"Sialan sekali, dasar Kucing Liar." Pria itu mengumpati wanita pagi-pagi yang berbuat ulah.
"Haha ... rasain tuh cowo. Eh dia kan Zein Arsena seorang sahabat Davian. Tapi kok bawain pisang ya?" Sakura berhenti dan menoleh ke arah pria yang tadi ditabraknya. Dia sering melihat di televisi.
Di sana pria itu sedang mendumal tidak jelas. Wajahnya seperti perempuan yang sedang datang bulan. Sakura jadi terkikik sendiri melihatnya. Dengan acuh ia segera pulang untuk membersihkan pakaiannya dan bersiap-siap untuk ke kampus barunya.
Ia melihat dirinya di cermin, celana jeans dan baju kotak-kotak ternyata juga bagus di tubuhnya. Tidak lupa memakai topi di kepalanya dan menyemprotkan minyak wangi beraroma mint di tubuhnya. Sebenarnya ini bukan gaya seorang Sakura, biasanya gadis itu terlihat sangat feminim. Sakura berencana akan ke salon untuk memotong rambut kesayangannya. Hal ini ia lakukan agar ia aman dari orang yang mungkin saja dikirim oleh Ardian, ayahnya.
Setelah memakai sepatu berhack tinggi dan tas di punggungnya. Setelah memastikan kode pintu pada apartemennya sudah diubah sesuai keinginannya, ia segera berangkat.
"Ini apartemen Davian. Wuah ... bahagia sekali rasanya. Namanya kalo jodoh gak akan kemana," seloroh Sakura begitu bersemangat. Ia tahu ini sejak semalam, tidak disangka ia begitu beruntung meski harus membeli tempat tinggal ini dengan uang yang tidak sedikit.
Ia menuruni lift dengan semangat. Seketika berjalan dengan anggun melewati pada petugas yang mengenal Sakura. Seorang wanita yang sempat dihina salah seorang pria.
Justru kali ini Sakura berpenampilan luwes dan memukau meski terkesan agak tomboi.
Bahkan seorang kasir yang sudah turun dari jabatannya kini menjadi seorang OB menyesal sudah bersikap demikian. Sakura tak memperhatikan, namun pria itu justru memerhatikan Sakura dengan jeli.
"Aku tidak akan bebas jika kesana kemari naik taxi. Sebaiknya aku membeli sepeda," gumam Sakura segera mencari toko sepeda terdekat.
Setelah itu barulah ia pergi ke salon untuk memotong rambut. Namun karena tukang pangkas rambut memuji-muji rambut miliknya indah akhirnya Sakura tidak jadi potong rambut dan membeli sebuah wig untuk menutupi rambutnya yang panjang.
Masih melangkah dengan semangat, Sakura menatap takjub sebuah universitas yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Halaman yang sangat luas dengan pepohonan yang rindang. Tanaman hias tumbuh di depan kelas bagian bawah. Sementara kelas yang berada di atas terlihat banyak bunga-bunga yang menggantung sampai di pagar-pagar besi.
Orang-orang berlalu-lalang kesana kemari, ada yang bercanda dengan teman-temannya, ada yang sibuk membaca buku ada juga yang bermesraan bersama pacarnya.
Suasana itu seketika membuat Sakura iri, ia merasa kehilangan kepercayaan diri saat ini. Mengingat itu ia menjadi berkecil hati dan malu pada diri sendiri. Ia tak pernah merasakan seperti ini, sejak lulus Sekolah Dasar ia seperti tahanan yang dijaga super ketat. Tak punya teman bermain, untuk keluar saja bodyguard Ardian selalu menjaganya sehingga anak yang seumuran dengannya takut untuk mendekat. Karena melihat bodyguard yang menjaga Sakura sangat menakutkan.
Sakura menghembuskan nafas panjang sembari melangkah ke ruang dosen, dimana ia bisa meminta pengarahan agar tidak kaget di tempat kuliahnya.
Salah seorang wanita yang bertugas di tata usaha itu mendengarkan curhatan Sakura secara seksama. Tentang Sakura yang belum pernah memasuki dunia sekolah umum sekaligus perkuliahan. Dahulu ia hanya dibimbing melalui guru privat di rumah.
Setelah Sakura selesai menceritakan kisahnya, wanita yang mendengar curhatan Sakura mengangguk paham. Dengan semangat ia memberi pengarahan kepada Sakura. Tentang bagaimana jadwalnya, tentang ujian dan metode pembelajaran dan lain-lain yang berhubungan dengan kuliahnya. Bahkan wanita itu memberikan sebuah denah lokasinya agar Sakura tidak tersesat karena tempat kuliahnya begitu luas.
"Maaf saya tidak bisa mengantar kamu berkeliling, karena banyak sekali tugas yang harus saya kerjakan," ujar wanita itu yang diakhiri dengan menata berkas-berkas menumpuk.
"Tidak apa-apa Bu," jawab Sakura memanggil wanita yang menurutnya masih muda.
"Saya permisi," pamit Sakura.
Ia memutar tubuhnya, namun langkahnya terhenti sejenak ketika wanita itu menambahkan sesuatu, "Emm ... kalo ada kesulitan kamu bisa tanya-tanya mahasiswa yang lain."
Sakura mengangguk paham. Tepat saat itu datang seorang pria. Sakura merasa tak asing dengan pria itu membuatnya tak segera pergi.
"Pagi Tante," sapa pria itu menyapa wanita yang baru Sakura temui.
"Pagi Zein," jawab wanita itu masih sibuk.
"Kamu bisa bantu Tante?" tanyanya meletakan berkas-berkas di tangannya menuju ke lemari.
"Sakura, tunggu dulu sebentar!" Kali ini ia meminta Sakura untuk tetap disini.
"Apapun aku siap," sahut Zein siap siaga. Ia melirik Sakura sekilas sembari menikmati permen karet di mulutnya.
Sementara Sakura melihat pria itu dengan pandangan tidak suka. Ia ingat, pria itu adalah pria yang menabraknya semalam dan ditabraknya kembali tadi pagi.
"Jadi gini, gadis yang ada di sampingmu ini mahasiswa baru dan kebetulan sekelas sama kamu," jelasnya.
"Terus," ketus Zein kurang suka.
"Sakura belum pernah merasakan bagaimana berada di lingkungan sekolah, sebelumnya ia hanya belajar dengan guru privat di rumahnya dan mengikuti ujian online."
"Lalu?" tanya Zein masih agak ketus.
"Kamu ajak dia berkeliling dan mengenalkannya tentang lingkungan kuliah, semua hal tentang perkuliahan ini kamu ajarkan ke dia," jelasnya menatap Zein.
"Tapi..”.
"Gak ada tapi-tapian, dia itu teman baru kamu. Masih ada waktu 1 jam 45 menit sampai jam mata kuliah kalian dimulai!" Wanita itu tak ingin jika zein beralasan.
"Emm ... gimana ya?" Zein berfikir sejenak. Ia menaruh tangannya di dagu. Agak malas sebenarnya. Sakura bisa melihat itu di wajah masam zein.
"Kalo dia tidak mau tak papa kok, Bu. Aku bisa tanya-tanya ke yang lain," ujar Sakura yang juga tidak mau berurusan dengan pria menyebalkan yang ada di sampingnya.
Sakura tidak tahu ketika zein sempat menyeringai penuh rencana, "Eh ... aku mau. Karena kamu akan menjadi teman sekelasku. Ayo!" seloroh Zein yang tiba-tiba bersemangat langsung menarik tangan Sakura dengan semangat.
Bahkan tidak dihiraukannya sang tante yang ingin mengatakan sesuatu ke Zein.
Sakura menjadi heran dengan tingkah laku pria aneh itu. Zein menarik tangan Sakura hingga sampai di luar ruangan. Sementara sang tante hanya geleng-geleng dengan aksi ponakannya.
"Ngapain sih narik-narik tangan aku, modus ya!" tuduh Sakura asal.
Zein langsung menghempaskan tangan Sakura dengan kasar sehingga si Sakura mengelus tangannya dengan mulut mengerucut. Tangan putih mulusnya itu hampir berubah jadi merah.
"Geer banget sih kamu. Aku tidak doyan dengan cewe tipe Kucing Liar kaya gitu," celos Zein pergi meninggalkan Sakura. Gadis itu langsung mengejar Zein.
"Sembarangan mengatai aku Kucing Liar. Dasar Ayam Jantan," makian Sakura yang lolos begitu saja membuat langkah zein terhenti mendadak. Kini memandang Sakura dengan pandangan nyalang.
Sakura hanya terkekeh dengan sebutan yang begitu cocok untuk si Jantan Hutan.
Pria itu hanya memandang Sakura dengan malas. Kakinya melanjutkan langkah.
"Kita mau kemana?" tanya Sakura berusaha menyeimbangkan langkahnya.
"Ke wc," jawab Zein asal.
Sakura hanya melongo tak percaya dengan jawaban Zein. Gadis itu masih saja membuntuti pria menyebalkan yang baru ditemuinya, bahkan untuk pertama kalinya bercakap dengan pria asing.
Mereka berjalan menyelusuri koridor yang ramai oleh mahasiswa lain. Sebagian besar mereka menyapa Zein dengan ramah, sepertinya seluruh mahasiswa di universitas ini mengenalnya dengan baik. Bahkan kebanyakan dari mereka banyak yang berbisik dan penasaran tentang wanita tomboi di samping Zein.
"Tidak mungkin itu gebetan barunya Zein, secarakan tipe Zein itu cewe feminim."
"Hello, Delima mau di kemanain.”
"Jangan-jangan Zein selingkuh."
"Aku mau dong jadi selingkuhannya."
"Itu mungkin cuma temennya aja kali."
Banyak bisikan-bisikan yang tak mengenakan, rata-rata kaum perempuan yang mudah sekali menyebarkan gosip tanpa tau kebenaran yang sesungguhnya. Sebagian bisikan itu terdengar sampai di telinga Sakura, namun gadis itu berusaha menulikan telinganya.
"Ruangan kita ada disana," tunjuk Zein ke atas dimana banyak bunga-bunga indah yang bergelantungan di pagar besi.
"Jika kamu mau ke wc itu tempatnya," tunjuk Zein yang hanya direspon dengan anggukan kepala.
"Sisanya bisa kamu liat di denah yang tadi di kasih Tanteku," ujar Zein melirik sebuah kertas yang ada di tangan gadis itu.
"Masalah materi nanti kamu ikuti saja apa yang di lakukan mahasiswa lain. Ntar kamu duduk di dekat ku agar aku bisa memberikan arahan padamu. mengerti?" terang Zein.
"Aku ngerti," jawab Sakura seadanya.
"Sekarang kamu ikut aku!" ujar Zein mempercepat langkahnya. Matanya berpaling dari gadis-gadis yang memandangi pria bintang bernama zein. Namun hal yang selalu membuat heboh adalah Davian, sosok pria es balok yang membekukan setiap hati wanita termasuk Sakura. Mereka akan berlari dan merayu Davian.
"Kemana?” tanya Sakura terlalu banyak bertanya.
"Ke suatu tempat yang harus kamu tau," jawab Zein.
Sakura hanya menurut saja dengan ajakan zein.
Pria itu membawa Sakura ke belakang kampus.
Sakura terus mengikuti langkah zein yang menuju ke sebuah kolam yang airnya berwarna coklat keruh. Entah mengapa kolam itu disini. Keduanya memijak sebuah jembatan kayu yang tidak sampai seberang. Panjang dan lebarnya hanya 5 kali 1 meter.
Pohon mangga yang sangat besar tumbuh di pinggir kolam. Zein mengajak Sakura ke jembatan itu.
"Padahal tempatnya nyaman, kok gk ada orang yang di sekitar sini ya." Sakura membuka suara sembari menikmati angin sepoi. Rupanya kolam itu sudah berbatasan langsung dengan pagar tinggi ujung kampus.
"Karena pohon mangga itu berhantu," jawab Zein santai.
"Mana ada? Aku gak percaya," jawab Sakura acuh. Ia tidak takut dengan hal seperti itu.
"Kamu gk percaya terserah. Jika kamu sudah melihatnya pasti langsung takut. aku jamin setelah kamu lihat itu hantu kamu bakal pingsan dan tidak bangun lagi," tambah Zein ingin menakut-nakuti Sakura.
Namun justru dibalas tawa oleh gadis yang kini tengah menatap pohon mangga yang rindang serta buahnya yang berjatuhan karena masak di pohon.
"Ketawa kamu itu bisa ngundang setan," celetuk Zein langsung membuat Sakura diam.
Zein agak heran. Sakura bisa tertawa mendadak, tetapi juga bisa berhenti mendadak. Seperti ada rem yang mengendalikan perasaannya.
"Apaan sih. Tidak jelas sekali," dengus Sakura kali ini disertai dengan manyun.
Zein berfikir sesuatu untuk membuat Sakura agak jera, terutama membalas kelakuan Sakura tadi pagi. Sementara zein tidak ingat dengan tabrakan yang terjadi tadi malam ketika mabuk.
"Jadi maksud kamu membawa aku kesini cuma mau nakut-nakutin aku?" Lagi-lagi Sakura berkata. Namun kali ini wajahnya agak lebih galak.
"Nggk," balas zein singkat.
"Terus?"
"Aku mau ngasih kamu peraturan dalam hal menjadi seorang mahasiswi baru," ucap Zein santai.
Mengerutkan kening, namun setelah itu ia bertanya, "apa itu?” Sejenak Sakura penasaran.
"Peraturan pertama kamu harus jebur di kolam ini, kedua kamu harus jadi b***k aku selama 3 hari dan keti-"
"What? kamu gila? kamu mau bunuh aku?" tanya Sakura memotong ucapannya dengan keras karena kaget.
"Kenapa? kamu gk mau?” tanya zein agak sinis.
"Heh, kamu siapa sih berani ngasih aku peraturan segala?" tanya Sakura berdengus kesal.
"Karena aku anak dari pemilik universitas ini, ngerti!" ujar Zein melangkah mendekati Sakura yang saat itu ada di hadapannya.
"Huh ... jadi kamu seorang pembuli karena kekuasaan orangtua?" cibir Sakura agak mengejek.
Namun zein hanya menyeringai tak perduli dengan perkataan Sakura. Ia justru mendesak Sakura untuk mundur.
"Rasakan! Ini balasan karena sudah merusak pisangku tadi pagi. Dasar Kucing Liar!" seru Zein dengan keras sambil terus suara keras. Dipepetnya tubuh Sakura hingga ke tepian kolam keruh.
"Hanya pisang saja seperti mony-"
Byurrrr ...
Seketika tubuh Sakura basah ketika masuk ke dalam air. Yang membuat Sakura tidak suka adalah air kotor.
Sakura segera mencari cara untuk bisa keluar dari saja, "Huwaaaa ... aku gak bisa berenang" ujar Sakura yang menangis sesegukan sambil sesekali seperti orang akan tenggelam.
"Ayam Jantan! Kenapa kamu diem? kamu mau bunuh aku? Huh ... huh ...." Gadis itu mulai kesulitan bernafas.
"Itu cuma akal-akalan kamu doang kan. Udah basi," ucap Zein tak percaya.
"Tolongin aku, huwaa ... hiks ...” Sakura menangis panik. Sesekali Sakura tenggelam.
"Uhuk ... uhuk!"
Melihat hal itu sejenak zein menjadi khawatir.
"Aduh ... jika dia sungguhan tidak bisa berenang gimana?" tanya Zein pada diri sendiri.
Tanpa fikir panjang Zein mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Sakura. Namun tubuh Sakura yang menurutnya sangat berat hingga akhirnya Zein ikut tercebur ke dalam kolam yang saat ini bertambah keruh.
"Hahahaha ..." Seketika tawa Sakura meledak setelah Zein ikut seperti dirinya saat ini.
"Rasain kamu, kamu kira tercebur disini enak kaya di kolam renang?" ejek Sakura berhasil balas mengerjai Zein.
"Ini menjijikan," geram Zein kesal bukan main.
"Rasain, dasar Ayam Jantan!" ledek Sakura puas.
"Apa kamu bilang, dasar Kucing Liar," balas Zein tak mau kalah, Sakura hanya melotot murka ke arah Zein.
Zein berusaha mencari pegangan untuk keluar dari air, namun sangat kesulitan karena Sakura menarik baju Zein.
"Dasar rese!" umpat Zein.
"Ntar kamu ninggalin aku." Sakura kali ini merengek seperti anak kecil.
Zein mengacak rambutnya frustasi dengan tingkah Sakura. Justru akhirnya terkena getah setelah mengerjai Sakura.
"Woy ... kalian ngapain? Pacaran di kolam?" Seorang pria tiba-tiba berlari mendatangi keduanya yang beginya asik di sana.
Tiba-tiba seorang pria yang satu lagi datang dan itu sosok yang dikenal oleh Sakura. Dia Davian pria yang menjadi impiannya saat ini.
"Tolongin aku, aku gak bisa berenang huwaaaa ..." Sakura pura-pura tenggelam ketika melihat kedatangan sang pujaan hati.
Sementara Zein hanya kaget melihat tingkah Sakura yang mendadak akan tenggelam.
"Lo gila ya, cewe gak bisa berenang gak kamu tolongin?" Randy mengoceh tanpa mau membantu Sakura yang tenggelam di dalam kolam yang keruh itu.
"Dia itu bisa..." belum sempat Zein meneruskan perkataannya, ia di kejutkan oleh Davian yang langsung masuk ke dalam air untuk membantu Sakura.
Tanpa zein duga, Davian membawanya berenang ke seberang tepat di bawah pohon mangga. Randy segera berlari menghampiri Davian. Begitu pula dengan Zein.
"Hei bangun!" seru Davian menepuk pipi gadis yang pingsan tak sadarkan diri.
"Itu cuma akal-akalan dia saja!" seru Zein menatap gadis yang bertingkah aneh tiba-tiba.
"Sudah salah masih saja menuduhnya." Davian justru menyalahkan sahabatnya.
Ia menekan d**a Sakura namun tak ada pergerakan.
"Biarku gosok telapak kakinya," kata Randy ikut membantu. Namun masih saja tak ada pergerakan.
Dari pada terjadi apa-apa pada Sakura, tanpa fikir panjang Davian mendaratkan bibirnya.
Zein terbelalak kaget, berbeda dengan Randy yang memandang dengan biasa saja ketika tidak tahu hal yang sebenarnya.
Sementara Sakura masih bersandiwara menikmati ciuman yang Davian berikan. Sebenarnya bukan ciuman namum nafas buatan.