Arka Nurdiansyah terhuyung keluar dari mulut “Goa Serpih” menjelang fajar. Cahaya pertama matahari merambat melalui celah pepohonan di dekat gerbang dungeon, mengusir kegelapan yang membekap jiwanya sepanjang malam. Gemericik lembut aliran sungai kecil di dekat situ terdengar menenangkan, seolah berbisik, “Kau selamat, Arka.” Namun di dadanya, jantungnya masih berdentum—cahaya fajar itu belum mampu membungkam kecemasan yang dilahirkan oleh “Hunter System.”
Sejak langkah pertama menyusuri lorong dungeon, Arka tahu hidupnya tak akan sama lagi. Ia tak pernah membayangkan layar transparan melayang di pikirannya, menampilkan angka-angka tak kasatmata seperti Kesehatan, Mana, dan EXP. Baru tadi malam ia memperoleh 50 EXP dengan menumbangkan orc bos di ruang terdalam dungeon. Dalam satu malam, ia berubah dari pemuda tak berdaya menjadi sosok yang berpotensi tumbuh lebih kuat. Namun levelnya tetap “1.” Ia baru setengah jalan menuju Level 2, masih kekurangan 50 EXP.
Langkahnya berat, seolah beban baru menekan pundaknya. Rika, Iqbal, dan Azlan berjalan di sampingnya di tanah keras. Wajah mereka masih memar, garis-garis darah kering menodai kulit. Rika segera memeriksa keadaan semua orang. “Arka, kau baik-baik saja?” tanyanya lembut, berkedip terkejut saat melihat bekas luka di perut Arka—seharusnya parah, kini hanya lebam pucat.
Arka menyentuh bekas itu perlahan. “Aku… aku baik-baik saja,” bisiknya, mencoba tersenyum. Rika menatapnya penuh perhatian, lalu mengangguk. Tanpa sepatah kata lagi, mereka melangkah menuju Kota Kaena—pelabuhan kecil di pantai timur yang dulu terasa sangat akrab bagi Arka. Kini setiap sudut kota terasa asing: penduduk menoleh setengah langkah saat melihat rombongan berdarah; para nelayan bekerja tanpa ekspresi, mungkin sudah terlalu terbiasa melihat Hunter kembali dari dungeon.
Sebelum gerbang kota terbuka sempurna, Arka melirik layar “Status” di benaknya. Ia berusaha mengingat letak menu-menu—Status, Quest, Skills, Inventory, dan Map. Namun detail terpenting terus menghantui: EXP-nya masih 50/100. Ketegangan baru mendera: bagaimana agar ia naik level? Apa yang harus dilakukan untuk menggeser bar EXP lebih ke kanan? Belum sempat ia berpikir lebih jauh, Iqbal yang berjalan di sampingnya berseru, “Cepat! Gerbangnya mau ditutup!”
Mereka menyeberangi jembatan kayu reyot menuju gerbang kota. Dua penjaga berpakaian ringan dan helm besi penyok menatap mereka cemas. Rika maju, suaranya tenang tapi tegas, “Kami baru saja menaklukkan dungeon ‘Goa Serpih.’ Ada seorang orc tunggal di ruang terdalam. Semua anggota tim selamat.” Kalimat itu meredakan ketegangan para penjaga. Mereka menurunkan tombak dan membiarkan Arka dan kawan-kawannya masuk.
Di dalam kota, debu berputar berubah menjadi campuran aroma angin laut asin dan ikan segar. Fajar masih terlalu muda untuk kesibukan penuh, tetapi pasar ikan sudah ramai. Para nelayan menawarkan hasil tangkap—cumi, kembung, tongkol—mengoda perut yang lewat. Arka, bagaimanapun, mengerutkan dahi, menatap potongan senjata dan baju zirah rusak di deretan etalase pinggir jalan.
“Arka, kau pucat sekali,” kata Rika sambil menepuk lembut bahunya. “Mungkin kau perlu istirahat dan makan hangat.” Ucapan itu menenangkan tenggorokannya. “Iya… aku benar-benar lapar,” ia mengaku lirih. Ia menatap bangunan padat membentuk gang sempit di sekitar “Pengadilan Hunter”—distrik tempat Hunter berkumpul, membahas misi, dan memperbaiki perlengkapan. Penjual senjata, pedagang bahan ramah lingkungan, bahkan kursus bela diri singkat: semua terlihat di hadapannya.
Rika membawanya ke warung kecil di gang samping. Stan itu bernama “Seafood Senja,” dengan bangku kayu dan lentera kertas yang bergoyang tertiup angin pagi. Saat mereka duduk, Arka melihat rak kayu di sudut berisi botol kecap tua, bubuk lada, dan saus pedas khas Kaena. Pemilik warung—seorang wanita paruh baya dengan garis halus di wajah—menyapa Rika dengan senyum hangat.
“Rika! Pelan-pelan—kupikir kau sudah jadi mayat di dungeon,” suaranya serak. “Siapa ini?” Ia menoleh ke Arka yang duduk diam, mengusap perutnya yang sakit.
“Bu, ini Arka. Dia anggota timku tadi malam,” jawab Rika, sambil menunjuk Arka. Mata pemilik melunak, ekspresinya berubah menjadi penuh perhatian. “Nak… jangan gegabah ke dungeon dulu. Rencanakan strategi, oke?”
Arka mengangguk, tersenyum malu. “Terima kasih, Bu. Maaf merepotkan.” Sebelum wanita itu memberi saran lagi, Rika memesan dua mangkuk sup ikan kental dan sepiring nasi pulen. Tak lama, sup hangat, harumnya rempah, dihidangkan di depan mereka.
Arka menyeruput sup panas, suapan demi suapan menenangkan perutnya. Di balik kenikmatan sup asam pedas, pikirannya melayang ke layar “Status.” Ia menahan keinginan menjelajahi menu Quest dan Inventory lebih jauh.
Setelah menyelesaikan hidangan, Rika duduk tegak, bertepuk tangan kecil. “Arka, kau butuh waktu untuk memproses semuanya. Aku mau ke markas guild dulu buat perbaiki panah. Kita ketemu lagi di Pengadilan Hunter sekitar tengah hari.”
Arka menatapnya, mengangguk. “Baik. Terima kasih, Rika.” Ia melambaikan tangan saat Rika berlalu, langkahnya menghilang di tengah riuh pedagang.
Di meja kosong tak jauh, Arka menarik napas panjang. “Oke… waktunya mengerti ini semua.” Ia memejamkan mata sejenak, fokus pada layar sistem. Saat muncul, Arka membuka menu satu per satu.
Status
Nama: Arka Nurdiansyah
Kelas: [Belum Terpilih]
Level: 1
EXP: 50/100
Kesehatan: 50/50
Mana: 5/10
Kekuatan: 5
Kelincahan: 5
Intelijensi: 4
Ketangkasan: 4
Angka-angka itu tak asing: statistik dasar petualang pemula. Kesehatan dan Mana penuh, tapi EXP masih setengah. Untuk naik ke Level 2, ia butuh tambahan 50 EXP. Arka menghela napas, d**a terasa sesak. “Tergantung… semoga Sistem beri petunjuk.”
Ia menekan tombol Quest. Layar berganti, menampilkan daftar misi tersedia:
1. “Bunuh 5 Goblin (0/5)” — Hadiah: 10 EXP, 100 koin
2. “Kumpulkan 10 Bulu Goblin (0/10)” — Hadiah: 5 EXP, 50 koin
3. “Bantu Nelayan Lawan Ikan Raksasa (0/1)” — Hadiah: 20 EXP, 200 koin — Butuh Level 2
4. “Kirim Laporan Lokasi Dungeon (0/1)” — Hadiah: 15 EXP, 150 koin — Butuh Level 3
Arka mengernyit. “Misi Pertama… 10 EXP. Untuk level up, butuh 50 lagi—artinya bunuh 25 goblin.” Dadanya berdebar. Dua puluh lima goblin bukan jumlah kecil—apalagi tanpa perlengkapan memadai.
Atau ia bisa menantang orc lagi demi 50 EXP sekali tebas. Tapi itu sangat berisiko tanpa baju zirah yang layak.
Arka menggoyangkan kursi, lalu membuka Inventory:
Pedang Kayu (Kondisi: Baik)
Zirrah Kulit Tipis (Kondisi: Usang)
1 Ramuan Kecil (+20 Kesehatan)
Itu saja. Uang? Nol koin. Sejak keluar dungeon, ia belum tahu cara menjual loot—kerangka goblin dan potongan orc masih tercecer di dalam. Ia tak ingat di mana pasar senjata: mungkin di Pengadilan Hunter? Atau di toko guild?
Arka memejamkan mata, menutup layar untuk sesaat. Ia melirik kanan-kiri, memastikan tak ada yang memperhatikannya—kejadian semalam membuatnya sadar: hanya ia yang bisa melihat layar ini. Jika ia menceritakan “Hunter System,” orang akan menganggapnya gila atau penipu.
Dengan hati-hati, Arka merosot ke sudut gang yang lebih sepi. Ia bersandar di dinding batu lapuk, menahan pandangan agar tetap tenang meski jantungnya berpacu.
Ia membuka menu Skills: kosong. Arka mengernyit. “Tadi malam muncul ‘Hembusan Bayangan Bercahaya.’ Kenapa nggak ada di sini?” Tanpa sengaja, ia menekan menu Panduan—sebaris kecil tertulis: “Unlock skills by reaching certain EXP milestones or completing special quests.” Arka menelan ludah. Mungkin skill itu hanya muncul sekali, atau terkait misi khusus.
Matanya teralihkan ke Mana: 5/10. Ia memakainya untuk membutakan orc tadi malam. Ia tak tahu cara memulihkan Mana—apakah regenerasi otomatis? Apakah istirahat cukup? Atau butuh item khusus? Banyak pertanyaan belum terjawab.
Arka menutup layar dan memutuskan menerima “Quest Pertama: Bunuh 5 Goblin.” Seketika muncul pesan: “Misi Diterima.” Di samping “0/5” tertera keterangan kecil: “[EXP: +10 | 100 koin].”
Arka menarik napas dalam. “Baiklah,” gumamnya. “Ini satu-satunya opsi sekarang.” Ia menutup mata sebentar, membayangkan detail misi: ia tahu ada sarang goblin di hutan pinggiran Kaena—sekitar dua kilometer dari Pengadilan Hunter. Jika berjalan cepat, butuh setengah jam. Namun satu pertanyaan lagi muncul: beranikah ia pergi sendirian?
Arka memanggil peta kabur di benaknya—menu Map. Ia menekan sudut mental, dan peta mini muncul di sudut pandang batinnya. Rumahnya ditandai di desa nelayan, Pengadilan Hunter di timur laut, dan sedikit di utara, tanda merah silang menandai sarang goblin.
“Oke,” bisik Arka, “aku akan berangkat setelah ketemu Rika di Pengadilan Hunter.” Ia menutup layar pikiran dan berdiri. Sebelum melangkah, seorang penjual koran muda mendekat, memegang tumpukan lembar sobek. “Koran pagi! Hunter misterius taklukkan orc sendirian tadi malam! Dapat penghargaan dari Raja Guild!”
Arka terdiam. Ia menatap wajah bocah itu, lalu membayar satu koin—satu-satunya koin yang berhasil ia dapat dengan menjual sebagian ransum semalam—baru sadar: semestinya ia punya nol koin sekarang. Koin itu adalah satu-satunya uangnya. Bagaimana bocah itu bisa punya cukup untuk membeli koran? Mungkin ada tempat jual loot di Pengadilan Hunter setelah semua.
Memegang koran lusuh dan selebaran kecil, Arka membuka halaman. Judul tebal berbunyi:
> “Hunter Baru Misterius! Pemuda Berpedang Kayu Tewaskan Orc Sendiri!”
Di bawahnya, foto buram sosok mirip Arka—wajahnya tersembunyi di balik topeng kabur agar identitas tak terungkap. Orc yang kalah dan rekan-rekannya terlihat di belakang, hanya siluet Arka yang jelas. Arka menarik napas panjang. “Jadi aku jadi rumor,” gumamnya. “Tapi kenapa topeng kabur?”
Siapa pun yang memotret—mungkin Rika atau Iqbal—memastikan wajahnya diburamkan. Arka menutup koran sobek itu dan memasukkan ke dalam kantong kainnya yang usang.
Dengan langkah ringan, ia menuju Pengadilan Hunter untuk menemui Rika. Bangunan batu besar berdiri megah, fasadnya bertuliskan lambang Guild Phoenix: seekor phoenix mengepakkan sayap. Di dalam aula, para Hunter sibuk—ada yang memeriksa perlengkapan, menempel pemberitahuan di papan misi, atau berdiskusi. Mata Arka tertuju pada papan misi besar di pojok ruangan, seakan memanggilnya.
Rika menunggunya di sana, bersandar di pilar penopang dengan senyum lembut. “Arka, kau lihat berita?” tanyanya, mengangkat alis. Arka mengangguk, mengacung koran kusut. “Aku jadi buah bibir pagi ini.” Rika tertawa kecil, lalu menepuk bahunya. “Jangan dipikirkan terlalu dalam. Dalam dunia Hunter, rumor menyebar lebih cepat daripada api. Yang penting kau selamat.”
Namun Arka masih gelisah. Ia melirik layar sistem di benaknya—EXP masih 50/100, tak bertambah sejak keluar dungeon. “Aku mau langsung ke papan misi,” ujar Arka pelan. “Bagaimanapun, aku perlu EXP lebih banyak.”
Rika mengangguk, lalu mereka berjalan ke papan kayu besar di tengah aula. Puluhan sepucuk kertas misi menempel di sana—ada label “E-Rank,” “D-Rank,” bahkan beberapa misi rahasia tersembunyi di balik papan utama oleh petinggi guild. Arka menelusuri setiap kertas misi yang bisa diterima Hunter Level 1:
“Eliminasi Tiga Ular Berbisa” (Hadiah: 5 EXP, 80 koin; Level 1–2)
“Antar Surat ke Desa Pesisir” (Hadiah: 3 EXP, 20 koin; Level 1–1)
“Bersihkan Sarang Kutu Hutan” (Hadiah: 8 EXP, 120 koin; Level 1–1)
“Bunuh 5 Goblin” (Sudah diterima kemarin) (Hadiah: 10 EXP, 100 koin)
Di sudut papan, sepucuk kertas lusuh bertuliskan tangan:
> “Misi Khusus (Guild Phoenix): ‘Bantu Evakuasi Desa Serpi Saat Pembukaan Gerbang Goblin’”
Hadiah: 30 EXP, 300 koin; Level 1–3
Jantung Arka berdegup kencang saat menatap kertas itu. “Gerbang Goblin?” gumamnya. Jika gerbang terbuka di Desa Serpi, itu berarti goblin menyerbu—penduduk akan dalam bahaya besar. Ia mencengkeram pedang kayunya, tekad menyala: jika ia ke sana, bisa mengamankan 30 EXP sekaligus. Namun risikonya tinggi. “Aku butuh perlengkapan yang lebih baik,” bisiknya.
Rika berdiri di sampingnya, memperhatikan reaksinya. “Misi itu berbahaya, apalagi untuk Hunter Level 1,” kata Rika. “Banyak Hunter Level D atau C pun ragu—bisa ratusan goblin menyerbu.”
Arka menelan ludah dan menatap kertas itu. “Aku… aku perlu 50 EXP untuk naik level. Kalau aku lakukan ini, bisa Level 2.”
Rika mengernyit, lalu meraih tangan Arka. “Itu risiko besar. Aku tak ingin…” Ucapannya terhenti, terlalu berat untuk dilanjutkan. Arka menatap mata Rika, lalu menampilkan senyum goyah. “Aku mengerti. Tapi aku tak mau buang waktu. Kalau Level 2, peluang bertahan di dungeon lebih besar.”
Rika menunduk. “Baiklah. Kalau kau yakin, aku akan mendukung dari belakang. Tapi kau harus izin aku periksa perlengkapanmu dulu.”
Arka mengangguk, lalu mereka mendekati meja petugas guild. Seorang petugas muda berjenggot tipis memeriksa dokumen mereka. “Mau misi ini?” tanyanya. Arka mengangguk, Rika menyerahkan kertas lusuh. “Misi berbahaya… serius?” Matanya melebar. Rika menatap tegas; Arka mengangguk pelan. Petugas menghela napas. “Baiklah—namun kau harus tanda tangan surat pernyataan risiko. Kalau terjadi apa-apa, guild tak bertanggung jawab.”
Arka menandatangani dengan tangan gemetar. Rika menatapnya campur cemas dan bangga. “Arka, aku rasa kita—” Rika terhenti saat Arka mengangkat bahu dan memaksakan senyum. “Aku siap.”
Setelah berkas selesai, mereka menerima secarik kertas resmi: misi “Bantu Evakuasi Desa Serpi Saat Pembukaan Gerbang Goblin.” Kertas terlipat berisi koordinat, nomor kontak, dan tanda tangan kepala desa. Hadiah: 30 EXP, 300 koin; Level 1–3.
Arka menatap kertas itu sejenak, lalu memasukkannya ke lengan bajunya. Di luar aula guild, awan tipis mulai melintas di langit. Hari ini, ia harus berangkat sebelum serangan goblin di Desa Serpi makin parah.
Sebelum berangkat, Arka memutuskan membeli perlengkapan. Ia membuka layar Map di benaknya, memilih ikon tenda penjual senjata di pinggiran kota. Jalan menuju ke sana dipenuhi kios-kios—aroma kayu dan gambut terbakar mencampur dengan teriakan tawar-menawar.
Arka membuka Inventory sekali lagi: pedang kayu, zirrah kulit, dan satu ramuan kecil. Ia tak punya uang untuk beli baju besi atau pedang besi—kecuali kalau ia menjual sesuatu. Ia menggenggam kertas misi dan memandangi pedagang di gang sempit. Seorang penjual zirah beriklan, “Zirah Ringan—hanya 150 koin!” Arka menggeleng pelan. Nol koin di kantong, dan ia belum tahu cara jual loot.
Tiba-tiba, Rika menjentikkan jari. “Aku punya ide,” katanya. “Ayo ke toko barang bekas di ujung gang ini. Mereka biasanya menjual perlengkapan bekas tapi layak untuk Level 1. Kau bisa pinjam—kembalikan nanti setelah kau dapat 300 koin dari misi.”
Arka menatap Rika dan mengangguk. Mereka menyeberangi gang penuh karung gandum dan sampai di pintu kayu bertuliskan “Toko Barang Bekas.” Di dalam, suara kilatan palu dan alat reparasi logam terdengar—sepertinya toko perbaikan zirah.
Seorang pria paruh baya berwajah tegas dan topi compang-camping menyambut. “Rika! Dan ini si kecil—Arka? Kabar tentangmu luar biasa!” pujinya, matanya bersinar. “Hunter Level 1 yang membunuh orc? Hebat!” Ia menepuk bahu Arka hingga Arka terkejut. “Pilih saja apa yang kau mau, gratis. Janji bayar nanti kalau sudah punya koin.”
Arka hendak berterima kasih, tapi Rika lebih dulu angkat bicara, “Aku tanggung Arka, Pak. Kami akan kembali setelah dapat koin.”
Pemilik toko terkekeh, lalu menunjuk rak besi di sudut. “Lihat di sana—’Pedang Setengah Baja.’ Tunggu sebentar.” Ia mengambil kain lembap, mengelap pedang berkarat, “Ini pedang besi utuh, lapisannya tipis, tapi cukup untuk petualang Level 1. Ambil saja.”
Arka meneliti bilahnya. Baja tampak kusam, gagangnya keropos. “Biasanya 200 koin setengah harga,” gumam sang pemilik. Namun lampu usang digantung di atasnya, tanda pedang itu “untuk Arka.” Arka terdiam, lalu meraih gagang. Beratnya pas di tangan, terasa dingin. Ia menggenggamnya, merasakan logam menyentuh kulit.
Sementara itu, Rika memilih zirah ringan—rompi komposit kulit dan besi. Ukurannya pas di tubuh Arka yang kurus. Ia mengencangkan tali kulit di pinggang, lalu mengenakan sepatu bot sederhana pemberian sang pemilik, menggantikan sepatu lamanya.
“Terima kasih banyak,” bisik Arka, memandang perlengkapan barunya. “Aku akan segera bayar.”
Tuan toko menepuk saku—“Pergilah, Nak. Jangan terlambat. Desa Serpi menunggu.” Ia tersenyum hangat. Arka mengangguk, ragu sesaat sebelum melangkah keluar. Udara pagi kini lebih hangat; embun di jarum pinus sudah menguap.
Dengan Pedang Setengah Baja di tangan kanan, zirah ringan menekan d**a, dan tunik kulit tipis hanya untuk sehari-hari, Arka membuka peta batinnya. Rumahnya di barat daya kota; Desa Serpi di utara—sekitar satu jam lari cepat. Kalau berhenti beberapa kali, mungkin setengah hari. Ia memutuskan untuk berlari ringan, menyeberangi jembatan kayu kecil dan mengikuti jalan setapak menuju gerbang utara kota.
Di luar gerbang, sawah membentang di bawah sinar lembut. Rumput tinggi bergoyang di angin, membentuk gelombang hijau. Aroma tanah basah masih terasa—hujan semalam meninggalkan jejak. Burung camar bersuara di atas, angin berbisik melalui tangkai padi, dan jangkrik berkicau di semak—melodi yang jauh dari kegelapan dungeon. Arka menarik napas panjang—meski jantungnya masih berdegup kencang, kepuasan memenuhi dadanya: setidaknya ia melangkah lebih jauh daripada malam sebelumnya.
Setengah jam kemudian, Arka menatap langit biru cerah. Ia membuka layar Quest:
> Bantu Evakuasi Desa Serpi Saat Pembukaan Gerbang Goblin (0/?)
Ia menghela napas, menutup layar, dan berlari lebih kencang melintasi sawah. Lumpur menempel di sepatu botnya, namun ia tak peduli.
Sementara itu, di Desa Serpi—kepanikan meletup. Warga berlarian ketakutan; perempuan menjerit; anak-anak menangis; asap tipis mengepul di kejauhan. Goblin-goblin kecil berhamburan, merampok rumah demi rumah, menciptakan kekacauan. Arka tiba di lokasi, jantungnya berdebar. Ia menengadah, menahan napas berharap—apakah ia cukup tangguh? EXP-nya masih setengah jalan. Ia belum mencoba “Hembusan Bayangan Bercahaya” lagi—apakah skill itu muncul kembali?
Arka mengangkat Pedang Setengah Baja, merasakan keteguhan baja dingin. Keheningan memerintah sebelum badai. Ia menoleh—Rika di belakang, panah terpasang, matanya menyala penuh tekad. “Arka, kau siap?” bisik Rika. Arka mengangguk pelan, menelan ludah. “Aku… siap. Semoga Sistem tak mengecewakanku.”
Tawa jahat bergema di balik pagar bambu—sekawanan goblin kecil menerobos, mencakar dan menggeram, muka mereka murahan, rambut kusut, mata kuning menyala. Tanpa ragu, Arka mengangkat pedangnya dan mengaktifkan “Mode Fokus” batinnya—meski ia belum sepenuhnya memahami seluk-beluk “Hunter System.”
> Level 1… 0/5 Goblin
terpancar di layar mentalnya. Goblin pertama melompat, bilah kayunya diangkat. Arka menahan napas, mengayunkan Pedang Setengah Baja—bilahnya melengkung menembus bahu goblin dengan suara “kretek!” Makhluk itu menjerit dan terjatuh. “EXP +2. Quest: Bunuh 5 Goblin (1/5).” Kata-kata itu berkelip sebentar di layar. Arka tersenyum kaku—ia mendapat sedikit EXP, namun Level 2 masih jauh.
Rika menembakkan panah ke goblin kedua, memancingnya, memberi celah bagi Arka. Secara beruntun, dua goblin terbaring oleh sabetan pemula itu. Sekelumit rasa pahit membuncah—pahit karena menghabisi makhluk hidup, manis karena semakin dekat ke Level 2.
Namun tiga goblin tersisa. Arka menarik napas dalam, menenangkan diri. Ia melihat “Mana: 5/10.” Ia menimbang memanggil “Hembusan Bayangan Bercahaya” lagi—cooldown 60 detik. Jantungnya berdegup kencang, setidaknya 30 detik sudah lewat. Situasi masih kacau. Jika dipaksakan, bisa kehabisan Mana.
Arka memutuskan bertarung dengan pedang saja. Ia berputar menghindar tombak goblin keempat—bilah baja berbenturan dengan kayu, memercikkan api kecil. Ia mengerang, menahan diri. Sekali tusuk, ia menancapkan pedangnya ke perut goblin keempat, yang meronta sebelum roboh. “EXP +2. Quest: (3/5).”
Tinggal dua. Goblin kelima meneriakkan jeritan nyaring, tombaknya dilayangkan ke Arka. Sekali tebas, Arka menangkis, lalu menebas rendah, memutus paha makhluk itu. Goblin itu jatuh, meraung kesakitan—hanya satu lagi antara dia dan kemenangan.
Rika maju, pedangnya berkilat mengiris sisi goblin keenam; tubuhnya terkulai. Tersisa satu. Arka menyipitkan mata, menarik napas panjang, mengumpulkan sisa tenaga. Goblin terakhir melompat—Arka menahan diri sebentar, lalu melayangkan sabetan membara tepat ke lehernya.
“EXP +2. Quest: (4/5).” Angka-angka muncul—tinggal satu poin lagi. Jantungnya berdegup keras seperti hendak meledak. Ia menatap goblin terakhir—prompt batinnya berkedip, “Teruskan!” Ia melesat maju, Pedang Setengah Baja berkilat di cahaya redup, lalu terayun menebas. Kepala goblin itu terpisah, berguling di tanah, membeku dalam momen mengerikan.
“EXP +2. Quest: (5/5).” Seketika, udara di sekitar Arka bergetar. Layar sistem berkedip:
> Quest “Bunuh 5 Goblin” – SELESAI
EXP +10
EXP Saat Ini: 60/100
Arka menelan ludah—EXP kini 60/100. Ia masih butuh 40 poin lagi untuk Level 2. Keringat dingin menetes di dahinya. Otot-ototnya protes akibat kelelahan. Ia menoleh ke Rika, yang menyarungkan pedangnya, matanya berbinar kagum.
“Arka…” kata Rika pelan. “Kau hebat sekali.”
Arka mengangguk perlahan, lalu memindai mayat-mayat goblin di sekeliling—pecahan daging menempel di bilah pedangnya. Ia mengangkat pedangnya kembali, merasakan beratnya kini lebih bermakna. Zirrah ringan mencegah serangan kasar mereka merobek tubuhnya. Saat itu ia sadar: “Hunter System” adalah jalan panjang—setiap poin EXP, sekecil apa pun, kini sangat berharga.
Di kejauhan, Desa Serpi masih dipenuhi tangisan; asap mengepul di langit. Rika menepuk bahu Arka. “Ayo ke sisi utara desa. Sekelompok warga terjebak di rumah panggung.”
Arka menelan ludah dan menatap layar sistem sekali lagi:
Level: 1
EXP: 60/100
Kesehatan: 45/50 (Regenerasi)
Mana: 4/10 (Regenerasi)
Angka-angka itu perlahan mendekati maksimum—bukti regenerasi otomatis dari sistem. Namun levelnya tetap “1.”
Arka menyarungkan kembali Pedang Setengah Baja dan berdiri tegak. “Ayo, Rika.” Ia menarik napas dalam, melangkah mantap menuju asap yang mengepul di cakrawala Desa Serpi.