"JISUNG! Ayo kita berangkat!" Teriak salah seorang di depan rumah kediaman Cha, membuat si sulung berlari kencang menuju sang ayah yang sedang sibuk di dapur.
"Appa, aku berangkat dulu ya" katanya sembari berlari lagi menuju kamar untuk mengambil tas.
"Jisung"
"Ya?" Jisung berhenti lari saat suara sang ayah mengintrupsi.
"Kau berangkat dengan siapa?"
"Teman-teman"
"Naik apa?"
"Sepeda"
"Tidak!"
Jisung memelas, "appa, kumohon. Kali ini saja"
"Kata appa tidak, kau dengarkan? Kau ingat saat kau berangkat sekolah menggunakan sepeda? Kau terjatuh."
"Tap tapi appa aku akan..."
"Appa bilang tidak, ya tidak"
Jisung cemberut, wajahnya ditekuk sedemikian rupa. Mencoba membuat sang ayah iba, namun Cha Jimin tetaplah Cha Jimin.
Pria tampan dengan penuh ketegasan dan juga kelembutan diwaktu bersamaan, dia tidak akan pernah terima anaknya lecet sedikitpun.
"Aha?"
Jisung menghela nafas melihat ayahnya yang berkacak pinggang. Walau ayahnya berwajah lembut, tetap saja Jisung tidak bisa membantah ucapan sang ayah. "Baiklah" dengan lesuh dia berjalan keluar rumah untuk menemui teman-temannya.
"Ayo berangkat" seru salah seorang dari keempat anak tersebut.
Bocah sembilan tahun itu menggeleng, membuat keempat temannya menatap bingung padanya.
"Kenapa?"
"Appa tidak memperbolehkanku naik sepeda lagi"
"Yahhhhh..." Seru keempat bocah laki-laki itu dengan lesuh, mereka memang mengerti bagaimana sikap ayah temannya itu. Mereka memang berteman dan sering bersama, tapi soal berangkat dan pergi sekolah, mereka hanya sering berempat. Lusa lalu mereka memang pergi berlima, tapi sesuatu terjadi pada Jisung. Jisung jatuh dari sepeda, membuat ayahnya melarang lagi pergi menggunakan sepeda. Padahal sekolah mereka dekat, hanya di depan komplek. Ya tapi, jika sudah dilarang mau bagaimana lagi?
"Kalian duluan saja. Maafkan aku teman-teman"
"Tidak masalah," jawab bocah bernama Jaejin, "kalau begitu kami duluan"
"Bye Jisung" salam keempat temannya.
"Bye" sapa Jisung balik.
Jisung kembali ke dalam rumah dengan lesuh. Jujur, dia lebih senang berangkat bersama teman-teman ketimbang diantar ayah. Salahkan dia sendiri yang tidak hati-hati saat naik sepeda.
"Ambil tasmu dan kita berangkat" Jimin mengangkat si bungsu tinggi-tinggi, lalu menumbukkan kecupan berkali-kali pada wajah si manis. "Ahra sudah siap, oppa juga harus siap-siap" kata Jimin mengikuti cara Ahra berbicara, membuat si bungsu tertawa geli.
Jisung lagi-lagi menunduk, ke kamar dan mengambil tas bergambar Woody and friends.
---
"Jangan jajan sembarangan"
"..."
"Makan bekal yang appa bawakan"
"..."
"Jangan main yang aneh-aneh"
"..."
"Belajar yang benar"
"..."
"Dan jangan kemana-mana jika appa belum menjemput, mengerti?"
"..."
"Cha Jisung, kau mengerti?"
"Bahkan appa mengatakannya setiap hari, bagaimana aku tidak mengerti?"
Jimin tersenyum, kecupan tak lupa dia tinggalkan dipucuk kepala sang anak. "Anak pintar"
"Lebih baik appa pergi" bocah berumur sembilan tahun itu mendorong tubuh ayahnya, menyuruh sang kepala keluarga untuk pergi.
"Jisung masuk duluan"
"Iya, aku akan masuk"
"Ayo sekarang masuk"
"Appa pergi dulu"
"Cha Jisung"
"Hm" Tanpa babibu Jisung berjalan menuju mejanya dengan diawasi mata sipit Jimin, tak lupa senyuman manis Jimin mengembang, membuat matanya semakin menghilang.
"Belajar yang rajin, semangat!" Teriak Jimin sebelum menghilang dibalik dinding kelas.
Seisi kelas menonton adegan dua ayah dan anak tersebut dengan melongo, itu memang ftv harian mereka setiap pagi.
"Belajar yang rajin, semangat!" seru seorang murid mengikuti gaya Jimin, membuat seisi kelas tertawa.
Sudah biasa jika Jisung dijadikan bahan candaan, tapi terkadang dia merasa malu dengan teman-temannya. Mungkin hanya dia murid kelas tiga SD yang masih diantar-jemput ayahnya hingga ke kelas dan memamerkan keromantisan di depan kelas.
Bel berbunyi, tak lama guru mereka masuk. "Selamat pagi, anak-anak"
"Pagi" teriak mereka bersamaan.
"Kita mulai pelajaran hari ini," kata sang guru membuat yang lain menjawab dengan riang, walau dalam hati menggerutu agar bel pulang segera berbunyi. "Ah iya, Cha Jisung, ayahmu bilang disakumu ada uang untuk menabung"
Satu hal lagi yang membuat Jisung malu di kelas. Ayahnya sering menghubungi sang guru hanya untuk memberitahu hal-hal sepele. Padahal sebelum berangkat Jimin telah memberitahu perihal uang menabung itu.
Malu-malu Jisung mengangguk.
Bel pulang sudah menggema di sekolah itu sepuluh menit yang lalu, namun Jimin belum memperlihatkan batang hidungnya, membuat Jisung bosan menunggu. Biasanya, sang ayah yang datang lebih dulu dan menunggu di depan kelas.
Duk duk duk
"Cha Jisung ayo lempar bolanya!" Teriak sang teman dari lapangan. Mereka sedang bermain bola, tanpa sengaja bola menggelinding ke arah Jisung yang sedang duduk dipinggir kelas.
Jisung mengambil bola, menatap teman-temannya saling bergantian. Ada kebimbangan dalam hati, dia ingin bergabung namun dia takut sang ayah datang. Tapi jika diam saja menunggu sang ayah dia juga bosan.
"Cha Jisung, kau ingin bergabung?! Timku kekurangan anggota, lempar bolanya!" Itu teriakan Jaejin, teman sekaligus tetangganya.
Kesempatan emas, dia diundang juga untuk bermain, tanpa babibu, Jisung meletakkan tas di kursi dan lari bergabung bersama teman-teman di tengah lapangan.
Sepuluh menit berlalu, permainan semakin seru, masing-masing tim belum mendapat skor, membuat mereka semakin keras memaksa bola untuk masuk ke gawang lawan.
Kini bola berada ditim lawan, dengan lihai Jaejin mengambil bola dari sang lawan dengan seringaian khas bocah SD, berlari lagi semakin kencang hingga posisinya di depan gawang lawan. Baru saja akan menendang bola, lagi-lagi tim lawan menyerobot bola dan menendang semakin jauh dari gawang, tapi sedetik kemudian bola itu melambung tinggi menuju gawang lawang, dengan bersamanya bola masuk ke gawang lawan terdengar teriakan lirih bocah SD yang terjatuh.
"Yeeeeee..."
Dug
"Aawww"
"Jisung kau tidak apa-apa?" Jaejin segera menghampiri Jisung yang tersungkur, diikuti temannya yang lain.
"Kau kenapa?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Aww...sakit" Jisung meringis memegang lututnya yang berdarah. Luka kering akibat jatuh dari sepeda kembali mengelupas, perih sekali.
"Ada apa?" Suara tanya itu membuat blokade jalan membuka dengan sendirinya. "Ya Tuhan. Cha Jisung! Kau kenapa?" Itu suara Jimin. Dengan penuh khawatir, Jimin menggendong tubuh sang anak menjauh dari sana.
---
"Aww sakit..."
"Makanya dengar apa yang appa katakan"
"..."
"Kenapa kau bisa jatuh?"
"..."
Jimin menghela nafas, tangannya beralih mengelus rambut Jisung setelah mengobati lutut si anak. "Cha Jisung," merapihkan rambut Jisung, "appa melarangmu bukan karena appa tidak menyayangimu, tapi karena appa tidak mau kau seperti ini. Appa sayang padamu"
"Hiks tapi aku hiks hanya ingin bermain bola" tak terasa buliran air mata terurai dari manik si manis.
"Kau bisa bermain bola dengan appa"
"Appa hiks tidak pernah ada waktu hiks di rumah, appa selalu pergi hiks setelah menjemputku"
Jimin terdiam, memang begitu adanya. Mungkin hanya Jimin, seorang polisi yang bebas keluar masuk kantor hanya untuk menjemput dan bertemu anaknya. Berkali-kali Jimin mendapat teguran dari atasan karena sering keluar disaat jam kerja, tapi itu tidak membuatnya jera. Anak tetap anak, tak ada yang bisa menandingi sekalipun dengan pekerjaan.
Jika kalian bertanya dimana istri Jimin, jawabannya tidak ada. Istrinya pergi dua tahun yang lalu setelah sebuah peluru nyasar bersarang ditubuhnya. Ahn Sorim, istri Jimin adalah seorang detektif kepolisian, yang hampir setiap harinya menangani kasus-kasus besar yang ada di kota. Pertemuan mereka cukup unik, istrinya adalah seniornya, hanya saja Jimin mendapat dibagian Administrasi, sedangkan Sorim adalah detektif kepolisian. Hubungan mereka cukup kontroversial, sang atasan tak mengizinkan hal itu terjadi, tapi cinta mereka semakin besar, membuat mereka berani melaju kejenjang yang lebih serius. Dan terbukti bahwa cinta mereka berpisah karena maut. Kepergian sang istri tidak membuat Jimin takut ataupun membenci pekerjaannya, tapi semakin mencintainya, ditambah kini ada dua tanggungan yang harus dia biayai dari gajinya sebagai seorang aparat kepolisian.
Jimin menarik tubuh si sulung ke dalam pelukan, menyalurkan rasa hangat yang menenangkan. Jika disuruh pilihpun, dia pasti akan milih untuk bermain dengan sang anak ketimbang kerja, tentu saja jika dia tidak berfikir anaknya akan makan apa besok.
Dia cukup waras untuk tidak membuat atasannya semakin tidak menyukainya. Dia sudah sering membuat atasannya marah, beruntunglah Jimin memiliki atasan yang masih perhatian walau setiap harinya mendapat omelan.
Jimin membuat jarak diantar mereka berdua, mengusap wajah basah sang anak. "Maafkan appa ya? Appa janji, jika appa libur kita akan bermain bola."
"Jan hiks ji?"
"Janji" kelingkingnya melingkar manis di kelingking Jisung, senyuman tak lupa dia pamerkan membuat sang anak ikut tersenyum.
Inilah yang membuat Jimin sangat melindungi sang anak, bukan karena hanya takut kehilangan untuk kedua kalinya, tapi karena dia tidak pernah mau memudarkan senyuman anak-anaknya. Terlebih si sulung sedang dalam masa keremajaan, membuat Jimin harus ekstra untuk menjaga Jisung.
"Kalau begitu appa berangkat sekarang, jangan kemana-mana dan tetap di rumah, dua puluh menit lagi Bunda Miyoung akan pulang, katakan apa yang Jisung butuhkan pada bunda. Mengerti?"
Sebelum masuk ke dalam rumah, Jimin sempat bertemu dengan istri temannya yang sedang jalan bersama kedua anak kembar menuju super market, dengan semangat si bungsu, Ahra minta ikut pada mereka. Jadilah Ahra pergi bersama mereka.
Jisung mengangguk patuh. Setelah kecupan diterimanya dipucuk kepala, sang ayah keluar, tak lupa dengan lambaian tangan sebelum menutup pintu.
Helaan nafas terdengar nyata. Sepi lagi. Jisung tidak suka kesunyian.
---
Jimin menatap ponselnya dengan pandangan khawatir, 20 kali dia menelpon telepon rumah, namun tak kunjung diangkat, membuat pikirannya melayang jauh.
Ada apa dengan anaknya? Apa anaknya sedang tidur? Tapi tidak mungkin ini sudah jam empat, apa anaknya sedang main ke rumah tetangganya itu? Ya mungkin saja, kenapa tidak terfikir untuk menghubungi tetangganya.
Dial up 5 di ponsel Jimin terhubung pada seseorang disebrang sana.
'Halo, Jim'
"Hyung, kau sudah di rumah?"
'Belum. Ada apa?'
"Ah tidak, aku hanya mau bertanya tentang Jisung, aku kira kau sudah di rumah, barangkali anakku ada di sana"
'Memang ada apa, Jim?'
"Tidak ada yang menjawab telepon rumah"
'Ah, mungkin sedang bermain dengan Jaejin, sebentar aku hubungi Miyoung dulu'
"Baiklah"
Pip
Jimin menghela nafas, menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Hari ini dia mendapat lembur, jadi dia ingin mengetahui bahwa kedua anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Tapi keduanya malah tak ada yang mengangkat telepon darinya, membuat dia khawatir. Pikiran membuyar, kakinya tak bisa berhenti bergerak, tangannya bergetar. Menunggu telepon dari Jin hyung sama seperti menunggu atasannya datang menemuinya.
Sejurus kemudian, ponsel bergetar menandakan telepon masuk. Jimin buru-buru menerima panggilan dari pria bernama Jin itu.
"Ya hyung, bagaimana?"
'Kata Miyoung, hanya ada Ahra, Jisung tidak ada di rumah, Jaejin baru saja pergi latihan futsal'
"Begitukah?"
Jantungnya berdegup kencang, sangat kencang. Ntah kenapa pikirannya mulai kacau, berbagai kemungkinan berspeskulasi di otaknya. Beribu kemungkinan yang tidak dia harapkan muncul begitu saja membuat Jimin sendiri takut.
'Mungkin dia sedang tidur.'
"Ya, mungkin. Tapi bisa saja tidak. Baiklah terima kasih, hyung"
Pip
Jimin mematikan sambungan telepon, tangannya bergetar kalut, mencoba mengalihkan pikiran negatif menjadi positif, mungkin saja sang anak sedang tidur, mungkin juga sedang berada di kamar mandi jadi tidak dapat mengangkat telepon.
Tapi Jimin tetap Jimin, dia belum percaya sekalipun dengan dirinya sendiri jika belum melihat faktanya. Semenjak kepergian sang istri, Jimin sendiri sadar bahwa dia menjadi gampang panik dan khawatir.
Tanpa babibu, Jimin mengambil jaket kulit dan berlari keluar kantor membuat atasannya yang baru keluar ruangan meneriakinya. Tapi tak dapat balasan dari Jimin.
Sudah hampir satu jam Jimin memutari komplek perumahan hingga keluar komplek. Tapi tak kunjung melihat seujung kuku anaknya. Sebenarnya dimana Jisung?
Jimin kaget saat mendapati rumah kosong, tak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu, dia bertanya pada para tetangga. Tapi jawabannya semua sama, tak melihat si sulung. Jimin sempat rada tenang saat melihat Ahra tertidur di rumah Jin, tapi pikirannya kembali penuh dengan Jisung.
Jangan katakan bahwa ada yang menculik Jisung, atau yang lebih parah seseorang menyakiti Jisung karena tahu bahwa Jisung adalah anak Jimin atau Sorim? Bisa saja, banyak orang yang membenci Jimin dan Sorim, siapalagi kalau bukan para penjahat yang pernah Jimin dan Sorim tangani, mungkin dia ingin balas dendam dengan Jimin ataupun Sorim, karena pernah menjebloskannya ke penjara, akhirnya menyakiti sang anak. Terlalu jauh pemikiran Jimin. Dan itu menakutkan.
Jimin berhenti di depan sekolah Jisung yang sudah sepi, tak ada siapa-siapa, kecuali penjaga sekolah yang sedang mengunci gerbang.
"Permisi, apa di dalam ada orang?" Tanya Jimin pada penjaga itu.
"Oh Tn. Polisi, tidak ada, tuan. Semua sudah pulang"
"Benarkah? Tidak ada satu orangpun?"
"Tidak ada, tuan. Guru-guru juga sudah pada pulang"
Jimin menghela nafas, kemana lagi dia harus mencari Jisung?
Setelah berterima kasih, Jimin kembali masuk ke dalam mobil, wajahnya terlihat frustasi, perasaan takut, kalut, khawatir, semuanya lebur menjadi satu. Dia hanya takut kehilangan satu anggota keluarganya lagi. Dan dia tidak mau hal itu terjadi.
Disaat dirinya mulai pasrah dan siap untuk menelpon beberapa rekan untuk ikut mencari sang anak, tiba-tiba matanya teralihkan ke arah dua orang bocah yang sedang tertawa berjalan di trotoar. Mata Jimin menyipit menatap sang view lebih seksama, meyakinkan bahwa itu benar Jisung.
Setelah yakin apa yang dilihatnya benar. Jimin beringsut keluar mobil lalu berlari menuju sang anak. Pertama kali yang dia lakukan saat di depan Jisung adalah memeluknya. Memeluknya seakan Jisung akan pergi saat dia melepaskannya.
"Cha Jisung!" Jimin bersuara tegas setelah melepas pelukan, membuat Jisung beringsut ke belakang punggung Jaejin.
"Ha halo paman" sapa Jaejin takut-takut.
Jadi, Jisung pergi bersama Jaejin ke tempat latihan futsal. Saat Jaejin akan pergi ke tempat futsal, Jisung menghentikan langkahnya, meminta Jaejin agar mengajaknya karena sang ayah akan lembur, awalnya Jaejin menolak, karena tahu bahwa membawa Jisung pergi tanpa izin Paman Jimin adalah sesuatu yang sangat diharamkan. Tapi melihat Jisung memohon, Jaejin jadi tidak tega. Waktu itu memang Jaejin berencana meminta izin pada Bunda, tapi waktunya mepet dan dia sudah telat latihan, jadilah mereka pergi tanpa izin.
"Kemari, Jisung"
Jisung menggeleng, semakin bersembunyi dibalik tubuh Jaejin.
"Jisung pergi kemana?" Tanya Jimin tegas.
"Hm, paman, maafkan aku. Dia ikut latihan futsal bersamaku" jawab Jaejin merasa bahwa dia harus bertanggung jawab atas ini.
Jimin mengernyit, "dimana?"
"Di sana" tunjuk Jaejin pada lapangan futsal yang biasa dia datangi bersama teman-teman setimnya.
"Ya Tuhan, Cha Jisung. Jauh sekali kau main, kenapa tidak meminta izin appa dulu?"
Jisung tetap diam.
"Jisung?"
"Maafkan kami paman, sepertinya aku yang salah" kata Jaejin menunduk.
Jimin menghela nafas, menahan amarah yang bergejolak. Sebenarnya dia tidak mau marah, tapi rasa khawatir mendorong Jimin untuk memarahi sang anak agar jera. "Baiklah, kita omongi di rumah, Cha Jisung. Sekarang kalian masuk mobil"
Tanpa perintah dua kali Jaejin menarik Jisung masuk ke dalam mobil Jimin.
Bertepatan dengan kedatangan mobil Jimin, Jin, tetangga sekaligus teman Jimin, keluar dari mobilnya.
"Oh, Jimin?" Tanya Jin, "Jaejin?" Serunya bingung saat melihat sang anak keluar dari mobil Jimin. Jaejin berlari kepelukan sang ayah. "Ada apa, Jim?"
Jimin menunduk kecil lalu pergi membawa Jisung masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun.
Jin mengernyit, aneh. "Ada apa, Jaejin?"
Bocah manis itu menghela nafas, "tadi Jisung memintaku untuk mengajaknya latihan, jadi kubawa dia, tapi ternyata Paman Jimin mencarinya"
Jin mengangguk paham, sudah biasa jika melihat perdebatan antara anak dan ayah itu. Si ayah yang overprotective dan sang anak yang ingin kebebasan.
"Baiklah, kalau begitu kita masuk." Jin menggandeng bocah yang sedang memeluk bola itu ke dalam rumah. "Bagaimana latihannya tadi?"
"Seperti biasa, hanya saja Gongshik tidak datang latihan karena sakit. Padahal pertandingan sebentar lagi"
"Sakit apa? Sudah menjenguknya?"
"Demam berdarah, sudah kemarin bersama teman sekelas."
"Pintar. Semangat kapten, ayah yakin pasti Jaejin menang" Jin mengusak rambut lepek anaknya dengan sayang.
---
Jimin berdiri di depan Jisung yang duduk menunduk di sofa, sama sekali tidak berani menatap sang ayah yang sedaritadi hanya terdiam dan bolak-balik di depannya layaknya setrikaan.
"Berapa kali appa katakan, jangan kemana-mana? Kenapa masih saja keluar?"
"..."
"Kenapa juga tidak minta izin pada appa? Minimal pada bunda?"
"..."
"Cha Jisung, appa bertanya padamu" Jimin berdiri tepat di hadapan Jisung, membuat Jisung semakin dalam menunduk. Semenit berlalu, Jimin tetap tak dapat jawaban dari sang anak, membuat dia menghela nafas gusar, menahan amarah yang sudah diubun-ubun. "Cha Jisung..."
"Karena Jisung bosan! Kenapa appa tidak pernah membiarkan Jisung keluar? Kenapa Jisung tidak boleh main bersama teman-teman? Kenapa Jisung hanya boleh di rumah? Jisung juga mau bermain bersama teman-teman Jisung appa hiks..." Jisung mengusap air matanya yang mulai jatuh membasahi pipi.
"Tapi di luar tidak aman, appa juga tidak bisa memperhatikanmu selalu. Appa harus bekerja, Jisung"
"Tapi Jisung hiks mau bermain..."
Lagi-lagi Jimin menghela nafas, membiarkan amarahnya berlalu bersama karbon. Mensejajarkan diri di depan Jisung, mengangkat wajah sang anak, mengusap air mata yang berlinang membasahi pipi gembil Jisung. "Maafkan appa" Jimin menarik Jisung ke dalam pelukan, mengusap punggung hangat sang anak dengan lembut, menyalurkan kasih sayang yang berlipat ganda. "Appa sangat menyayangi Jisung, appa takut kehilangan Jisung."
Jisung kembali menangis, menumpu kedua lengan di leher sang ayah. "Jisung juga sayang appa"
"Ahra mau dipeluk!" Teriak bocah empat tahun yang kini lari ke arah mereka, menubrukkan tubuh pada punggung sang ayah, membuat Jimin tersenyum dan ikut menarik bungsu ke dalam pelukan hangatnya.
Jin berdehem, mencoba mencuri atensi keluarga itu. Walaupun dia senang melihat kebahagiaan keluarga tetangganya tapi dia risih juga diabaikan. "Apa aku hantu? Sedaritadi aku diabaikan"
"Ah, hyung" Jimin berdiri melepas pelukan. "Sini duduk, kau mau minum sesuatu? Akan aku buatkan"
"Tidak perlu, aku hanya mengantar Ahra."
"Ah begitu," Jimin tersenyum.
Kini kedua ayah itu sedang duduk di teras rumah Jimin dengan ditemani dua cangkir teh. Alibi Jin yang awalnya menolak akhirnya dia yang meminta untuk dibuatkan teh, ck, utung lebih tua.
"Jim,"
"Ya?" Jimin meletakkan kembali cangkir teh ke atas meja.
"Soal tadi, aku minta maaf atas nama anakku. Jaejin tidak bermaksud untuk mengajak Jisung untuk pergi, tapi..."
"Ah tidak masalah hyung, Jisung sudah memberitahuku. Mungkin ini juga salahku karena kurang memperhatikan mereka, hmm, mungkin aku akan mengambil cuti ya sekitar tiga hari atau mungkin seminggu"
Jin tersenyum, "ide bagus" mengambil cangkir teh lalu menyeruputnya dengan anggun. "Aku tidak menyangka Jiminie sudah besar" menepuk pundak Jimin dengan bangga. "Kau seharusnya bukan hanya sekedar memantau dan melarangnya ini itu. Dia butuh dirimu, dia butuh kau menemaninya. Ibunya memang pergi, tapi ayahnya juga harus bisa menjadi sosok seorang ibu."
Jimin mencerna semua perkataan Jin dengan baik. Mungkin ada benarnya juga, dia harus memperhatikan Jisung lebih ekstra lagi agar sang anak tetap merasa terlindungi.
"Hah, yasudah aku pulang dulu, aku lapar. Datanglah ke rumah jika ingin sesuatu" Jin berdiri setelah menghabiskan sisa teh yang ada. Tepukan tak lupa Jin berikan di punggung Jimin sebagai salam perpisahan.
"Hyung" panggilan Jimin membuat Jin menghentikan langkah dan menoleh. "Terima kasih telah membantuku"
Lagi-lagi Jin tersenyum manis, "Tidak masalah"
Pria Busan itu menghela nafas melihat punggung lebar sahabat baiknya menjauh.
---
"Appa aku boleh bermain sepeda bersama teman-teman tida..."
"Tidak"
"Pergi ke lapangan?"
"No no"
"Ikut Jaejin latihan?
Jimin menggeleng.
Jisung menghela nafas gusar. Menyebalkan, ini itu tidak boleh, keluar rumah saja tidak boleh. Hello! Jisung itu anak laki-laki bisa jaga diri sendiri, bukan Rapunzel yang terus menerus dikurung di istana. Jisung menekuk wajah kesal, berlaga seakan meninju-ninju dan mencakar sang ayah dari arah belakang, menampakkan wajah mengejek membuat adiknya yang sedang duduk di ruang makan tertawa melihat kelakuan sang kakak yang sedang melampiaskan kekesalannya.
"Cha Jisung, appa tahu apa yang kau lakukan" kata Jimin tenang. Dia masih sibuk dengan nasi goreng di penggorengan, sesekali menatap Jisung dari pantulan ubin marmer dapurnya.
Jisung terkekeh malu, mendekati sang ayah dengan wajah memelas. "Appa, kumohon kali ini saja"
"..."
"Aku sudah bisa naik sepeda lancar appa"
"..."
"Tidak jatuh-jatuh lagi deh janji"
"..."
"Aku juga bisa menendang bola hingga masuk ke gawang"
"..."
"Jadi bolehkan Jisung keluar rumah"
"Appa bilang tidak ya tidak, lebih baik Jisung belajar, sebulan lagi Jisung ulangankan?"
Jisung memanyunkan bibirnya sebal. Menghentakkan kaki menuju meja makan dan duduk lesuh. Kepalanya di tidurkan di atas meja membuat sang adik menarik-narik rambutnya seperti mainan.
"Park Ahra diam!"
Mata sipit Ahra membulat mendapat bentakan dari sang kakak, sedetik berikutnya teriakan menggema di ruang makan itu. Membuat Jimin harus ikut turun tangan.
"Ya Tuhan apa lagi ini? Cha Jisung kenapa kasar sekali pada adikmu, hm?"
"Habis dia menarik rambutku, sakit appa"
Jimin menyandarkan kepala Ahra pada perutnya, mengelus lembut kepala sang anak supaya berhenti menangis.
"Tapi jangan kasar, sekarang minta maaf"
Jisung mendecih.
"Cha Jisung" mata sipit Jimin mendelik membuat Jisung memasang tampang bete.
"Baiklah baiklah. Cha Ahra, aku minta maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Jadi maafkan aku"
"Sayang," Jimin menjauhi wajah Ahra dari pelukannya, mengelus lembut pucuk sang anak, "oppa sudah minta maaf, jadi harus di maafkan ya. Ayo sekarang baikan"
Dengan mata yang masih tergenang, Ahra mengulurkan tangan ke arah sang kakak, walau wajahnya berpaling dari Jisung.
Dengan malas Jisung menjabat tangan Ahra sebagai tanda damai. Jimin tersenyum melihat kelucuan kedua anaknya. Ternyata menjadi seorang ayah tidak sesusah yang dia pikirkan selama ini.
---
"Appa aku mau main ke luar"
"Tidak"
"Ke rumah ayah"
"Ayo appa antar"
Jisung memutar bola mata jengah. Hey siapa yang tidak jengah, kalau kemana-mana selalu diintili, bahkan hanya ke rumah tetangga di sebrang rumah pun sampai diantar. Jisung heran sebenarnya ayahnya ini polisi negara apa polisi untuk dirinya? 24 jam nonstop, tak kurang sedetikpun sang ayah selalu mengintilinya, memperhatikannya, bahkan rela menunggunya di depan kamar mandi saat dia buang air. Apa ayahnya sudah terobsesi dengan dirinya? Atau ini yang disebut kasih sayang?
Mau tidak mau Jisung pasrah. Mereka bertiga pergi bersama ke rumah tetangga depan.
Ceklek
Jisung langsung membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu, ini sudah biasa baginya, rumah Jaejin sudah dia anggap rumah sendiri.
"Jisung, itu tidak sopan, kau harus mengetuk pintu dan mengucapkan salam" kata Jimin menasihati.
"Kita kan sudah sering ke sini appa"
"Ya, bagaimana kalau tuan rumahnya tidak ada?"
"Pasti ada," kata Jisung batu membuat Jimin memutar bola mata jengah. "Jaejinnn!"
Jimin menghela nafas, akhirnya dia ikut masuk juga.
"Jimin"
"Eh hyung"
"Ada apa?" Tanya Jin yang baru saja keluar kamar dengan menggendong salah satu anak kembarnya, Jinyoung.
"Tidak ada apa-apa, hyung. Halo manis" Jimin mencoba menarik perhatian si kecil yang ada di gendongan Jin, membuat Jinyoung tergugu pelan.
"Appa appa" panggil Jisung antusias.
"Iya?"
"Jisung boleh ikut tim Jaejin kan?"
"Tim?" Jimin mengernyit.
"Iya, tim futsal. Katanya Jaejin butuh satu anggota di timnya, boleh ya?"
"Tidak"
"Appa"
"Tidak, Jisung"
Jisung cemberut, kini beralih menatap Jin dengan tatapan memohon. Bermaksud agar Jin membantu Jisung untuk memohon pada Jimin.
"Jim, tidak masalah, hitung-hitung menambah pengalaman Jisung"
"Tapi hyung terakhir kali Jisung bermain bola dia jatuh, dia tidak bisa bermain bola"
"Jisung bisa kok" serobot Jisung membela.
"Kalau Jisung bisa, Jisung tidak mungkin jatuh dalam permainan"
"Itu kan hanya..."
"Hanya?"
"Intinya Jisung bisa bermain bola!" Suara Jisung meninggi. "Appa saja yang tidak pernah melihat Jisung saat bermain, appa selalu saja menganggap Jisung tidak bisa ini itu, appa hanya melihat Jisung ketika jatuh, tapi appa tidak pernah melihat Jisung saat melakukannya. Hiks, Jisung benci appa" lagi-lagi Jimin merasa gagal mendidik Jisung. Anak itu berlari keluar rumah Jin menuju rumahnya dengan tangisan.
Anaknya memang gampang sekali terpancing emosi, mungkin turunan dari sang ibu.
Jimin menghela nafas, baru saja Jimin akan beranjak menyusul, namun Miyoung menahannya. Dengan senyuman dia berkata, "biar aku yang tangani" selepas itu Miyoung keluar.
"Paman, kemarin Jisung memenangkan timku" ujar Jaejin.
Jimin semakin merasa bersalah, bukan hanya karena ucapan Jaejin tapi juga karena melihat kebaikan Miyoung, kenapa Miyoung yang notabenenya hanyalah tetangga bisa lebih mengerti tentang Jisung ketimbang dirinya. Jimin tidak tahu harus bagaimana lagi, dia sudah gagal menjadi seorang ayah. Setelah ini dia akan mendatangi makam sang istri untuk meminta maaf karena tidak dapat menjadi ayah yang baik untuk kedua anak mereka.
Ahra terdiam menatap kedua orang dewasa di depannya. "Ada apa?" Tanyanya polos dengan kepala yang dimiringkan.
Jin tersenyum. "Tidak ada apa-apa sayang," Jin mengelus surai halus Ahra, "Ahra sayang, main dengan Jinyoung dan Jaejin oppa ya, ayah dan appa ingin berbincang sebentar"
"Apa ayah dan appa akan pergi meninggalkan kami?"
"Tidak sayang, lagi pula Jinseo sedang tidur." Jin mengecup pelan pucuk kepala Ahra setelah itu Jinyoung dan Jaejin bergantian.
"Baiklah, ayo oppa, Jinyoung" Ahra menggandeng tangan Jaejin dan Jinyoung masuk ke dalam kamar anak. Membuat Jimin ikut tersenyum dengan kelakuan lugu si bungsu.
"Jim, kau dengar sendirikan, anakmu bicara apa tadi?"
"Kau hanya melihat sakitnya, tidak melihat perjuangannya. Dia sudah besar Jim, sudah bukan anak bayi lagi yang harus kau ikuti kemanapun dia pergi. Bahkan kau tidak begitu dengan Ahra"
"Itu beda hyung, Ahra lebih dekat dengan kalian dan aku lebih tenang jika Ahra bersama kalian, sedangkan Jisung sebentar lagi akan menjadi remeja, aku hanya takut dia keluar jalur pergaulan"
Jin terkekeh mendengar jawaban Jimin yang dirasa terlalu berlebihan. Menepuk pundak single parent itu layaknya seorang kakak. "Park Jimin, kurasa kau belum dewasa dalam menjaga anak. Sudah kubilang, jangan menikah muda, beginikan jadinya." Jin menggeleng. "Apa kau tidak pernah berfikir kenapa Ahra lebih dekat kepadaku dan Miyoung? Apa tidak ada rasa cemburu sedikitpun saat Ahra lebih memilih aku atau Miyoung ketimbang kau? Itu karena dia butuh kasih sayang bukan kekangan. Ahra tidak dekat denganmu karena dia melihat jika kakaknya begitu dikekang dengan sang ayah. Kemana-mana selalu diawasi, bergerak sedikitpun tidak boleh, ini tidak boleh itu tidak boleh. Kau memang punya hak untuk semua itu, kau boleh melarang anakmu, tapi kau tidak boleh menumbangkan keinginannya. Jika kau merasa anakmu tidak aman diluar rumah, lalu akan jadi apa Jisung besar nanti? Bertemu orang lain tidak boleh, bertemu teman saja tidak boleh" Jin menepuk pundak Jimin, "Jimin, kau boleh menjaganya, kau boleh menganggap semua orang membahayakan untuknya, tapi kau tidak boleh lebih dari itu. Biarkan Jisung memilih jalannya sendiri. Aku yakin, sekalipun dia pergi, kau akan selalu berada di belakangnya bukan?"
Jimin menatap Jin dengan pandangan malu. Jujur, Jimin memang belum 100% mengerti tentang menjaga anak dan memperlakukan anak harus seperti apa, yang dia tahu hanya menjaga dan mengawasi agar anaknya tidak terluka. Tapi ternyata yang dia lakukan selama ini malah melukai hati anaknya.
"Aku harap kau bisa merubah pola pikirmu, kapten." Jin mengacak surai Jimin, membuat sang empu malu. Jin masih merasa bahwa Jimin adalah adik kecilnya yang masih butuh diperhatikan.
Cara memperlakukan Jimin dan Jisung memang tidak jauh beda ternyata.
"Hyung, aku sangat berterima kasih padamu" Jimin memberi pelukan singkat sebelum pergi keluar menemui anaknya.
"Hiks appa jahat, bunda" terdengar seruan yang memilukan saat Jimin akan membuka pintu kamar sang anak. "Appa tidak pernah tahu apa yang Jisung mau, appa hanya melarang Jisung ini itu. Jisung benci appa"
Ceklek
Dengan berat hati Jimin membuka pintu kamar Jisung, membuat Jisung yang berada dalam pelukan wanita cantik itu menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang Bunda Miyoung.
"Itu appa," Miyoung mengusap kening Jisung yang bersimbah keringat bercampur air mata. "Jisung sama appa ya?" Jisung menggeleng.
Jimin semakin menciut, dia takut minta maaf pada anaknya, tapi dia harus berani mengakui kesalahannya agar sang anak tidak terus-menerus membencinya. "Jisung, appa minta maaf. Selama ini appa tidak pernah tahu apa mau Jisung. Appa sungguh menyesal, appa minta maaf"
Tigapuluh detik tak ada jawaban membuat Miyoung harus ikut campur. "Tuh, appa sudah minta maaf. Berarti Jisung harus memaafkan appa" Miyoung terus mengelus punggung bocah itu dengan penuh kasih sayang. Sedih juga melihat anak tetangganya yang sudah tidak mendapati kasih sayang dari seorang ibu. "Ayo minta maaf juga sama appa" Jisung masih tetap terdiam. "Bunda pernah bilang apa? Kalau kita harus memaaf...kan. Jisung tega lihat appa sedih? Jisung memang tidak sayang appa, hm? Appa sayang loh sama Jisung" Miyoung terus mengusap punggung Jisung, mencoba melepas pelukan mereka.
Betapa sedihnya Miyoung melihat wajah Jisung yang merah padam dan sembab akibat terlalu banyak menangis. "Sekarang Jisung sama appa ya, bunda mau lihat Jinseo dulu, takut Jinseo bangun" itu hanya alibi Miyoung saja agar dapat meninggalkan sejoli anak dan ayah ini.
Miyoung melepaskan diri dari Jisung dan berpamit pergi meninggalkan Jimin dengan Jisung.
Cukup lama mereka tetap pada posisi dan tak ada yang berbicara, hingga akhirnya Jimin menyadari bahwa dialah tersangka utama yang harus meminta maaf.
"Sayang, maafin appa ya? Appa tahu appa keterlaluan sama Jisung. Appa tidak memperbolehkan ini itu, tapi jujur appa sayang dengan Jisung, appa melarang Jisung karena appa tidak mau Jisung kenapa-napa" Jimin segera memeluk erat tubuh sang anak.
Jisung ikut memeluk Jimin dengan erat, menumpahkan seluruh kekesalan yang terpendam selama ini, memukuli d**a sang ayah dan menangis sekencang mungkin. "Hiks appa jahat sama Jisung. Appa jahat appa jahat hiks appa jahat, Jisung benci appa"
Jimin tetap diam dan menerima semua perlakuan Jisung.
"Appa sayang Jisung" bisiknya lirih.
"Jisung juga"
Bergeser sedikit untuk melihat dua orang dewasa kepo yang kini mengintip dibalik pintu.
"Bagaimana?"
"So sweet sekali, aku jadi mau nangis"
"Coba aku mau lihat"
Kriet
Pintu yang tak tertutup sempurna kini terbuka menampakkan dua orang yang berdiri sedikit membungkuk di depan pintu dengan tampang gugup seperti maling ketahuan menyolong, membuat Jisung dan Jimin yang masih asik berpelukan sembari menangis menoleh.
"Ehehe, silahkan lanjutkan saja, lanjutkan." Kata Jin dengan wajah merah padam menahan malu.
"Hyung, nuna? Kalian sedang apa disana?"
Mereka berdua saling bertatapan kikuk, bingung harus menjawab apa. "Ahaha, bukan apa-apa, tadi ada kotoran disini" Jin seolah mengelap pintu berkayu jati itu. Membuat Miyoung tepok jidat dengan kelakuan suaminya.
Jimin dan Jisung menatap kepala keluarga Kim dengan tatapan aneh. Kompaknya mereka menggeleng bersama.