Sraakkk
Cahaya matahari langsung menyorot masuk ke dalam jendela kamar apartemen mewah daerah Gangnam. Terlihat seorang pria yang sedang meringkuk di dalam selimut dengan seorang gadis cilik yang tidur terbalik dengan kaki yang berada di depan wajah sang ayah.
Duk
"Aww"
"Hihihi"
Pria dewasa itu mengelus hidungnya yang terkatuk tulang kering kaki sang anak. Ternyata sakit juga.
Tak jauh dari sana seorang wanita berdiri sembari menutup mulut, menahan tawa agar dua orang tersayangnya tak bangun. Tapi, si pria terbangun setelah melihat kaki si manis ada di depan wajahnya.
"Ya Tuhan," si pria pucat itu bangun terduduk sembari mengusap wajahnya yang terlihat layu.
"Selamat pagi, tampan" sapa Seonhee, wanita yang sedaritadi berdiri kini menghampiri sang suami. "Bagaimana salam pagi yang kau dapat dari putrimu, hm?"
"Anak siapa dia? Aku tidak pernah mengajarkannya tidur sekasar itu"
"Tapi kau mengajarkannya untuk menjadi putri tidur" Seonhee mengusak pelan rambut berantakan sang suami, lalu mengecup keningnya. "Oh iya, aku harus berangkat sekarang. Teman-temanku sudah berkumpul di rumah Jihyun"
Yoongi, pria itu, melirik jam yang bertengger manis di dinding depan kasur dengan mata yang setengah terbuka. "Sepagi ini?"
Ya, hari ini Seonhee akan reuni dengan teman-teman SMA-nya. Semua sudah berkumpul di rumah Jihyun, istri Jungkook, yang memang mudah di akses oleh semua temannya, setelah itu mereka akan bersenang-senang di Namyangju. Salah satu teman mereka memiliki villa di sana.
Seonhee mengangguk, "jam 9, pangeran, masih kau anggap pagi? Ini sudah telat untuk bangun. Yasudah aku berangkat sekarang" wanita manis itu mengecup pucuk kepala sang kasih sekali lagi, tak lupa juga dengan sang buah hati.
"Hm"
"Yoong, hmm. Kalau aku menginap baga..."
"Tidak boleh"
Seonhee mencebik lucu, belum juga dia selesai bicara, tapi sudah ditolak, menyebalkan. "Baiklah, aku pergi sekarang. Jaga anakku,"
"Bahkan aku sudah menyembuhkan lebih dari seratus bocah."
Seonhee hanya menanggapinya dengan kekehan, sudah biasa melihat pria manis itu membanggakan diri sendiri. "Aku percaya. Aku pergi, bye"
"Hati-hati"
Pintu kamar tertutup, Yoongi menghela nafas. Hari libur, kenapa juga dia harus bangun pagi? Pria pucat itu menarik selimutnya kembali.
Dug
"Awww, Yoonhee, beringas sekali kamu," Menyibakkan selimut dengan gusar. "Seperti mamamu saat di ranjang" senyuman miring dia perlihatkan ntah untuk siapa. Tak lama dia kembali tidur dengan memunggungi kaki sang anak.
Waktu terus berjalan, siang telah menyapa, matahari semakin berdiri tegak. Gadis manis itu menguap lebar sembari merentangkan otot-otot tangannya, sinar yang semakin terik baru bisa mengganggu tidur nyenyaknya. Ck, benar-benar seperti Im Yoongi.
"Appa" panggilnya dengan suara serak.
Sang ayah tak memberi tanda-tanda akan menjawab, Yoonhee beringsut mendekati sang ayah, sekali lagi memanggil sang kepala keluarga.
"Appa"
Tetap tak ada jawaban dengan terpaksa Yoonhee menggoyangkan tubuh Yoongi.
"Appa, ayo bangun"
"Hm"
"Yoonhee lapar"
"Makan saja yang ada di meja makan"
Yoonhee bergegas menuju dapur, dengan semangat membuka tudung saji yang ada di tengah meja makan. Namun, dia melongo saat yang didapatnya adalah kosong, bibir bawah mengerucut.
Kenapa eomma tidak meninggalkan makanan?
Tadi malam Seonhee memang bilang pada Yoonhee jika hari ini dia mau pergi dan anak itu ok-ok saja, asal ada salah satu orang tuanya yang menemani. Ngomong-ngomong Yoonhee adalah anak yang manja, dia tidak bisa jauh dari ayah atau ibunya, kecuali di sekolah.
Ah, mungkin ibunya meninggalkan kimchi atau makanan lainnya di kulkas, gadis cilik berdaster hitam gambar kumamon itu segera berlari ke arah kulkas, membukanya dengan semangat. Dan taraaaa...
Kosong juga.
Hanya ada air dingin saja.
Dengan lesuh dia berjalan kembali ke kamar sang ayah. Yoongi masih tetap pada posisi sebelumnya, tanpa berpindah sesenti pun.
"Appa,"
"Hm"
"Tidak ada makanan di meja makan"
"Yasudah makan saja mejanya"
Yoonhee ternganga mendengar jawaban si ayah tampan. Yang benar saja dia disuruh makan meja? Memang dia Debus?
Bibir peach itu mengerucut lucu, melirik sang ayah yang masih setia berbaring manja dengan ekor matanya, tangan terlipat di depan d**a, ugh, menggemaskan. "Appa, Yoonhee lapar"
"Hm"
"Appa dengar tidak?"
"Hem"
"Yoonhee lapar"
"Hmm"
"Yoonhee lapar, appa. LAPAR! LAPAR! LAPAR! LA to the PAR"
"To the STD. I'm D Boy, because I'm from a D~" Yoongi melanjutkan ucapan sang anak dengan bersenandung membuat Yoonhee kesal dua kali lipat. Ayahnya tidak pernah serius. Menyebalkan.
"APPA!!!" Teriak Yoonhee nyaring membuat Yoongi menutup telinga. Tak lama ia terkekeh, melihat sang anak dengan gaya ngambeknya.
"Ahaha, iya iya sayang" seru Yoongi lembut, menarik lengan sang anak yang terlipat di depan d**a. Membuat Yoonhee jatuh ke dalam pelukan, "cium dulu"
Yoonhee berpaling dari wajah sang ayah. "Tidak mau, appa bau mulut" bocah cilik itu menutup hidung dengan kedua tangan.
"Masa? Haaa~" Tanpa dosa, pria Daegu itu menyebarkan bau mulut di depan wajah sang anak yang membuat gadis imut itu bergelung menyembunyikan wajah di bahu Yoongi.
"Eommaaaa... Appa jorok!!!"
"Eomma tidak ada"
"Nanti Yoonhee adu ke eomma saat eomma pulang." Yoonhee menatap wajah tampan Yoongi lagi dengan menutup sebagian wajahnya menggunakan telapak tangan kiri. "Appa mandi sana"
"Malas"
"Yasudah, sikat gigi"
"Malas"
"Ih malas semua, terus maunya apa?"
"Tidur" Yoongi semakin merapatkan pelukan pada tubuh sang anak, memposisikan wajah sang anak pada d**a bidangnya lalu pura-pura mendengkur.
"Ih appa, jangan tidur lagi, Yoonhee lapar"
"Cium dulu"
"Tidak mau"
"Yasudah appa tidur"
"Ih appa menyebalkan"
Yoonhee mendangak, berusaha mencapai bibir sang ayah lalu mengecupnya, belum tiga detik sudah dilepas. "Sudah"
"Mana kerasa?"
"Ih appa"
"Hm"
"Ayo kita makan"
"Cium dulu"
"Kan sudah"
"Tidak terasa"
Yoonhee memutar bola mata malas, ayahnya terkadang memang menyebalkan. Tapi lebih baik seperti ini daripada mendiaminya seperti waktu itu. Akhirnya tak ada pilihan lain selain mengecup bibir ayahnya lama.
Yoongi terkekeh masih dengan menutup mata, dia senang melihat anaknya jengkel. Itu menggemaskan, apalagi dengan wajah yang hampir mirip dengannya, dia seperti melihat dirinya sendiri versi gadis cilik.
"Sudah, sekarang ayo bangun"
"Untuk apa?"
"Kita harus beli makan" karena yang Yoonhee tahu sang ayah tak bisa memasak, dan ibunya sudah memperingatkan dengan keras agar ayahnya tidak mendekati alat masak. Ayahnya sendiri pun tidak tertarik untuk hal semacam itu.
"Kenapa harus bangun, kita delivery saja. Yoonhee mau apa?"
"Tidak seru, appa. Lebih baik kita keluar"
"Appa malas"
"Ayo appa"
"Tidak Yoonhee"
"Appaaaa..."
"Zzzzzzz"
Yoonhee frustasi menghadapi ayah sejenis appa yang satu ini. Kenapa dia bisa lahir dengan gen turunan pria malas ini, padahal Yoonhee adalah anak yang rajin—menurutnya. Lalu dari mana turunan sifat rajinnya ini? Apa jangan-jangan dia bukan anak Ayah Im Yoongi. Ah, tidak mungkin, wajah saja sudah terlihat seperti pinang dibelah dua.
"Appa...ishh"
"Iya, Yoonhee mau apa, princess?"
"Kenapa kita tidak keluar saja?"
"Malas"
"Kenapa appa selalu malas?"
"Karena appa malas"
Lagi-lagi Yoonhee memutar bola mata malas mendengar jawaban sang ayah. Tolong siapapun, transfer energi untuk ayah Yoonhee.
"Baiklah, aku mau jjangmyeon yang super pedas"
"Kau masih kecil, tidak boleh makan pedas"
"Kenapa?"
"Nanti kalau kepedasan nangis lagi. Kau jelek kalau nangis, sungguh"
Gadis itu mengerucutkan bibir mendengar jawaban sang ayah. Dalam fikirannya, kok bisa dia memiliki ayah seperti seorang Im Yoongi?
"Berarti appa juga jelek dong. Yoonhee kan anak appa"
Skakmat
Baru kali ini mulut pedas Yoongi tidak mampu membalas perkataan orang, terlebih dengan anaknya sendiri, itu sudah cukup menohok hingga ke uluhati. Im Yoongi yang malang.
"Hm" Yoongi berdehem membersihkan tenggorokkannya yang tiba-tiba kering. "Jadi Yoonhee mau pesan apa?"
"Apa ya? Hm" telunjuk kiri bocah itu mengetuk-ngetuk dagu, pandangan ke atas berlaga sok mikir. "Jjangmyeon, kimbab, kimchi, wasabi..."
Yoongi tercengang mendengarnya.
"...dan bulgogi" diakhiri dengan senyuman manis yang Yoonhee pamerkan.
Tak disangka anaknya banyak makan, tapi kenapa tubuh Yoonhee segitu-gitu saja, bisa dibilang anak itu memiliki tubuh yang kecil. Mungkin turunan dirinya.
"Banyak sekali bocah, memang sanggup menghabiskannya?"
"Tentu saja. Kata eomma Yoonhee lagi masa pertumbuhan jadi harus banyak makan"
Pertigaan kening Yoongi mengerut, "sepertinya saat makan dengan eomma kau tidak pernah meminta banyak"
Yoonhee terkikik.
"Sengaja ingin menghabiskan uang appa, hm?" Tangannya terulur menggelitiki perut sang anak yang terus bergerak random.
"Ahahaha hentikan appa ahaha"
"Dasar anak nakal," Yoongi terkekeh pelan, berhenti mengelitiki sang anak, kembali menarik si kecil ke dalam pelukannya. "Tidak masalah, appa rela uang appa habis jika Yoonhee mau makan, tapi janji dihabiskan ya?"
"Umm" Yoonhee mengangguk.
"Janji?"
"Janji, dokter"
Kembali Yoongi terkekeh dan menarik kembali si manis ke dalam pelukan setelah berhasil menelepon salah satu restoran dekat apartemen untuk memesan makanan.
"Appa appa"
"Hm?" Jawab Yoongi dengan mata tertutup.
"Yoonhee mau cerita"
"Apa?"
"Dikelasku ada anak baru,"
"Hm"
"Dia menyebalkan"
"Kenapa?"
"Dia selalu menyapaku, mengajakku bermain, mengajakku ke kantin, pokoknya selalu mendekatiku"
"Bagus dong, mungkin dia ingin berteman dengan Yoonhee"
"Iya, tapi Yoonhee tidak mau" menghela nafas, "dia menyebalkan, Yoonhee tidak suka. Gara-gara dia, teman-teman jadi mengira Yoonhee suka sama dia"
"Dia laki-laki?" Tanya Yoongi kaget.
"Hm" Yoonhee mengangguk.
Yoongi terkekeh mendengar cerita sang anak. Ternyata zaman kecil sekarang dengan zaman dia kecil dulu berbeda. Saat kecilnya dulu, tidak ada yang namanya cinta-cintaan, suka-sukaan, yang ada malah nangis saat ditinggal ayah atau ibunya saat di kelas. Yoonhee masih kelas satu sekolah dasar loh. Ck, dunia cepat sekali berumur. "Memang siapa nama teman Yoonhee itu?"
"Yoon Kiha"
"Oh...APA?!" Seketika mata Yoongi membelalak. Jelas saja, dia mengenal nama itu. Ya, anak super duper menyebalkan yang pernah menjadi pasiennya, yang sialnya adalah anak dari teman kerjanya di rumah sakit, Yoo Kihyun.
Yoon Kihyun adalah dokter ahli tulang, memang beliau baru-baru ini pindah rumah ke daerah sini. Sebelumnya keluarga Kihyun tinggal di Daegu, tapi karena jauh dan lelah untuk pulang-pergi, akhirnya dokter itu memutuskan untuk membeli apartemen di gedung yang sama dengan Yoongi.
Ck, ternyata dunia memang begitu sempit.
"Jauhkan dia"
"Kenapa?"
"Dia sama menyebalkan dengan ayahnya"
Yoonhee mengernyit, tidak mengerti dengan maksud sang ayah. "Maksudnya?"
"Dia tetangga baru kita di lantai atas, ayahnya adalah teman appa, dan lagi Kiha anak yang menyebalkan. Dia nakal sekali"
"Benarkah?"
Yoongi mengangguk. "Appa tidak setuju jika kau berpacaran dengannya,"
"Appa"
"Hm"
"Berpacaran itu apa?"
Bumb
Silahkan jelaskan arti berpacaran menurut Anda, Tuan Im Yoongi.
Untung saja Yoongi memiliki wajah yang datar, guratan bingungnya tak terlihat dengan nyata. "Ah itu, berpacaran itu semacam hmm... perbuatan orang dewasa"
"Perbuatan orang dewasa ya? Memang perbuatannya apa?"
"Ya berpacaran...sudahlah jangan banyak tanya, anak kecil tidak boleh tahu kalau mau cepat besar"
"Yang benar?"
"Hm" pria yang menyandang status dokter anak itu pun kembali menutup mata agar sang anak tak kembali mengungkit soal berpacaran yang identik dengan perbuatan orang dewasa.
Ting nong
Tak lama bunyi bel terdengar, membuat Yoonhee bersemangat, dia bangun dari pelukan sang ayah lalu menggoyangkan tubuh ayahnya dengan senang. "Appa itu makanannya sudah datang appa"
"Iya iya sebentar" Yoongi bangun terduduk, mengumpulkan nyawanya yang kesembilan. Lalu mengambil dompet yang tersimpan di dalam laci nakas samping kasur. "Yoonhee anak baikkan?"
"Iya" Yoonhee mangangguk.
"Mau bantu appa?"
Perasaan Yoonhee tidak enak. "Apa itu?"
"Bisa Yoonhee buka pintunya, lalu berikan ini pada paman yang mengantar makanan?" Yoongi memberikan credit cardnya, "lalu, setelah digesekkan ke mesin, Yoonhee ambil lagi kartu ini. Mengerti?"
Yoonhee agak bingung dengan penjelasan ayahnya tapi dia cukup paham karena sering melihat hal seperti itu saat ikut berbelanja dengan sang ibu. "Kenapa harus Yoonhee?"
"Katanya Yoonhee lapar"
"Ah iya, yasudah sini biar Yoonhee berikan pada paman pengantar makanan" Yoonhee menarik kartu itu, namun ditarik kembali oleh sang empu.
"Tapi ingat minta kembali setelah digesek, mengerti?"
Yoonhee menghembuskan nafas gusar, jelas saja, bel rumahnya berbunyi semakin nyaring. "Iya appa"
"Anak pintar" Kepala Keluarga Min benar-benar memberikan kartu tersebut pada si gadis, lalu menatap Yoonhee yang berlari lucu dengan senyuman, setelah itu dia menarik diri ke dalam selimut dan kembali memjamkan mata. Benar-benar sleepyoongi.
Setelah melakukan transaksi yang sebenarnya agak membingungkan bagi Yoonhee (kenapa bisa mendapat makanan hanya dengan menggesek kartu), gadis imut itu menenteng plastik makanannya dengan susah payah ke ruang tengah, meletakkan kartu kredit ayahnya di atas meja sembarangan. Mengeluarkan semua makanan satu persatu dari plastik lalu membukanya, wangi jjangmyeon kesukaannya menguar di ruangan ber-AC itu. Hah, benar-benar menggugah selera.
Setelah menata seluruh makanan dan menyiapkan sumpit untuk jjangmyeonnya, Yoonhee siap untuk makan. Namun, ada sesuatu yang terlupa hingga membuatnya batal memasukkan mie hitam itu ke dalam mulut.
Ah iya, ayahnya.
"APPA!!! Ayo makan"
Tak ada sahutan.
"Appa?!!"
Tetap tak ada suara. Apa appa sedang mandi?
"Appa ayo mak...an" Yoonhee menjatuhkan rahang saat mendengar dengkurang halus yang berasal dari sang ayah. Terlihat tubuh telentang ayahnya dengan lengan sebagai bantalan kepala. "APPA AYO MAKAN!!"
Yoongi kaget lalu kembali tidur sembari memunggungi sang anak.
Yoonhee cemberut. Kenapa ayahnya tercipta menjadi seorang pemalas? Kenapa setiap hari kerjanya hanya tidur? Menyebalkan. Dia manjat naik ke kasur sang ayah, "appa ayo makan, ayo makan" mengguncang tubuh Ayah Min dengan brutal.
"Yoonhee, makan saja sendiri appa ngantuk"
"Ayo makannnn"
"Im Yoonhee,"
Wajah gadis enam tahun itu semakin muram, setitik air mata sudah mengembang diujung mata. Panggilan Yoongi memang datar, tapi nadanya mampu membuat siapa saja takut, termasuk anaknya sendiri. "Hiks huweeeeeee..."
Yoongi menghela nafas gusar, balik badan menghadap sang anak. Memang repot ternyata memiliki anak, dia rindu masa mudanya dulu sebelum menikah, dapat tidur bebas kapanpun. Bahkan jika diberi kesempatan, dia ingin kembali menjadi bayi lagi agar dapat tidur kapanpun dia mau.
Sekali lagi Yoongi menghela nafas, lalu berusaha membuka mata lebar-lebar untuk menghalau rasa kantuk. "Baiklah, jangan menangis. Appa cuci muka dulu, Yoonhee pergi makan duluan"
Mengusap air mata dengan punggung tangan kirinya, "tapi appa janji akan makan bersama hiks Yoonhee?"
Yoongi mengangguk.
"Janji jari kelingking?" Yoonhee menyodorkan jari kelingking.
Dengan senyuman manis Yoongi menautkan kelingkingnya pada kelingking mungil Yoonhee.
Setelah itu Yoonhee berlari keluar kamar, sedangkan Yoongi masuk ke dalam kamar mandi dengan malas.
Kini mereka sedang menyantap sarapan yang juga menjadi makan siang mereka (brunch) dengan khitmad. Yoonhee dengan riang berceloteh sedangkan Yoongi hanya mendengarkan, sesekali mengangguk walau dia sendiri tidak paham apa yang diceritakan sang anak.
"Appa appa, liburan nanti Hayoung dan Saera akan ke Jepang"
"Hm"
"Katanya mereka akan pergi berlibur bersama, ugh, enaknya. Kapan kita kesana appa? Yoonhee kan tidak pernah ke Jepang. Eh pernah deh, tapikan waktu itu Yoonhee masih kecil" Yoonhee bercerita begitu ekspresif, sesekali cemberut.
"Emang Yoonhee mau ke Jepang juga?"
"Mau mau mau" angguknya histeris.
"Tapi appa tidak mau"
Yoonhee cemberut. "Yah kenapa?"
"Appa sudah bosan. Bagaimana kalau ke Inggris?"
"Inggris itu dimana? Bagaimana kalau ke Hongkong?"
"Hongkong? Ah itu mah khusus untuk appa dan eomma, anak kecil tidak boleh"
Lagi-lagi si pria pucat itu membuat sang anak cemberut. "Kenapa memangnya anak kecil tidak boleh ke Hongkong?"
Yoongi tersenyum penuh arti, "tanya saja pada eomma"
Yoonhee mengangguk setuju, "bagaimana kalau Thailand?"
"Tidak,"
"Hmm, Amerika?"
"Appa tidak bisa bahasa inggris"
Memang kau kira Negara Inggris menggunakan bahasa isyarat, Min Yoongi?
"Ah, lalu kita kemana?"
"Yasudah ke Jepang"
Untuk kesekian kalinya, bocah manis itu memanyunkan bibir gara-gara sang ayah. Bisa tolong reparasi otak Ayah Im Yoongi?
Setelah selesai makan, mereka membersihkan ruang tengah dari kekacauan lalu kini tengah bermanja-manja ria di depan tv. Yoonhee bersandar pada d**a sang ayah sembari menatap serius layar tv yang menampilkan film Barney, berbeda dengan wajah sang kepala kelurga yang sama sekali tidak interest dengan apa yang ditampilkan di layar tv.
"One little two little three little Indian
..." Yoonhee bernyanyi mengikuti si badut dino pink itu.
"Itu lagu apa?" Tanya Yoongi.
"Lagu Barney," jawab Yoonhee sekenanya lalu menyanyikan bait selanjutnya.
"Ganti channel hip hop saja"
"Tidak mau"
"Kenapa? Lagunya lebih keren dari pada lagu Barney"
"Pokoknya tidak mau"
"Ganti saja dulu, dengarkan lagu Agust D, itu sangat terkenal waktu zaman appa muda dulu" jawab Yoongi dengan terkekeh, ntah apa yang dia ingat hingga begitu membuatnya bahagia.
"A a apa? Ahjussi D?"
"Bukan Ahjussi D, bocah"
"Lalu?"
"Agust D. A to the G to the U to the STD, I'm D Boy, because I'm from a D~" sang ayah lanjut bernyanyi, membuat Yoonhee melongo mendangak, menatap Yoongi.
"Lagu apa itu? Tidak enak sekali"
Byarrr
Bagai tersiram derasnya ombak, Yoongi jatuh hingga terkatuk batu karang. Sakit.
Anaknya tidak tahu saja. Jika zaman muda dulu, sang ayah adalah seorang rapper terkenal, bahkan diidam-idamkan kaum hawa di dunia. Pamornya semakin menunjang saat dia menjadi seorang Agust D, rapper yang kaya akan musik dan digandrungi banyak penyanyi papan atas. Hanya saja, setelah dia menikah, dia lebih memilih kehidupan biasa menjadi dokter anak dari pada harus menjadi seorang entertainter. Dunia memang terus berputar, Tuan.
Yoongi melirik sang anak yang masih asik dengan layar televisi. Lagu berubah, alunan lagu 'London Bridge is Falling Down' menggema.
"Yoonhee,"
"Hm,"
"Kau belum mandi dari pagi?"
Yoonhee terkekeh, "ehehe iya." Lalu mendangak menatap sang ayah. "Appa juga."
Yoongi juga baru menyadari setelah memperhatikan baju yang dia pakai sama dengan yang tadi malam. Iya juga, kenapa dia sendiri bisa lupa mandi. Ya mungkin efek dari keseringan tidur.
"Yasudah kalau begitu, ayo mandi."
Yoonhee menyilang kedua lengan di depan d**a, memeluk tubuhnya sendiri. "Tidak mau, Yoonhee tidak mau mandi dengan appa. Yoonhee kan perempuan"
Ingin rasanya Yoongi membenturkan kepala ke dinding, tapi tidak jadi karena dia tahu itu sakit. Mana mungkin juga Yoongi mau mandi bersama perempuan, kecuali Seonhee, itu beda lagi urusannya. "Appa juga tidak mau mengajakmu mandi bersama, bocah" membenturkan kening pada kening si kecil yang sedang mendangak.
Yoonhee meringis sembari mengelus keningnya lalu terkekeh lucu, memperlihatkan deretan rapih gigi s**u putih bersihnya.
"Sana mandi"
"Appa juga mandi ya"
"Iya, sudah sana"
"Oki" si kecil berlari masuk ke dalam kamar, Yoongi kembali masuk ke dalam kamarnya.
Baru saja kaki Yoongi akan beranjak ke kamar mandi, namun suara ponsel membuat niatnya batal dan berbelok ke kasur mengambil ponsel di nakas.
[Line]
PANU [Papah Narsis n Unyu]
Jun Hoseok
Kalian dimana? Aku di Seoul
Jeong Jungkook
Rumah, menjaga anak
Kang Taehyung
Rumah, menjaga anak (2)
Im Yoongi
ok
Kang Namjoon
Jeju, benar-benar melelahkan
Cha Jimin
Busan, tugas negara
Yoongi hyung apa yang 3?
Kang Taehyung
Semangat cintaku semua
Kang Seokjin
Di rumah, menjadi baby sitter!
Matanya Jim ada 3
Kang Taehyung
Anumu 3 jim
Im Yoongi
Polos boleh Jim, bodoh jangan
Jeong Jungkook
Semangat cintaku semua (2)
Anumu 3 jim (2)
Jun Hoseok
Manusia kurang pendirian ^
Jeong Jungkook
Manusia kurang belayan ^
Kang Taehyung
Manusia kurang belayan ^ (2)
Belayan laporan maksudnya
Kang Namjoon
Taehyung mau aku tambah tugasmu?
Jeong Jungkook
Boleh kutertawa sekarang?
4h4h4
Kang Taehyung
Ehehe piss hyung
aku mencintaimu jangan tambahkan tugasku, yang kemarin saja belum selesai
Kang Seokjin
Kim Namjoon hutangmu bertambah satu padaku!
Cha Jimin
Yoongi hyung:(
Rip Taehyung
Jun Hoseok
Untung aku tidak jadi melamar di perusahaanmu, ahaha
Cha Jimin
Rip namjun hyung
Kang Seokjin
Kau juga park jimin!
Kang Namjoon
Rip jimin
Kang Taehyun
Rip jimin (2)
Jun Hoseok
Rip jimin (3)
Jeong Jungkook
Rip jimin (4)
Im Yoongi
5
Cha Jimin
Ehehe piss hyung (2)
Kang Taehyung
Ahaha makan tuh anumu chim
Im Yoongi
Kalian semua manusia menyedihkan ckck
Jeong Jungkook
Makanya punya anak tuh dirawat bukan dititip terus bikin yang baru
Kang Taehyung
Gas terus sayang
Kang Seokjin
I heart you Jungkook ♥
Im Yoongi
Jangan lupa membuat surat pengunduran diri Kook
Cha Jimin
Sindiranmu terlalu halus cintaku
Kang Namjoon
Tugas mu membuat laporan bulan ini dengan tambahan laporan keuangan dan analisis data presentasi dengan client, JEON JUNGKOOK!!!
Jun Hoseok
Selamat berhoneymoon dengan laporan, adik kecilku
Jeong Jungkook
Hyungggggg T.T
---
Yoongi terkekeh, dengan posisi berbaring dia terus berbalas chatting grup dengan teman-temannya, melupakan tujuan awal dia masuk ke dalam kamar adalah untuk mandi.
Cukup terlena dengan suasana tenang dan nyaman, matanya tak mampu lagi diajak kompromi, tanpa disuruh, mata sipit Yoongi tertutup dengan ponsel yang berkedip-kedip masih di genggamannya.
Sejam sudah Yoonhee di ruang tengah menonton tv sembari menunggu sang ayah selesai mandi, namun sang ayah tak kunjung keluar kamar. Jangan jangan ayahnya tidur.
Bocah satu sekolah dasar itu bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar orang tuanya, baru saja dia memegang gagang pintu, bel rumah berbunyi, membuatnya berlari cepat ke arah pintu depan.
Tangannya menarik kursi kecil dekat lemari, lalu menekan layar intercom yang masih ketinggian untuknya.
"Halo dengan siapa?"
"Hai, apa Yoonhee disana? Ini Paman Hoseok bersama Paman Taehyung dan Paman Jungkook"
Yoonhee sumeringah setelah mendengar suara cempreng kedua temannya. Dengan cepat dia menekan tombol buka pintu yang langsung memperlihatkan tiga pria dewasa bersama dua gadis berumur enam tahun dan dua gadis manis lagi berumur empat tahun.
"Halo sayang, dimana appa?" Sapa Hoseok sembari mengganti sepatu dengan sandal rumahan.
"Halo paman, appa sedang mandi hmm kurasa"
"Ah benarkah?" Tambah Taehyung yang kini jalan lebih dulu dan duduk di sofa empuk milik keluarga Min.
"Halo Yoonhee" sapa Hayoung dan Saera bersamaan.
"Halo Hayoung, Saera, Hana, dan emm..."
"Heejung" jawab Jungkook saat Yoonhee lupa nama anaknya.
Yoonhee terkekeh malu, membuatnya terlihat begitu lucu.
"Kau pasti lupa ya pada Paman? Padahal pas ulang tahun Yoonhee paman datang" kata Jungkook mengusak rambut Yoonhee.
"Ehehe, maafkan aku Paman... Halo Heejung" Yoonhee berusaha mengusap pipi chubby Heejung yang mengumpat digendongan sang ayah.
Sudah sejam ketiga pria dewasa bersama gadis-gadisnya tersebut di rumah keluarga Min, tapi empu apartemen tak kunjung keluar. Tak yakin jika si pria berkulit seputih salju itu sedang mandi. Lihatlah, mereka telah bermain monopoli dua ronde yang sebelumnya dimenangi oleh Hayoung.
"Paman Taehyung curang!" teriak Yoonhee dan Hayoung bersamaan.
"Appa curang!!!" tambah Saera.
"Kenapa? Dadunya kan kembar" jawab Taehyung polos.
"Kau mengubahnya tadi aku lihat" komen Jungkook yang terlihat sama semangatnya dengan ketiga bocah enam tahun tersebut.
Hoseok hanya menggeleng melihat mereka, sesekali pria Gwangju itu menoleh memperhatikan buah hatinya yang sedang bermain barbie dengan anak Jungkook di ujung karpet bulu. Wajahnya berpaling ke arah dinding, sudah jam 3 lewat hampir setengah empat dan mahluk yang bernama Min Yoongi masih belum keluar dari kamar juga. Benar-benar.
"Yoonhee, apa appa benar-benar mandi?" Tanya Hoseok tak yakin.
"Yoonhee juga tidak yakin. Sepertinya tidur, tidak tahu deh" jawab Yoonhee acuh dan berkonsentrasi lagi dengan permainan monopoli.
"Boleh Paman ke kamar appa?"
"Boleh, yang itu" tunjuknya.
Hoseok mengangguk, berlalu ke kamar Yoongi yang berada di sebrang ruang tengah. Terlihat pria pucat itu meringkuk sembari memeluk selimutnya, benar saja mana ada mandi hingga berjam-jam, mungkin hanya Im Yoongi.
"Hyung" panggil Hoseok pelan. Tak ada jawaban, Hoseok tak gentar, dia menggoyangkan badan Yoongi hingga tubuh si pucat mulai berubah.
"Ada apa Yoonhee?"
"Appa, bangun appa" jawab Hoseok dengan suara yang dibuat layaknya gadis cilik, membuat Yoongi terjungkit kaget.
Terlihat cengiran lebar yang menurut Yoongi mirip kuda tepat di depan wajahnya, membuat si tukang tidur terlonjak. "Ya Tuhan, kukira setan"
Hoseok mencebik, "kau yang tidur seperti kesetanan, hyung"
Yoongi duduk, mengusap wajah lalu mengusak surai hitam keabu-abuan. "Sejak kapan kau disini?"
"Sejak kau mandi, tapi tak kunjung keluar"
Yoongi menampakkan cengiran kecil lalu kembali datar, mencoba mengumpulkan nyawa dan berlalu ke kamar mandi meninggalkan Hoseok yang sudah cekikikan.
"Jangan tidur di bath up, appa"
Terdengar decihan Yoongi membuat Hoseok tergugu lagi.
Setengah jam berikutnya, Yoongi keluar kamar dengan tubuh yang lebih segar, tapi matanya tetap terlihat sipit.
"Akhirnya keluar juga" seru Taehyung, Jungkook, dan Hoseok bersamaan membuat lima bocah lainnya menoleh.
"Appa tidur di kamar mandi?"
"Berarti tidurnya berdiri dong?" Celetuk Saera yang ditanggapi tawa oleh bocah yang lainnya termasuk ketiga ayah mereka. Yoongi hanya memutar bola mata malas, anak itu memang mirip sekali dengan sang ayah.
Pria salju itu duduk di sofa dengan nyaman, membiarkan yang lain duduk di lantai beralas karpet bulu.
"Aku sudah kalah dua kali kau baru keluar" kata Taehyung.
"Memang kapan kau menang?" Tukas Yoongi ditanggapi tawa oleh Jungkook dan Hoseok, Taehyung cemberut.
"Jangan ketawa, urusi laporanmu" komen Taehyung pada Jungkook yang membuat pria paling muda itu mencebik.
"Namjoon hyung menyebalkan"
"Ahaha, yang sabar" Kata Hoseok menepuk punggung si maknae pelan.
"Ada apa kalian kemari?" Tanya Yoongi sembari memperhatikan satu persatu bocah yang asik bermain.
"Kami ingin mengajakmu ke rumah Jin Hyung, aku rindu dengannya" jawab Hoseok memutar badan menghadap Yoongi.
"Jadi kau tidak rindu denganku?" Celetuk Taehyung sembari mengocok dadu, "lima... Ah sialll..." Teriak kekalahan Taehyung.
"Woah, Paman Taehyung kena, bayar padaku. Ayo bayar padaku" teriak Yoonhee gembira.
Hoseok dan Yoongi geleng-geleng, sudah paham dengan kelakuan bapak beranak satu itu.
"Kalian pergi saja langsung, aku tidak ikut"
"Kenapa? Hyung aku rindu sekali berkumpul dengan kalian, walaupun sekarang tidak ada Jimin dan Namjoon. Aku juga jarang-jarang ada di sini, hyung" Pria Gwangju itu memelas.
Yoongi sok tak peduli, menyalakan tv dan menggonta-ganti channel. "Aku malas, Hobi"
"Ayolah, hyung. Kau tega denganku? Aku ingin kita berkumpul walau hanya berlima, setidaknya bisa mengurangi rasa rinduku pada kalian semua"
"Bukankah memang kau selalu merindukanku setiap waktu?"
Jika tak ingat Yoongi lebih tua darinya, Hoseok yakin dia akan melemparkan meja tepat ke muka datar (menyebalkan) Yoongi.
"Hyung, ayolah"
"Appa ayo kita ke rumah Paman Jin" teriak Yoonhee histeris setelah dapat bisikan dari Jungkook dan Taehyung.
"Jeong Jungkook, Kang Taehyung, jangan menghasut anakku" kata Yoongi datar, ekor matanya melirik ke arah dua pria di belakang Hoseok.
Jungkook dan Taehyung hanya menampakkan senyuman lebar.
"Appa ayooo" ajak Yoonhee, bocah itu mulai bangkit dan menghampiri sang ayah, menggoyang-goyangkan lengan sang ayah agar menuruti permintaannya.
Yoongi menghela nafas, menoleh sebentar ke arah sang anak dan kembali fokus pada tayangan Natgeo yang sebenarnya sama sekali tak dia mengerti. "Yoonhee, jika mau ikut, ikut saja"
Anak manis itu mencebik, "tapi mau sama appa"
"Appa tidak ikut"
"Appaaa~" rajuk Yoonhee dengan wajah imut sembari mengayun lengan Yoongi ke kiri dan ke kanan.
"Hm"
"Ayolah"
"..."
"Appaaaa~"
"Tidak, bocah"
"Appaaaaaaaa~"
"Appa bilang tidak," raut wajah Yoonhee berubah, mata yang berkaca-kaca, sudut mata dipenuhi air mata, sekedipan saja membuat air mata itu mengalir. Hah, Yoongi benci anak cengeng, dan sayangnya yang cengeng adalah anaknya sendiri.
"Kau jahat sekali pada Yoonhee, hyung" hasut Jungkook mulai mendekat kepada bocah enam tahun itu, menariknya agar masuk ke dalam pelukan.
"Parah sekali kau hyung, anak sendiri dibuat nangis" lanjut Taehyung yang semakin memperkeruh suasana, tangannya mengusap lembut punggung Yoonhee.
"Sudah sayang jangan menangis," kata Hoseok ikut menimbrung, "kalau appa tidak mau ya sudah, mungkin memang dia tidak merindukan paman hiks" Hoseok ikut memeluk Yoonhee, membuat anak itu balik badan dan ikut memeluk Hoseok.
"Appa kenapa? Jangan nangis" seru Hayoung menghampiri sang ayah yang berlagak nangis.
"Paman Hoseok yang sabar ya" tambah Saera menepuk-nepuk bahu si Pria Gwangju itu.
Yoongi menghela nafas jengah, mereka terlalu banyak nonton drama. Tapi sayang akting mereka tidak sebagus Lee Minho dan Bae Suzy membuat Yoongi mual. "Baiklah-baiklah. Kalian menjijikan"
Dengan begitu seisi ruangan berteriak senang, melupakan air mata buaya yang Yoonhee dan Hoseok keluarkan, mereka berjoged ria di depan Yoongi. Membuat kedua bocah empat tahun yang tidak tahu apa-apa melongo memperhatikan orang-orang dewasa dan ketiga bocah enam tahun itu.
"Mereka kenapa, Hana?" Tanya Heejung memperhatikan mereka dengan wajah melongo.
"Mereka aneh" jawab Hana dengan wajah datar.
---
Ceklek
Pintu kamar terbuka menampakkan wajah manis sang pemilik apartemen, membuat ketiga pria dewasa di sana menghela nafas. Akhirnya keluar juga, pikir mereka.
Tapi Yoongi terlihat aneh,
"Appa kenapa tidak ganti baju?" Tanya Yoonhee, matanya saling bertaut.
"H hyung kau kenapa?" Tambah Hoseok mendekati Yoongi yang tengah memegang perutnya sembari mengaduh.
"A a aduh, pe perutku. Lebih baik kalian pergi saja tanpa aku" gaduh Yoongi masih dengan meremas perut.
"Kau kenapa, hyung? Ayo aku antar ke rumah sakit" panik Hoseok menghampiri Yoongi yang membungkuk memegang perut.
Taehyung dan Jungkook saling menatap, memiliki pikiran yang sama.
Yoongi hyung tidak beres, pikir mereka.
"Sudah ugh tidak usah, Hobi. Sebentar lagi juga sembuh. Lebih baik kau pergi sana sekarang, aku yakin Jin hyung menunggu kalian"
"Tapi bagaimana denganmu hyung? Ayo kita ke rumah sakit"
"Tidak usah, hyung. Yoongi hyung juga sebentar lagi sembuh" kalau kita pergi dari sini. Lanjut Jungkook dalam hati.
"Iya, dia kan sering begitu" kaya tidak tahu alibinya saja. Tambah Taehyung.
Hoseok menatap hyung tercintanya dengan khawatir, "kau benar baik-baik saja?"
Yoongi tersenyum lemah (palsu), lalu menepuk pelan pundak Hoseok, "aku tidak apa-apa, Hobi"
"Ba baiklah kalau begitu, kami pergi. Kalau ada apa-apa telepon kami hyung, aku akan segera kemari"
"Iya Hobi. Sudah sana pergi" jika kalian bisa meniliki lebih dalam lagi bagaimana nada Yoongi berbicara, kalian akan menemukan kata-kata seperti. 'lama-sekali-kau-perginya-bocah'.
"Baiklah kami pergi." Hoseok memberikan pelukan perpisahan lalu menghampiri gadis cilik Yoongi. "Yoonhee sayang, jaga appa ya, jika ada apa-apa dengan appa telepon paman, mengerti?"
Yoonhee mengangguk polos membuat Hoseok gemas dan mengecup pucuk kepala anak tersebut.
"Baiklah kami pergi hyung" Hoseok masih saja menatap Yoongi khawatir.
Si aktor pun tersenyum sebagai jawaban, hingga akhirnya terdengar pintu tertutup, Yoongi melambaikan tangan ke arah pintu. "Byeee. Hah" dia berdiri tegak menyudahi akting pura-pura sakitnya.
Yoonhee memicing pada sang ayah dengan manik tajamnya, "appa bohong ya?"
"Ah apa? Tiba-tiba perut appa tidak sakit lagi" Yoongi terkekeh.
Bocah itu memutar bola mata malas lalu mendecih menanggapi kelakuan Yoongi.
Yoongi kaget melihat anaknya mendecih di depannya, tapi dengan cepat dia merubah wajahnya kembali datar. "Lagi pula, ada cerita yang beredar bahwa ada hantu lift yang akan muncul di jam segini. Biasanya menculik anak-anak" cerita pria itu asal.
"Benarkah? Lalu bagaimana nasib teman-temanku dan juga Hana Heejung?"
"Tapi syukurlah, hantu itu hanya suka menculik anak yang tinggal disini dan bepergian jam segini."
Hello, apa Yoonhee akan percaya begitu saja dengan sang ayah? Tentu saja tidak, dia bukan anak kecil lagi yang percaya dengan tahayul yang diumbar-umbar orang dewasa untuk menakut-nakuti anak kecil. Lagipula, ini masih jam 7 malam, mana ada hantu yang berjalan-jalan di lift yang masih ramai dengan orang lalu-lalang. Toh, dia juga sering pergi jam segini jika belanja bulanan dengan sang ibu. Ck, dokter aneh.
"Pantas saja Yoonhee merasa merinding, ternyata hantunya ada di depan Yoonhee" jawab Yoonhee dengan nada datar dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan sang ayah yang menatapnya dengan pandangan syok.
"Hah? Dari mana bocah itu belajar kata-kata seperti itu? Apa benar dia anakku? Atau jangan-jangan Seonhee pernah selingkuh dengan Taehyung? Ck, benar-benar" gerutu Yoongi sembari memperhatikan punggung Yoonhee.
---
Jam menunjukkan pukul 9, tapi sang ibu tak kunjung datang. Saat ini Yoonhee sedang bersama sang ayah di kamar kedua orang tuanya, dengan posisi berbaring di dalam pelukan sang ayah.
"Tidurlah, sudah jam 9" kata Yoongi sembari menggonta-ganti channel tv, satu tangannya memainkan rambut lembut sang anak.
"Apa eomma masih lama pulangnya? Biasanya eomma akan menyanyikan lagu tidur untuk Yoonhee atau membacakan dongeng"
"Ck, kau sudah besar bocah, kenapa masih suka diperlakukan seperti itu saat tidur"
"Biarkan saja, bilang saja appa iri karena nenek tidak pernah seperti itu pada appa, iya kan?"
Seketika wajah Yoongi mengerut, menatap sang anak dengan pandangan seperti, 'anak-ini-benar-benar-anak-ku-ternyata'.
"Yasudah, biar appa saja yang nyanyikan"
"Memang appa bisa nyanyi?"
2-0 untuk ketegaran hati seorang Min Yoongi, dalam sehari dia sudah berkali-kali mengerutkan kening. Sepertinya Yoonhee memang benar-benar titisannya.
"Tentu saja bisa, mau dengar?"
"Tidak sih, tapi jika appa memaksa apa boleh buat"
Sekali lagi, tabahkan hati seorang Im Yoongi.
Daripada mendapat celaan lagi, Yoongi segera bernyanyi.
"I need you girl, wae honja saranghago honja seoman ibyeolhae~"
"Stop stop stop!" Yoonhee berteriak sembari menutup kedua telinga, rasanya gendang telinga mau pecah mendengar suara absurd sang ayah saat bernyanyi, atau mungkin berteriak. "Suara appa tidak enak. Mana bisa Yoonhee tidur, yang ada appa membuat baby Sebyul sebelah rumah terbangun karena suara appa"
Beri tepuk tangan yang meriah untuk Im Yoonhee yang mampu mengatakan kata-kata horor sepanjang masa yang bahkan teman-temannya saja tidak berani mengatakan hal itu secara langsung. Yoongi mengelus d**a sabar sembari menarik nafas dan dibuang perlahan hingga 3x.
"Lebih baik appa cerita dongeng saja, bisakan?"
"Tentu saja, appamu ini multitalent, nak. Banyak orang menyukai appa karena bakat yang appa punya. Appa bisa semuanya, ngerapp, nyanyi, menari, membuatmu saja appa bisa"
Yoonhee jengah dengan cerita Yoongi Appa, dongeng sedikit saja sudah membuatnya mengantuk. "Yasudah lebih baik appa mendongeng sekarang"
"Baiklah, dongeng apa?"
"Hm, Cinderella?"
"Cinderella? Yang putri duyung itu?"
"Bukan"
"Yang makan semangka lalu mati?"
"Bukan semangka appa, tapi apel. Lagipula itu snow white bukan Cinderella"
"Lalu yang mana?"
"Yang ituloh. Dia memiliki ibu tiri dan dua kakak tiri."
"Oh...tidak tahu"
Yoonhee memutar bola mata malas (lagi), bagaimana bisa seorang dokter anak seperti ayahnya, tidak tahu dongeng-dongeng anak.
"Yasudah, dongeng si kancil saja"
"Baiklah" Yoonhee menyamankan posisi pada pelukan sang ayah.
"Pada suatu hari, hiduplah seorang kancil yang malang, dia hidup seorang diri..."
"Dia tidak punya ayah dan ibu?"
"Ayah dan ibunya mati"
"Kenapa?"
"Diracun tikus"
"Tapi mereka kan kancil bukan tikus"
"Im Yoonhee, mau appa lanjut cerita atau tidak?"
"Ya ya baiklah"
"Kancil itu ingin pergi ke seberang sungai untuk mencari makan"
"Apa di sebrang sungai ada warung makan?"
"Ada restoran nenek dan kakek. Jadi kau diam saja"
"Baiklah"
"Tapi dia tidak tahu harus bagaimana untuk mencapai ke sebrang sungai, tak ada perahu di sungai itu, sekalipun ada dia tidak bisa mendayung perahu tersebut..."
"Kenapa?"
"Dia kancil, Yoonhee, bukan manusia, dia tidak memiliki tangan"
"Ohh. Lalu?"
"Lalu dia melihat sekawanan buaya sedang berkumpul, akhirnya dia memanggil buaya tersebut untuk mendekat. Karena si kancil terlalu punya nyali untuk memanggil para buaya mendekat, akhirnya dia mati digigit buaya. Tamat"
Yoonhee melongo menatap sang ayah. "Sedih sekali hidup si kancil. Untuk apa dia memanggil buaya?"
"Untuk untuk hmm untuk apa ya? Appa juga tidak tahu, mungkin dia bosan hidup." Yoongi menggidikkan bahu, "yasudahlah, lebih baik sekarang kau tidur"
"Yoonhee belum ngantuk appa"
"Tapi appa sudah mendongengkanmu"
"Tidak tahu"
"Yasudah, kalau begitu Yoonhee yang sekarang bercerita" kata Yoongi membuat sang anak mengetuk dagunya lucu.
"Ah baiklah kalau begitu," Yoonhee tersenyum cerah, "pada suatu hari hiduplah putri cantik..." Yoonhee mendongeng cerita tentang 'Sleeping Beauty' dengan begitu semangat, "...akhirnya Putri Aurora hidup bahagia dengan sang pangeran. Tamat" Yoonhee bangga dengan ceritanya sendiri. "Bagaimana appa, ceritanya serukan? Yoonhee mau memiliki pangeran seperti itu," katanya bersemangat. "Appa? Appa? Appa mendengar Yoonhee tid...ak"
Gadis enam tahun itu cemberut setelah mendengar dengkuran halus sang ayah yang menandakan bahwa Bapak Im telah tidur dengan nyenyak. Gadis itu terkekeh setelah melihat wajah sang ayah. Lihatlah betapa manisnya sang ayah saat tidur, terlihat begitu mirip dengannya. Dengan gerakan perlahan, Yoonhee mendangak lalu mengecup pipi sang ayah.
"Selamat tidur rajanya Yoonhee" si manis terkikik mendengar ucapannya sendiri.
Tak selang beberapa lama pintu terbuka, menampakkan wajah sang ibu yang terlihat lelah.
"Yoonhee"
"Eomma"
"Pssttt" Seonhee menahan pergerakan sang anak agar tidak menganggu tidur sang kepala keluarga, menarik selimut menutupi tubuh Yoongi. "Halo sayang, bagaimana hari ini dengan appa? Yoonhee tidak nakalkan?"
Yoonhee menggeleng menatap sang ibu, "appa yang nakal"
"Kenapa?"
"Appa menipu Paman Hoseok" bisik Yoonhee.
"Menipu?" wanita cantik itu mengerut, "menipu bagaimana?"
"Tadi Paman Hoseok, Paman Taehyung, dan Paman Jungkook kemari mengajak appa pergi ke rumah Paman Jin, appa mengaku kalau appa sakit perut, ternyata appa berbohong huhhh"
Seonhee terkekeh, dia sudah paham sekali tabiat sang suami, bagaimana cara dia menolak tidak terang-terangan melainkan dengan penolakan halus seperti pura-pura sakit perut misalnya. Benar-benar Min Yoongi, tak pernah berubah. "Lalu? Yoonhee tadi makan apa sayang?" Seonhee mengelus surai sang anak.
"Tadi kita makan jjangmyeon, wasabi, kimchi, dan masih banyak lagi. Kita juga menyisakan untuk eomma"
"Benarkah?" Tanya Seonhee dengan raut senang, walaupun bekas, setidaknya sang anak sudah ingat kepadanya.
"Iya, itu ada di kulkas"
"Terima kasih, sayang. Nanti akan eomma makan"
Yoonhee mengangguk senang, "oh iya eomma bawa apa?" Tanya Yoonhee saat melihat paper bag yang masih ada di genggaman kanan Seonhee.
"Oh ini? Ini ada titipan untuk princessnya eomma dari Paman Hyungwon, katanya dari Hongkong. Yoonhee mau lihat?"
Yoonhee mengangguk antusias.
Wanita cantik itu mengeluarkan replika dengan wajah yang mirip sekali dengan Yoonhee. Manisnya.
Ngomong-ngomong, Hyungwon adalah teman semasa SMA Seonhee yang kini menjadi seorang pilot, ia begitu dekat dengan Yoonhee, karena sering bertemu.
"Woah lucunya," Yoonhee memeluk replika mini itu dengan sayang, menatapnya dari dekat dengan senyuman yang mengembang lebar membuat Seonhee juga ikut tersenyum.
Tapi tiba-tiba wajah Yoonhee cemberut lucu membuat Seonhee mengerut. "Ada apa sayang?"
"Hm, boleh Yoonhee bertanya?"
"Tentu saja, apa itu?"
"Hmm...eomma"
"Ya?"
"Kenapa anak kecil tidak boleh ke Hongkong?"
Seonhee semakin mengerut. "Kata siapa sayang?"
"Kata appa. Katanya yang boleh ke Hongkong hanya eomma dan appa saja."
Seketika suara Seonhee menggema. "IM YOONGI BANGUN! KAU APAKAN OTAK ANAKKU?!!!!!!!"