Sambil memasang raut wajah tidak sedap, Jarot menaikan alis Kanannya dan melihat kearah Raizel secara berulang-ulang.
"Ini Fotonya pak dekan. kenapa dia simpan foto ini."Ujar Jarot. penuh pertanyaan.
"Lihat, di belakangnya ada catatan."Ucap Speed.
Saat Jarot membalikkan Poto yang ada di tangannya, sebuah nomer telepon terlihat jelas tertulis di balik Poto dekan mereka.
***
Beberapa jam kemudian, semua orang terlihat berada di kediaman dekan mereka. orang yang tidak lain adalah Frank, pelayan setia dari Raizel saat masih di alam para bangsawan.
"Saya tidak mengira akan ada tamu, jadi maafkan hanya ada teh saja yang bisa di berikan." ucap Frank. sambil membuatkan beberapa gelas teh.
"Terimakasih banyak Pak Dekan."Ucap ketiga orang itu kompak.
"Anggap saja ini rumah kalian sendiri."Ujar Frank sambil tersenyum hangat.
Semua orang pun menikmati teh yang di buatkan oleh Frank, mereka duduk di sofa dengan tenang sedangkan Frank berdiri di belakang Raizel.
"Pak, bapak tinggal dengan anak ini."Tanya Jarot polos sambil menunjuk jari kearah Raizel.
Seketika Frank terkejut dengan apa yang di tanyakan oleh Jarot, malah ada kata-kata anak dan menunjuk jari. padahal, sejatinya umur Raizel sudah berada ribuan tahun lalu.
"Iya, itu benar, bapak kenal baik dengannya. jadi dia tinggal disini."Sahut Frank dengan senyum mengembang.
"Begitunya..!"Ucap Jarot lirih.
"Saya agak kaget melihat kalian semua masih bersama-sama sampai selarut ini " tanya Frank merubah topik.
"Haha, kami habis nongkrong di warnet dengan Rai setelah sekolah."Sahut Speed seketika itu juga.
"Rai...?
"Oh itu, semua wanita di seolah sepakat memanggilnya Rai, jadi kami juga ikut memanggilnya Rai, tentu saja Rai sudah setuju."Ujar Yunda langsung menanggapi.
Melirik kearah Raizel, Frank melihat ketenangan dari diri Tuannya, dia pun tersenyum dan berkata." Begitu, ya!
"Tapi tadi Yunda tidak ikut dengan kami pak, kami bertemu Yunda saat dia dalam bahaya."Ujar Speed.
"Dalam bahaya?" tanya Frank terkejut.
Jarot langsung berinisiatif menceritakan apa yang terjadi sebelumnya, dan bagaimana ceritanya sampai mereka bisa bertemu dengan Yunda.
Jarot dengan semangat empat lima, bercerita semua yang baru saja dia alami, termasuk dengan perubahan aneh dari pria yang di hajar oleh Jarot.
Sementara Jarot bercerita dengan sangat semangat, Frank yang mendengar cerita Jarot berpikir dengan sangat cepat. dia mulai menyambungkan dengan beberapa kejadian yang terjadi baru-baru ini.
"Untungnya Yunda selamat dan kami pun lari menjauh setelah Jarot berhasil merobohkannya."Sambung Speed, meneruskan cerita Jarot dan menutup cerita itu.
Saat Frank masih sibuk dengan pikirannya, dan mulai merangkai semua kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, suara dari Jarot menyadarkan Frank seketika.
"Pak, sebaiknya bapak memberi dia uang jajan untuk makan siang."Ujar Jarot sambil melipat kedua tangannya.
"Ah, makan siang? M-makan siang apa?" tanya Frank dengan wajah yang heran dan kikuk.
"Waktu hari pertama dia masuk kelas, saat semua pergi ke kantin di jam istirahat dia malah diam di kelas karena tidak punya uang jajan, mau tidak mau aku yang traktir dia makan."Sahut Jarot.
"Jeddaaaaarrrr....!" Saat mendengar kata-kata itu, Tubuh Frank serasa di sambar petir. keringat dingin keluar dari tubuh Frank saat itu juga.
"Aku sedang kesulitan dengan uang soalnya pak."Jarot melanjutkan ucapannya dengan wajah lesu.
"Glek!" suara ludah tertelan terdengar, Frank menelan ludahnya beberapa kali sambil terus berkeringat dingin.
Melirik kearah Raizel yang sedang menikmati teh di dalam cangkir gelasnya. Frank berkata dalam hati." Apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku sampai lupa dengan hal itu.
***
Di tempat lain, masih berkeliaran di tengah kota. kedua pria berjubah hitam terus memantau apa yang di lakukan oleh manusia buatan mereka berdua.
"Dimana dia?"Tanya pria pertama yang memiliki perawakan kurus.
"Dia sedang makan tidak jauh dari sini." ucap dingin pria kedua, pria yang bertubuh besar.
"Sepertinya kali ini dia dapat buruan, kurasa bocah tadi itu bukan bocah biasa." Lanjut Pria bertubuh besar kembali berkata.
"Proses rusaknya tubuh si b******k itu hanya sedikit, aku tidak tahu berapa lama dia akan bertahan."Ucap pria kurus pertama.
"Tidak akan lama, seperti semua yang lain. Dia akan mati karena gagal berburu di sekitar sini atau....! Dia sendiri yang diburu."Ujar pria bertubuh besar dengan seringai kejam di balik wajahnya.
"Akhirnya sudah jelas, kapan itu akan terjadi, yang penting..!"Ucapan pria pertama terhenti.
"Bukankah sebaiknya sekarang kita melaporkan soal peti mati itu kenyang berwenang."Tanya pria bertubuh besar.
"Hmmmm....sangat menyebalkan, tapi memang benar! aku benci harus melapor lebih awal kalau akhirnya harus kembali." ujar pria kurus pertama sambil menggertakan giginya.
"Apapun perintah mereka, sebaiknya kita tinggal lebih lama disini. Toh, kita tak pernah menuruti perintah mereka, yang perlu kita lakukan adalah, patuh dibagian akhir, ya. kan?" tanya pria pertama setelah menenangkan dirinya.
"Benar, bisa juga begitu. hahaha!" Sahut pria bertubuh besar.
Keduanya pun tertawa terbahak-bahak di tengah malam dan suasana hening kota, mereka tidak peduli jika suara mereka menganggu semua orang.
***
Di kediaman Frank saat ini, setelah semua orang kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Raizel masih tetap tenang duduk di kursinya.
"Sekertaris sekolah memastikan anak-anak itu diantar pulang dengan mobilku."kata Frank. memberikan laporan pada Tuannya.
Setelah melihat anggukan kepala dari Raizel, Frank pun berkata."Tuan. Sesuatu dari cerita mereka membuatku risau. Diam sejenak sambil melihat reaksi dari Raizel. Frank melanjutkan." Orang yang menyerang Yunda, apa dia seorang Vampir?
Melihat reaksi dari Tuannya yang sedikit berubah. Frank langsung menyampaikan pemikirannya." Dari cerita yang mereka katakan, tak bisa menjelaskan semuanya. tapi, karena kita tak memahami apapun atas situasi anda saat ini, aku jadi risau.
"Satu hal yang berubah saat anda tertidur, adalah perjanjian antar satu dengan lainnya. Awalnya seperti tuan tahu, kaum manusia membuat perjanjian soal serangan demi keselamatan dan kepentingan mereka.
"Namun kini, semua berubah setelah kekuatan mereka miliki. sekarang Vampir dilarang menyerang manusia, para Vampir berada dalam bayangan. itu sebenarnya kaum vampir, manusia biasa tidak bisa mengetahui, tidak seperti di zaman dulu." Ucap Frank menutup penjelasannya.
"Aku tidak tahu." sahut Raizel dengan singkat dan suara yang datar.
"Tuan, anda tahu persis soal Vampir, terutama soal keinginan tak terkendali mereka." ujar Frank dengan hormat.
"Aku bisa merasakan kemarahn dan rasa lapar yang kuat, yang tak bisa di bandingkan dengan rasa yang kutahu sebelumnya."Ucap Raizel sambil melihat catatan di tangannya.
Frank terkejut dengan apa yang di katakan oleh Tuannya, dia berpikir jika tuannya tidak mungkin tidak mengetahui ciri-ciri dari para vampir.
'Tuan tentunya bisa mengenali kalau orang itu memang vampir, tapi beliau juga tidak menyanggahnya. Sudah pasti ada sesuatu yang terjadi, Tuan kemungkinan terlibat, jadi aku harus mencari tahu soal ini secepatnya."Gumam Frank dalam hatinya.
"Dia belikan aku makan siang."Seru Raizel tiba-tiba.
"Ah. A-Aku Minta maaf, aku seharusnya menyiapkan makan untuk Tuan."Ujar Frank tidak enak hati.
"Untuk pertama kalinya, aku mencoba makan di tempat ini, dan aku menyukainya."kata Raizel dengan wajah tanpa ekspresi.
"Sungguh aku senang mendengarnya. "Ujar Frank sambil sedikit membungkuk.
"Aku juga suka dengan tempat yang di sebut kampus ini."Ucap Raizel kembali. diam sejenak untuk meminum tehnya, Raizel kembali berkata." Rai. untuk sekarang namaku Rai.
Dengan sedikit terkejut, Frank yang masih tertegun menjawab." Oh, baiklah.
"Tuan, apa yang anda makan saat makan siang? pastinya itu makanan yang istimewa."Tanya Frank penasaran.
"Bakmi daging!" Ujar Rai dengan tenang.
"Apa...?!" Raung Frank serasa jantungnya mau copot dengan apa yang di katakan oleh Raizel.
"Ampuni Hamba Tuan!" Frank langsung bersujud di hadapan Raizel, dia menundukkan kepalanya dengan rasa menyesal.
Menurutnya, tidak pantas seorang bangsawan keturunan murni seperti Raizel memakan bakmi daging. Jika kaum para bangsawan mengetahui hal itu, bisa-bisa keselamatan umat manusia jadi taruhan.
Karena menurut para kaum bangsawan, itu sebuah penghinaan besar kepada kaum mereka. apalagi seorang kaum bangsawan murni yang sangat terhormat dan disegani oleh semua para bangsawan.