"Kang Taehyung, ayo bangun. Bukankah kau berjanji akan membereskan rumah hari ini?"
"Hm"
"Ayo bangun" Joohyun menarik tangan suaminya yang masih meringkuk lucu dibalut setengah selimut.
"5 menit lagi" gumamnya tak karuan.
"Ayo bangun sekarang"
"10 menit lagi"
"Hih? Kenapa semakin lama?"
"Aku masih ngantuk"
Joohyun menghela nafas melihat sang suami. Padahal usianya tak lagi muda tapi kelakuan mengalahkan putri mereka, Saera. "Kang Taehyung, cepat bangun dan bereskan rumah, mama dan papa sebentar lagi sampai. Kau sendiri yang memilih untuk membereskan rumah daripada menjemput papa dan mamaku"
"Hm"
Joohyun kembali menghela nafas gusar, sabar memang harus dia tanam dari awal menjalin hubungan dengan lelaki berhidung mancung itu. "Terserah, aku akan mengajak mama dan papa ke rumah kakakku, jadi kau memiliki waktu untuk membersihkan rumah, aku tidak mau tahu, saat kami datang rumah harus bersih, titik"
Joohyun berjalan keluar kamar meninggalkan suaminya yang masih terdiam di atas kasur, ternyata dia tidur lagi. Dasar Tuan Kang malas Taehyung.
---
Saera menatap nanar ruang tengah rumahnya yang lebih mirip seperti kapal pecah. Pakaian berserakan dimana-mana, plastik bekas ciki dan kaleng minuman disana-sini, isi makanan yang berceceran, sepatu ayahnya yang ntah ada dimana-mana, bau yang menyengat membuat Saera ingin muntah. Seperti rumah tak berpenghuni, benar-benar menyeramkan.
Ini pasti kerjaan Taehyung appa.
Saera bergegas masuk ke dalam kamar orang tuanya, karena sang ibu menitip pesan untuk membangunkan appa.
Terlihat bulatan dibawah selimut bergambar anime One Piece yang dipastikan itu adalah badan ayah Taehyung yang meringkuk. Saera geleng kepala, kalau begini siapa yag orang tua dan siapa yang anak?
Bocah manis itu manjat naik ke atas kasur, menarik selimut bergambar Brook, dan berteriak tepat di telinga Taehyung. "Appaaaaaaaa!!! Cepat bangun!"
Karena hanya inilah cara ampuh untuk membangunkan ayahnya, menurut Saera.
Terbukti Taehyung terkaget dan bangun terduduk dengan mata setengah terbuka, namun dia kembali berbaring dan menutup mata membuat Saera menatap malas tubuh tidur sang ayah.
"Appa bangun appa bangun appa bangun!!!!!!" teriak bocah manis yang memakai baju karakter Frozen sembari menggoyang-goyangkan tubuh Taehyung.
"Saera berisik, suaramu tak sebagus Taeyeon membuat telinga appa gatal." kata Taehyung sebelum menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lagi.
Ayahnya kira memang Saera seorang penyanyi? Tapi apa pantas seorang ayah mengatakan hal menyebalkan seperti itu. Lihat saja wajah Saera kini mengerut dan memerah, ujung mata sudah mengembang air mata.
"Dasar appa jelek, hiks menyebalkan. Saera benci hiks appa, Saera benci appa, hiks appa hiks jelek, appa menyebalkan, sana pergi hiks sama Taeyeon hiks, jelek hiks"
Taehyung membuka satu mata melihat sang anak yang sesunggukkan sembari terus mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Dimata Taehyung, Saera tampak manis jika seperti ini. Taehyung terkekeh lalu menarik tubuh Saera ke dalam pelukan, walaupun sempat ditolak oleh Saera, tapi kini tubuh anak itu ada di dalam pelukan ayahnya.
"Unghh sayang, jeleknya anak appa kalau menangis" Taehyung mengusap wajah merah Saera yang penuh dengan air mata.
"Biar...hiks...rin appa juga hiks jelek"
Taehyung mendelik, untung saja sedang nangis, kalau tidak sudah Taehyung gedig anak ini.
"Appa tampan, Saera yang jelek"
"Appa yang jelek, turunan jelekkan hiks dari appa"
"Enak saja, appa tampan"
"Appa jelek"
"Anak nakal," Taehyung memukul pelan b****g Saera, "appa itu tampan mana ada appa jelek"
"Ihhh, appa jelek pokoknya appa jelek appa jelek appa jelek"
"Enak saja pokoknya tidak tidak tidak"
Akhirnya mereka bertengkar, saling adu mulut dan menendang, tak lupa dengan jurus menggelitik membuat Saera kembali tertawa.
"Ah, sudah appa ahahaha Saera lelah ahahaha" akhirnya Taehyung berhenti, kembali menarik tubuh si mungil ke dalam dekapannya.
"Mau bilang appa jelek lagi hm?"
"Tidak" menggeleng, "tapi appa bau. Wleee" setelah berhasil melarikan diri dari sang ayah, Saera memeletkan lidah sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.
"Yaaaaa, benar-benar, anak siapa dia? Sepertinya bukan anakku, apa perlu aku test DNA dia? Hahhh" Taehyung menghela nafas lalu menatap pada pakaiannya sendiri, "apa benar aku bau?" dia mencium ketiaknya sendiri dan terlihat teler. "Ah benar juga, ditambah bau bir yang masih menyengat." akhirnya Taehyung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
---
"Ya Tuhan, Saera! Apa yang kau lakukan? Kenapa rumah berantakan seperti ini?" seru Taehyung saat melihat ruang tengah terlihat seperti kapal pecah.
Mata blank Saera datar tanpa aura, menatap malas pada sang ayah. "Seharusnya Saera yang kaget, ini kan kerjaan appa" menoleh kembali ke arah tv dan memasukkan sisaan ciki yang masih utuh ke dalam mulut.
Remehan ciki berserakan, plastik ada dimana-mana, kaleng bir disana-sini. Hah benar juga mana mungkin Saera minum bir. Jadi ini bukan kerjaan Saera, lalu siapa?
Lelaki tampan itu termenung, mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam.
Datang bersama Minjae dan Bogum-Bermain PS-Membeli makanan dan Bir-Menonton Bola-Minum Bir-Menonton Bola lagi-Mengeluarkan semua makanan yang ada dikulkas-Menonton Bola lagi-Minum Bir lagi hingga teman-temannya mabuk-dan-dan-dan-dan Joohyun mengomel membuat kedua temannya pulang-berakhir dengan Taehyung yang kena tampar Joohyun.
Ya Tuhannnnnnn!!!
Walaupun Taehyung tidak ikut minum alkohol tapi tetap saja dia terciprat baunya. Dia menepuk jidat keras, membuat Saera kembali menoleh dengan pandangan tak peduli.
---
"Ini adalah list yang harus kita lakukan untuk membereskan rumah, eomma yang memberikannya"
Taehyung menatap Saera dengan pandangan datar blank lalu beralih kearah gulungan kertas yang dipegang Saera. Gulungan kertas itu terbuka menampilkan panjangnya list kerja yang harus mereka lakukan.
"Membereskan ruang tengah, mencuci baju, mengelap barang-barang, mengelap jendela, mencuci piring, menguras aquarium, membersihkan kamar mandi, membersihkan kamar tamu, bla bla bla bla bla"
Taehyung mengambil gulungan kertas itu, meremasnya hingga tak berbentuk dan membuang kesembarang arah, "Saera, bereskan rumah"
Taehyung menjatuhkan tubuh ke atas sofa ruang tengah, membuat Saera menatap malas pada Taehyung, "appa bilang mau membereskan rumah tapi kenapa appa tidur lagi?"
"Appa sudah lelah melihat listnya"
Saera mencebik lucu, menarik tangan Taehyung untuk bangun. "Ayo appa cepat bereskan, sebelum kakek dan nenek datang." si manis mulai mengumpulkan plastik-plastik bekas ciki.
"Appa malas, Saera saja yang bersihkan"
Dugh!!!
Jangan tanya suara apa, itu adalah tendangan maut yang Saera hadiahkan untuk b****g indah Kim Taehyung.
"Umhhhpppp... KANG SAERAAAAAAAA KUPECAT KAU JADI ANAKKKKK!!!"
Taehyung mengumpulkan kaleng-kaleng bir dengan malas, semua kaleng dia masukkan ke dalam satu plastik setelah itu cepat-cepat dia buang di luar rumah karena tidak pantas untuk diperlihatkan anak kecil terlebih seperti Saera yang cerewet. Pasti ada pertanyaan semacam, 'itu apa? Baunya tidak enak', atau 'minuman jenis apa yang mengeluarkan bau seperti kentut?' hah, sangat merepotkan.
Taehyung kembali ke ruang tengah dengan membawa vacum cleaner, semua barang sudah disingkirkan hanya ada sisa-sisa ciki yang berserakan di karpet.
Lelaki tampan dengan kaos oblong putih yang bolong-bolong hasil guntingan sendiri itu pun mulai mendorong vacum cleanernya untuk membersihkan karpet bulu bergambar singa. Sedih juga melihat karpet singanya kotor karena remehan ciki.
"Saera!" panggil Taehyung.
"Iya?"
"Kau sedang apa?"
"Merapihkan piring"
"Kesini sebentar"
Terdengar langkah si manis berlari menghasilkan bunyi dug dug dug di lantai.
"Ada apa?" tanya Saera saat melihat ayahnya sedang membungkuk kebingungan.
"Ini, kenapa vacum cleanernya tidak mau jalan? Padahal sudah apa nyalakan, apa alat ini sudah rusak?" Taehyung masih mencoba mendorong-dorong vacum cleaner yang tak nyala itu.
"Sebenarnya Saera tidak ingin mengatakan appa bodoh, JIKA SAJA APPA INGAT UNTUK MENYAMBUNGKAN VACUM CLEANERNYA KE LISTRIK!" Saera memperlihatkan kabel vacum cleaner yang tergeletak di karpet membuat Taehyung memamerkan senyum kotaknya.
"Ehehe, appa lupa"
"Hm" Saera menyolokkan kabel ke stopkontak membuat vacum cleaner menyala secara ajaib. "Lanjutkan saja pekerjaan appa hingga bersih" si manis kembali ke dapur.
Setelah melewati perjuangan yang berat, akhirnya ruang tengah kediaman keluarga Kim benar-benar bersih. Taehyung menghela nafas dan menatap ruang tengah dengan tatapan puas, tak lupa kedua tangan yang bertolak pinggang layaknya bos. "Beres, sekarang cuci pakaian" setelah menepukkan kedua telapak tangan Taehyung bergegas ke dapur.
Terlihat Saera sedang mencuci piring, walau dengan bantuan kursi kecil untuk menopang kakinya, mengingat tinggi badannya yang mungil.
"Kang Saera, kau sedang apa?"
"Bermain tanah" jawab anak itu asal. Terkadang pertanyaan appanya sangat tidak berbobot dan tidak penting untuk dijawab.
Walaupun jawaban sang anak dingin dan terkesan datar, Taehyung tetap saja terkekeh mendengarnya, tak lupa dengan memamerkan senyum kotak khas semakin membuatnya tampan.
"Kalau sudah selesai bantu appa cuci pakaian"
"Baiklah"
Taehyung jalan lebih dulu ke ruang cuci baju. Tumpukan baju yang menggunung membuat lelaki manis itu menggeleng kepala, bagaimana bisa pakaian sebanyak ini tidak di cuci, sebenarnya Joohyun kerja apa sampai melalaikan pekerjaan hingga menumpuk, ya walaupun pakaian paling banyak adalah milik Taehyung, tapi tetap saja ini adalah pekerjaan istri bukan suami.
Taehyung memisahkan pakaian-pakaian putih, dimasukkan ke dalam mesin cuci sembari komat-kamit mengomeli istrinya, walau dalam realitanya Taehyung tidak berani mengomel di depan Joohyun langsung, yang ada dia kena omel balik. Taehyungkan tergabung dalam ikatan SSTI, Suami-suami Takut Istri.
"Menyebalkan sekali Song Joohyun. Ah, setelah itu apa lagi? Masukkan pakaiannya sudah, air sudah, lalu..." tampak berfikir sembari membaca panduan mencuci yang ada ditempelan samping mesin cuci. "Ah detergen"
Si tampan membuka tempat biasa Joohyun menyimpan sabun-sabunan, terdapat banyak sekali botol dengan berbagai bentuk yang berbeda dan itu membuat Taehyung bingung.
"Yang mana ya? Yang ditempat pink ini apa?" Taehyung membuka botol pink dan menciumnya. Benar-benar tidak enak, membuat Taehyung mengusap hidung bangirnya. Memang kurang kerjaan sekali kepala keluarga yang satu ini. "Sepertinya bukan, itu baunya seperti bau mawar. Apa yang ini?" Taehyung kembali membaui botol hitam lalu menggeleng, "baunya tidak enak" pilihan terakhir ada dibotol bewarna hijau. Taehyung membaui dan tersenyum setelah mencium wangi pinus dari sana. "Wahh wanginya enak" tanpa pikir panjang Taehyung memasukkan cairan dari botol hijau ke dalam mesin cuci, tak lupa detergen bubuk yang dia masukkan hampir satu plastik berisi 1kg.
"Ok, selesai" Taehyung menutup mesin cuci dan menekan tombol on. Tapi, dia kembali bingung, kenapa mesin cucinya tak berputar? Padahal dia sudah menekan tombol on, mengecek listrik pun sudah diyakini tersambung. Lalu apa yang membuatnya tak jalan?
"Saera bisa kau kesini sebentar?"
"Iya" Saera berlari menghampiri Taehyung. "Ada apa appa?"
"Kenapa mesin cucinya tidak jalan?"
"Jelas saja, appa tidak memutar ini. Ini untuk memilih mesin cuci akan menggiling kain seperti apa" jelas Saera sembari memutar knop satu-satunya yang ada di mesin cuci itu.
Si manis menjelaskan layaknya nona-nona seller yang sedang mempromosikan mesin cuci, si tampan hanya mampu mengangguk-angguk layaknya orang awam yang akan membeli mesin cuci.
"Oh iya, appa tadi memasukkan cairan dari tempat yang pink atau yang hitam?"
"Dari yang hijau"
"Yang hijau?!" terlihat bocah itu membelalakkan matanya, mulut menganga seperti tak percaya dengan apa yang diucapkan ayahnya. "Appa itukan sabun untuk ngepel"
"Apa?!" buru-buru Taehyung menatap baju-baju putihnya yang terus berputar tergiling di dalam mesin cuci. Terlihat kain putih kemejanya dan seragam Saera mulai bercampur dengan warna cairan kuning pucat sabun pel.
"O ou~" seru Taehyung enteng membuat dua tanduk merah mencuat dari kepala Saera. Bagaikan animasi, wajah Saera memerah dan mengeluarkan asap dari telinga.
"BESOK SAERA PAKE SERAGAM APA?!!!!"
"Ehehe"
Setelah menjemur pakaian yang dihiasi keributan karena seragam Saera luntur, akhirnya Taehyung memanaskan sarapan yang ditinggalkan Joohyun, hanya ada sup dan nasi, tapi lumayanlah untuk mengganjal perut.
"Saera ayo makan"
"..."
"Saera?" tak dapat sahutan membuat Taehyung menghampiri Saera yang termenung di depan pintu belakang menghadap ke arah jemuran. "Saera ayo makan"
"..."
Anaknya sama sekali tak menyahut, pasti ada yang tidak beres. "Saera kenapa?"
Bukannya menjawab si manis malah mengalihkan pandangan dari sang ayah, memunggungi sang kepala keluarga.
"Saera, marah ya sama appa? Gara-gara seragam Saera?"
"..."
"Appa minta maaf, appa tidak bermaksud merusak seragam Saera. Appa minta maaf ya, sayang"
"Hiks"
Ok, Taehyung membuat Saera menangis dua kali hari ini hanya dalam waktu tiga jam. Sebuah rekor yang harus diberi penghargaan, bogeman Joohyun maksudnya.
Dengan lembut Taehyung menarik Saera ke dalam pelukannya, mengelus lembut rambut si manis. "Maaf ya, appa merusak barang Saera lagi"
"Hiks itu seragam hiks untuk besok, hiks besok Saera pakai apa hiks?"
"Hm, pakai seragam appa saja bagaimana?"
Kalau tidak lagi sedih Saera sudah menendang ayahnya.
"Kegedean appa"
"Ah iya, hmm..." Taehyung nampak berfikir, "bagaimana kalau pakai seragam dihari lain saja, biar nanti appa yang bilang ke ibu guru kalau seragam Saera rusak, setelah pulang sekolah kita beli seragam baru untuk Saera, mau?"
Agaknya bocah itu mengusap wajahnya yang penuh peluh dan air mata, mengangguk mengiyakan sang ayah. Wajah lelah, dan mata sipit yang membengkak membuat Taehyung tidak tega. Sungguh dia merasa bersalah karena menangisi anaknya.
Bapak Kim mengusap air mata si anak lalu mengecup kening Saera penuh kelembutan, tak lupa menggendong sibocah enam tahun itu menuju meja makan. "Saera makan dulu ya, Saera pasti laparkan?"
Saera mengangguk membuat goresan senyum dibibir kepala keluarga Kim.
Terdengar dentuman sendok dan piring, tak lupa suara seruputan yang berasal dari bibir Taehyung yang tengah menyeruput mangkuk sup.
"Appa, appa waktu itu janji akan membawa Saera ke Jepang kan?"
"Iya"
"Jadi kapan kita bisa pergi?"
"Hm, hari libur"
"Sekarang hari libur"
"Hm, maksud appa saat Saera libur panjang"
Makin lama Saera mirip Taehyung.
"Kapan?"
"Ya hari libur"
Saera mencebik, bertanya pada Taehyung jangan pernah berharap ekspektasi jawaban yang bagus.
"Hm, Jepang itu seperti apa, appa?"
"Seperti Jepang"
Nyatakan?
Jika sup Saera masih ada, dengan senang hati Saera lempar ke arah sang ayah.
"Maksud Saera apa disana enak?"
"Hm, biasa saja. Jepangkan tidak bisa dimakan mana bisa jadi enak"
Menimpuk kepala orang tua dengan gelas kaca dosa besar bukan? Saera mau melakukannya sekarang.
Kini bocah itu lebih memilih diam daripada kesabarannya habis dengan jawaban tidak bermutu yang diutarakan ayahnya sendiri.
"Kalau sudah selesai makan cuci piringnya ya"
"Hm"
Saera kembali menaiki bangku kecil untuk mencuci piringnya dan piring ayahnya. Memang dari kecil Joohyun selalu mengajarkan Saera agar mencuci piring setelah makan.
"Saera mau sirup?"
"Mau mau mau" dengan cepat Saera berlari menghampiri sang ayah lalu menjulurkan tangan ke arah Taehyung yang sedang mengaduk minuman itu. Setelah berada ditangannya, bocah manis itu menegak cepat sirup buatan sang ayah. "Appa"
"Hm?"
"Kok sirupnya tidak dingin?"
"Oh itu, esnya tidak ada..."
Tidak ada ya, jadi apa suara gemerincing digelas itu? Jangan bilang...
"...jadi appa masukkan batu saja deh. Ehehe"
Saera menelan tegukan terakhir dengan sedih, wajahnya seperti tersiksa, tersiksa memiliki ayah semacam Taehyung. Bayangkan saja bocah berumur enam tahun diberi batu dalam sirupnya, untung saja tidak tertelan oleh Saera. Double triple weirdo Kim Taehyung.
"APPAAAAAAAAA!!!"
"Ehehe"
---
Jam telah menunjukkan pukul 2 siang, kali ini Taehyung dan Saera tengah membersihkan jendela. Taehyung mengangkat tubuh si kecil untuk membersihkan jendela atas.
"Sudah belum?"
"Sedikit lagi"
"Kau semakin berat bocah, tangan appa pegal"
"Sudah"
"Hah akhirnya"
Taehyung menurunkan tubuh Saera dan merenggangkan punggungnya yang nyeri. Akhir-akhir ini Taehyung sering merasa lelah, mungkin karena faktor U.
"Selesai, hah tinggal menyetrika pakaian."
"Appa, belum membuang sampah"
"Ah iya"
"Appa juga belum menguras aquarium"
"Ah benar, ikan itu menyusahkan sekali" omelnya, "Saera kau buang sampah ya? Appa mau membersihkan aquarium"
"Baik"
Taehyung bergegas membersihkan aquarium yang tidak terlalu besar mungkin hanya 12x16cm. Menyaring ikan dan memindahkannya ke baskom yang sudah diisi air. "Ikan menyusahkan kau disini dulu, rumahmu aku bersihkan dulu, mengerti?" Taehyung menatap si ikan layak menunggu jawaban dari ikan koi kecil. "Hey, dengar tidak aku bicara? Dasar tidak sopan, seharusnya kau membalas ucapanku, minimal mengangguk. Besok akan kumasukkan kau ke sekolah bersama Saera"
Rip kewarasan Kim Taehyung.
"Dimana lagi sikatnya?" setelah menguras air aquarium, Taehyung berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencari sikat yang biasa dipakai untuk menyikat aquarium.
Taehyung asik menyikat aquarium dengan bersenandung. Membuat Saera yang kembali dari cuci tangan menghampiri sang ayah. Bermain dengan si koi kecil yang tengah berenang di baskom.
"Lucunya kamu," tangannya mengaduk-aduk air, sebenarnya Saera bermaksud mengelus kepala ikan koi itu namun ikan itu terus berenang menghindari tangan Saera. "Appa, apa ikannya boleh aku keluarkan dari air?"
"Tidak nak, nanti dia bisa mati"
"Kenapa?"
"Memang gurumu tidak mengajarkan hal itu? Ya itu karena ikan tidak playboy. Coba saja kalau playboy seperti buaya, pasti namanya ikan darat"
Bocah cantik itu memutar bola mata malas mendengar ocehan tidak penting ayahnya.
"Appa ap...ya Tuhan appa?!"
"Hah?" Taehyung ikutan kaget.
"Kenapa appa menyikat pakai itu?"
"Kenapa memang?"
"ITU SIKAT GIGI SAERA!"
"O ou~ ehehe"
---
Setelah perdebatan panjang mengenai sikat gigi, akhirnya Saera mengalah dan membiarkan sikat gigi bergambar gajah itu dipakai untuk menyikat lumut di rumah koi. Kini Saera tengah menonton tv di ruang tengah ditemani sang ayah yang sedang menyetrika pakaian.
Ya, beginilah Kang Taehyung di rumah. Semua dia lakukan tanpa bantahan, karena dia tidak mau mati ditangan istrinya sendiri.
Taehyung merasa gerah dan melepas kaosnya, membiarkan tubuh atasnya topless, lagipula siapa yang mau lihat tubuhnya, hanya ada Saera, toh Saera juga sering melihat tubuhnya, jadi buat apa malu.
"Appa bau"
"Ehehe, ini bukti kalau appa kerja keras hari ini, appa tidak akan mandi sampai eommamu pulang"
"Memang kenapa?"
"Appa mau pamer pada eomma, jika hari ini appamu menderita karena harus mengerjakan pekerjaan rumah tapi dia enak-enakkan diluar sana"
"Kan eomma jemput nenek dan kakek"
"Tetap saja dia tidak kelelahan hari ini"
"Tapi eomma lelah setiap hari"
Ucapan Saera agaknya membuat Taehyung menyadari begitu beratnya pekerjaan Joohyun dalam mengurus rumah ditambah harus mengurus Saera, Taehyung baru merasakan susahnya menjadi istri, makanya dia tidak mau menjadi istri.
Berterimakasihlah Taehyung pada Joohyun karena telah bekerja keras mengurus pekerjaan rumah, mengurus Saera dan mengurus dirinya setiap hari, mungkin saja jika dia yang melakukannya setiap hari tak akan sanggup. Tugasnya lebih berat dari Taehyung.
Taehyung jadi berfikir untuk menaikkan anggaran bulanan untuk Joohyun, tapi dia urungkan lagi mengingat Joohyun yang senang sekali belanja.
"Ahh, panasnya" Taehyung meninggalkan setrikaan begitu saja menuju dapur, menegak habis air dingin dari kulkas. "Ahh, segarnya"
Lelaki topless itu kembali ke ruang tengah, namun suara pintu terbuka menitahnya untuk cepat-cepat berpakaian, dengan begitu Taehyung mengambil pakaian yang sedang disetrika, rasa hangat masih menyengat punggungnya, tapi tak dihiraukan.
"Kami datang"
"Ah, papa mama"
"Nenek kakek!!!" teriak Saera, berlari menuju nenek kakeknya yang tengah membuka lengan lebar-lebar.
"Cucu nenek apa kabar?"
"Tentu saja masih cantik" jawab Saera percaya diri terlihat begitu imut membuat keempat orang dewasa tertawa mendengernya.
"Manisnya" komentar kakek Saera. "Ya ampun, apa kabar Taehyung?"
"Baik papa, papa dan mama bagaimana?"
"Baik tentu saja"
Joohyun tersenyum melihat interaksi antara Taehyung dan orang tuanya. Kang Taehyung adalah orang yang supel sehingga gampang dekat dengan orang, makanya dia memiliki banyak teman. Dan karena sifatnya itulah pula yang mampu merebut hati mama papa Joohyun dulu.
Senyuman Joohyun mereda tatkala melihat Taehyung, bukan, tapi apa yang Taehyung pakai, kain putih itu Joohyun sangat hafal kalau itu adalah... "Bajuku?"
"Ah eh. Benarkah? Ehehe maafkan aku tadi aku buru-buru"
"Tunggu" mata Joohyun menyipit, melihat punggung Taehyung dengan tatapan membunuh, suaranya sudah terdengar seperti banteng yang siap menyeruduk matador. "KIM TAEHYUNG KENAPA BISA BOLONG BEGITU? INI KAN BAJU MAHAL!"
"Ah eh benarkah? Anu, tadi aku sedang menyetrika baju"
"TIDAK MAU TAHU POKOKNYA UANG BELANJAKU NAIK DUA KALI LIPAT BULAN INI!"
"Hah, tamatlah riwayatku"
"Ahahaha"