Masih cerita tetangga depan sebelah si ibu yang entah kapan operasinya. Seorang remaja yang baru lulus SMA. Putri Dian Astuti namanya.
Dian masuk kamar sebelas ini diantar perawat, sendiri. Tidak ada yang menemani.
Biasanya kalau pertama datang ada beberapa administrasi yang harus diparaf dan diselesaikan. Karena sendiri, Dian diminta perawatnya menghubungi keluarga. Harus ada yang bertanggung jawab walau pun biaya sakitnya ditanggung oleh pemerintah.
Terlihat Dian sangat keberatan.
"Sus, nanti malam teman saya datang buat jaga. Nunggu dia pulang kerja dulu".
"Ini bukan main-main, Mba! Harus ada persetujuan dan penanggung jawab. Orang tuanya masih ada kan?". Dian mengangguk.
"Cepat hubungi. Kalau sudah datang, suruh ke bagian administrasi. Biar Mba segera ditangani".
Karena tidak enak dan dipaksa, akhirnya Dian telpon ayahnya.
Ceritanya si Dian ini lagi sibuk mencari pekerjaan. Sambil menunggu lamaran kerjanya diterima berkumpullah ia bersama teman-temannya. Hahahihi hahahihi menghabiskan waktu yang tak pernah bisa habis.
Selagi berpesta pora inilah Dian tetiban pisau yang jatuh mengenai kakinya. Sama teman-temannnya dibawalah ke puskesmas. Karena pendarahan yang tak kunjung reda dirujuklah Dian ke rumah sakit dan harus rawat inap. Jadilah Dian penghuni bangsal bersama kami.
Beberapa jam kemudian datanglah seorang laki-laki menghampiri bangsalnya. Menatap dengan dingin.
"Kau ini! Tidak berhenti membuat ulah. Tidak ada rasa iba dan kasihan dengan orang tua. Pergi tidak berkabar, berhari-hari. Ditelepon tidak diangkat. Tau-tau dapat kabar ada disini. Maunya kamu itu apa". Suara itu pelan bahkan seperti berbisik namun penuh penekanan.
Hening.
"Kalau sudah seperti ini siapa yang susah? Orang tua kamukan? Masih tidak mau mendengarka!. Dinasehati juga percuma. Entah mau jadi apa kamu ini!".
Hening kembali.
Laki-laki itu menghela nafas lalu menghembuskan. Berulang-ulang. Menahan amarah dan kecewa.
"Hmmm...". Dian menatap si lelaki ragu.
"Papa disuruh perawat ke bagian administrasi buat tanda tangan".
Duh, ini bocah. Tidak ada sopan-sopannya sama orang tua.
Lelaki yang di panggil 'papa' itu hanya diam, lalu pergi tanpa kata. Menyelesaikan urusan yang menjadi tanggung jawabnya.
Setelah semuanya selesai. Dia kembali ke kamar. Melihat kondisi Dian, anaknya.
"Perawat tadi mengatakan kakimu akan dioperasi besok. Bersiaplah".
Mereka bersitatap sebentar lalu bersamaan membuang muka.
Hening.
"Papa pulanglah. Nanti malam ada temanku yang datang untuk menjaga. Nunggu dia pulang kerja dulu".
Terdengar helaan nafas si lelaki. Menatap anaknya sebentar. Menggeleng. Lalu tanpa kata keluar. Kemungkinan pulang karena tidak terlihat lagi disekitar kamar.
Malamnya sang teman benar datang. Entah teman yang seperti apa. Teman rasa pacar atau teman rasa suami atau teman rasa nano-nano. Cuma mereka yang tau.
Esok paginya, teman Dian pun pulang. Setelah diperiksa kondisi badannya, semuanya dalam kondisi baik. Dian bersiap untuk menjalani operasi.
Aku pikir Dian bakalan sendiri. Ternyata sang papa datang menemani. Walaupun hanya berdiri mengamati tanpa sapaan atau pun semangat. Setidaknya kehadirannya disini sebagai bentuk perhatian dan kepedulian orang tua terhadap anaknya. Entah dengan sang anak sendiri.
Sahabat sholihah,
Sebagai orang tua, mungkin pernah kesal jika anak membantah perkataan kita. Apalagi jika diberikan nasehat, ia tak mendengarkan dan malah membentak atau memarahi kita dengan nada yang keras.
Allah SWT telah memerintahkan seluruh umatnya untuk berbakti, menghornati, dan berbuat baik kepada orang tuanya. Anak pun tidak boleh membentak atau menyangkal dengan mengeluarkan kata-kata seperti “ah”
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23-24)
Seringkali banyak orang tua yang memberi label durhaka pada anaknya lantaran sikap yang menyakiti hati. Padahal, banyak yang tanpa sadar telah memicu anak melakukan hal buruk akibat ucapan orang tuanya sendiri.
Dalam Alqur’an bukan hanya bagaimana anak berlaku baik kepada orang tua, tetapi juga bagaimana orang tua nanti harus memperlakukan anaknya dengan sebaik-baiknya karena itu amanah dari Allah.
“Anak adalah amanah Allah SWT paling berharga yang patut disyukuri dan wajib diasuh dan dididik yang pada akhirnya dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.” (Rochmat Wahab)
Sebagai orang tua, tidak ada salahnya mengenalkan atau mengajari anak seputar agama sejak dini. Hal itu merupakan cara yang baik untuk mendukung anak di masa yang akan datang. Misalnya melatih anak shalat lima waktu setiap harinya.
Tidak hanya menanamkan nilai agama saja, anak juga harus diajarkan sopan santun terutama kepada orang tua atau orang dewasa sedini mungkin.
Anak yang diajarkan tentang adab dan ilmu agama akan tumbuh menjadi orang yang selalu menghargai sesama. Mereka yang selalu diberikan perhatian dan kasih sayang pun akan senantiasa memiliki hati yang lembut.
Selanjutnya, anak-anak yang shaleh dan shalehah, tumbuh dalam kataatan untuk beribadah kepada Allah SWT, maka semakin bertambahlah karunia yang Allah berikan kepada orang tuanya. Hidup menjadi kian berkah dengan kehadiran mereka. Bisa jadi, kerja keras orang tua mendidik anak-anaknya menjadi hamba-hamba Allah yang shaleh menjadi sebab semakin berkahnya rizki yang didapatkan dan dapat mengantarkan orang tuanya masuk syurga.
“Apabila manusia mati, maka putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Bukhori Muslim).
Anak adalah peniru ulung dan ia sangat mungkin meniru orang tuanya. Oleh karena itu, berikanlah ia contoh dan perilaku yang baik.