Sakura kini masuk ke apartemennya dan langsung saja menghidupkan penyejuk ruangan. Suasana yang panas itu membuat ia langsung saja merebahkan diri di lantai yang dingin.
Sampai entah berapa lama Sakura ketiduran, ia langsung bangun ketika tubuhnya merasa sedikit menggigil. Nampaknya hari sudah tidak terlalu panas lagi.
Sakura langsung saja bangun, diraihnya sebuah remote sehingga rasanya tidak terlalu dingin lagi. Setelah itu ia berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Perutnya yang lapar membuat Sakura harus segera bergegas.
Dres merah delima yang semula dipakainya itu kini sudah berganti, menggunakan sebuah kemeja dengan celana jins. Kemudian sebuah topi lagi-lagi ia pakai untuk menutupi rambutnya yang panjang
Ketika Sakura keluar dari apartemen, koridor yang melewati kamar Davian. Di situ sudah tidak ada lagi para fans yang berkumpul. Ia langsung saja menuju ke lift. Sakura sudah tidak sabar lagi untuk segera ke restoran dan makan. Perutnya benar-benar sudah keroncongan.
Setelah makan, Sakura langsung saja memutuskan untuk jalan-jalan dengan menggunakan sepedanya. Dilihatnya sebuah jam tangan yang melingkar. Waktu menunjukkan pukul 04.00 sore.
Sakura bersepeda di pinggiran dengan santainya, tidak diperdulikannya kendaraan yang lalu lalang ke sana kemari. Ia pun bersenandung kecil merasakan alam luar yang bebas.
“Ternyata begini rasanya. Menjadi seperti orang pada umumnya. Rasanya sangat menyenangkan.” Sakura bergumam menikmati hawa sejuk di bawah pepohonan yang berderet di sepanjang jalan.
Sampai Sakura terus mengayuh sepedanya di hamparan sawah yang cukup luas. Gadis itu terus mengayuh sepedahnya. Tidak terasa hamparan sawah sudah habis dan kini berada kembali di tempat ramai. Nampaknya Sakura membawa sepedanya semakin jauh.
Sampai Sakura memutuskan untuk menghentikan sepedanya. Diambilnya sebuah botol air mineral di keranjang. Ia meneguknya beberapa. Merasakan kerongkongnya kembali segar setelah haus.
Setelah itu ia menaruhnya lagi ke tempat semula.
Saai gayuh sepedanya kembali, tiba-tiba saja terdengar suara ramai di sebuah gedung. Bukan gedung lebih tepatnya, melainkan sebuah rumah yang cukup besar. Dari tempat Sakura berada, suara itu ditimbulkan dari balik pagar yang tinggi.
Desh ...
"Arkh ..." Zain mengerang kesakitan.