"Jam 8 beri makan Jinyoung dan Jinseo, jangan lupa masak nasi untuk Jaejin. Popok ada di laci ketiga, bedak ada di laci pertama dari bawah. Jam 1 mereka harus tidur siang, terutama Jaejin. Sebelum tidur siang buatkan s**u untuk mereka bertiga"
"..."
"Seokjin, kau mendengarku?"
"Hm"
Miyoung menggeleng melihat sang suami yang masih setia bergelung diatas kasur, rapat dengan selimut. Tangannya terulur mengelus rambut sang suami dengan sayang.
"Sepertinya aku harus bersiap-siap"
Seketika Jin bangun. Mengusap mata yang masih tertutup, membiasakan cahaya diterima retinanya. Tangan pria itu terulur untuk mengelus perut buncit istrinya.
"Jaga bunda untuk ayah, jagoan" bisiknya sebelum mengecup perut Miyoung.
Miyoung tersenyum, kebahagiannya hampir sempurna, dalam hitungan dua minggu mereka akan kedatangan anggota keluarga baru. Walaupun anaknya kembali diprediksikan laki-laki, Miyoung tetap menunggu waktu dimana dia bisa melihat sang anak lahir ke dunia. Miyoung rasa Jin merasakan hal yang sama.
"Katakan pada bunda, jangan terlalu lelah. Mengerti?"
"Iya ayah" jawab Miyoung dengan suara dibuat layaknya seorang anak kecil. Mereka tertawa dengan apa yang mereka lakukan. Tapi kebahagiaan mereka harus terganggu dengan suara klakson mobil.
Jin mengantar Miyoung hingga ke mobil sang jemputan, yakni Joohyun. Kedua ibu muda tersebut memang sudah janji untuk pergi membeli beberapa tambahan keperluan bayi.
Mobil Joohyun berlalu meninggalkan pelataran rumah Jin, pria itu pun masuk dan kembali melanjutkan tidurnya.
10 menit berlalu dengan damai, tapi tiba-tiba suara tangisan membuatnya bangun, dengan cepat Jin berlari menghampiri anak keduanya yang tengah menangis sambil berguling-guling di atas kasur.
Tangannya terulur mengambil tubuh Jinseo yang berumur 4 tahun lalu menepuk punggung kecil itu pelan-pelan agar tertidur kembali.
Tapi Jinseo semakin kencang menangis, membuat anaknya yang lain menggeliat dari tidur karena bising.
"Duh, Jinseo bisa diam tidak, hyung masih ngantuk" gerutu bocah sembilan tahun sembari menutupi wajahnya dengan bantal.
"Shhhh," Jin masih mengusap-usap punggung Jinseo agar diam.
"Huwaaaaaaaaa"
Teriakan Jinseo semakin kencang membuat kembarannya, Jinyoung, kaget dalam tidur dan ikut menangis.
Jadilah dua bayi saling bersahutan.
Jin mendekati Jinyoung, "psstt, jangan nangis, nak" tangan satu menepuk-nepuk punggung Jinyoung pelan, tangan satunya menggendong tubuh Jinseo.
"Bunda hiks bunda, huwaaaa!" tangis Jinyoung pecah.
"Bunda lagi pergi nak, sama ayah ya" Jin mencoba mengangkat tubuh anak ketiganya.
"Huwaaa Bundaaaaa!" teriakan Jinyoung semakin kencang tak kalah dengan suara Jinseo, membuat Jin hampir tuli.
Huft, susah juga mengurus anak.
"Jaejin ayo bangun nak, bantu ayah"
"Hm"
"Jaejin"
"Aku masih ngantuk ayah"
"Kim Jaejin"
Mendengar ketegasan dalam suara sang ayah, membuat Jaejin mengalah dan bangun. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Bisa kau siapkan sereal untuk adik-adikmu?"
"Hm" tanpa disuruh dua kali Jaejin bergegas ke dapur meninggalkan ayah yang kerepotan dengan kedua adiknya yang menangis.
"Anak ayah jangan nangis lagi ya, ayo kita mandi"
"Tidak mau hiks" teriak Jinseo kencang.
"Terus Jinseo mau apa?"
"Bundaaa huwaaaa hiks"
Jin menghela nafas, Jinseo benar-benar cengeng seperti ibunya, kalau sudah seperti ini apa yang harus dia lakukan?
Tangisan Jinyoung mereda, hanya terdengar isakan yang tertinggal. Memang tidak susah membuat Jinyoung diam, dia anak yang manis, penurut, dan pendiam, maka dari itu Jin sangat menyukai anak bungsunya ini.
Berbanding terbalik dengan kakak kembarnya, Jinseo. Dia anak yang cerewet, cengeng, dan manja, dia hanya mau dengan Miyoung.
"Ssttt Jinseo jangan nangis lagi ya, Jinyoung saja sudah berhenti nangis, diam ya sayang"
Jinyoung sudah duduk manis di pinggir kasur menatap kakak kembarnya yang tidak mau lepas dari sang ayah.
Jinseo memeluk leher Jin erat membuat leher pria tampan itu pegal.
Baru seperti ini saja Jin sudah merasa lelah, bagaimana dengan Miyoung yang setiap hari menjaga mereka? Ditambah kini dengan perut besarnya. Dia harus berterima kasih pada Miyoung karena telah merawat dan menjaga anak-anaknya hingga sekarang.
"Baiklah, Jinseo mau apa hm?" Jin mengelus rambut batok anak keduanya.
Belum juga Jinseo menjawab pertanyaan Jin, teriakan Jaejin mengintrupsi. "Ayah! Serealnya tumpah, tidak ada sisa lagi"
Jin memutar bola mata malas, apa lagi ini?
Pagi yang tidak baik, sepertinya.
"Jinyoung tunggu di sini ya, ayah mau ke dapur dulu, ok?"
Bungsu mengangguk patuh sembari duduk diam di pinggir kasur.
Jin mengecup kening Jinyoung lalu mengusap lembut rambut batok anak ketiganya. Jin bersyukur memiliki Jinyoung yang penurut. "Jinseo di sini bersama Jinyoung ya?"
"Tidak mauu!" teriak Jinseo kencang membuat Jin berusaha menjauhi kepalanya dari Jinseo, sepertinya memang kuping Jin akan benar-benar tuli.
"Baiklah" Jin keluar kamar menggendong Jinseo. Langkahnya berhenti tepat di depan ceceran lengket sereal bayi. "Ya Tuhan," gerutunya pelan. "Jaejin kenapa bisa berantakan seperti ini? Ya ampun!"
"Kan sudah Jaejin katakan"
"Cepat bereskan"
"Apa yang harus aku lakukan? Itu terlihat menjijikan ayah, Jaejin geli"
Jin menghela nafas panjang, sabar. Anak pertamanya ini memang cuek dan juga perfeksionis atau bahasa kasarnya antikotor, ntah sifatnya turunan dari siapa, Miyoung dan dirinya tidak seperti itu.
"Baiklah kalau begitu pegang Jinseo, ayah yang akan bereskan"
"Tidak mauuu!!" lagi lagi Jinseo berteriak. Kalau begini terus Jin bisa tuli mendadak. "Tidak mau, ayah jangan lepas, jangan lepas" rengek Jinseo.
"Baiklah baiklah" Jin menghela nafas, lagi. "Kalau begitu, lebih baik kau mandi, sekalian mandikan Jinyoung"
Jaejin langsung berlalu ke kamar untuk melakukan apa yang diperintahkan ayah tampannya.
Jin membersihkan tumpahan sereal masih dengan Jinseo digendongan, repot memang, tapi mau bagaimana? Daripada Jinseo teriak-teriak lagi.
Selesai membersihkan tumpahan sereal, pria tampan itu berlanjut memasak masih dengan menggendong Jinseo. Karena sereal yang biasa Jinseo dan Jinyoung makan sudah habis, terpaksa dia membuat bubur tim sendiri. Untung saja Miyoung sudah menyiapkan bubur yang sebenarnya untuk Jaejin.
Satu lagi, Jaejin adalah anak yang pemilih dalam hal makanan, setiap pagi dia hanya bisa makan bubur buatan ibunya, ingat, buatan ibunya bukan yang lain.
Sepertinya Miyoung terlalu memanjakkan mereka.
Beruntunglah Jin yang memiliki bakat dalam hal memasak, kini bubur biasa sudah berubah menjadi bubur tim.
"Tadaaa sudah jadi, Jinseo mau makan?"
Bocah empat tahun itu mengangguk menatap wajah sang ayah, membuat Jin kembali menatap anaknya dengan gemas. Anak tetap saja anak, Jin merasa gemas jika Jinseo diam seperti ini, dikecupi bibir tebal imitating miliknya itu. "Jja~ kita makan. Jaejin Jinyoung ayo makan" teriaknya.
Tak lama Jaejin kembali sembari menggandeng Jinyoung. Tapi sedetik kemudian suara melengking Jin menggema. "Ya tuhan! Apa yang terjadi dengan Jinyoung?"
Bagaimana tidak kaget jika melihat penampilan anaknya lebih mirip sadako. Wajah, tangan, kaki, hingga baju penuh dengan bedak.
Jaejin tertawa membuat Jinyoung ikut terkekeh, menurut Jaejin itu lucu jadi dia tidak membereskan penampilan sang adik.
Jinseo yang tadi terdiam ikut tertawa melihat kembarannya belepotan, "Jinyoung seperti moci moci" gumamnya dengan suara tidak jelas.
"Jaejin, ada apa dengan adikmu?" ulang Jin masih syok.
"Tadi habis mandi Jinyoung mainan bedak, terus tumpah. Hehe, lucukan yah?"
Iya lucu menurutmu, tapi tidak menurut ayah, batin Jin berkecamuk. Ini masih pagi dan anak-anaknya sudah membuat dia pusing tujuh keliling. Sungguh, dia butuh Miyoung sekarang!
"Uhuk uhuk, huwaaaaaaa!" Tiba-tiba saja Jinyoung menangis. Tak sengaja bedak yang masih menumpuk diwajahnya masuk ke dalam mulut dan tertelan, lalu tangannya juga tak sengaja mengusap mata yang membuatnya kelilipan.
Jin berlari menghampiri anak bungsunya, tentu masih dengan Jinseo yang tak mau turun. Jin membersihkan wajah Jinyoung yang penuh bedak lalu meniup mata bocah itu yang kelilipan. "Jaejin ambilkan minum"
Si sulung bergegas mengikuti perintah, lalu kembali dengan gelas.
Jin memberi minum pada Jinyoung agar melarutkan bedak yang ada ditenggorokan, setelah itu membersihkan baju serta kaki tangan Jinyoung yang penuh bedak. "Jangan main bedak lagi ya, nak"
Bungsu yang sudah tidak menangis hanya mengangguk. Dia mengulurkan tangan pada sang ayah agar digendong juga seperti kembarannya. Dengan hati-hati Jin berdiri sembari menggendong kedua bua hatinya.
"Sekarang kita sarapan"
Pria itu meletakkan Jinseo dan Jinyoung di kursi khusus bayi, sedangkan dirinya duduk di tengah-tengah antara kedua bocah kembar itu agar mudah menyuapi mereka, sedangkan Jaejin sudah menyantap buburnya dengan khitmad.
"Ayah, bunda kemana?" Tanya Jaejin disela-sela makan.
"Pergi bersama Bibi Joohyun"
Jaejin mengangguk paham, melanjutkan kegiatan sarapan.
"Ayah, hari ini Jaejin ada janji bermain di lapangan bersama teman-teman"
Jin menyuapi kedua anak kembarnya secara bergantian, "cuaca sedang panas, nak" mengusap bibir Jinyoung yang tercecer bubur. "Lebih baik Jaejin lanjut makan setelah itu cuci piring ya, jangan lupa gantikan baju Jinyoung"
Jaejin cemberut mendengar penuturan sang ayah. Hari inikan hari libur, dia juga ingin menikmati akhir pekan ini dengan santai dan bersenang-senang.
Selesai makan. Jaejin mengikuti semua perintah ayahnya, mencuci piring dan mengganti pakaian Jinyoung yang penuh bedak.
"Ayah, Jaejin pergi ke lapangan ya" pamit Jaejin sembari jalan ke pintu depan.
"Jaejin jangan kemana-mana!" teriak Jin dari ruang tengah. Kini dirinya sedang direpotkan dengan kelakuan Jinseo dan Jinyoung yang memperebutkan pulpen mahalnya. "Ya Tuhan! Itu pulpen mahal ayah, jangan dimainin" katanya berusaha merebut pulpen tersebut dari kedua tangan mungil si kembar.
Jaejin menghela nafas malas, bibirnya mengerucut lucu. Ini kan hari minggu, kenapa dia tidak boleh bermain bersama teman-teman? Biasanya juga bunda memperbolehkannya bermain. Ayah menyebalkan.
Terlihat ayahnya masih sibuk merebut pulpen dari kedua adik kembarnya. Apa ini kesempatan untuk melarikan diri? Sepertinya iya.
Jaejin berjalan mengendap-endap menuju pintu utama, sebisa mungkin tidak membuat suara yang membuat ayahnya menyadari kelakuannya. Dia menoleh memperhatikan ruang tengah yang masih berisik dengan teriakan kedua adiknya yang tertawa. Aman. Tangannya terulur untuk menggapai pintu utama.
Aneh, terasa lembek, pintu itu tidak keras seperti biasanya. Apa pintu kayu dapat berubah menjadi jelly? Jaejin menoleh, mengangkat kepala untuk melihat apa yang dia pegang.
Ternyata yang dia pegang i itu perut a a ayahnya...
"Ehehe. Ayah sejak kapan ada di sana?" tanya Jaejin dengan cengiran malu. Malu karena tertangkap basah akan kabur. Ntah bagaimana cara sang ayah bisa berdiri di depan pintu tanpa dia ketahui.
"Jaejin" seru Jin tegas, tangan terlipat di depan d**a. "Tidak dengar ayah tadi bilang apa?"
Jaejin cemberut.
Jin menghela nafas melembut, "ayah butuh Jaejin untuk membantu ayah menjaga adik-adikmu. Bunda tidak ada, nak, jadi untuk hari ini saja ya tidak main dulu, tidak apa-apakan?"
Bocah sembilan tahun itu memajukan bibir lucu membuat Jin gemas dan ingin sekali mencubitnya.
Baru saja tangan Jin sampai di pundak si anak, tiba-tiba suara ketukan terdengar dari luar. Membuat mereka berdua menoleh.
"Hyung? Ini aku Jimin"
Ah, ternyata tetangga depan rumah.
Ceklek
"Ada apa, Jim?"
"Hehe" ntah kenapa lelaki berpipi chubby itu terkekeh.
"Ayo masuk" Jin membuka pintu semakin lebar, terlihat dua bocah yang mengekori Jimin kini menampakkan diri.
"Jisung"
"Jaejin, aku punya koleksi baru, aku menemukan kartu magma, kau mau lihat?"
"Benarkah? Wah tentu saja. Kemarin aku dapat 800 energi,"
Langsung saja kedua sebaya itu asik dengan dunianya. Jisung dan Jaejin masuk ke dalam rumah melupakan keinginan awal Jaejin untuk pergi ke lapangan.
Namun, gadis cilik Jimin terlihat tak beringsut dari punggung sang ayah, membuat Jin bingung. Pria yang lebih tua menghampiri si kecil, Ahra, yang tak mau melepas pelukan di pinggang Jimin.
"Ahra, kenapa sayang?" Tanya Jin bingung, tangan terulur mengelus rambut lepek si manis karena terlalu banyak menangis.
"Hyung, aku harus pergi," tangan Jimin tetap mengelus si bungsu yang memeluknya dari belakang, "ada tugas yang harus aku tangani"
Jadi ini alasan si kecil Ahra menangis, Jin berinisiatif untuk menggendong Ahra, tapi lagi-lagi ditolak. Hingga akhirnya Jimin yang menggendong sang anak, masuk ke dalam ruang tamu dan duduk bersama. Ahra tetap terisak di dalam pelukan Jimin, membuat Jin tak tega melihatnya.
"Memang sampai kapan?" Tangannya terus mengelus rambut lembut anak temannya.
"Mungkin seminggu, hyung" Jimin menatap Ahra, mengangkat wajah yang mengumpat di perutnya. "Nak, jangan nangis lagi" Jimin menenangkan sang anak.
Jin tersentak, "Hah? Seminggu?"
"Kumohon hyung"
"Kau lihat sendiri kan Jim, bagaimana kondisi rumah ini sekarang?"
"Hyung aku tidak tahu harus kepada siapa lagi meni..."
"Permisi" seru seseorang masuk ke dalam rumah, memotong ucapan Jimin.
"Namjoon Hyung?"
"Ayahhh" teriak bocah cilik yang baru masuk dengan lelaki yang diketahui bernama Namjoon.
"Juno sayang" Jin tersenyum ceria menyambut si kecil dengan lengan yang terbuka lebar membiarkan bocah bernama Juno itu masuk ke dalam dekapannya, walaupun dalam hati sebenarnya Jin menggerutu. Hey, Jin tahu apa maksud dan tujuan kedua pria ini kemari, terutama ayah Juno.
Menitipkan anak.
Ingatkan Jin untuk membuat plang besar di depan rumah. 'JIN'S DAY CARE. $15/hour' mungkin dia akan kaya dalam sehari.
"Selamat pagi, Jimin kau ada disini juga" seru Namjoon yang kini mengambil duduk di samping pria yang tengah memangku putri kecilnya. "Halo manis" sapa Namjoon pada putri Jimin tapi diabaikan.
"Balas salam Paman Namjoon sayang, selamat pa...gi, paman" Jimin mengajak anaknya berinteraksi untuk memberi salam pada sahabatnya. Tapi tanggapan Ahra hanya menggeleng dan mengusap mata yang sudah merah. "Ahra main dengan Juno oppa dulu ya" pria lembut itu menahan tangan sang anak agar tidak mengucek matanya lagi.
"Ayo, Ahra" Juno mengelus surai lembut Ahra, sang putri cantik tetap menggeleng sebagai jawaban.
"Kenapa sayang? Main sama Juno oppa, Jaejin oppa, Jisung oppa, Jinyoung dan Jinseo" bujuk Jin ikut mengelus punggung sempit itu.
Tak lama si manispun berdiri dan mengusap wajahnya membuat ketiga ayah itu tersenyum senang.
"Ayah, Jaejin hyung dimana?" Tanya Juno.
"Ada di dalam" setelah memberikan kecupan perpisahan dengan Jin, Juno beringsut masuk ke dalam rumah yang terdengar riuh bersama Ahra.
"Dimana Miyoung noona?" Tanya Jimin.
Jin menghela nafas tanpa berniat menjawab pertanyaan dari yang paling muda di sana, "Hey, tuan-tuan kau lihat sendirikan bagaimana rumahku? Ini bukan tempat penitipan anak. Aku juga sudah sibuk dengan ketiga anakku dan sekarang ditambah tiga bocah lagi yang harus aku asuh. Aku bukan baby sitter kalian, sampai kapan kalian akan seperti ini? Mereka anak-anak kalian" curhat Jin membuat Jimin dan Namjoon menunduk.
"Aku juga ingin seperti itu. Tapi pekerjaanku menuntutku, hyung. Aku tidak bisa kabur dari permasalahan yang ada, aku seorang polisi, hyung" jawab Jimin dengan nada bersalah.
Namjoon mengangguk menyetujui "Benar kata Jimin, pekerjaan menuntut kita"
"Terus apa pekerjaan lebih penting dari anak-anak kalian?"
"Aku kerja demi Juno juga hyung, demi masa depannya"
"Kau memberi masa depan padanya tapi tidak memberi masa kembangnya sekarang. Apa dengan uang cukup membuatnya bahagia? Apa kau pikir semua barang mahal, rumah mewah, dan segala fasilitas yang kau berikan padanya bisa menggantikan rasa rindu akan kasih sayang orang tuanya? Jika menurut kalian anak kalian bahagia karena kekayaan kalian, kalian salah besar. Mereka butuh kalian"
Jimin dan Namjoon semakin menunduk, menampung semua ucapan sang tetua dan mencernanya.
Tiba-tiba ponsel Jimin berbunyi membuat sang empu harus mengangkat, dan dimenit berikutnya dia sudah berpamitan untuk pergi ke kantor. Menyisakan Namjoon dan Jin berdua di ruang tengah.
Setelah ceramah panjang Jin, akhirnya Namjoon ikut pamit pergi setelah mendapat telepon dari bawahan sekaligus teman mereka, Jungkook.
Jin kembali bersama Juno, sebelumnya bocah itu mengintip kepergian sang ayah dari balik jendela. Sungguh menyentuh.
Terdengar teriakan riuh di ruang tengah rumah bercat pink itu, tawa dan teriakan menjadi alunan menyedihkan yang Jin dengar, bagaimana tidak, saat ini ruang tengahnya terlihat seperti kapal pecah yang baru kena bajak perompak.
Jin dan Juno saling menatap, memiliki pertanyaan yang sama, mereka sedang apa?
Sang perompak, Jaejin, sedang berlari mengejar putri manis sang kapten, Ahra, sedangkan sang kapten, Jisung, sedang berdiri di atas sofa sembari berteriak kencang membanggakan dirinya, sedangkan si kembar sedang asik cekikikan dipojok sofa dengan memegang pulpen mahal dimasing-masing tangan kanan mereka.
Tunggu...
Pulpen mahal?
"Tidakkkkkkkk!!!" Teriakan Jin membuat ruang tengah sunyi seketika.
Jin segera berlari ke arah kedua bocah yang sudah belepotan tinta pulpen. Ya tuhan, pulpen-pulpen mahal Jin.
Pria tampan itu memegang kedua pulpen mahal sendu, mengelusnya bak boneka porselen mahal. Demi apapun, pulpen itu kesayangan Jin, hadiah dari kedua orang tuanya saat Jin lulus S2. Itu bukan pulpen sembarangan, harganya fantastis, setara dengan sebuah laptop apple terbaru. Belinya pun jauh, di benua sebrang sana, Eropa.
Keenam bocah itu menatap nganga pada pria dewasa yang kini lebih terlihat seperti seumuran si kembar.
"Ayah kenapa?" Tanya Ahra sembari memiringkan kepala lucu. Ah, lihatlah bagaimana cara dia membuat keluguan, mirip sekali dengan sang ayah, imut.
"Ayah aneh, ayah seperti anak kecil" lanjut Juno yang diangguki kedua bocah sembilan tahun tersebut.
Jin merasa kikuk sendiri menatap keenam bocah disana bergantian. "Ehehe tidak tidak, tidak apa-apa." Jin menyembunyikan dua pulpen itu dikantung celana, sebelumnya kedua pulpen itu diberi kecupan mesra dari sang empu.
'...ayo cepat beli sebelum kehabisan, es krimku paling enak...'
Sepenggal iklan yang telah menyita atensi keenam bocah tersebut. Mata mereka berbinar bak komik webtoon, setelah itu menatap ke arah pria dewasa satu-satunya yang ada di sana dengan wajah memohon.
Jin terpojoki, bukan tidak mengerti, tapi Jin tidak mau kalah dari tatapan puppy mereka.
"Ayah..." Suara Jaejin sudah melembut, siaga satu.
"Aku mau itu" sahut Juno.
"Ahra juga mau, Ahra juga mau" histeris gadis cilik itu.
"Jinseo juga mau"
"Jinyoung juga"
"Ah hm, sebenarnya Jisung juga mau ayah"
Mereka berenam gencar memberi tatapan sayu yang membuat Jin sedih.
Katakan selamat tinggal untuk kemenangan Jin, sudah yakin jawaban yang akan keluar dari mulutnya adalah "Baiklah"
---
Mobil sedan milik kepala keluarga Kim sudah terparkir rapih di depan super market. Keenam bocah cilik itu bersorak soray, kemudian turun dari mobil ayah dengan riang gembira. Mau tidak mau Jin harus turun menemani mereka.
"Ingat, hanya beli es krim doang, mengerti?"
"Iyaaa..." Jawab mereka kompak.
"Tidak janji" lanjut Jaejin pelan, mendapat kikikan dari Juno dan Jisung.
Mereka beriringan masuk ke dalam super market. Tawa canda mereka terdengar nyata, bernyanyi lagu twinkle twinkle little star dengan lirik yang diganti menjadi 'ayo makan es krim bersama...' yang dipandu oleh Juno. Jin lebih terlihat seperti wali pemandu sorak ketimbang seorang ayah yang sedang menjaga enam orang anak.
Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian, dari kalangan wanita-wanita muda membicarakan soal ketampanan Jin, ada pula yang membicarakan kelucuan enam anak tersebut, ada yang menyanjung Jin sebagai ayah yang sayang anak, ada pula yang tertawa karena Jin terlihat seperti baby sitter. Tapi sayangnya, tidak ada baby sitter setampan dan sekeren Jin. Lihat saja cara dia berpakaian, kaos polos putih lengan pendek dengan balutan jeans hitam dan converse merah, baby sitter mana yang gaul seperti dia? Cukup banyak komentar yang membuat Jin harus menahan malu dan menutup sebagian wajah dengan masker.
"Es krim es krim aku mau es krim" rusuh Jinseo yang diikuti kelima bocah lainnya, membuat Jin semakin menaikkan masker hingga ke pangkal hidung.
"Ayah, aku boleh ambil yang ini tidak?"
"Tidak"
"Ahra mau yang ini"
"No no"
"Ayah ini terlihat keren, Jisung belum punya"
"Tidak sayang"
"Ayah, aku mau ciki"
"Juno tidak boleh makan ciki, nanti daddy marah"
"Ayah, Jinseo mau ini?"
"Tidak sayang"
Kelima bocah itu cemberut membuat Jin menghela nafas.
Sabar~
Tunggu, lima?
Jin kembali menghitung semua anak yang kini berjajar di depannya.
Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Bukankah tadi ada enam ekor?
Yang satu lagi...
"YA TUHAN JINYOUNG!!!"
Rasanya Jin sudah hampir mati, bahkan tanpa tahu malu, air mata mengalir begitu saja dari kedua matanya. Sudah sejam dia mengitari super market, tapi tak kunjung menemui sang anak, seluruh aparat keamanan pun sudah dikerahkan untuk mencari Jinyoung, tapi belum mendapat hasil.
Jin hampir pasrah, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada istrinya nanti, dia rela jika nanti dipukuli hingga babak belur oleh sang istri, dia tidak takut jika nanti istrinya akan menyuruh dirinya pergi mengelilingi Seoul untuk mencari sang anak, yang dia takuti adalah sang istri tidak memberinya jatah setelah melahirkan. Itu tidak boleh terjadi, tidak boleh. Dia harus lanjut mencari Jinyoung demi si dedek Jin. Iya harus!
"Jinyoung ya tuhan Jinyoung, kamu kemana saja sayang, ayah mencarimu..."
"Maaf Anda siapa?"
Pria tampan itu mengangkat kepala, menemukan wajah aneh seorang ibu muda yang sedang menggandeng seorang anak yang Jin anggap adalah Jinyoung.
Jin menarik tubuh anak dalam pelukannya menjauh, menatap kembali wajah bocah sepantaran Jinyoung yang sedang mengemut lolipopnya sembari menatap Jin polos.
"A ah," ternyata bukan anaknya. "Kukira itu anakku yang hilang, maafkan aku, nyonya. Maafkan aku" Jin membungkuk berkali-kali sebagai perminta maaf.
"Ah tidak masalah, semoga anakmu cepat ketemu" ibu itu kembali jalan meninggalkan Jin dengan sejuta keruntuhan dalam hati.
Harapannya mulai hilang, Jin benar-benar ingin menyerah, lelah kaki, lelah hati, lelah mata rasanya ingin menangis, mengingat dia pria tangguh dia kembali mengusap air mata dengan ujung lengan kaos pendeknya.
"Jinyoung hiks, kamu dimana sayang" gumamnya pelan. "Ayah benar-benar merindukanmu hiks, ayah bukan takut kau hilang, ayah hanya takut tidak dapat membuat adik untukmu lagi hiks" sekali lagi Jin mengusap air mata dengan ujung lengan bajunya.
Plug
Jin merasa sesuatu memeluk kakinya, kepala yang tertunduk lesuh terangkat sedikit, terlihat bayangan seorang anak kecil memeluk kaki Jin. "Kau mirip sekali dengan anakku, nak, hiks"
"Ayah"
"Dia juga memanggilku begitu"
"Ayah kemana saja?"
"Kau kehilangan ayahmu? Aku juga kehilangan anakku"
"Jinyoung mencari ayah"
"Aku juga mencari anakku, bernama Jiny...tunggu..."
"ANAKKU!!!" Teriak Jin kencang sembari memeluk bocah cilik itu yang ternyata anaknya sendiri, tidak peduli dengan pandangan orang yang menganggapnya aneh. "Jinyoung sayang, ya ampun, kamu kemana saja. Ayah panik"
"Ayah yang kemana? Tadi Jinyoung hanya menukar es krim, setelah kembali ayah dan yang lain menghilang, hiks" sebulir air mata turun dari mata indahnya, membuat Jin ikut sedih.
Tangan Jin terulur mengusap air mata sang anak, setelah itu menarik sang anak agar duduk di pagkuannya. "Jangan kemana-mana lagi ya sayang"
"Ayah juga jangan kemana-mana lagi" Jinyoung memeluk leher sang ayah erat, seakan takut terpisah jika melepas pelukan tersebut. Jin mengangguk, ikut mengeratkan pelukan.
"Ayahhhh" teriakan khas yang sangat Jin kenal berhasil mengintrupsi keintimannya dengan si bungsu.
"Kenapa kalian disini? Ayah bilangkan tunggu disana..."
"Ahra hilang ayah"
"Ah begitu rupanya...APA?! HILANG!!!?"
---
Pintu rumah keluarga Kim terbuka lebar menampakkan wajah sumeringah keenam bocah ditambah wajah murung sang kepala keluarga.
Bagaimana tidak?
Hampir tiga jam penuh di dalam super market dirinya lelah hanya untuk mencari dua anak yang diasuhnya, belum lagi dengan adegan lari-lari layaknya di sinetron yang biasa Miyoung tonton. Jin lelah, sungguh.
Jin merebahkan diri di kasur, menutup mata dengan lengan kiri. Kapan penderitaannya berakhir? Kapan istrinya akan pulang? Dan kapan dia dapat tidur dengan tenang? Tubuhnya lelah, jiwanya ikutan lelah. Bahkan teriakan keenam bocah masih terdengar nyata di telinganya.
Ya Tuhan, sebegitu susahkah menjaga anak?
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka menampakkan wajah manis Jinseo yang berjalan ke arah kasur. Jin tetap pada posisinya, tidak membuka matanya sama sekali.
"Ayah,"
"Hm"
"Ayah" Jinseo manjat ke atas kasur queen size milik sang ayah lalu menggoyangkan tubuh itu dengan brutal.
"Ada apa Jinseo?"
"Ayahhhh"
"Iya" Jin terduduk, sebisa mungkin membuka mata menahan kantuk.
Jinseo mendekati telinga pria tampan itu lalu membisikkan sesuatu, "Jinseo poop dicelana"
"Ah begitu...APA?!" Teriak Jin yang membuat Jinseo terkekeh geli. Jinseo senang melihat ekspresi sang ayah yang terlihat lucu.
Buru-buru, pria bernama Kang Seokjin itu menggendong sang anak ke dalam kamar mandi, tercium aroma tidak sedap saat dia membuka pampers sang anak. Berusaha menghalau bau busuk tersebut membuat Jinseo kembali terkekeh senang melihat ekspresi sang ayah yang begitu lucu baginya.
"Kau sudah besar, kalau mau poop bilang, ok?"
"Ok" jawab Jinseo dengan cengiran manis khas bocah empat tahun. Jin memakaikan celana Jinseo lalu mengecup bibir sang anak lembut.
"Huwaaaaa"
"Ayah!!! Ahra nangis"
Apalagi ini?
Jin menghela nafas panjang, keluar kamar. Terlihat gadis cilik yang menangis di depan sofa sembari memegang rambutnya yang ditarik oleh si kecil Jinyoung.
"Ya Tuhan, anakku!" Jin segera melerai kedua bocah empat tahun tersebut, perlahan dia melepaskan tangan Jinyoung dari rambut panjang Ahra. "Jangan nangis ya, sayang" mengelus rambut Ahra dengan sayang. "Jinyoung kenapa nakal?" Tanya Jin dengan nada tegas, menatap sang anak yang ada di dalam gendongan. "Ayo jawab ayah...!"
"Huwaaaaaaaaaa..." Berakhir Jinyoung ikut menangis.
Ya Tuhan, dosa apa Jin hingga dapat cobaan seberat ini?
Dokter gigi tampan itu mengelus punggung sang anak yang sedang menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya, sesekali mengelus kepala gadis tetangganya yang masih sesunggukkan.
"Ada apa sebenarnya?"
"Tadi Ahra mengambil permen Jinyoung lalu Jinyoung menarik rambut Ahra" jelas Juno yang sedang duduk di kursi piano pojok ruangan.
Jin mengangguk paham. Perdebatan kecil seperti ini memang biasa terjadi dikalangan anak-anak, Jin juga tidak mengelak bahwa masa kecilnya juga seperti itu. Bahkan menurut cerita yang pernah diceritakan sang ibu, dirinya pernah mendorong kakaknya ke got hanya karena tak sengaja menginjak tali sepatunya. Alhasil sang kakak dibawa ke rumah sakit untuk mendapat jahitan di kepala. Ckck.
"Ayah, hmm, Juno lapar"
"Aku juga, iya terus..." Sambung Jaejin yang tak berpaling dari layar televisi. Tangannya sibuk memencet stik PS pembelian Jin sebulan lalu. "Yahhh mati"
"Ahaha. Memang enak" komentar Jisung.
Jin hanya menggeleng menatap kedua anak sembilan tahun tersebut.
"Ayahhh permen Jinseo jatuh ke kloset" teriak Jinseo yang membuat Jin memutar bola matanya malas. Untung saja Ahra dan Jinyoung sudah diam.
Bagaimana juga cara permen itu jatuh ke kloset, Ya Tuhan, ada-ada saja.
Jin melirik jam didinding bercat pink. Sudah jam 5 ternyata, kenapa Miyoung belum pulang juga ya? Pikirannya sudah mengawang memikirkan sang istri beserta jabang bayi yang ada di perut buncit Miyoung. Jin takut jika Miyoung kenapa-napa dan tiba-tiba melahirkan sekarang, kan tidak seru jika Jin tidak mendampingi prosesi melahirkan anak keempatnya.
Ah, pikir apa kau, Seokjin.
"Ayahhhhh permen Jinseo. Permen Jinseo!!!"
Jin memutar bola mata malas.
"Jaejin coba lihat adikmu dulu"
"Lagi seru, yah" Jaejin masih fokus pada layar yang menampilkan karakter Subzero dan Liu Kang yang sedang battle ronde ke-2.
"Jaejin?"
"Tunggu yah"
"Ayahhhhhhhh permen Jinseo!!!"
"Dengar ayah? Atau mau ayah matikan?"
Jaejin menghela nafas malas, lalu mempause games tersebut dan berlari menuju sumber suara sang adik.
Jin menurunkan Jinyoung, "sekarang Jinyoung dan Ahra baikan ya"
"Tidak mau" Ahra membuang muka ketus, membuat Jinyoung memanyunkan bibirnya.
"Ahra sayang, tidak boleh seperti itu, kita kan harus saling memaafkan, iya kan?"
Tak lama Ahra menatap Jinyoung dan mengulurkan tangan sebagai permintaan maaf, perlahan Jinyoung menerimanya, membuat si pria tersenyum senang. Sangat lucu kelakuan mereka, jika saja Jin sedang memegang ponsel sudah dipastikan akan ia abadikan.
Jinyoung dan Ahra tersenyum, saling berpelukan sebagai tanda perteman mereka tetap berlanjut. Jinyoung juga memberikan sebagian permennya pada Ahra, membuat Jin tersentuh. Besok dia akan membicarakan perjodohan Ahra dan Jinyoung dengan Jimin, pasti tetangganya juga akan senang. Mulai sekarang dia akan menjadi orang pertama yang akan menshipper kedua bocah tersebut.
Ah iya, hampir lupa, dia ingin menghubungi istrinya. Jin menghampiri meja telepon, menekan nomor yang sudah dia hafal. Tapi nomor diujung sana tak kunjung menjawabnya, dia kembali menelepon, tapi tak dapat jawaban juga. Wajahnya bergerut khawatir, sebenarnya apa yang Miyoung lakukan hingga tak menjawab teleponnya, apa dia terlalu senang berbelanja? Atau dia kenapa-napa, semoga saja yang pertama. Jin rela jika uangnya habis, daripada istrinya yang kenapa-napa.
Karena tak mendapat jawaban dari Miyoung, Jin menelepon Joohyun. Tapi tak dijawab juga. Sebenarnya apa yang kedua wanita itu lakukan? Pilihan terakhir adalah menelepon suami Joohyun, Taehyung.
'Halo dengan kediaman Kim Taehyung'
"Halo, Taehyung ini aku Jin"
'Oh Jin Hyung, ada apa?'
"Apa kau tahu dimana istriku? Kenapa dia belum pulang?"
'Joohyun juga belum pulang'
"Ya Tuhan, kemana mereka? Tidak ingatkah bahwa Miyoung sedang mengandung"
'Ya begitulah hyung, namanya juga wanita'
"Yasudah, maaf menganggu. Bye"
'Ok, baiklah, annyeong'
Helaan nafas kembali Jin lakukan. Semoga tidak ada apa-apa dengan istri dan juga calon jagoannya.
"Ayah," seruan Juno membuat Jin menoleh dan melupakan sang istri.
"Iya sayang?"
"Hmm, aku lapar"
Hahaha, ya ampun bagaimana bisa Jin mengabaikan keluhan Juno daritadi.
Jin terkekeh, mengelus surai lembut bocah itu. "Baiklah baiklah, ayah sampai lupa menyiapkan makanan. Apa Juno mau membantu ayah?"
Juno mengangguk patuh, ya ampun manisnya anak ini. Kenapa juga Namjoon tega sering meninggalkan bocah ini?
Jin akhirnya mengajak Juno ke dapur untuk membantunya memasak.
---
Langit semakin sore, warna oren semakin menggelap, membuat seorang wanita harus menyalakan lampu depan rumahnya yang masih redup.
Bumil cantik itu membuka pintu rumah, menampakkan pemandangan tak sedap yang berhasil membuatnya geleng-geleng. Rumahnya, terlihat seperti kapal pecah. Mainan berserakan, bekas piring bertumpuk di karpet ruang tengah, dan tv yang masih menyala.
Sekali lagi Miyoung menggeleng memperhatikan setiap inchi rumahnya. Sesuatu yang membuatnya heran. Kenapa suasana rumahnya begitu sepi? Seperti tak dihuni. Tapi, jika suaminya pergi pasti pintu depan akan dikunci.
Wanita cantik itu meletakkan barang belanjaan di atas sofa, mengambil barang-barang yang dapat dijangkaunya lalu dimasukkan ke dalam kotak besar khusus menyimpan mainan. Miyoung tersenyum mendapati boneka barbie yang dipastikan milik anak tetangganya. Tak lupa mematikan tv yang masih memperlihatkan tayangan Pororo dan kawan-kawan.
Dengan perut buncit yang menghambat jalannya, Miyoung berjalan menuju kamar.
Senyumnya mengembang saat melihat keadaan di dalam kamarnya. Disinilah ternyata mereka. Keenam bocah ditambah satu pria dewasa itu sedang tertidur pulas di kasur queen size miliknya dan sang suami. Walaupun terlihat begitu sempit tapi mereka cukup nyaman tidur pada posisi masing-masing.
Dipinggir kanan ada Jaejin yang meringkuk, dilanjut dengan Jisung yang menjadikan kaki Jaejin bantalan, lalu Juno ditengah dengan gaya telentang, diikuti Ahra yang tidur terbalik, membuat kakinya meninju pipi Jin yang tidur dipaling pinggir kiri yang terlihat tidak nyaman dengan posisinya (karena hampir jatuh), ada Jinseo yang tidur di atas kepala Jin dengan posisi miring menghadap kepala kasur, sehingga p****t bayi itu bertemu dengan kepala sang ayah, dan Jinyoung tidur tengkurap di atas perut Jin.
Miyoung menggeleng melihat adegan menggemaskan itu, sekali lagi senyuman tulus dia berikan sebagai tanda terima kasih untuk Jin.
"Tidur yang nyenyak kesayangku semua" Miyoung menutup pintu perlahan agar tidak mengganggu tidur mereka.