Pagi pun menjelang. Aktivitas rumah sakit pun dimulai. Para pekerja sibuk dengan tugasnya masing-masing. Tak terkecuali didepan kamar kami. Mereka bercerita, tertawa atau pun bergosip. Kalau hari biasa sini sangat mengganggu. Tidak untuk hari itu. Mendengarkan percakapan mereka menjadi hal yang menyenangkan. Bahwa kita tidak sendiri. Masih ada manusia lain di ruangan ini.
Kembali ke bangsal, tetangga baru yang menempati depan kamar. Sejak covid melanda diberlakukan peraturan untuk kelas tiga yang kami tempati ini satu ruangan paling banyak diisioleh tiga pasien.
O,Yach kali ini kami menempati kamar melati nomor sebelas.
Tetangga ini masih menggunakan bahasa ngapaknya ketika bercerita.
Kok bisa bercerita?
Yapp, semestinya yang menjaga pasien hanya satu orang. Terkhusus mereka diperbolehkan dua orang.
Loh bisa?
Mereka dari luar daerah yang dirujuk ke rumah sakit ini. Mereka juga sama sepertiku yang juga baru mengetahui peraturan baru selama covid. Tidak manusiawi rasanya ketika menyuruh salah satunya pulang di tengah malam atau pun dibiarkan tidur diluar. Perempuan lagi.
Yang sakit adalah ibu mereka. Berumur sekitar enam puluhan. Namanya Paijah. Jatuh dari motor. Tangan dan kakinya ada yang retak.
Dua perempuan yang menjaga ini menurutku lucu dan polos. Mereka kadang saling dorong untuk memanggil perawat. Saat itu bel diruangan kami belum dihidupkan.
Pernah saat aku keluar kamar tiba-tiba langsung dipanggil. Sepertinya sudah ditunggu-tunggu.
"Mba mau beli makanan yaa?". Tanya salah satu dari mereka. Saya mengangguk.
"Ikut yaa...".
Aku bigung. Makananku sudah dipesan lewat gofood, tinggal diambil. Sementara mereka baru akan mencari makanan disekitaran rumah sakit. Sebenarnya bisa dibeli di kantin. Sayangnya, mereka kurang menyukai makanan disana. Samalah sepertiku.
Ketika saya menjelaskan kalau saya sudah pesan dan tinggal mengambil makanannya mereka bigung.
"Mba, mau beli makanan diluarkan?". Saya mengangguk.
"Kita ikut. Karena makanan dikantin gak enak. Hambar semua. Kalau beli didepan takut. Bigung juga tempat jual makanannya dimana". Salah satu dari mereka menjelaskan.
Duh, bagaimana menjelaskannya.
"Buk, maaf ... saya tinggal ambil aja makanannya".
Lagi mereka bigung. Bagaimana bisa, keluar saja belum, tau-tau sudah pesan makanan.
Kemudian aku menunjukkan aplikasi gojek. Kalau mereka mau pesan nanti biar dibantu. Makin bigung mereka. Apalagi melihat jenis makanannya. Akhirnya, mereka memutuskan membeli makanan di kantin saja.
Ada yang lebih lucu lagi.
Saat pintu tangga ditutup. Itu sekitar pukul tujuh sampai sepuluh pagi. Biasanya para pekerja akan membersihkan lantai, baik yang ada dalam ruangan maupun diluar.
Rencananya nih mereka mau mencari sarapan. Bolak balik melihat gembok tangga yang tak kunjung pintunya terbuka.
Lagi, ketika saya keluar, salah satu mengekor dari belakang.
"Mau kemana Mba?". Sapanya memulai percakapan.
"Ke bawah buk, mau menbeli minuman".
"Ikut yaa".
"Boleh..."
Si ibu pikir ada jalan tembusan yang tidak ia ketahui. Ketika aku berhenti didepan lift, ia termangu.
"Mba mau ke kantin kan?", tanyanya memastikan yang langsung kujawab dengan anggukan.
"Kenapa berhenti disini", tanyanya polos.
"Kita naik lift. Biar bisa turun ke bawah", jelasku.
Ia mengangguk seolah-olah paham. Ketika pintu lift terbuka dia mematung.
"Ayo, buk!! Nanti keburu tertutup". Dia menggeleng.
"Gak jadi mba...". Ia ngacir kembali ke kamar. Aku pun belum sempat menanyakan mau membeli makanan apa ia sudah keburu menghilang.