"Appa pulang"
"Ah appa?"
"Appaaaaaaaaa" terdengar langkah kaki yang berlarian saling bersahutan memburu siapa dulu yang sampai ke dalam pelukan sang ayah.
Hoseok melebarkan kedua lengan membiarkan tubuhnya ditabrak oleh kedua bocah manis yang mirip seperti difoto dalam dompetnya. Tubuhnya agak limbung tapi dia masih bisa menahan.
"Anak appa apa kabar?" terdengar kecupan dua kali yang diberikan kepada Hayoung dan Hana.
"Baikkk" jawab si bungsu dengan cengiran manis yang memperlihatkan gigi berlubangnya yang semakin terlihat lucu.
"Hayoung rindu appa" si sulung semakin erat memeluk tubuh ayahnya.
"Appa juga rindu eonnie dan Hana" kembali Hoseok mengecup pucuk kepala anaknya setelah itu berdiri menghampiri sang istri yang sedang bersandar pada dinding tak jauh darinya. "Bagaimana dengan eomma? Apa kabar? Eomma tidak nakalkan?" goda Hoseok sembari mengecup kening sang istri dan memberi pelukan hangat.
"Aku baik, oppa. Oppa bagaimana? Apa pekerjaan lancar?" Haru balik memeluk Hoseok menumpahkan keriduan pada sang suami yang baru saja pulang setelah tiga hari tak kembali. "Mengingatmu saja membuatku takut, bagaimana bisa aku nakal" Haru memanyunkan bibir lucu membuatnya terlihat seperti Hana saat merajuk.
"Semua berjalan lancar," senyum Hoseok membuat Haru ikut tersenyum lagi, "aku mengambil cuti agar kau tidak nakal" bisik si lelaki Gwangju itu membuat Haru terkekeh geli.
"Baiklah, sekarang lebih baik oppa bersih-bersih aku sudah menyiapkan makan malam"
"Ok"
"Appa, ada baju princess untukku?"
"Boneka untuk Hana, boneka untuk Hana!"
Hoseok tergelak, mengelus rambut kedua princessnya. "Iya ada, nanti ya" setelah itu Hoseok berlalu ke dalam kamar yang diikuti Haru sembari membawa topi kerja Hoseok dan koper si lelaki tampan tadi menuju kamar mereka.
Setelah selesai bersih-bersih, Hoseok datang ke meja makan, keluarganya sudah menunggu. "Woah, banyak sekali makanannya"
"Eomma habis mendapat pesanan banyak" kata Hayoung yang pindah tempat duduk disamping ayahnya.
"Eonnie awas"
"Ih, aku mau duduk disini"
"Hana yang duluan"
"Hey sudah-sudah" omel sang ibu melihat kedua anaknya rebutan kursi untuk duduk berdekatan dengan Hoseok.
"Hana disini, eonnie pindah disini ayo dikanan appa" Hoseok menarik pelan sulung untuk duduk dikanannya. "Pesanan untuk apa?" lanjutnya mengalihkan perbincangan agar kedua anaknya tak lagi bertengkar.
"Ulang tahun, Hana membantu eomma!" teriak Hana semangat.
"Aku juga membantu eomma!" Hayoung tak mau kalah.
"Tapi Hana yang paling banyak!"
"Banyak mencolek krim maksudmu?"
"Ishhh" gerutu Hana membuat kedua orang tuanya tergelak.
Hoseok tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya yang selalu berhasil membuatnya rindu rumah. "Iya iya, kedua anak appa hebat" kembali Hoseok mengulurkan kedua tangan untuk mengelus pucuk kepala anak-anaknya.
Haru tersenyum melihat kelembutan suaminya saat berhadapan dengan kedua anak yang tidak pernah akur. Bersyukurlah wanita itu menikahi seorang Jun Hoseok, lelaki yang penuh kasih sayang dan penyabar, tak pernah membuatnya merasa menyesal sedikitpun karena telah mencintainya dan memiliki buah hati dengannya.
Makan malam berjalan dengan santai, celotehan Hayoung dan Hana menemani kekhusyuan makan malam sedangkan Hoseok terus menimpali dan menanggapi cerita-cerita itu dengan sabar membuat Haru lagi-lagi mengembangkan senyuman paling manis.
"Sekarang, eonnie dan Hana cuci tangan lalu minum s**u, ok? Eomma sudah siapkan di dapur" seru Haru.
"Baiklah" teriak mereka berdua, setelah itu terdengar suara langkah berlarian menuju dapur.
Haru tersenyum ketika melihat suaminya tengah meneguk air dalam gelas, tanpa ragu langkahnya mendekat, mendekap Hoseok dari belakang, membuat si suami tersentak kaget.
Jarang sekali Haru melakukan hal seperti ini, terlebih masih ada kedua anaknya walaupun tidak melihat.
"Ada apa, hm?" tanya Hoseok menoleh sebentar. Pasti ada maunya, pikirnya.
Terasa pergerakan kepala Haru yang menggeleng, pelukannya semakin erat membuat Hoseok semakin berpikir kalau Haru memang benar-benar ada maunya.
"Mau apa hm?" tangannya bersarang di lengan kanan Haru yang melingkar dan melirik wanita manis itu dari ekor matanya.
"Mau...memberikan ini" Haru mengeluarkan barang dari saku, menunjukkan ke depan lelaki berpipi chubby itu.
Agaknya Hoseok mengerut, tidak tahu maksud dari barang yang ada dihadapannya. "Ini apa?"
Wanita itu memutar bola mata malas, mau memberi surprise malah ditanya hal yang menyebalkan seperti itu, "apa dimatamu ini seperti pensil?"
"Bukan, tapi seperti alat untuk memasukkan benang"
Boleh Haru memukul kepala suaminya sekali saja? "Kau kena jetlag, oppa?"
"Tidak juga, kenapa?"
"Tidak, tidak jadi" mood Haru sudah turun, dia melepas pelukan pada sang suami, membuat Hoseok bingung.
Sebelum Haru semakin menjauh, Hoseok menarik tangannya, meminta penjelasan pada si wanita yang kini menampakkan wajah masam. "Hey hey sebenarnya ada apa? Ini apa sayang? Ayo bicara yang benar"
Wanita yang kini bermarga Jung itupun menghela nafas malas. "Menyebalkan, masa tidak tahu ini apa? Ini testpack"
"Lalu?"
"Lalu?" Haru mengikuti gaya bicara Hoseok dengan tampang bete, tangannya mengumpulkan semua piring menjadi satu "Pikir saja sendiri" setelah itu Haru pergi begitu saja membawa piring.
Hoseok memiringkan kepala menatap kepergian sang istri ke dapur. Mulutnya terbuka, matanya terlihat datar, ekspresi cengonya benar-benar terlihat lucu. "Dia kenapa? Pms? Huhhh" kembali menegak air di dalam gelas hingga habis. "Tunggu," Hoseok ingat sesuatu. "Testpack itu untuk apa ya? Membersihkan komedo? Bukan bukan itu porepack, jadi testpack itu... Shhh, aku tidak tahu" Hoseok menggelengkan kepala.
Lelaki Gwangju itu berdiri membawa gelasnya menuju dapur, langkahnya baru saja akan memasuki dapur, tetapi otaknya menitahkan untuk berhenti. "Jadi.... Hah, ya ampun. NA HARU KAMU HAMIL?!!!"
---
"Haru, aku minta maaf, aku benar-benar baru mengingatnya." Hoseok mengelus punggung istrinya yang tengah memunggunginya.
"..."
"Lagian kenapa tidak kau katakan langsung bahwa kau hamil"
"..."
"Haru..."
"..."
"Sayang?"
"..."
"Sweetheart"
"..."
"Cintaku"
"..."
"Cantikku"
"..."
"Manisku"
"..."
"Aku dengar Gucci mengeluarkan brand baru..."
"Aku maafkan" seketika saja Haru balik badan menghadap suaminya. Membuat Hoseok tersenyum menang. Gampang sekali menarik perhatian istrinya. "Besok belikan aku"
"Apa?"
"Tentu saja tas baru keluaran gucci"
"Aku belum gajian" Hoseok merebahkan tubuh di kasur dengan gerakan bersiap untuk tidur.
Haru mencebikkan bibir sebal, tangannya menyilang di depan d**a, tubuhnya kembali berputar membelakangi si pujaan hati.
Hoseok terkekeh melihat kelakuan Haru yang terlihat seperti putri-putrinya saat merajuk. "Iya iya, kita beli besok, mau beli berapa, hm?"
"Jangan tanya berapa dulu, kalau nantinya aku hanya membeli tas kau sudah mengeluh kemahalan"
Hoseok tertawa lalu menarik tubuh sang istri perlahan hingga masuk ke dalam pelukannya. "Memang aku pernah mengeluh jika memberimu?"
"Terakhir kali saat aku membeli dompet gucci yang sama dengan Joohyun, kau ngomel"
"Tentu saja, harga dompet setara dengan dua bulan gajiku bagaimana aku tidak ngomel, kau mau makan dompet memangnya, hmm?" tangan lebar itu mengelus lengan kecil Haru, membuat sang empu lengan merasa sedikit ngantuk.
"Tapikan aku bilang aku akan menambahkan kekurangannya"
"Tapi terlalu mahal, sayang" Hoseok menatap wajah memelas istrinya, mengusap pipi yang semakin chubby milik Haru. "Lalu sekarang mana dompet mahal itu?"
"Oh itu, karena aku bosan akhirnya aku jual setengah harga pada Miyoung eonnie, ehehe"
"Apa? Setengah harga?!" teriak Hoseok melotot.
"Iya, untuk membeli model terbaru, tenang saja, harganya tidak mahal kok, hanya seperempat harga dari dompet yang kemarin" ujar Haru yang diikuti kekehan membuat Hoseok frustasi. Gampang sekali istrinya menjual barang dengan harga murah sedangkan saat membelinya Hoseok harus puasa selama seminggu.
Helaan nafas terdengar dari lelaki bermarga Jun itu, "Na Haru, dengarkan aku. Ini bukan masalah mahal atau tidak, tapi kau harus hemat, sayang. Aku tahu kau memiliki pendapatan sendiri dari kedai kue, tapi bukankah kedai tidak selalu ramai? Aku mau kau bisa meminimalisir pengeluaran untuk menabung, tanggungan kita masih banyak, sayang," merapihkan rambut sang istri, "Hayoung masih SD, sedangkan Hana akan masuk SD tahun depan. Kau mau melihat anak kita tumbuh besarkan?" terasa Haru menganggukkan kepala. "Makanya kau harus menahan hasrat belanjamu, belum lagi ditambah kau sedang hamil, biaya persalinankan tidak murah" tangan lebar itu beralih mengelus perut Haru, tak disangka kini Haru kembali hamil, bahkan Hoseok kira Haru tidak bisa hamil lagi, mengingat dirinya juga jarang pulang. "Oh iya, yang disini berapa bulan?"
"Tiga" Haru tersenyum merasakan elusan Hoseok diperutnya.
"Bagaimana kau mengetahuinya saat hamil?"
"Ah itu, awalnya aku merasa pusing dan mual, karena tidak kuat aku menelepon Jin oppa memintanya untuk datang. Tapi dia malah memarahiku..." Haru kembali memanyunkan bibir lucu.
"Kenapa?"
"Katanya, kenapa kau memanggil dokter gigi untuk meriksa orang hamil?" ujar Haru mengikuti cara bicara Jin dengan nada khasnya yang terlihat menyebalkan.
Hoseok tertawa mendengarnya, tangannya beralih mengelus perutnya sendiri membuat Nyonya Besar mengerut kesal, matanya terlihat menusuk, wajah mungilnya terlihat mengeras.
Yang melihat hanya mampu berdoa agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
"JUN HOSEOK TIDUR DILUAR!!!"
Nyata
Dengan sekali tendangan, Haru berhasil merubuhkan Hoseok dari kasur.
"Haru ak..."
"Keluar!"
"Ak..."
"Keluar atau..."
Bugh!
...atau mendapat gratisan pukulan bantal tepat diwajah.
Dengan sangat sangat terpaksa Hoseok keluar kamar, sebelum singa betina kembali mengaum. Ini sangat jarang terjadi bahkan dikategorikan tidak pernah, Haru adalah orang yang lembut. Apa mungkin ini bawaan bayi?
"Hah, belum juga lahir kau sudah berani mendepak appamu keluar, nak" keluh Hoseok.
Malam berlalu, pagi menjemput matahari membuat sinarnya lambat laun menerangi semua celah bumi, tak terkecuali rumah sederhana kediaman Jung.
Terlihat sang kepala keluarga yang tidur dalam posisi mengangkang, kaki kanan yang jatuh menjuntai kebawah dan kaki kiri yang naik keatas sofa, tak lupa dengan mulutnya yang terbuka.
Haru yang melihat cara tidur suaminya hanya dapat menggeleng, setelahnya dia pergi begitu saja ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Huweekkkk"
Dari arah kamar mandi terdengar suara orang mual-mual, bukan, itu bukan Haru. Bahkan Haru yang bingung siapa orang yang mual di dalam kamar mandi.
"Huweekkk huwekkk" kembali terdengar suara mual.
Penasaran, Haru menempelkan telinga ke pintu kamar mandi, mendengarkan dengan khusyu suara muntahan siapa yang ada di dalam kamar mandi. Dari suaranya terdengar agak berat jadi tidak mungkin Hayoung apalagi Hana.
Lagipula Hayoung dan Hana akan menghampirinya jika ingin muntah atau paling tidak mereka akan muntah langsung tanpa pergi ke kamar mandi.
Haru membuka pintu kamar mandi, terlihat Hoseok menundukkan wajah ke arah wastafel guna mengusap wajahnya membersihkan sisa muntahan di mulutnya. "Oppa, kau tidak apa-apa?"
"Hah, aku ok...huwekkkk" mungkin efek karena belum memasukkan makanan apa-apa, Hoseok tidak memuntahkan apapun, tadi saja hanya keluar air sedikit.
"Kau sakit, aku telepon dokter ya?"
"Tidak, aku tidak huwekkk..." dan lagi Hoseok mual membuat Haru semakin khawatir.
"Tidak ada bantahan, ayo aku antar ke kamar" setelah membantu suaminya membersihkan wajah, Haru memapah Hoseok ke kamar, menidurinya, lalu menarik selimut menutupi tubuh Hoseok. "Sebentar aku telepon dokter dulu"
Tak lama dokter yang Haru telepon pun datang. Haru tersenyum saat membuka pintu rumahnya. "Jin oppa ayo masuk"
"Kenapa lagi? Perutmu sakit? Sudah kubilang datang ke dokter kandungan Haru, aku ini kan dokter gigi mana bisa..."
"Bukan aku yang sakit oppa, tapi Hoseok oppa"
"Dimana dia sekarang?"
"Kamar"
Tanpa babibu Jin bergegas ke kamar empu rumah, terlihat Hoseok yang tergeletak lemah di kasur dengan ditemani dua putri manisnya yang sesunggukkan melihat kondisi ayahnya.
"Hyung"
"Kau kenapa?"
"Terasa lemas dan sedikit mual, hyung"
"Paman hiks appa kenapa? Hiks paman, sembuhkan appa" keluh Hayoung diikuti Hana yang semakin kencang menangis.
Hoseok tersentuh dengan perasaan sayang kedua anaknya. Ternyata hangat saat mengetahui kau dikhawatirkan anak sendiri.
Jin pun ikut tersentuh, dengan penuh kelembutan lelaki tampan berstatus dokter gigi itu memberi pengertian pada adik-kakak Jung. "Hana dan Hayoung jangan menangis, appa tidak apa-apa, Paman Jin akan memeriksanya, jadi jangan khawatir ya" Jin mengelus kedua rambut lembut putri Hoseok.
Jung Sister mengangguk masih dengan isakan tangis. Haru yang melihatnya tersenyum "Hayoung, Hana, sini sayang, biarkan Paman Jin memeriksa appa" tanpa titahan dua kali, Hana Hayoung turun dari kasur, berlari ke pelukan sang ibu.
"Jadi Hoseok oppa kenapa?"
"Dia tidak apa-apa, hanya terkena gejala morning sickness, memang biasanya ibu hamil yang akan merasakannya, tapi ada pula sang suami yang malah merasakan hal seperti ini, itu karena perasaan simpatinya kepadamu yang sedang hamil."
"Begitu ya?"
"Iya, dan satu lagi"
"Apa itu?"
"Jangan memanggilku lagi karena aku dokter gigi bukan dokter umum apalagi dokter kandungan"
Haru mengerucutkan bibir setelah itu terkekeh malu. "Ya, maafkan aku, habis aku bingung harus menghubungi siapa lagi. Lagi pula kau kan juga dokter, oppa"
"Tetap saja ini bukan bidangku." jawab Jin dengan senyuman manis, maksud memberi pengertian. "Aku harus berangkat kerja, biarkan Hoseok istirahat, salam padanya aku langsung pergi" pamit Jin sembari menepuk pelan lengan Haru.
"Baiklah, terima kasih, oppa"
"Ya sama-sama"
"Hati-hati"
"Iya"
Tak lama terdengar suara mobil yang mulai menjauh.
Haru masuk ke dalam kamar, melihat Hoseok sedang berbincang seru dengan kedua anaknya walaupun dengan suara lirih.
"Hayoung, Hana, ayo sarapan"
"Tapi aku mau bersama appa, eomma"
"Hana juga"
Hoseok kembali tersenyum, "ayo anak appa yang pinter sarapan dulu"
"Tapi appa?" seru Hayoung lirih.
"Appa tidak apa-apa" kembali Hoseok tersenyum meyakinkan kedua anaknya, tak lupa kecupan dia berikan untuk kedua anaknya.
"Baiklah, ayo"
"Baik"
Kedua bocah manis itu berlarian keluar kamar meninggalkan kedua orang tuanya.
"Bagaimana? Mendingan?" Haru mendekat ke arah Hoseok, si suamipun langsung bangkit terduduk, bersandar pada kepala kasur dengan dibantu oleh Haru.
"Hmm," mengangguk sembari menunjukkan senyumannya.
"Baiklah, aku bawakan sarapan untukmu dulu ya" baru saja Haru akan melangkah, tangannya ditarik oleh Hoseok.
"Aku mau ramen"
"Tidak, kau sedang sakit. Bubur saja"
"Aku maunya ramen"
"Tidak"
"Ayolah" kata Hoseok memeperlihatkan puppy eyes.
Haru berpaling, melipat kedua tangan depan d**a "Sekali tidak tetap tidak"
"Yasudah aku tidak mau makan" kata Hoseok kesal.
Haru termenung melihat Hoseok yang malah merajuk seperti anak kecil. "Oppa"
"Jangan bicara padaku sampai ada ramen" berpaling sembari melipat kedua tangan depan d**a.
Haru mendelik, serius ini adalah Hoseok? Jung Hoseok yang katanya sosok yang lembut dan dewasa?
"Hah, baiklah" Haru pun runtuh, Hoseok bersorak. Dengan malas Haru berjalan menuju dapur.
Dihadapannya sudah terdapat ramen yang menguar bau dan berasap, ah sungguh menggoda. Dengan sorak gembira Hoseok menyambar dan menelannya lahap.
"Aku tinggal ya, aku harus mengantar anak-anak dan membuka toko"
Tangan manis itu diserobot Hoseok, menariknya hingga si wanita terjungkang di kasur. Ckck, kasar. "Jangan kemana-mana, temani aku disini"
"Tapi bagaimana dengan anak-anak?" Haru bangkit duduk dari kasur, menatap malas pada suaminya.
"Suruh mereka berangkat sendiri"
Hoseok kenapa sih? Dia pikir sekolah anak-anaknya dekat? Lagipula mana berani anak-anaknya pergi sendiri.
"Oppa tega menyuruh mereka berangkat sendiri?"
"Yaa tidak juga sih, tapi... Baiklah, antar mereka tapi setelah itu pulang. Ingat langsung pulang ke rumah, mengerti?"
"Iya, Tuan Besar"
"Bagus" cengiran tak lupa Hoseok tampakkan sebagai bentuk kesenangan.
"Aku pergi dulu"
"Baiklah, hati-hati"
Setelah berpamitan pada sang kepala keluarga, Haru, Hayoung, dan Hana pergi ke sekolah. Pertama Haru mengantar Hayoung setelah itu mengantar Hana, biasanya setelah itu dia akan pergi ke kedai roti yang tak jauh dari perumahannya, tapi kali ini atas permintaan suaminya dia harus pulang langsung ke rumah. Menyusahkan.
"Jangan nakal dikelas ya sayang"
"Iya eomma"
"Yasudah Hana masuk ya,"
"Ok"
Tak lupa kecupan manis Haru berikan pada si anak bungsu, senyuman terpatri saat melihat punggung anaknya bergoyang menjauh, lambaian tangan pula tak lupa dia berikan saat Hana kembali menoleh ke arahnya saat sudah duduk di kursinya.
Haru menghela nafas, tak terasa anaknya sudah masuk taman kanak-kanak, sulungnya sudah SD. Waktu memang berjalan begitu cepat dan kali ini karunianya bertambah dengan kehadiran jabang bayi di rahimnya.
Lantunan lagu Marry U dari Super Junior menemani perjalanan pulang Haru, kepalanya terus bergoyang lamban mengikuti alunan, jari telunjuk mengetuk-ngetuk stir mobil, bibir peachnya tak kalah untuk bersenandung menyanyikan setiap bait lagu. Kalau mendengar lagu itu Haru jadi ingat saat Hoseok melamarnya. Kaki Gunung Seoraksan dan langit malam kali itu menjadi saksi bisu penyatuan jalinan cinta mereka, kala itu saat mereka habis turun dari mendaki gunung yang memiliki es abadi itu, Hoseok bernyanyi lagu Marry U yang Haru kira hanya untuk bersenang-senang tapi diakhir bait tanpa disangka Hoseok berlutut dihadapannya dan mengeluarkan kotak cincin seraya bertanya untuk menikah dengannya, tanpa babibu Haru mengangguk sebagai jawaban. Drama happy ending itu diakhiri dengan pelukan bahagia.
Fyi, awalnya Hoseok menolak keras untuk ikut mendaki, namun Haru memakai 1001 cara untuk menyeret Hoseok ikut dalam ekspedisi menaklukan gunung es yang ada di Provinsi Gangwon tersebut. Setelah pulang Hoseok tidak bisa makan selama seminggu.
Tak terasa acara kembali kemasa lalu harus terusik dengan dering ponsel Haru. Haru pun segera menjawabnya.
"Halo"
'Haru?'
"Ya, oppa?"
'Kau dimana?'
"Dijalan, ada apa?"
'Hmm, begini, aku mau sesuatu. Bisa kau belikan?'
"Ya, apa itu?"
'Hmm, pizza'
"Pizza?"
'Iya, tiga kotak saja, yang extra large, yang satu taburan daging sapi, yang satu taburan jamur tapi dipotong dadu, ingat ya jamurnya dipotong dadu, yang satunya lagi keju paprika, oh iya paprika merah ya paprika hijaunya dua sisir saja, lalu pinggirannya keju, jangan lupa keju mozarellanya yang banyak..."
Tampang Haru sudah tidak enak, rasanya ingin sekali mencekik suaminya jika ada dihadapannya sekarang. "Sudah?"
'Oh iya, jangan lupa spagetti, jangan terlalu asam. Kalau bisa jangan ada campuran tomat, spagettinya yang matang sekali ya, terus katakan pada kokinya agar air rebusan spaggetinya penuh agar spagettinya terendam semua saat direbus. Apa lagi ya? Ah ya, banana split ya, tapi jangan pakai pisang. Cukup, itu saja kok, dadah Haru'
Pip
Dan mati.
Dia bilang 'itu saja' setelah cerita panjang yang dia utarakan? Apa-apaan pula banana split tidak pakai pisang? Memang banana split bahan dasarnya apa? Buah rambutan? Lalu apa lagi itu, air rebusan penuh? Memang Haru harus gitu melihat cara pembuatan spagettinya?
Ya Tuhan, ada apa dengan Jung Hoseoknya Na Haru?
"Mungkin besok aku harus beli racun" kata Haru datar.
Setelah penantian yang menyusahkan ditambah dengan komentar yang tidak mengenakan yang Haru dapat dari pelayan restoran karena permintaannya yang tidak masuk akal (ex air penuh rebusan), Haru masuk rumah dengan tampang lesuh ditambah beberapa plastik yang dia bawa. "Aku pulang"
Sepi.
Dimana Hoseok? Mungkin sedang tidur, pikir Haru.
Haru mengganti sepatu dengan sandal rumahan, masuk ke dalam rumahnya, samar-samar terdengar isakan tangis. Jujur, Haru merinding, walaupun dia sangat suka travelling tapi dia takut setengah mati dengan yang namanya hantu, ditambah pikirannya yang sudah melalang buana ntah ada didunia hantu sebelah mana.
Pertanyaan seperti 'apakah itu suara tangisan sadako atau tuyul? Atau mungkin vampir?' berputar diotaknya. Sungguh Haru ingin kabur saja, tapi tubuhnya menolak, otaknya ikut penasaran untuk memastikan suara apa itu. Akhirnya dengan keberanian seadanya, Haru berjalan perlahan menuju sumber suara.
Perlahan namun pasti kini dia sudah sampai dibalik tembok ruang tengah. Haru dapat melihat bayangan putih yang duduk di sofa ruang tengahnya. Takut-takut Haru menghampirinya dari belakang dan siap memukul setan itu dengan kotak pizza yang dibawanya. Tapi seketika...
"Huwaaaaaaaa..."
Haru kaget, namun tak lama dia mengelus d**a saat mengetahui ternyata itu adalah suaminya yang tengah meringkuk dibawah selimut sembari menonton Titanic.
"Hiks kenapa kebelah? Padahal itu kapal hiks bukan kue, ahh kasian orang-orang yang ada disana hiks"
Sejak kapan Hoseok jadi melow seperti ini?
"Kasiani aku yang membawa kantong plastik sebanyak ini"
Seketika Hoseok menoleh mendapati istrinya berdiri dibelakangnya dengan tampang datar. Cengiran tak lupa dia perlihatkan, "Haru, kenapa kau berdiri disitu? Mau pura-pura mengagetkanku ya? Ah sayang sekali aku tidak kaget"
"Benarkah?" Haru meletakkan plastik-plastik berisi pesanan Hoseok di meja. "Aaaa itu hantuuuu" teriak Haru membuat Hoseok bergerak kesetanan.
"Aaaaaaa" teriak Hoseok cengeng sembari meringsek ke perut rata Haru. Si cantik tertawa terbahak-bahak, sedangkan si lelaki menyinyir kesal karena dibohongi. "Jadi kau membohongiku?"
"Ahaha, seharusnya kau lihat sejelek apa wajahmu saat ketakutan, oppa"
Hoseok mengerucutkan bibir kesal, "aku tidak jelek" tangannya terlipat didepan d**a tak lupa tampang kesalnya yang malah semakin membuatnya manis.
"Benarkah?"
"Buktinya kau mau menikah denganku"
"Itu karena tak ada lagi yang mau denganmu" Haru kembali terbahak, namun tawanya menghilang saat melihat tatapan kesal Hoseok yang terkesan imut. "Kenapa? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kau menyebalkan, selera makanku hilang"
Haru melongo, apa Hoseok sedang merajuk?
Baru saja Hoseok akan bangkit berdiri, tangannya telah ditahan oleh Haru membuatnya kembali duduk. "Mau kemana? Makan dulu"
"Tidur, selera makanku hilang karenamu. Minggir"
"Ishhh" ingin rasanya Haru mengumpat, menyumpah serapahkan Hoseok, tidak tidak, tapi menyumpah serapahkan sikap Hoseok yang malah seperti anaknya. Sepertinya Hoseok benar-benar kena jetlag. Dengan penuh kesabaran Haru mengehela nafas, "Jung Hoseok yang tampan, ayo makan dulu, nanti kalau kelamaan jadi tidak enak makanannya"
Dengan senyuman lebar Hoseok mengangguk, "dengan senang hati" setelahnya tangan panjang itu menarik semua plastik dan membukanya dengan rakus.
Hah, lelah juga mengurus Bayi Hoseok.
Kini Haru tengah menemani Hoseok menonton pororo yang diputar di tv, bukan maksudnya di dvd. Iya, Hoseok merengek minta disetel cd pororo milik Hana.
"Hiks"
"Oppa kenapa?" tanya Haru kaget.
"Sedih sekali, kenapa mereka tidak pakai baju dan hanya si beruang gendut itu yang pakai baju? Apa mereka tidak punya baju? Apa keluarganya tidak mampu membeli pakaian untuk mereka? Padahal mereka tinggal ditempat dingin, nanti kalau mereka masuk angin bagaimana?"
"Nanti kalau mereka masuk angin bagaimana" kembali Haru mengikuti gaya bicara Hoseok dengan cebikan bibir yang terlihat menyebalkan, benar-benar makan hati. Ya Tuhan, dosa apa Haru sampai Hoseok diazab berubah sedemikian rupa hanya dalam waktu satu hari? Jika ini dosa Haru karena sempat memarahi pegawainya tempo hari karena tak sengaja memakai sikat giginya untuk menyikat closet, Haru minta maaf, dia benar-benar menyesal, tapi tolong kembalikan lagi Hoseok seperti dulu kala, Hoseok yang lembut, penyayang, dan penuh perhatian. "Mereka hanya animasi mana bisa masuk angin"
"Pokoknya besok kita harus memberikan mereka pakaian, kumpulkan baju-baju Hayoung dan Hana yang sudah tidak terpakai"
Haru sudah malas meladeni ucapan ngasal suaminya.
"Haru, kau dengar aku?"
"Hm"
"Jawab dong kalau suami bicara"
"Jawab"
"Nah begitu"
Sekali lagi bisakah Haru merontoki rambut suaminya sendiri?
Manik si cantik tak pernah lepas dari lelaki tampan di sampingnya, cara makan yang tak biasa dengan mata yang terus menatap serius ke arah tv membuat Haru seperti sedang melihat Hana versi lelaki dewasa.
"Jangan menatapku seperti itu nanti kau jatuh terlalu dalam kepadaku"
Haru menatap sinis Hoseok, "asal jangan jatuh ke bawah saja, sakit." jawab Haru sekenanya.
Hoseok tak lagi menimpali, dia serius membuka banana split tanpa pisang dan juga spagetti matang tanpa tomat dengan direbus air panci penuh. Dia membaui makanan itu, senyumnya terpatri. "Hmm enak, kau mau?"
Haru menggeleng. Bahkan melihat Hoseok makan saja Haru sudah kenyang.
"Hmm enak" komentar Hoseok lagi setelah menyeruput spagetti. "Tunggu, ini tidak matang. Saat perebusannya pasti tidak menggunakan air penuh. Wleee tidak enak" memuntahkannya lagi ke dalam tempat spagetti tadi membuat Haru ikut geli melihatnya. "Kau tidak mengatakan pada kokinya ya?"
Mana mungkin juga Haru ikut masuk ke dalam dapur untuk memastikan si koki merebus spagetti dengan air penuh atau tidak. Jun Weirdo Hoseok.
"Sudah," bohongnya, "ya tapi mana aku tahu spagetti itu dimasak dengan air penuh atau tidak" sanggah Haru ikut membela pemikirannya tentang betapa rajinnya jika Haru benar-benar mantengin koki yang sedang masak spagetti dengan air penuh atau tidak.
"Ah, pasti benar ini direbus bukan dengan air penuh. Pantas aku mual. Wleee" Hoseok menjulurkan lidah menghalau rasa spagetti tersebut, membuat Haru memutar bola mata malas, menyusahkan punya suami seperti Hoseok.
Wanita yang baru saja potong rambut dua hari yang lalu menjadi sebahu itu berdiri, dia ingin pergi dari sifat menyebalkan suaminya yang baru saja diidap si lelaki tampan itu. Tapi tangan panjang Hoseok mampu menahannya.
"Mau kemana?"
"Menjemput anak-anak"
"Nanti saja" Hoseok menarik sang istri untuk kembali duduk, merapatkan diri pada sang istri, mengendus bau khasnya, vanilla. "Wangimu enak, membuatku nyaman" kepala keluarga Jung sudah menyandarkan tubuh besarnya pada sang istri, meringkuk dan bertumpu pada tubuh kecil Haru, sehingga wanita itu harus menahan tubuhnya dan tubuh suaminya agar tidak jatuh. Spoiled Hobi.
"Oppa," panggil Haru yang merasa senang dengan pelukan yang didapatnya.
"Hm"
"Sudah berapa lama kau tidak seperti ini?" agaknya Haru merindukan Hoseok yang manja. Hoseok jarang sekali bersandar padanya, bermanja padanya, yang ada dia yang dimanjakan.
"Kenapa memang?" hidung Hoseok terus bergerak menghirup wangi istrinya.
"Tidak apa-apa, hanya saja lucu kau kembali seperti ini. Aku rasa anaknya akan lucu sepertimu"
"Tidak, aku rasa akan cantik sepertimu"
"Tidak, lucu sepertimu"
"Cantik"
"Lucu'
"Cantik"
"Ih lucu!"
"Aku bilang cantik ya cantik!"
"Aku maunya lucu sepertimu"
"Tapi aku maunya cantik sepertimu"
"Lucu!"
"Cantik!"
"Lucu!"
"Cantik!"
"Pokoknya lucu lucu lucu!"
"Pokoknya cantik cantik cantik!"
"Lucu!"
"Cantik!"
"Kenapa oppa mengikuti cara bicaraku?"
"Kau sendiri kenapa berbicara?"
"Ya karna aku punya mulut"
"Ya aku juga punya mulut. Memang kalau aku punya mulut, itu salah aku? Kalau aku mau anak aku cantik, itu juga salah aku? Iya?"
Haru menghela nafas malas, sejak kapan Hoseok jadi semelow ini? Sok drama dan menyebalkan. Sebenarnya ada apa dengan Hoseoknya? Tidak biasa lelaki berwajah tampan itu seperti anak kecil begini. Dengan kesal Haru pergi begitu saja meninggalkan Hoseok. Tak lupa komentar terakhir yang dilontarkannya, "bagaimana kalau anaknya laki-laki, kau mau anaknya cantik, hm?"
"Yaa tapikan itu, hmm... Hey yaaaa! Kau mau kemana? Suamimu belum selesai bicara. Kenapa kau sudah pergi begitu saja? Heyyy!!!"
"Makan tuh bantal!" teriak Haru sembari melempar bantal dari ruang tamu dan hampir saja mengenai wajah tampan Hoseok jika saja si tampan tak cepat menangkap bantal beruntung itu.
"Eonnie, sebenarnya adikmu kenapa sih? Dia menyebalkan sekali"
'Kenapa sayang? Ada apa dengan Hobi?'
"Adikmu benar-benar berubah, semenjak pagi tadi dia benar-benar childish, sentimental, cerewet, menyebalkan, ingin rasanya aku menenggelamkannya ke bak mandi, hah benar-benar"
Terdengar suara tawa dari sebrang sana, membuat Haru bergidig kesal, 'ahaha, mungkin dia ngidam'
"Hah? Ngidam?!" teriak Haru.
'Iya, kamu kan sedang hamil sekarang, mungkin Hobi sedang merasakan ngidam'
"Sebenarnya siapa yang hamil? Aku atau dia?
'Ahaha, kau ini. Sebagian orang ada yang begitu kok, suami eonnie juga begitu saat hamil anak pertama kami'
"Tapi inikan sudah hamil ketiga aku, eonnie"
'Ya, karena mungkin sekarang dia sangat khawatir padamu'
"Jadi hamil-hamil aku sebelumnya dia tidak khawatir gitu?"
'Bukan begitu juga, errr... tapi yang ini mungkin dia begitu khawatir denganmu, mengingat dia jarang ada di rumah'
"Hamil-hamil sebelumnya juga dia sering meninggalkanku"
'Haha, ya sudah lebih baik turuti saja apa kenginannya daripada anakmu ngeces'
"Ih eonnie apaan sih. Sudah dulu ya adikmu menelepon"
'Ok, salam untuk keponakan-keponakanku yang cantik dan juga ayahnya'
"Iya, bye eonnie"
'Dah sayang'
Itu adalah Jun Dawon, kakak ipar Haru as kakak kandung Jung Hoseok. Haru memang sering sekali berbincang seru dengan Dawon, terlebih mereka sama-sama fashionista membuat mereka tak dapat dipisahkan saat bersama, tak ada waktu tanpa membicarakan fashion yang lagi tren, biasalah wanita zaman sekarang, penampilan harus tetap dijaga.
Setelah mematikan panggilan dengan kakak iparnya, Haru mengangkat panggilan dari Hoseok. Kali ini Haru sedang berada dimobil perjalanan untuk menjemput anak-anak.
"Iya, oppa"
'Jung Haru! Kemana saja? Lama sekali mengangkat telepon'
"Iya iya maaf, aku baru saja berbincang dengan Dawon eonnie"
'Hah? Dawon noona? Mana mana aku mau berbicara dengannya'
"Tidak ada, sudah putus sambungannya"
Ntah kenapa Haru yakin saat ini Hoseok sedang cemberut.
"Ada apa?" tanya Haru saat tak mendapat balasan dari sana.
'Belikan aku es krim'
"Iya"
'Toppingnya 10 buah strawberry'
"Hm"
'Jangan lupa pakai selai bluberry'
"Iya, apa lagi?"
'Ah sepertinya ditambah saos sambal juga enak'
"Hah?"
'Apa?'
"Topping saos sambal?"
'Iya, kenapa?'
"Ah tidak"
'Ok, bye aku tunggu dirumah'
Pip
Makin lama permintaan Hoseok makin aneh, kalau begini terus Haru juga bisa gila.
Setelah menjemput kedua anaknya, tanpa bantahan Haru benar-benar mewujudkan permintaan sang suami tercinta, dia pulang dengan membawa es krim dengan 10 strawberry, topping bluberry dan saos sambal diatasnya.
"Kami pulang!" teriak kedua anaknya yang langsung disambut bahagia oleh Hoseok.
"Wahhh anak appa sudah pulang" kedua lengannya terbuka lebar menangkap tubuh kedua anaknya. Kecupan tak lupa dia berikan dipipi gembil kedua anaknya. "Tadi belajar apa saja disekolah?"
"Berhitung!" teriak Hana riang.
"Menulis puisi lalu menggambar" tambah Hayoung dengan tenang.
"Lalu bagaimana? Bisa?"
"Tentu saja" jawab Hayoung bangga.
"Hana bisa Hana bisa" teriak Hana lagi membuat Hoseok terkekeh.
"Hana Hayoung, ganti baju dulu sayang, habis itu cuci tangan" kata Haru dengan senyuman manis.
"Nah, dengar kata eomma?" kedua manis itu mengangguk, "kalau begitu ganti baju setelah itu cuci tangan ok?"
"Ok!" kedua anak manis Hoseok berhambur ke kamar meninggalkan kedua orang tuanya.
Haru meletakkan es krim permintaan Hoseok di atas meja, "ini es krimnya" setelah itu dia mengikat rambut.
Dengan riang Hoseok mendekati plastik berisi es krim yang sedari tadi dia pikirkan. Tapi wajahnya cemberut saat melihat isi plastik. "Kok cuma satu?"
"Memang mau berapa?"
"Kan aku mau sepuluh"
"Kau tidak bilang"
"Tapi seharusnya kamu peka dong, kamu kan istriku, masa kemauan suami sendiri tidak tahu"
"Istri juga manusia oppa, mana aku bisa tahu jika kau tidak bilang"
"Pokoknya aku tidak mau, aku mau sepuluh" dan lagi, Hoseok mencebik, melipat kedua tangan depan d**a, dan mengalihkan pandangan dari sang istri membuat Haru berdoa dalam hati agar diberi ketabahan menghadapi suami semacam Hoseok.
"Terus kau mau menyuruhku lagi kembali kesana? Kau tega menyuruh istrimu yang sedang hamil bolak-balik?" sebenarnya bukan karena itu Haru enggan balik ke kedai es krim tadi, tapi karena permintaan aneh Hoseok yang membuatnya malu.
Agaknya Hoseok melunak, ujung matanya melirik istrinya yang kini berdiri dengan bersedekap dihadapannya. Helaan nafas mengalah terdengar dari Hoseok. "Aku malas makan es krim jadinya"
"Terserah" si cantik memutar bola mata malas setelah itu pergi ke dapur untuk menyipkan makan siang.
Lelaki Gwangju itu mengikuti sang istri, memeluknya dari belakang, kembali mengendusi bau istrinya, namun kali ini dia rasanya mual, ingin muntah.
"Huweekkk, kau bau, kau habis main di gorong-gorong ya?"
"Masa?" Haru menyium wanginya sendiri, "tidak ah, wangiku masih sama seperti tadi"
"Huweeekkk baumu tidak enak, buka bajumu"
"Hah?"
"Iya, buka bajumu"
Dengan menurut Haru membuka outer memperlihatkan kaos lengan pendek bewarna putih.
"Tetap bau, huwekkk. Kau membuatku ingin muntah" Hoseok menutup hidung dan menjauh dari Haru.
"Benarkah?" ide nakal muncul dipikiran Haru, "tadi kau menciumiku terus. Kenapa sekarang tidak mau?" Haru mendekatkan diri kepada Hoseok yang terus mundur hingga menabrak kulkas. "Sini oppa" dengan senyuman miring Haru melangkah pasti mendekati Hoseok, membuat si tampan berlari tunggang langgang memutari meja makan.
"Tidakkkkkkk!"
"Ayo sini oppa"
"Tidak, huweekkk, Jung Haru kau bau! Mandi sana"
"Masa? Ayo sini peluk aku"
"Tidak mau, huwaaaaa eommaaaaaaa!!!"
"Ahaha" tawa Haru yang terdengar seperti setan ditelinga Hoseok.
"Hana, mereka orang tuamu?"
"Sepertinya kita salah rumah"
"Ayo masuk kamar lagi"
"Ayo"
Dengan wajah datar, kedua anak Jung itu kembali masuk ke dalam kamar.
Hari sudah sore, Haru sedang duduk di sofa dengan kedua anaknya, Hoseok melarangnya masuk ke kamar karena bau. Sampai sekarang Hoseok pun tidak mau mendekatinya karena alasan bau.
Ceklek
Pintu kamar Hoseok terbuka menampakkan wajah tampan Hoseok, perlahan namun pasti, Hoseok meendekati Haru walau masih menjaga jarak dengannya.
"Tidak bau lagi?" sindir Haru ysng sedang mengelinting rambut Hana.
"Ehehe, sebenarnya masih, tapi..."
"Apa? Mau menyuruhku membeli es krim saos lagi? Atau es krim dengan topping sop iga? Huh?"
"Ehehe tidak tidak, aku sebenarnya sedang ingin nasi goreng buatan Yoongi Hyung"
Haru menoleh tak lupa menampakkan wajah malas. "Kau mau menyuruhku ke rumah Yoongi oppa gitu?"
"Tidak tidak, aku juga ikut"
"Hana juga mau"
"Hayoung juga. Pasti ada Yoonhee"
Hoseok mengeluarkan jurus maut dengan dibantu oleh kedua anaknya membuat Haru menghela nafas pasrah.
Kini apartemen Yoongi terdengar ribut, Yoongi tengah sibuk di dapur dengan ditemani Haru, sedangkan Hoseok kini sibuk memeluki Seonhee, istri Yoongi. Katanya wangi Seonhee enak.
Agaknya Haru tidak enak dengan Yoongi, sudah meminta Yoongi yang masih di kantor untuk pulang cepat, lalu memintanya memasak nasi goreng ditambah Hoseok yang tak pernah lepas dari istri Yoongi. Benar-benar Hoseok itu, rasanya Haru ingin menjambaknya sampai botak.
"Hm, oppa, aku minta maaf ya atas perilaku suamiku"
Yoongi tersenyum tipis, "tidak masalah, aku juga pernah sepertinya" Tetap saja Haru tidak enak walau Yoongi sudah berkata tidak masalah.
"Tapi oppa..."
"Sudah, lebih baik kau ambilkan piring di rak itu, nasi gorengnya sudah matang"
Tanpa babibu Haru melaksanakan apa yang disuruh Yoongi. Memberikan piring pada Yoongi.
Yoongi meletakkan piring di meja makan, meminta Hoseok yang sibuk menciumi sembari memeluk lengan Seonhee di ruang tengah segera ke dapur, sebanarnya dia sudah jengah melihat Hoseok terus menempeli istrinya.
"Wah wanginya" seru Hoseok ceria. "Pasti enak" lelaki berperawakan manis itu duduk di kursi makan lalu menarik Seonhee untuk duduk disampingnya, "noona suapi aku ya"
"Tidak!" teriak kedua manusia yang sedari tadi hanya mampu menonton kedekatan Hoseok dan Seonhee.
"Wah kompaknya, coba ucapkan sekali lagi" riang Hoseok.
"Cepat makan atau kubuang" titah Yoongi sarkatis membuat Hoseok mengkeret.
"Noona suapin" pinta Hoseok lagi, dengan wajah yang dibuat sedemikiam rupa seperti puppy. Matanya berkedip-kedip imut, membuat Seonhee berdoa dalam hati sedangkan Yoongi dan Haru jengah.
"Ahh kawaii. Baiklah sayang ayo makan" jawab Seonhee dengan wajah gregetan, tangannya terulur untuk mencubit pipi Hoseok gemas. Membuat kedua manusia didepannya hanya mampu mengelus d**a sabar.
"Tolong maafkan Jung Hoseok, oppa, jangan gorok dia" bisik Haru ditelinga Yoongi dengan penuh penyesalan.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, kedua pasang Jung itupun sudah tidur dengan nyenyak. Oh tidak juga sepertinya, kepala keluarga Jung itu terus berguling kesana-kemari, mengusap wajah dengan gelisah, keringat bermunculan. Hoseok pun pasrah dan bangun dari tidur. Dia tidak bisa tidur, sesuatu mengganjal dihatinya, otaknya bahkan terus berputar untuk memikirkannya.
Diliriknya kesamping, terdapat si cantik tengah tidur tenang. Sebenarnya Hoseok tidak ingin membangunkannya tapi dia benar-benar tidak bisa hanya diam.
"Haru," tepukan di lengan Hoseok berikan.
"..."
"Haru Haru ayo bangun" kali ini si lelaki mengguncang istrinya sedikit kencang.
"Hmm" Haru mulai merespon.
"Haru ayo bangun"
Dengan wajah mengantuk, Haru bangun. "Ada apa oppa?"
"Aku tidak bisa tidur"
Perasaannya tidak enak. "Memang kenapa?"
"Hm anu..."
"Anu? Anu apa?"
"Hm begini, sepertinya aku mau sesuatu"
"Hm mau apa emangnya?"
"Hm, aku mau es krim dengan topping iga sapi, sepertinya enak, ehehe"
"JUN HOSEOKKKKKK TIDUR DILUARRRR!!!!!"