Zain terbelalak kaget, berbeda dengan Airek yang memandang dengan biasa saja ketika tidak tahu hal yang sebenarnya.
Sementara Sakura masih bersandiwara menikmati nafas buatan yang Davian berikan dengan menggunakan bibirnya.
Ketika Zain yang begitu malas dengan kelakuan si gadis aneh tersebut, sebuah ide sejenak terlintas di dalam fikirannya. Ia langsung mempunyai pemikiran untuk berbuat jahil kepada Sakura.
Ia pun pura-pura ikut panik kali ini, “Benarkah dia pingsan?” tanya Zain menampakan wajah pura-pura polosnya.
Airek memutar bola matanya dengan malas, “Ya iya lah dasar orang aneh. Anak orang tuh!” seru Airek menyalahkan Zain yang kali ini berjongkok.
Davian juga menjauhkan diri dari gadis yang belum juga sadar, “Sepertinya kita harus membawanya ke-“
“Uhuk-uhuk …” Wanita itu terbatuk-batuk sembari mengerang pada pahanya yang serasa di gigit semut. Namun ia tahu jika itu adalah sebuah cubitan.
“Akhirnya sadar juga …” Davian begitu senang ketika melihat Sakura yang sadar. Sesegera ia membantu Sakura untuk duduk.
Sakura kini melirik ke arah Zain yang nampak tersenyum dengan wajah jahil. Ia sempat ingin menjitak kepalanya ketika rasa nyeri pada pahanya belum hilang. Namun ia urungkan ketika mendengar suara merdu dari sosok idamannya.
‘Are you alright? Is there anything sick?” tanya pria itu dengan raut khawatir.
Perasaan Sakura langsung menghangat serta berbunga-bunga. Senyumnya nampak begitu manis bak bunga matahari.
Ia pun menjawab, “I’m fine. Thank you. Tapi …” Sakura mengambangkan ucapannya sembari memandangi tubuhnya yang sudah tidak cantik dan wangi seperti sebelumnya.
Airek dan Davian bernafas dengan lega, namun setelah itu mengerutkan kening dengan wajah antusiasnya.
“Ada apa?” tanya Davian
“Huwa … Zain jahat sekali!” Sakura menangis dengan keras hingga membuat Davian dan Airek gelagapan.
Sementara Zain hanya menampakan wajah santai, “Kayaknya dia cocok banget jadi pemain bintang sinetron. Aktingnya apik banget,” batin Zain begitu malas.
‘Zain kamu emang keterlaluan,” ucap Airek laki ini memandang Zain dengan pandangan marah.
“Dia Cuma pura-pura aja,” santai Zain.
“Maafkan temanku ya! Dia emang suka seperti itu. Tapi hatinya baik kok.” Airek mencoba menenangkan gadis yang baru saja dicelakai oleh sahabatnya sendiri.
Tangisan Sakura tidak sekeras tadi. Kini ia memandangi Davian dan Airek secara bergantian.
“Makasih ya udah nolongin aku,” ucap Sakura lembut. Diusapnya air mata yang sedikit keluar.
Davian tersenyum kecil sembari menganggukan kepalanya. Setelah itu ia membantu Sakura untuk berdiri.
“Zain emang jahat banget!” cerocos Airek.
Sakura langsung melirik ke arah Zain dan menunduk agar terlihat takut dengan Zain. Di dalam hati ia bersorak gembira dan akan membalas apa yang sudah dilakukan oleh Zain.
“Itu emang aku yang dorong dia ke kolam. Tapi masalah tenggelam dia itu bi-”
“Lupakan! Percuma berdebat sama kamu, kamu itu keras kepala dan gak akan berubah untuk ngebuli mahasiswa baru di sini!” potong Davian cepat.
“Ayo ikut aku, kamu pasti kedinginan kan? Maafin sahabat aku ya," ujar Davian menggandeng tangan Sakura.
“Giliran cewe cantik aja cepet,” sindir Zain tanpa rasa bersalah.
Dengan enteng Davian pun menjawab, “whatever you say.”
“Dia itu jomblo karatan, jadi jangan disindir! nanti gak jadi punya gebetan,” sambar Airek disertai kekehan.
Davian berjalan beriringan dengan Sakura yang pura-pura lemas.
Tak lupa celotehan dari dua orang pria yang terdengar lucu bagi Sakura. Ia hanya menahan tawa saja mendengarnya.
“Ck … yang ada nanti disamber oleh playboy seperti dirimu!” celetuk Zei. Pria itu langsung meninggalkan Airek yang masih cekikikan sendiri di bawah pohon mangga. Menyusul Davian.
“Wooy! Awas nanti kesurupan hantu pohon mangga!” teriak Zain sambil tertawa.
Airek buru-buru kabur dari tempat itu dan menyusul Zain, “Dari pada nanti kesurupan, bisa-bisa tidak ada wanita yang mau bersama dengan aktor yang tampan sepertiku.”
***
Tak diperdulikan oleh Sakura yang entah sejak kapan tubuhnya melayang dibopong oleh seorang pria impiannya. Ini adalah suatu hal yang sangat menguntungkan bagi Sakura.
Dengan memasang wajah pura-pura lemah Sakura melingkarkan tangannya di leher Davian.
Sakura terlihat memilih-milih baju di sebuah butik yang tidak jauh dari sekolahnya. Davian dengan sabar menunggu di depan butik sambil melirik jam tangannya. Waktu menunjukan pukul 8.30, masih ada waktu 30 menit lagi pikirnya.
Para pegawai di sana melihat Sakura dengan heran, pakaiannya basah kuyup dan bau tak sedap juga penampilannya begitu memprihatinkan. Andai saja Sakura tidak datang bersama aktor tampan yang kaya dan banyak penggemarnya, pasti gadis itu sudah diusir karena penampilannya yang seperti orang gila.
10 menit kemudian seorang gadis cantik keluar dengan baju dress berwarna merah jambu yang tinggi selutut. Rambut basahnya tergerai dengan indah, wangi vanilla tercium bagi siapa saja yang didekatnya.
“Hai," sapa gadis itu duduk di samping Davian.
Pria di sampingnya itu tak memperdulikan kehadiran gadis itu dan hanya fokus pada ponselnya.
“Ehem ... Davian," panggil Sakura dengan suara lembut, berbeda saat berbicara dengan Zain.
Davian langsung menoleh dan tercengang beberapa saat.