Semua orang menjauhi rumah sakit karena adanya virus yang menyerang dunia, termasuk juga Indonesia dikenal dengan nama virus corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Virus ini menyerang sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat hingga kematian. Bisa menyerang siapa saja, seperti lansia, orang dewasa, anak-anak, bayi termasuk juga ibu hamil dan ibu menyusui. Virus ini menular melalui percikan dahak dari saluran pernapasan.
Gejala awal infeksi virus ini menyerupai gejala flu, yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Setelah itu, gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat. Penderita dengan gejala yang berat bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri d**a. Gejala-gejala tersebut muncul ketika tubuh bereaksi melawan virus corona.
Kita malah datang ke rumah sakit dengan mempertimbangkan semua resikonya. Mengingat kondisi ibu saat itu yang sudah lemah. Hemoglobinnya semakin rendah. Satu-satunya jalan harus transfusi darah.
Sampai di sana, aku melihat para pekerja rumah sakit sudah lengkap dengan pakaian tempurnya. Biasanya aku hanya melihat di media sosial. Kali ini terpampang nyata di depan mata.
Peraturan yang diterapkan begitu ketat. Sebelum masuk diwawancarai terlebih dahulu apakah dari perjalanan luar daerah, sedang batuk, demam dan sesak nafas. Selanjutnya di tes suhu tubuh.
Biasanya yang menjaga pasien boleh dua orang dan ada jam besuknya. Saat pandemi ini, peraturan berubah. Menemani pasien diperbolehkan hanya satu orang dan tidak ada jam besuk untuk meminimalisir tersebarnya virus corona.
Saat mengurus administrasinya aku melihat satu orang dikhususkan untuk mengkondisikan tempat tersebut agar tetap higienis. Meja dan benda-benda disekitarnya secara berkala disemprotkan disinfektan. Menyaksikan hal tersebut kecemasan dalam hati ini berkurang. Karena saat itu lagi parno-parnonya masalah si covid.
Menuju rawat inab, kami melewati beberapa pintu penghubung. Setiap pintu masuk diwajibkan cuci tangan. Kalau bisa bicara mungkin tangan ini akan berteriak.
"Hey! Cuma dalam beberapa menit sudah harus cuci tangan. Lagi dan lagi. Kuman-kuman sudah pada pingsan atau bahkan sudah pada mati. Bisa-bisa aku pun ikut kebasdan juga mati rasa karenanya".
Sabar ya tanganku.
Ketika memasuki kamar, terkejutlah hati awak. Ruangan yang biasanya ruame ini kini kosong melompong. Mungkin para dedemit, hantu, kuntilanak beserta cicit-cicitnya bersorak sorai menyambut kehadiran kami.
"Eh, ada mainan baru nih..".
Membayangkan itu, hatiku mencebik. Dipikirnya aku takut.
Beneran.
Beneran takut?
Ya gak lah...
Itu hanya kehaluan pikiranku saja. Kalau beneran mereka ngajak bermain. Ya, kabur.
Berdua dengan ibu diruang yang lumayan luas dan dengan suasana yang baru, sepi pula, sungguh tidaklah enak.
Biasanya bangsal terisi semua bahkan berdesak-desakan. Kini hening. Hanya ada sekat-sekat hordeng sejauh mata memandang. Agak gimana gitu. Beberapa kali kita saling bersitatap. Menyelami isi hati masing-masing. Ah, sungguh tak kusuka suasana seperti ini.
Menengok dari jendela kamar ternyata diluar hujan. Lengkaplah sudah rasa aneh ini.
Baiklah untuk mengusir rasa gelisah. Aku menghidupkan lampu biar terang dan tidak terlalu mencekam. Pintu balkon kukunci. Takutnya bukan dedemit yang mengganggu, tapi wujud manusia aslinya. Apalagi suasananya sepi seperti ini.
Hordeng yang bagian kami aku tutup. Mengurangi penglihatan yang tak ingin dilihat.
Tapi hati masih saja gelisah.
Mengusir gelisah, aku keluar kamar mengamati sekitar. Ternyata semakin mencekam. Sunyi. Deretan samping kanan kamar kosong dan gelap. Menoleh ke kiri jalan dan ada ruang yang entah apa namanya. Didepan kamar ada ruang bilas yang tak bertuan. Agak jauh ke depan ada ruang jaga perawatnya. Itu pun hanya ada beberapa yang ditugaskan.
Masuk kembali ke kamar. Gelisah tak kunjung berkurang. Entah kenapa waktu berjalan begitu lamban. Berkali-kali melihat jam serasa jarumnya tak bergerak. Selalu masih diangka yang sama.
Mengusir bosan dan gelisah, aku berinisiatif memutar morattal sambil berbaring. Berharap tidur ditengah kecemasan hati yang entah mencemaskan apa.
Menjelang isya kabar baik pun datang. Perawat menginformasikan akan ada pasien baru yang masuk. Alhamdulillah.
Pukul sebelas malam mereka baru masuk kamar sambil bercerita menggunakan bahasa ngapaknya yang tak kupahami.
Mau seberisik apa pun mereka bercerita, terserahlah. Yang penting kadar kecemasan ini berkurang dan wajah ini bisa tersenyum riang. Setidaknya malam ini aku bisa tidur dengan tenang.
Sahabat sholihah,
Setiap orang pasti pernah merasakan cemas atau pun takut. Perasaan ini memang bukan perasaan yang menyenangkan. Saat merasa takut, kita mungkin akan merasakan berbagai gejala fisik yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Gejala-gejala tersebut justru membuat suasana dan kondisi menjadi semakin parah.
Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita menggantungkan hidup ini pada Allah SWT. Saat merasa cemas dan takut, kita dianjurkan untuk tenang, berdoa, dzikir dan membiasakan membaca Alqur’an.
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi . dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 4)
Dalam hidup, kita semestinya lebih banyak berserah pada Allah SWT sehingga tidak perlu khawatir dengan apa yang akan terjadi, karena khawatir tidak akan mengubah apa pun. Kita harus memiliki keyakinan bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup ini, sudah sesuai dengan kehendak-Nya.
Ingatlah!
Hidup menjadi bahagia dan menyenangkan saat kamu membebaskan diri dari kekhawatiran.
“Khawatir adalah aliran ketakutan tipis yang mengalir melalui pikiran. Jika didorong, itu memotong saluran dimana semua pikiran lain terkuras.” (Arthur Somers Roche)
“Hanya ada satu cara menuju kebahagiaan dan itu adalah berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kekuatan dan keinginan kita.” (Epictetus)
Jadilah orang yang tetap sejuk di tempat panas. Tetap manis di tempat yang begitu pahit. Tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar. Tetap tenang ditengah badai yang paling hebat.
Apapun yang kamu hadapi saat ini semua akan berlalu. Semoga menjadi berkah dan rahmat untukmu dan untuk kita semua.