Kali ini tetangga depan dekat pintu masuk. Kedatangan dua perempuan berumur sekitar lima puluhan. Tanpa membawa apa pun.
Ceritanya salah satu dari mereka memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui sebenarnya penyakitnya apa. Beberapa hari perutnya terasa nyeri dan sakit. Sangat tidak nyaman. Dokter menyarankan untuk langsung rawat inap karena penyakitnya harus segera dioperasi.
Jadilah mereka tanpa persiapan apa pun menjadi salah satu penghuni kamar nomor sebelas.
Mereka duduk termangu di bangsal. Bigung harus melakukan apa. Ibu yang satu sebagai pengantar adalah sepupunya. sebenarnya ia ingin segera pulang. Namun kasihan melihat sepupunya ini yang tampak bersusah hati. Menginaplah ia sehari disini sekedar menemaninya agar tidak larut dalam kecemasan.
Esok harinya, diceklah kondisi si ibu sebelum di operasi. Ternyata kondisi tubuhnya tidak stabil. Disarankan oleh dokter untuk perbanyak makan dan istirahat.
Kali ini, si ibu sebagai pengantar pulang dan digantikan oleh anak perempuannya.
Hari selanjutnya, dicek lagi. Kondisinya masih sama. Dokter memberikan nasehat.
"Ibu jangan terlalu dipikirkan penyakitnya. Harus semangat dan yakin bisa sembuh. Tidak usah takut untuk operasi. Semuanya akan baik-baik saja. Perbanyak doa biar diberikan kekuatan dan keselamatan". Si ibu hanya manggut-manggut.
Menjelang siang, suasana kamar sepi. Semua istirahat. Dari tempat si ibu terdengar isakan lirih. Betapa ia sangat cemas dan takut untuk operasi. Bagaimana kalau hari ini adalah hari terakhirnya. Berbagai pikiran buruk menghinggapi jiwanya.
Mungkin ini juga penyebab kondisinya yang tidak stabil.
Ternyata tangisan itu terbawa dalam bawah sadarnya. Yach, si ibu ini sedang tertidur. Beberapa saat kemudian terdengar sang anak membangunkannya.
Kondisi seperti ini butuh dukungan, semangat dan motivasi yang kuat. Karena dihari berikutnya pun kondisinya masih sama.
Sampai kami pulang, si ibu belum juga dioperasi. Semoga dia selalu dalam keadaan sehat wal Afiat.
Sahabat Sholihah,
Rasa takut merupakan sebuah reaksi kejiwaan yang muncul secara otomatis tanpa kendali manusia. Semua manusia dan binatang mempunyai rasa takut ini. Misalnya rasa takut atau cemas menghadapi operasi besar. Pada akhirnya, rasa takut ini akan memicu respons emosional, seperti rasa cemas atau keinginan untuk menghindar.
Bagaimana cara mengatasi ketakutan yang berlebihan?
Hadapi rasa takut.
Sebenarnya, salah satu cara menghilangkan rasa takut yang paling sederhana adalah dengan menghadapi rasa takut itu sendiri. Terus menerus menghindari hal yang membuat kita merasa takut justru akan menghambat berbagai hal yang harus atau ingin kita lakukan. Bisa jadi, sebelum mulai mencoba melakukan sesuatu, kita sudah mundur terlebih dahulu karena dihantui oleh rasa takut.
Tenangkan diri.
Cara untuk menghilangkan rasa takut adalah menenangkan diri. Hal ini dapat dilakukan dengan menarik napas dalam, minum air putih, atau mencoba mengalihkan diri dengan berjalan kaki sejenak sambil mendengankan murottal.
Kenali pemicu kecemasan dan rasa takut.
Salah satu cara mengatasi atau menghilangkan rasa takut yang berlebihan adalah mengenali terlebih dahulu pemicunya. Bisa dengan menulis jurnal setiap kali kita merasa takut yang berlebihan. Dari catatan jurnal tersebut, kita bisa memahami apa yang sedang terjadi sebenarnya dan kapan saja rasa takut tersebut muncul. Kita juga boleh menuliskan target-target sederhana untuk membantu menghadapi rasa takut ini jika muncul dikemudian hari.
Berpikir lebih positif
Saat memiliki rasa takut yang berlebihan, cenderung membuat kita pesimis jika dihadapkan oleh berbagai hal. Ada saja pikiran negatif yang menghantui dan dapat menghambat diri kita untuk bisa berkembang. Oleh sebab itu, mulailah memenuhi pikiran kita dengan hal-hal yang positif. Menyakini semua akan baik-baik saja akan mengubah kecemasan menjadi hal positif
Bayangkan hal terburuk yang dapat terjadi.
Cobalah untuk memikirkan kemungkinan paling buruk yang mungkin terjadi. Sebagai contoh operasi yang dijalani tidak berhasil atau dapat menyebabkan kematian. Saat memperkirakan hal terburuk yang mungkin terjadi, kita akan lebih siap menghadapi penyebab rasa takut tersebut.
Terima kenyataan
Menerima kenyataan akan jauh lebih mudah membuat kita merasa tenang dan lebih siap menghadapi ketakutan.
Hindari melampiaskannya pada alkohol, obat-obatan, atau rokok.
Sebagai gantinya cobalah cara yang lebih sehat seperti mencukupkan waktu istirahat dan tidur malam untuk mengurangi rasa tertekan saat ingin menghilangkan rasa takut.
Dalam Islam, seorang mukmin yang telah melatih dirinya untuk takut kepada Allah SWT tidak akan takut kepada yang lain. Oleh karena itu, kalau kita ingin menghilangkan rasa takut dalam hati, caranya hanyalah dengan menghadirkan Maha Agung, Maha Kuasa, dan Maha Kuatnya Allah SWT. Keyakinan inilah yang membuat seorang mukmin lebih bisa menghadapi sesuatu yang menakutkan.
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran (rasa takut) terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tida ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS. Yunus: 62-64)
Jangan membuang waktu dengan terus bersedih. Terus melarutkan diri dalam kesedihan hanya akan menghambat pertumbuhan dan kebahagiaan. Jadikan hati kita selalu damai. Masalah tidak akan menjadi rumit jika kita bisa menyikapinya dengan baik dan dengan kelapangan hati.