Naresh memulai aktifitasnya kembali sebagai pemimpin dari perusahaan ayahnya yang sudah tiada. Dokumen-dokumen sudah menumpuk dihadapannya, menunggu untuk ia kerjakan. Tapi saat ini ia benar-benar tak ada gairah untuk bekerja, dalam pikirannya ia masih ingin bersenang-senang dan menikmati masa mudanya.
"Ini semua benar-benar membosankan, tak adakah yang bisa aku lakukan selain membaca dan menandatangani semua dokumen ini!" Naresh berdialog dengan dirinya sendiri.
Sejenak Naresh berpikir, tak lama Naresh membuat panggilan pada Saga melalui ponsel miliknya.
"Ga, apakah ada meeting dengan klien atau apa saja yang dapat mengeluarkan aku dari ruangan ini?" tanya Naresh.
"Coba anda tanyakan langsung pada Mila, semua agenda dan apa yang harus anda lakukan semuanya sudah dijadwal olehnya," jawab Saga.
"Oke-oke, ngomong-ngomong kenapa hari ini kamu tak ada di kantor? Apakah ada masalah?"
Naresh menanyakan itu karena tak biasanya Saga pergi dari sisinya tanpa permisi dan memberikan penjelasan.
"Tidak, Tuan. Hanya masalah kecil, nanti setelah urusan ini selesai saya akan segera kembali," ucap Saga.
"Baiklah. Aku akan mencari kegiatan lain selagi kau tak ada," ujar Naresh.
Naresh langsung mematikan panggilan telepon itu. Beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya untuk mencari keberadaan Mila seperti kata Saga.
Naresh menemukan Mila yang kini tengah mengobrol dengan pegawai lainnya dengan nada berbisik. Mendapati jika Mila tak segera menyadari atas kehadirannya membuat Naresh sedikit kesal karena merasa terabaikan.
"Ekhem! Bukankah ini masih jam kerja? Kenapa kalian malah bergosip di sini?" tanya Naresh dengan ekspresi datar.
Mila dan rekan kerjanya itu langsung terperanjat saat tau jika di belakangnya sudah ada bosnya yang sudah melipat kedua tangannya di depan d**a dengan wajah datar.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Naresh lagi.
"M-maaf, Pak. Kami baru saja akan kembali bekerja," jawab Mila dengan suara sedikit bergetar karena takut akan mendapatkan sanksi atas kesalahannya.
"Saya tidak pernah melarang orang untuk berbicara, tapi tolong jangan saat jam kerja. Saya menggaji kalian semua di sini untuk bekerja, bukan bergosip dan melakukan hal yang tidak penting. Terutama kamu Mila, saya tau usia kamu lebih tua dari saya dan juga kamu sudah lama bekerja dengan ayah saya. Tapi jika kamu salah saya tak akan segan untuk menegur, ini peringatan pertama dari saya. Jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi setelah ini, mengerti?" ujar Naresh yang berusaha bersikap sangat profesional.
Mila menundukkan kepalanya dan menjawab dengan sangat pelan. Selama enam taun bekerja di perusahaan ini adalah kali pertama baginya ditegur secara langsung oleh atasannya. Tapi Mila tak merasa berkecil hati, karena ini memang murni karena kesalahannya.
"Lupakan ini, dan segera ke ruangan saya. Bawakan juga schedule saya hari ini," titah Naresh.
"Baik, Pak. Akan segera saya bawakan," jawab Mila sopan.
Naresh langsung kembali ke ruangannya, sedangkan Mila segera kembali ke meja kerjanya dan mencari buku agenda untuk Naresh.
***
Tok! tok! tok!
"Masuk!" jawab Naresh dari dalam ruangan.
Mila menarik kenop pintu, lalu membukanya. Mila sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan pada Naresh. Lalu dengan anggunnya Mila berjalan menuju ke meja kerja Naresh dan berdiri di depan Naresh yang duduk di hadapannya.
"Bacakan," ucap Naresh.
Mila mulai membacakan apa yang tertulis dalam buku yang dipegangnya. Agenda Naresh hari ini tak terlalu banyak, dan Naresh juga tak perlu pergi keluar hari ini.
Naresh berdesis pelan, padahal tadinya Naresh sangat bersemangat karena berharap jika hari ini ia akan bisa keluar dari ruangan yang serasa penjara bagi usia mudanya itu dan bisa menghirup udara segar. Tapi sayang, ternyata harapannya tak seindah dengan realita yang terjadi.
"Tak bisakah kau atur agar saya bisa pergi keluar?" tanya Naresh.
Mila tampak bingung dengan permintaan bosnya itu, biasanya bos barunya ini akan senang saat tak mendapat kegiatan apapun di luar sehingga dia bisa beristirahat di ruangannya dan bermain game. Tapi kenapa hari ini justru dia yang menawarkan diri agar mendapatkan jadwal pergi ke luar kantor.
"Sebenarnya hari ini divisi keuangan dan periklanan ada pertemuan dengan klien yang cukup berpotensi akan memperlancar perusahaan kita, Pak. Mungkin jika Pak Naresh ikut itu akan memberikan kesan baik bagi perusahaan klien, tapi sepertinya itu akan memakan waktu yang cukup lama. Dari perjalanan maupun acara di tempat nantinya, saya tidak yakin jika Pak Naresh akan mau ikut," jelas Mila.
"Saya ikut, jam berapa?" jawab dan tanya Naresh dengan cepat dan penuh dengan keyakinan.
Mila sampai syok melihat Naresh yang terlihat sangat bersemangat hari ini. Dalam pikirannya Mila berasumsi jika mungkin Naresh salah memakan makanan hari ini.
"Pukul sepuluh tepat mereka berangkat menggunakan mobil kantor, karena perjalanan menuju tempat acara akan memakan kurang lebih dua jam itupun jika tidak terjebak macet, Pak," jawab Mila.
"Oke, kamu atur untuk saya ikut dalam acara itu. Bukankah pemimpin harusnya melakukan ini? Dan berhubung saya adalah pemimpin maka saya akan melakukan itu," ucap Naresh.
"Baik, Pak. Nanti akan saya infokan jika Bapak akan ikut dalam acara meeting mereka hari ini, apakah Pak Naresh akan ikut bergabung dalam satu mobil bersama mereka atau Bapak ingin saya mengatur mobil pribadi untuk anda?” tanya Mila.
"Bilang saja ke mereka nanti saya yang akan menyetir, gunakan mobil kantor saja," jawab Naresh.
"T-tapi, Pak ... nanti Pak Saga bisa marah karena mengetahui jika Pak Naresh mengemudi sendiri," ucap Mila memberitahu.
"Biar Saga menjadi urusan saya, kamu cukup infokan itu dan bilang kepada supir kantor untuk memanasi mobil yang akan digunakan," ujar Naresh.
Mila segera keluar dan berniat untuk langsung memberikan informasi pada karyawan yang akan meeting hari ini untuk menyiapkan sedikit presentasi yang nantinya akan dibawakan oleh Naresh.
Belum sampai ia di ruang meeting kantor, ia sudah bertemu dengan Aruna dari divisi keuangan. Ia terlihat tergesa-gesa dan langsung menghampiri dirinya.
"Maaf, Bu Mila, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Aruna.
"Tentu saja, ada masalah apa sampai tergesa-gesa seperti itu hanya untuk bertemu dengan saya?" jawab Mila.
Aruna menarik nafas panjang untuk mengatur nafasnya yang kini sedikit tersengal-sengal karena tadi ia sedikit berlari demi mencari Mila. Setelah cukup membaik, Aruna segera mengatakan apa maksud Aruna mencari Mila sampai kelelahan seperti itu.
"Jadi begini, Bu. Saya ingin memberikan informasi bawah perwakilan dari divisi pemasaran dan periklanan tak bisa ikut karena tiba-tiba saja tadi dia muntah darah, kondisinya tak memungkinkan untuk dia ikut, Bu." Aruna menjelaskan tentang kondisi rekan kerjanya itu dengan detail.
"Oke, tak apa. Saya juga ingin memberitahu kamu tadi, kalau Pak Naresh nanti akan ikut dalam meeting kali ini. Kebetulan sekali divisi pemasaran tak bisa ikut, jadi nanti biar saya bilang ke Pak Naresh untuk mempresentasikan hasil diskusi dari divisi pemasaran. Nanti kamu berikan saja bahan presentasinya pada Pak Naresh," ucap Mila.
Aruna mengangguk pelan menanggapi ucapan Mila, Ia ingin sekali menolak. Tapi ia juga sadar jika ia tak bisa, karena bagaimanapun posisi Naresh lebih tinggi dalam struktur perusahaan.
"Oh iya, karena perwakilan divisi pemasaran tak bisa ikut. Jadi, nanti kalian hanya akan pergi berdua. Pak Naresh yang akan menyetir, nanti jam sepuluh tepat kamu temui Pak Naresh di ruangannya. Satu lagi, coba kamu dekati dia. Siapa tau nanti ketika dia sudah mendapatkan pasangan dia akan sedikit ramah dan tak marah-marah terus setiap hari," ucap Mila mencoba untuk menjadi Mak comblang dadakan untuk Aruna dengan Naresh.
Aruna kaget dengan apa yang baru saja atasannya itu bicarakan. Jika saja bosnya itu adalah pria normal dan masih menyukai lawan jenisnya, mungkin tanpa diminta oleh siapapun Aruna sendiri akan mandiri untuk mengejarnya.
"Tidak bisa, Bu. Pak Naresh sudah memiliki pilihannya sendiri, dan sepertinya akan sangat sulit jika ingin mengambil hatinya," ucap Aruna.
"Benarkah? Kamu tau dari siapa?" tanya Mila.
"Saya pernah melihat mereka baru-baru ini melakukan skintouch di lift saat hari pertama Pak Naresh masuk kerja, Bu," jawab Aruna.
Mila sedikit kaget mendengar berita ini dari mulut Aruna. Mila sama sekali tak memiliki pikiran jelek tentang fakta yang baru di dengarnya ini.
"Pantas saja hari ini dia senang marah-marah, mungkin saja Pak Naresh sedang ada masalah dengan kekasihnya jadi dia melampiaskannya dengan bekerja keras dan juga marah-marah," ucap Mila.
"Memangnya Pak Saga kemana, Bu?" tanya Aruna.
"Kenapa tiba-tiba membahas Pak Saga? Kita kan baru membicarakan tentang Pak Naresh," tanya Mila balik.
"Iya juga ya, Bu. Mungkin saya sudah d
terlalu lelah," jawab Aruna singkat karena takut ia akan salah ngomong lagi.
Aruna merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya hampir keceplosan tentang hubungan terlarang antara Naresh dan Saga.Jika tadi ia benar-benar membocorkan masalah itu, mungkin Naresh tak akan tingg diam dan bisa jadi hidup Aruna akan berakhir hari itu juga.
"Ya sudah, silahkan kamu kembali ke ruang kerjamu dan siapkan bahan presentasi yang akan kalian presentasikan nanti," ucap Mila menyudahi gosipnya dengan Aruna.