tak sukanya pada Naya.
"Berhentilah membuat drama dan segeralah bersiap, Tuan. Karena waktu terus berjalan," ucap Saga.
"Iya bawel, sekarang aku percaya jika kalian memang benar-benar kakak adik. Sikap kalian benar-benar mirip, sama-sama kejam."
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan. Segeralah bergegas, saya tunggu di meja makan setelahnya. Naya bilang dia sudah masak makanan spesial untuk tuan hari ini," ucap Saga.
Saga mengajak Naya untuk meninggalkan kamar Naresh, setelah Naresh sudah masuk ke dalam kamar mandi.
***
"Hari ini kamu mau berangkat sendiri atau papa antar, Sayang?" tanya Agra pada Aruna.
Aruna terlihat menimbang-nimbang apakah lebih baik diantar atau berangkat sendiri.
"Sepertinya aku berangkat sendiri aja, Pa. Lagian kan kantor Papa dengan kantorku berbeda, kasian papa nanti harus bolak-balik." Aruna langsung menghabiskan sandwich yang ada dihadapannya dengan sekali lahap.
Agra menganggukkan kepalanya, menatap wajah putrinya yang ternyata sudah tumbuh dewasa saat ini. Sudah banyak sekali moments yang ia lewatkan begitu saja tentang putrinya.
"Pa ... Papa kenapa menatapku seperti itu? Apakah ada yang aneh dengan riasan di wajahku? Aku sangat buru-buru hari ini," tanya Aruna.
"Tentu saja tidak, anak Papa itu selalu cantik. Bahkan tanpa riasan pun kamu sudah terlihat cantik. Papa hanya merasa sudah gagal saja menjadi seorang ayah, karena Papa terlalu fokus dengan pekerjaan sehingga tak menyadari jika putri papa sudah dewasa sekarang. Sudah bisa mengambil keputusannya sendiri, kenapa kamu cepat sekali dewasa ya," jawab Agra.
"Ya masa mau terus menerus menjadi kecil, Pa. Tak perlu sedih, Pa ... aku tau kok kalau Papa selama ini kerja makanya tak banyak menghabiskan waktu denganku. Tapi almarhumah ibu selalu bilang jika papa adalah orang yang sangat menyayangi aku, makanya papa sampai rela bekerja sampai larut malam agar aku tak kesulitan dari segi finansial. Mama juga banyak bercerita tentang sosok papa, jadi aku masih tetap mengenal dan terikat batin dengan papa," ucap Aruna.
Agra sangat senang ternyata anaknya itu tak pernah berubah, ia masih ceria dan bisa dekat dengannya meskipun jarang sekali dia ada waktu untuk Aruna. Ia tak salah telah memilih wanita untuk menjalani kehidupan berumah tangga.
Setelah selesai sarapan, Aruna langsung berpamitan dan berangkat ke kantor tempatnya bekerja.