Setelah menyelesaikan bahan presentasi, Aruna segera pergi ke ruangan milik Naresh untuk mengajaknya berangkat. Karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, ia takut nantinya jika menunda terlalu lama lagi mereka akan terlambat sampai di lokasi.
Aruna mengetuk pintu, tak mendengar jawaban juga dari dalam Aruna memilih menunggu sambil bersandar di samping pintu sambil terus mengetuk pintu dan berharap segera ada jawaban dari dalam.
"Aih! Ini orang kemana sih, tak bisakah lebih disiplin waktu." Aruna terus bermonolog dengan dirinya sendiri karena bosnya tak kunjung menampakkan diri.
Saking kesalnya, Aruna sampai tidak menyadari jika Naresh sudah membuka dan berdiri di pintu. Aruna pun tanpa sengaja mengetuk jidat Naresh, tapi ia tak kunjung sadar juga jika yang ia ketuk adalah jidat bosnya.
"Ekhem!" Naresh berdehem cukup keras untuk menyadarkan Aruna yang tak kunjung sadar jugak.
Naresh yang kesal pun mencengkeram tangan yang Aruna pakai untuk mengetuk jidatnya lumayan kuat dan memberikan tatapan tajam pada Aruna.
"Apakah kau sudah bosan menghirup udara yang sama denganku?” tanya Naresh dengan menampilkan senyum smirknya.
Aruna tergagap kini, sampai ia tak tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Dalam hati Aruna merutuki dirinya sendiri, mengapa ia bisa sebodoh itu sampai tak menyadari jika Naresh telah berdiri di sana dan menggantikan posisi pintu yang ada.
"M-maaf, Pak. Saya tak bermaksud begitu, saya di sini bahkan hanya untuk berbuat seperti itu tadi," ucap Aruna mencoba menjelaskan pada bosnya itu tentang kejadian yang sebenarnya telah terjadi.
"Sebodoh apa kamu sampai tak bisa membedakan mana jidat dan mana pintu, hah? Atau jangan-jangan kamu punya masalah pribadi kepada saya dan mencoba untuk membalaskan dendam dengan cara tadi agar saya gagal otak, iya?" tanya Naresh mencoba mendramatisir keadaan dan membuat merasa bersalah atas apa yang sebenarnya tak pernah terjadi.
"Bukan begitu, Pak. Saya benar-benar tidak tahu jika tadi anda sudah berada di sana. Lagi pula kenapa juga tadi anda tidak langsung menegur saya dan justru memilih untuk memperbesar masalah kecil.
"Berani-beraninya kamu malah balik menyalahkan saya ketika kamu di sini yang melakukan kesalahan.Kamu ingat di sini posisi kamu dan posisi saya sebagai apa bukan?" tanya Naresh.
Naresh tak suka mendramatisir keadaan, tapi entah kenapa bisa membuat wanita di depannya ini menangis ataupun hanya kesal bisa membuat Naresh merasa sedikit nyaman.
Aruna sedikit merasa tak enak dengan ucapan yang telah ia lontarkan tadi begitu saja karena spontan. Ia tak menyangka jika Naresh akan mengatakan kalimat seperti itu hanya untuk menyalahkan dirinya dan membenarkan ucapannya.
"Kenapa diam? Sudah sadar akan posisi kita di perusahaan ini?" tanya Naresh lagi.
"Saya sangat teramat sangat paham, Pak. Dan maaf jika perbuatan saya tadi tidak sopan menurut Bapak, tapi saya benar-benar tak sengaja melakukan hal itu. Jadi, bisakah Pak Naresh memaafkan saya untuk kali ini saja. Saya berjanji kejadian seperti ini tak akan pernah terjadi lagi," ucap Aruna yakin.
"Oke, berhubung saya adalah orang yang baik. Untuk kali ini saya akan mencoba memaafkan kesalahan kamu. Namun jika kejadian seperti ini terjadi lagi kedepannya, saya tak akan segan untuk meminta divisi keuangan agar memotong gaji yang kamu terima." ucap Naresh.
Naresh yang semula ingin menjahili Aruna sampai Aruna menangis merasa tak tega saat mendapati Aruna yang sudah hampir menangis.
***
Naresh benar-benar mengemudi mobil sendiri, ini adalah kali pertama setelah kejadian satu taun yang lalu. Saat dimana hati naresh dicabik-cabik secara bergantian.
Dirinya harus merasakan pahitnya ditinggal oleh yang dikasihnya saat hari penting dalam hidupnya. Setelah itu, Naresh juga harus mendapatkan informasi yang valid dari Saga jika sang ayah pergi mengikuti jejak langkah Rahel yang terlebih dahulu meninggalkan Naresh.
Naresh melihat ke arah samping kirinya. Terlihat di sana Aruna yang tetap bertahan dalam posisinya melihat setiap pemandangan yang disajikan sepanjang jalan.
Naresh menyalakan musik yang ada di mobil itu, mencoba mengusik ketenangan yang Aruna rasakan. Namun semuanya sia-sia, Aruna sama sekali tak merasa terganggu dengan sikap kekanakan yang dia telah rasakan.
"Hei! Apakah kamu masih marah pada saya atas kejadian tadi pagi?" tanya Naresh mencoba membuka percakapan.
Aruna menoleh pada tempat duduk dan melihat wajah Naresh. Lalu kembali lagi menatap pemandangan dari balik jendela.
"Saya sama sekali tak ada hak untuk marah pada anda, karena sudah jelas bagi saya dimana letak dan posisi saya berada. Tak akan bisa jika dibandingkan dengan anda merupakan pemimpin perusahaan," ujar Aruna.
Naresh berdecak saat mendengar jawaban dari Aruna, dirinya tidak expect jika Aruna akan membahas lagi apa yang sudah berlalu.
"Terlepas dari permasalahan yang terjadi diantara kita, tolong nanti saat bertemu dengan klien kita harus bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Jangan sampai kita memperkenalkan perusahaan kita dengan image karyawannya yang merasa jika ia tak mendapatkan bonus yang diinginkan," ucap Naresh yang terlihat sangat bangga pada tuan RM.
Lagi-lagi Naresh terus menerus dianggap seperti orang yang tidak ada kehadirannya oleh Aruna.
Karena kesal Naresh sampai tak sadar memukul stir mobil yang dipegangnya, pukulan pada stir mobil itu tak terlalu kencang sebenarnya. Tapi entah kenapa dapat membuat suara yang cukup bisa membuatku mabuk RJ.
Aruna tersenyum kecil, memikirkan jika ia sebenarnya tak ada niatan sama sekali untuk terus berdiam diri. Tapi melihat Naresh yang tadi sangat merasa bersalah pada dirinya sekarang membuat Aruna sedikit merasa senang.
Bukan hanya karena tiket yang Ibrahim itu dapat statement dari sorotan lagi .
"Pak Naresh tak perlu berpikir seperti itu, saya adalah orang yang profesional. Hal seperti itu tak akan pernah terjadi. Lagi pula saya saat ini diam hanya karena saya ingin diam, bukan karena marah pada Pak Naresh, saya tak punya hak untuk membagikan pada orang yang lebih membutuhkan bu_ibu," ujar Aruna.
Selama di perjalanan mereka masih tetap saling diam.Tak banyak obrolan yang mereka lakukan, keduanya sibuk menyusuri dalamnya pikiran mereka masing-masing.
Hampir dua jam mereka menempuh perjalanan menuju lokasi meeting ini. Dan ternyata sampai di sana mereka masih berdua, belum ada tanda-tanda jika klien mereka akan datang.
"Coba kamu hubungi mereka, tanyakan posisi mereka sekarang sudah sampai mana," ucap Naresh memberikan perintah untuk Aruna.
Aruna segera mengambil ponselnya dan membuat panggilan kepada perwakilan dari pihak mereka.
"Halo, saya dari perusahaan X. Tujuan saya membuat panggilan ini adalah untuk menanyakan apakah kalian terjebak macet? Saya dan rekan kerja saya sudah sampai tadi pagi, tapi di sini belum juga ada orang," tanya Aruna