Arka Nurdiansyah menengadah dan menarik napas dalam-dalam di lorong gelap Dungeon “Goa Serpih”. Udara terasa lembap, berat oleh aroma tanah basah dan lumut yang menempel pada dinding batu. Gaung samar bunyi pahat penambang terdengar dari kedalaman, tetapi di terowongan ini Arka seolah berada di dunia lain—penuh kegelapan, rasa sakit, dan ketakutan.
Sejak kecil, Arka sudah mendengar mitos tentang dungeon—gua bawah tanah tempat monster buas bersembunyi, menanti korban ceroboh. Ia tumbuh di Kota Kaena, sebuah kota pelabuhan kecil di tepi Laut Timur, di mana dungeon sama sementingnya dengan aktivitas pasar. Di balik riuhnya pedagang dan kapal dagang, terdapat Gerbang Utama yang menghubungkan dunia manusia dengan alam bawah tanah. Setiap kali Gerbang terbuka, monster menyerbu keluar, dan para Hunter—pemburu monster berlisensi—siap siaga menangkal mereka.
Arka hanyalah salah satu dari banyak orang yang berusaha mengangkat derajat keluarga dari kemiskinan. Ayahnya, mantan Hunter Kelas D, terpaksa pensiun dini setelah cedera parah. Kakaknya, Rendi, mengambil pekerjaan serabutan di pelabuhan untuk menanggung biaya pengobatan ayah. Sebagai anak bungsu, Arka hanya bisa menahan iri saat melihat teman-temannya memiliki perlengkapan tempur memadai. Tubuhnya yang kurus lebih cocok mengangkat buku ketimbang menyelamatkan nyawa. Namun hari ini, ia nekat bergabung dengan tim amatir untuk “menaklukkan” dungeon peringkat rendah—semata-mata demi mendapat beberapa koin dan persediaan untuk keluarga.
Langkahnya terhenti saat ia menggenggam pedang kayu setengah lapuk. Ia mengenakan tunik kulit tipis yang nyaris tak memberi perlindungan. Tubuhnya bergetar, bukan hanya karena dingin lembap, tetapi juga karena ketakutan yang menyesakkan. Timnya sudah berjalan jauh di depan—dua pria kekar berwajah tegas dan seorang wanita berambut merah yang menahan napas setiap kali langkah mereka menimbulkan debu.
“Yakin ini tempatnya?” tanya Arka dengan suara gemetar.
“Tenang saja. Ini cuma dungeon peringkat F. Takkan membunuhmu… kemungkinan besar,” jawab salah satu pria kekar, Azlan, sambil menyeringai. “Kamu mungkin dapat koin. Kalau beruntung, ada loot langka.”
Arka hanya mengangguk lemah, berusaha mengumpulkan keberanian. Namun dalam hatinya, ia tahu peluangnya sangat tipis. Ia belum pernah menewaskan satu monster pun secara resmi. Levelnya? Hampir tak layak disebut. Ia bahkan tak memiliki lisensi Hunter—tanpa itu, ia hanyalah pemuda nekat yang menjemput kematian.
Tubuhnya menegang ketika dengkuran rendah menggema dari koridor berikutnya. Air menetes dari langit-langit batu, bunyinya merayap di antara kesunyian. Rika, si wanita berambut merah, menyiapkan anak panah. Matanya tajam, menatap gelap di hadapan mereka. Dua pria kekar itu mengangkat lembing dan pedang besi. Arka semakin menggenggam pedang kayunya, merasakan tekstur kasar kayu menekan telapak tangannya.
Tiba-tiba, lentera redup tergantung di dinding memancarkan cahaya berayun. Wujud besar muncul dari bayang—goblin bertanduk merah, kecil tapi gesit, matanya kuning menyala penuh kebencian. Darah mengalir di sela deretan giginya yang tajam. Ia menggeram, seolah menantang pertempuran.
“Goblin!” teriak Azlan, melontarkan tombak. Serangannya menimpa perisai kayu goblin, namun makhluk itu menghindar lincah.
Arka menahan napas. Ini pertama kalinya ia melihat monster sedekat ini. Batu kecil beterbangan saat tombak Azlan menghantam dinding. Tanpa gentar, goblin itu melompat menembus formasi.
Rika melepas panah, tapi goblin menangkis dengan bilah kecilnya. Panah patah di udara, mengeluarkan suara gemuruh yang membuat Arka ternganga.
“Arka, bergerak!” teriak Iqbal, pria berhelm besi compang-camping. “Jangan diam saja!”
Arka menggeleng, keringat dingin menetes di dahinya. Ia mencoba melangkah maju, tapi lututnya gemetar hebat. Pedangnya hanya terangkat setinggi pinggang dan tidak lebih.
Iqbal memutar matanya penuh tajam. “Cepat! Bukan cuma nonton!”
Rasa malu menyengat Arka. Ia menjejak, menepuk ujung pedang ke tanah yang basah. Namun sebelum ia mendekat, goblin itu lolos dari serangan Azlan. Dengan kecepatan mengejutkan, ia menerjang Arka, menjatuhkannya; pedang kayu terlepas dari genggamannya saat rasa sakit membara di lengannya.
“Arka!” teriak Rika, menerjang maju untuk menebas goblin. Pedangnya meluncur, melintang di udara, lalu memisahkan tubuh makhluk itu. Darah memercik, menodai lantai batu.
Terengah, Arka berusaha menghentikan darah yang mengalir di lengannya. Ia menatap mayat goblin, kemudian mengangkat pandang ke Rika, yang menurunkan pedangnya. Di hatinya, lega bercampur malu—hampir saja ia jadi korban jika bukan karena Rika.
“Kau baik-baik saja?” tanya Rika, suaranya lembut tapi tegas. Matanya cokelat memancarkan kepedulian.
“Y-Ya… ya,” jawab Arka, mengelap darah yang menetes. “Maaf, aku jadi beban.”
Iqbal menatapnya dingin. “Kalau tak bisa membantu, mending mundur.” Tawa mengejek terdengar dari Azlan. “Mending di rumah baca buku daripada sini.”
Arka mencengkeram gagang pedang, menolak menyerah. Ia menatap kedua pria itu, lalu menarik napas, suaranya gemetar, “Aku… aku akan membantu.”
Iqbal mendengus, sedangkan Azlan bergumam, “Kerja paksa.” Namun Rika melangkah maju, menepuk bahu Arka. “Lanjutkanlah, tapi tetap di posisimu.” Senyumnya menghangatkan hati Arka, memberi secercah tekad.
Mereka terus maju masuk lorong. Semakin jauh, udara kian dingin, dan pikiran Arka berdengung. Ia gagal melindungi diri tadi, namun kini ia bertekad membuktikan dirinya tak sepenuhnya tak berguna. Setiap langkah membuat jantungnya berdegup seperti genderang perang.
Tiba-tiba, tawa rendah bergema. Dua goblin kecil berlari keluar, masing-masing memegang tombak kayu rapuh. Mata mereka bersinar liar saat mereka menyerbu tim Arka.
“Goblin lagi…” gumam Iqbal, mengayunkan pedang panjangnya. Tetapi satu goblin melompat di bawah bilahnya, dimana gerakannya begitu cepat hingga Iqbal terjatuh, pedangnya terlepas dan terguling beberapa meter.
Arka menonton penuh ngeri saat Iqbal terkapar, darah mengucur di dahinya. “Iqbal!” serunya, melangkah maju, tapi Rika menahannya dengan pedangnya. “Biar aku saja.”
Rika berlari, pedangnya terayun tinggi. Ia menebas diagonal, memisahkan kepala goblin dari tubuhnya. Tanpa jeda, ia berputar dan menghadapi goblin kedua, yang meraung dan menukik ke punggung Arka dengan tombaknya. Saat itulah, pedang Rika dan kaki Arka bergerak secepat kilat—tombak itu menusuk perut Arka.
Rasa sakit menjalar—Arka terhenti, pandangan kabur. Panik menggema di benaknya: ia akan mati. Namun tatapan Rika terpaku padanya, menolak membiarkannya tewas.
Di kegelapan itu, sinyal tak terlihat bergetar di semesta. Saat-saat terakhir Arka berubah: seolah fajar memecah malam.
“PERINGATAN! Sistem Hunter terdeteksi aktif.”
Suara dingin dan mekanis bergema dalam pikirannya. Sakit dan rasa takut terhenti seketika. Ia menatap langit-langit gua—semestinya dihiasi cahaya lentera, tapi kini pandangannya tertuju pada dunia lain: ruang kosong penuh angka dan istilah asing seperti Nama, Kelas, Level, Kesehatan, Mana, Kekuatan, Kelincahan, dan lainnya.
Arka terpaku. Kesadarannya tertuju pada layar transparan—seperti langit biru muncul di dalam pikirannya. Tertera:
Nama: Arka Nurdiansyah
Kelas: [Belum Terpilih]
Level: 1
EXP: 0/100
Kesehatan: 50/50
Mana: 10/10
Kekuatan: 5
Kelincahan: 5
Intelijensi: 4
Ketangkasan: 4
Angka-angka itu menggetarkan hatinya. Bagaimana mungkin ia punya level? Ia bahkan belum lulus ujian lisensi Hunter resmi. Ia hanyalah pemuda tak terampil dalam pertempuran.
“Level… 1?” bisiknya, suara bergetar. Sensasi aneh menyebar di dadanya, seperti percikan harapan baru di antara serpihan pesimisme yang selalu menyertainya. Ia menutup mata, merasakan kehangatan merambat. Perlahan dibukanya lagi, memandangi layar.
“Apa… apa ini Sistem?” gumamnya, jari menyentuh antarmuka tak kasatmata. Seketika kursor bergerak ke menu Misi. Tersedia misi sederhana:
> “Bunuh 5 Goblin (0/5)”
“Masuk Dungeon: Goa Serpih, Peringkat E”
Arka tertegun: misi? Hadiah misi? Ia melirik rekan-rekannya yang masih bertarung—namun kini, seakan waktu berhenti, goblin yang baru saja menikamnya tergantung diam di udara. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada layar transparan itu.
“S-What’s happening?” tanyanya.
Tiba-tiba, goblin yang menusuknya itu melompat lagi, tombaknya menancap lebih dalam. Namun tubuh Arka bergerak sesuai hukum baru: sebelum tombak itu menembus, ia terdorong mundur beberapa langkah oleh kekuatan tak kasatmata. Tombak kayu itu pecah di dinding, dan goblin terlempar seolah tersambar energi misterius.
Rika, yang menyaksikan, tertegun. Pedangnya setengah terangkat sebelum ia melanjutkan serangan. Goblin itu pun terpisah kepalanya di lantai gua—hanya dentuman langkah di kejauhan, gemericik air, dan layar Sistem yang berpendar.
Rekan Arka menyorotkan pandang kagum. Dua pria kekar yang dulu mengejeknya kini terdiam, bibir mereka terkunci oleh rasa takut dan takjub.
Arka merasakan denyut di perutnya—tombak yang menancap lenyap. Sakit sirna, digantikan kehangatan aneh. Ia menatap layar Status, yang kini menulis:
Kesehatan: 50/50 (Regenerasi)
Detik demi detik, nilai Kesehatan naik: 50… 51… 52… hingga mencapai maksimum. Luka tombak hilang, hanya menyisakan bekas samar yang kian menutup.
“Legenda…” bisik Arka, suara bergetar. Ia menggenggam pedangnya, merasakan energi baru mengalir. Pandangannya kabur oleh rasa haru dan takut yang berpadu. Ia hampir tak percaya apa yang terjadi.
Iqbal, yang terluka, bangkit perlahan, mata terbelalak. Azlan mengerutkan dahi, tapi tak berani mengejek lagi—malah menahan napas.
Arka berdiri, sedikit bersandar pada Rika. Ia menarik napas dalam, memandang langit-langit yang kini terasa lebih lembut oleh cahaya lentera. Kesunyian memenuhi lorong.
“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Rika, suaranya pelan tapi penuh takjub.
Arka menggeleng, menyentuh dadanya yang berdebar. “Aku… aku nggak tahu. Kayaknya… kekuatan baru.” Ia menunjuk layar yang hanya dia lihat. “Kalian nggak lihat?”
Iqbal menggeleng, tetapi Azlan menatapnya tajam. “Aku lihat sesuatu. Kau… kau bertahan dari tombak itu. Tombaknya lenyap begitu saja.” Suaranya serius, jauh dari ejekan semula.
Arka tersenyum kaku. “Aku juga nggak percaya. Tapi… aku dengar suara, lalu layar ini muncul. Sistem… dia memanggil dirinya ‘Hunter System’.” Ia menunjuk layar itu. Timnya terdiam, lalu mundur membentuk lingkaran sekeliling Arka.
Rika meletakkan tangan di dadanya, merasakan denyut nadi. “Kau hidup, Arka. Yang penting, kau selamat.” Senyum tulusnya membangkitkan sesuatu di hati Arka.
Tiba-tiba, gemuruh jauh terdengar—langkah berat monster level tinggi mendekat. Arka melirik layar, jari-jarinya merasakan energi aneh mengalir ke pedang kayunya. Level 1. Kini ia menjadi Hunter—tanpa lisensi, tanpa peta, hanya bergantung pada Sistem misterius ini.
“Kita harus keluar saja,” kata Iqbal, suaranya reda oleh seriusnya situasi. “Dungeon ini pasti ada monster yang lebih kuat.”
Arka mengangguk, membetulkan tubuhnya. Kali ini, setidaknya ia tak akan gampang runtuh. Ia menatap Rika, yang memasukkan pedangnya ke sarung. Cahaya lentera menari di wajahnya, mengubahnya menjadi pelindung teguh, bukan sekadar gadis lemah.
Mereka menapaki jalan menuju persimpangan terowongan. Mata Arka terpaku pada menu Inventori—kosong, kecuali satu barang: “Pedang Kayu (Kondisi Baik)”. Ia menyadari betapa rapuh perlengkapannya. Namun jauh di dalam, suara mendorong: ini baru permulaan.
Sebelum mereka mencapai persimpangan, suara raungan dalam menggema: “Grrraaah!” Siluet besar muncul di sebelah kanan gua, lebih besar dari goblin manapun. Orc dengan mata hijau dan kulit kelabu menunjam pandang, tombak besi karatan di tangan kirinya. Tubuhnya menjulang hampir dua kali tinggi manusia biasa, berotot dan ganas. Ia menghembus napas panjang, seolah menantang.
Arka menelan ludah. Ia menatap rekan-rekannya, yang awalnya ragu lalu mengangkat senjata. Dua pria kekar membentuk barisan pertahanan—Iqbal di depan dengan pedang panjang, Azlan di sisinya memegang tombak siap tusuk. Rika mengangkat anak panah. Arka? Ia menggenggam pedang kayu, tangan masih gemetar.
Tatapan orc tertuju ke Arka. Saat itu, energi asing merespon Sistem. Layar Status berkedip: orc ini berperingkat D—jauh lebih kuat daripada goblin. Tapi Arka punya strategi: ia mungkin kalah cara biasa, tapi ia punya Sistem.
Suara dingin bergema: “Skill Baru Terbuka: [Hembusan Bayangan Bercahaya].” Arka terperanjat, menatap layar. Suatu skill? Ia menekan tombol pada menu “Skill”, lalu muncul deskripsi:
[Hembusan Bayangan Bercahaya]
Deskripsi: Kumpulkan energi bayangan dan lepaskan ledakan cahaya menyilaukan
Kategori: Area Skill
Biaya Mana: 5
Cooldown: 60 detik
Arka terdiam. Ia belum paham tentang skill, mana, cooldown. Namun kini kekuatan baru mengalir di bahunya, membisikkan harapan.
“Sistem bilang aku punya skill?!” gumamnya, jantung berdegup kencang. Rasa sakit masih ada, tapi tekadnya berkobar.
Iqbal maju, mengayunkan pedang panjang. Ia menghantam orc, tapi makhluk itu menangkis dengan tombaknya. Ia membalas dengan ayunan mematikan ke tubuh Iqbal. Pejuang itu loncat mundur, pedangnya terlepas, terguling di ujung koridor. Meski berdarah, ia mencoba bertahan.
Azlan menyergap, menusuk perut orc, tapi orc hanya menggeram, marah, lalu menyeret tombaknya ke samping, menumbangkan Azlan dengan hantaman brutal. Tubuh Azlan terhempas ke dinding, debu beterbangan.
Rika menyiapkan panah, tapi orc terlalu dekat—panahnya berbenturan ke batu. Tanpa pengetahuan skill mendalam, Arka sadar dunia berubah—jika ia tak bertindak cepat, timnya akan binasa.
Dengan napas terengah, Arka menekan tombol “Skill”. Tiga bola cahaya ungu terbentuk di sekelilingnya, berputar cepat. Bayangan energi dan cahaya menyatu. Sekejap, ledakan gemuruh meledak, memancarkan kilatan putih menyilaukan lorong. Cahaya itu melumpuhkan orc, memaksanya menutup mata.
“Ahhh!” raung orc tersiksa, terhuyung mundur, gagal melanjutkan serangan. Kilatan memudar, menyisakan cahaya lentera redup. Orc mencoba mengangkat tombak, tapi tubuhnya masih gemetar.
Arka melihat prompt Sistem: “Waktu cast: 2 detik… Mana: 5/10.” Ia merasa terkuras, tapi semangatnya bangkit. Ia melompat maju dengan pedang kayu—meski kekuatannya kecil, orc terhuyung—sementara rekan-rekannya bangkit, mata mereka menyala penuh harap.
Dengan pedang kayu di tangan, Arka menebas paha orc. “Kretek!” suara benturan keras terdengar, meninggalkan memar parah. Raungan orc melemah. Ia mencoba menendang Arka, tapi momentum hilang, dan ia terjatuh bergemuruh, debu menari di udara.
Saat orc bangun, pandangannya tertuju pada Arka yang berdiri dengan pedang terangkat tinggi, wajah pucat, jantung berdebar. Di belakang Arka, Rika melompat, pedang besinya mengarah ke perut orc. Iqbal dan Azlan, meski terluka, bangkit dan menolak menyerah. Orc menatap Arka seolah menyadari pemimpin baru muncul.
Sebelum orc pulih, Arka menarik napas panjang dan menyalurkan mana terakhir ke pedang kayunya. Dengan satu ayunan melingkar, pedang kayu menghantam leher orc. Dengan gerakan cepat, kepala orc terpisah dan berguling di lantai gua, berkilau di bawah cahaya lentera. Darah pekat memercik, tetapi Arka tegap, pedang masih di genggamnya.
Dalam keheningan mendadak, hanya terdengar gemerincing langkah di kejauhan, bisikan udara lembap, tetesan air, dan layar Sistem yang memancarkan:
> Misi “Selamatkan Sekutu: Bunuh Orc (0/1)” – SELESAI
EXP +50
Misi Baru: “Keluar dari Dungeon Goa Serpih”
Arka menutup mata, menghela napas panjang. Keringat dan darah bercampur di wajahnya, namun ia tak peduli. Ia menatap layar Status sekali lagi:
Level: 1
EXP: 50/100
Kesehatan: 50/50
Mana: 5/10
Ia belum mencapai Level 2, tapi di hatinya terasa kelahiran kembali. Rasa takut yang selama ini menghantuinya lenyap, digantikan tekad membara: ia harus bertahan. Ia harus membuktikan bahwa di dunia di mana yang kuat kian kuat, ia pun bisa bangkit.
Rika mendekat dan menepuk bahu Arka lembut. “Kau luar biasa, Arka.” Suaranya tulus. Dua pria kekar yaitu Iqbal dan Azlan saling pandang, mereka terkagum sebelum menunduk untuk memberikan hormat.
Arka menatap dinding gua yang kini terasa bersahabat. Cahaya lentera menari, membentuk bayangan yang menunjuk jalan. Ia menggenggam pedang kayu, merasakan beratnya yang kini penuh kekuatan “Hunter System” telah mengubah pemuda lemah menjadi Hunter sejati.
“Oke,” bisik Arka dengan suara mantap. “Saatnya keluar dari sini.”