"Juno belum pulang?"
Bocah enam tahun itu mengangkat kepala sebentar lalu melanjutkan kegiatan sebelumnya, menggambar seorang anak yang sedang digandeng oleh kedua orang tuanya menggunakan batu di atas tanah.
Wanita berstatus guru itu tersenyum sabar melihat sang murid tak menanggapi ucapannya, mulai berjongkok dan ikut mengukir tanah menggunakan batu yang ada di dekatnya.
"Apa yang sedang Juno gambar?"
"Juno bersama daddy dan mommy" jawabnya pelan, "lalu apa yang ibu guru gambar?" Bocah berambut batok tersebut menatap tangan sang guru yang menggambar di atas tanah dengan lihai.
"Juno yang sedang bermain piano."
Seketika bocah itu menunduk, kata-kata sang guru membuat dirinya sedikit sedih mengingat bahwa beberapa hari yang lalu guru cantiknya meminta Juno bermain piano untuk acara kelulusan. Tapi dengan berat hati Juno menolak dengan alasan, dia sudah lupa bermain piano.
Bohong jika Juno lupa cara memainkan alat musik bertuts itu, tiga hari yang lalu gurunya mengintip Juno sedang bermain piano sendirian di ruang musik sekolah.
Leehyun, nama wanita cantik berambut sebahu itu, membersihkan tangan lalu berdiri sembari menarik pelan sang murid agar ikut berdiri.
"Bagaimana kalau bu guru ajarkan lagi cara bermain piano sebelum Juno dijemput?"
Agaknya bocah manis itu berfikir, menimang-nimang tawaran sang guru. Dilema, dia benci bermain piano, tapi dia juga cinta bermain piano. Bukankah cinta dan benci beda tipis?
Bukan tanpa alasan, ada seribu satu alasan membuatnya bimbang. Setiap melihat piano, banyak macam kenangan yang berputar di otak pintarnya. Pahit, manis, menyebalkan, menyedihkan, semua bercampur menjadi satu.
Namun, menggelengkan kepala adalah pilihannya. Lagi-lagi dia menolak sang guru.
Leehyun menghela nafas, tangannya terulur mengelus rambut batok itu. Ya, Leehyun mengerti bagaimana perasaan anak ini, tapi jika terus seperti ini bagaimana muridnya akan maju? Dia tidak mau muridnya membenci piano hanya karena sesuatu dalam dirinya, kesepian.
Juno adalah anak yang kesepian. Dia anak tunggal dari keluarga ternama di Korea Selatan, ayah dan ibunya secara bersamaan terkenal dan membuatnya merasa kesepian karena sering ditinggal. Walaupun dia tinggal serumah dengan sang ayah, tetap saja berasa tinggal sendirian di sebuah gedung kosong. Sang ibu? Tentu saja tinggal bersamanya, tapi hanya pulang tiga bulan sekali, itu juga jika Juno beruntung melihatnya.
"Permisi,"
"Iya?" Mereka menoleh, menampakkan sesosok pria tegap nan tampan dengan balutan jas formal tengah membungkuk ke arah Leehyun.
"Aku wali dari Kang Juno"
"Apa kau ayahnya?"
Selama Leehyun mengajar di sini, belum pernah sekalipun Leehyun melihat orang tua Juno secara langsung, walaupun katanya kedua orang tua Juno terkenal.
"Bukan, aku Jung Jungkook. Bawahan ayahnya" jawab sang pria sopan.
Tidak heran, setiap hari Juno dijemput dengan orang yang berbeda, tiga hari yang lalu yang menjemput Juno bernama Kang Taehyung mengaku juga sebagai bawahan ayahnya, lusa kemarin yang datang adalah Kang Seokjin yang mengaku teman ayahnya, kemarin yang datang bernama Cha Bogum yang juga mengaku sebagai bawahan ayahnya, dan sekarang yang datang bernama Jung Jungkook yang mengaku sebagai bawahan ayahnya juga. Apakah sang ayah sesibuk itu hingga tidak dapat menjemput anaknya sendiri? Padahal Juno pulang sekolah di jam makan siang.
"Ah begitu," Leehyun mengangguk paham, kini dia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Juno. "Juno sayang, ibu harap kau mau menerima tawaran ibu guru, bukunya sudah ibu taruh di dalam tas Juno, jangan lupa latihan" mata cantiknya mengerling membuat Juno ternganga. "Sampai jumpa Senin depan" usakan terakhir dia berikan sebagai tanda perpisahan.
"Baiklah kalau begitu kami pergi dulu" Jungkook menggandeng Juno lalu membungkuk yang membuat Leehyun ikutan membungkuk.
"Sampai jumpa, Juno" teriak Leehyun melambaikan tangan. Juno hanya terus menoleh menatap gurunya yang masih setia menatapnya sembari melambai.
---
"Jja~ Juno mau makan apa? Nanti paman belikan" tanya Jungkook, kini mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor sang ayah.
Bocah manis itu hanya menggeleng, kembali terfokus pada psp yang ada di tangannya.
Lelaki bergigi kelinci itu menghela nafas, memang rada susah berhadapan dengan bocah laki-laki. Jungkook bersyukur anaknya perempuan. "Tapi Juno harus makan, daddy akan marah jika Juno tidak mak..."
"Juno mau makan dengan daddy"
"Tapi daddy sedang rapat sayang, mungkin masih lama kel..."
"Yasudah Juno tidak mau makan"
Lagi-lagi helaan nafas terdengar dari Jungkook. Mungkin dia akan urungkan niat untuk minta anak laki-laki pada Jihyun, istrinya.
Sepanjang jalan menuju ruangan sang ayah, Juno hanya terdiam, walaupun banyak mata yang menatap gemas padanya. Diumurnya yang muda, Juno telah memiliki banyak fans, siapa lagi kalau bukan para pegawai kantor ayahnya.
"Sepertinya daddy belum keluar," seru Jungkook setelah membuka pintu ruangan bertuliskan 'President Director-Kang Namjoon'.
"Bagaimana kalau kita makan bersama? Memang Juno tidak lapar?" Bujuk Jungkook.
Juno tetap menggeleng, "tidak, Juno tidak lapar. Paman makan saja duluan, Juno akan tunggu daddy"
Jungkook tidak bisa memaksakan anak bosnya ini, jadi dia hanya menyuruh Juno masuk ke dalam ruangan sang ayah dan menemaninya hingga si ayah selesai meeting, walaupun sebenarnya Jungkook sangat lapar. Jadilah dia mengirim pesan pada temannya agar membawakan makanan.
Kakaotalk
Jung Jungkook
Hyung bawakan aku makanan ke ruangan Namjoon Hyung.
Kang Taehyung
Maaf, siapa ya?
Jung Jungkook
Hyung!
Kang Taehyung
Apa kita pernah kenal sebelumnya?
Jung Jungkook
Kurasa berkas yang kemarin belum ketemu, bagaimana jika Namjoon hyung tau?
Kang Taehyung
Mau apa?
Jung Jungkook
Jjangmyeon!
Kang Taehyung
Kuanggap hutang
Jung Jungkook
Aku mencintaimu
Just read
---
Jungkook menggeleng melihat kelakuan temannya yang sedikit aneh, menaruh kembali ponsel ke dalam kantung jas. Matanya beralih memperhatikan Juno yang sama sekali tidak bergeming semenjak masuk kemari.
Jungkook heran, kenapa Juno jarang berbicara? Bahkan kalau dikategorikan ayah Juno adalah orang yang cerewet, ibunya juga tidak terlalu pendiam. Tapi kenapa anak ini begitu dingin dan pendiam? Mungkin efek dari rasa kesepian.
Jungkook mengerti jika Juno termasuk dalam kategori anak yang kesepian, setiap hari orang tuanya sibuk, bertemu pun sangat jarang. Tak heran jika Juno lebih sering diam.
"Juno, ayo kita bermain" baru saja Jungkook berkata, tiba-tiba pintu ruangan terbuka menampakkan lelaki tampan dengan tinggi yang ideal masuk ke dalam ruangan dengan gusar.
Dengan begitu pula Juno terjungkit girang, menghampiri ayahnya dengan ceria. "Daddy!"
"Tidak sekarang, Juno. Daddy sedang sibuk" tangannya sibuk mencari berkas di atas setumpukkan kertas.
"Tapi dad..."
"Jungkook, urus penerbanganku besok ke Jeju. Sesuatu terjadi di sana"
"Ba baik" tanpa perintah dua kali Jungkook berdiri meninggalkan ruangan.
"Ada apa, dad?" Tanya Juno polos.
Namjoon, lelaki berperawakan tampan itu tak menanggapi ucapan sang anak, lebih sibuk dengan berkas kertas dan gagang telepon yang diapit antara telinga dan bahu.
"Ya saya Kang Namjoon"
"Baiklah, saya akan kesana besok"
"Terima kasih karena sudah mengerti"
Namjoon duduk di atas kursi kebesarannya, tangan lentiknya lihai menari-nari di atas keyboard laptop, mengetik sesuatu yang Juno tidak mengerti.
Bocah enam tahun itu mendekat ke kursi sang ayah, berdiri tepat di samping kanan Namjoon. Mengintip apa yang sedang Namjoon ketik, walaupun dia sendiri tidak mengerti.
"Dad,"
"Hm?"
"Daddy ngetik apa?" Tigapuluh detik pertanyaannya tak dijawab membuat si anak kesal. "Daddy?!" Ucapnya agak meninggi.
"Iya sayang? Maaf daddy sedang sibuk, kita main lagi nanti ya" tanpa menoleh sedikitpun pada Juno, membuat sang anak memberenggut kesal.
Padahal dia mau disayang-sayang dengan ayahnya, makan bersama, bermain bersama. Dia mau seperti anak lain pada umumnya, menghabiskan waktu bersama ibu dan ayah.
Juno cemberut melihat ayahnya yang lebih memilih laptop ketimbang dirinya. Mereka jarang bertemu, tapi setiap mereka bertemu ayahnya selalu sibuk dengan laptop, jadi apa guna dirinya di depan sang ayah?
"Dad, ayo main"
"Kang Juno, kau lihatkan? Daddy sedang sibuk, jangan ganggu daddy. Mainlah sendiri"
Wajah bocah itu memerah, bahkan semakin merah menahan isakannya agar tidak keluar. Selalu seperti ini.
"Daddy tidak sayang Juno. Juno benci daddy!" Setelahnya terdengar suara bantingan pintu cukup keras. Membuat Namjoon mengusak rambut frustasi. Lagi-lagi seperti ini, dan selalu berakhir seperti ini.
Juno duduk dibangku taman, kaki kecilnya mengayun pelan. Sudah dua jam setelah kepergiannya, tapi sang ayah tak kunjung menyusulnya. Kini malah dia bersama teman-teman ayahnya, Jungkook dan Taehyung.
"Bagaimana ini hyung?" Tanya Jungkook menatap Juno yang hanya menunduk tanpa mengatakan sepatah kata pun daritadi.
"Telepon Namjoon Hyung saja"
"Sudah, dia bilang sedang menemui client."
Taehyung mengusak rambutnya pelan, karena dia tidak mau tatanan rambut tampannya berantakan. "Ah, kalau seperti ini aku jadi tidak ingin punya anak laki-laki"
"Sama" sambung Jungkook.
Taehyung menghampiri Juno, bertumpu di hadapan bocah manis itu. "Juno sayang, ayo makan. Ini sudah sore, kau harus makan nanti sakit, kalau nanti sakit kau tidak bisa bertemu ibu guru, kalau tidak bisa bertemu ibu guru kau pasti merana, karena ibu gurumu cantik"
Dugg
"Awww"
"Mati saja kau, hyung." Tadi adalah tendangan mematikan Jungkook yang berhasil menumbangkan Taehyung. Tubuhnya tersungkur ke samping membuatnya meringis, bukan karena sakit tapi kemeja putihnya kotor.
"Kau membuat kemejaku kotor, kau tidak tahukan ini beli dimana?" Omelnya sembari membersihkan kemejanya.
"Tidak, memang aku peduli?"
"Aku juga tidak tahu, jadi aku juga tidak peduli"
Bolehkah sekali lagi Jungkook menendang atasannya ini? Sungguh tidak masuk akal, lelaki macam Taehyung bisa mendapat jabatan lebih tinggi darinya. Apa yang ada dipikiran Namjoon hyung saat mengangkat Taehyung menjadi manajer?
Juno menatap kedua pamannya dengan tawa. Menurutnya Paman Taehyung itu sangat lucu, setiap yang dia lakukan mampu membuatnya tertawa. Andai saja, ayahnya seperti Paman Taehyung yang selalu membuatnya tertawa. Jangankan tertawa menoleh padanya saja adalah hal yang mustahil.
"Wah kau tertawa? Benar-benar tertawa?" Kata Taehyung senang, tangannya terulur memegang kedua bahu Juno yang naik turun akibat tertawa.
"Apa paman harus menendang Paman Taehyung lagi? Iya? Seperti ini?" Jungkook menendang Taehyung berkali-kali namun lebih pelan dari sebelumnya, Taehyung pula menjatuhkan diri pura-pura. Tak apalah kemejanya kotor yang penting anak ini tertawa.
Jungkook menggendong Juno yang tertidur ke dalam mobil sang ayah, ini pukul delapan malam pantas saja anak itu ketiduran, dia kelelahan karena bermain dengan kedua pamannya.
"Taehyung, Jungkook. Terima kasih sudah menemani Juno."
"Iya hyung, sama-sama kita juga senang bermain bersamanya" jawab Jungkook dengan senyuman.
"Senang bermain dengan Juno atau karena tidak melanjutkan proposal?" Goda Taehyung membuat Jungkook harus menyenggol bahu Taehyung.
Namjoon menggeleng, "kau tidak usah melanjutkan proposal itu, sudah kulimpahkan pada Bogum"
Jungkook berbinar, Taehyung menggeram. "Benarkah?"
"Iya, tapi buat laporan baru untuk bulan ini. Sepertinya ada perubahan" lanjut Namjoon yang langsung mendapat kekehan dari sang manajer. Jungkook menjatuhkan rahangnya tak percaya.
"Dan kau, belum menyerahkan berkas-berkas minggu lalu. Aku minta besok sudah ada di mejaku" kali ini Jungkook tertawa, Taehyung merana. "Kalau begitu aku pergi dulu" pamit Namjoon.
"Hyung" panggil Jungkook sebelum Namjoon benar-benar gas mobil. "Juno tidak mau makan dari siang"
Ucapan Jungkook agaknya membuat Namjoon bertanya-tanya ada apa dengan anaknya? Bagai cenayang, Jungkook seperti paham dengan apa yang Namjoon pikirkan.
"Katanya, dia mau makan bersama daddy"
Namjoon mencerna semua ucapan Jungkook. Well, selama ini memang jarang sekali mereka berkumpul di satu meja yang sama. Dirinya memang sering di rumah, tapi dia habiskan di dalam ruang kerjanya, sedangkan istrinya jarang dirumah. Apa Namjoon kurang memberi perhatian pada anaknya?
Tak mau memikirkannya lama-lama, Namjoon benar-benar pamit pulang. Mobilnya melaju meninggalkan parkiran gedung besar itu.
Namjoon menggendong tubuh kecil anaknya ke dalam rumah. Gelap, kosong, sepi. Rumahnya memang tidak terlalu besar, bahkan bisa dikategorikan sederhana jika dilihat dari seberapa banyak kekayaan yang Namjoon dan istrinya punya. Mereka tidak mempekerjakan puluhan maid, belasan bodyguard, ataupun beberapa security untuk berjaga disekitar rumahnya. Hanya ada satu pembantu yang bekerja, itupun hanya dipagi hari hingga semua pekerjaannya selesai dan ia boleh pulang. Tak perlu khawatir, Namjoon mempekerjakan orang-orang yang benar dia percayai, dan Namjoon sangat percaya pada Bibi Hong.
Tubuh mungil itu diletakkan di atas kasur bernuansa merah biru sesuai dengan tokoh hero kesukaannya, Captain America. Selimut membungkus hangat tubuh itu hingga sebatas leher, tak lupa kecupan Namjoon layangkan untuk penghantar mimpi indah pada anaknya.
Baru satu langkah kakinya berjalan, tangannya terasa ditarik. Namjoon menoleh, mendapati anaknya yang terusik lalu bangun, jari-jari mungil itu mengusap wajah lelahnya. "Daddy mau kemana?" Suara serak khas orang bangun tidur terdengar membuat senyum Namjoon semakin menghias.
"Tentu ke kamar, daddy juga mau tidur" elusan tak elak diberikan. Siapa yang tak akan tersenyum jika melihat sang anak begitu manis dengan wajah polosnya. Menggemaskan.
"Kasur Juno luas, kenapa Daddy tidak tidur di sini saja?"
Senyuman semakin mengembang, "memang Juno mau berbagi kasur dengan Daddy?" Si manis mengangguk dengan lucunya membuat Namjoon tak kuasa menolak.
Katakan saja bahwa Namjoon berbohong saat dia berucap akan tidur, tugasnya masih menanti tidak akan membiarkannya tidur secepat itu. Kertas-kertas Namjoon sangat butuh elusan hangatnya.
Namjoon naik ke atas kasur, mengusap wajah sang anak yang terlihat lelah. Seharian bermain bersama Jungkook dan Taehyung, itu pasti hal yang melelahkan. Tangannya terulur mengelus surai batok itu dengan penuh kelembutan, menarik tubuh kecil itu semakin dekat ke dalam dekapannya, hangat selimut tak sebanding dengan hangatnya pelukan ayah. Terlebih jarang kita rasakan.
Juno merasa sangat nyaman tidur dalam posisi seperti ini, anggap saja malam ini adalah malam mimpi indahnya.
"Tidurlah" bisik Namjoon, setelahnya kecupan mendarat di pucuk kepala Juno.
Sinar matahari menyelinap masuk ke dalam ruangan bernuansa merah biru, membuat sang empu terganggu dari tidurnya. Mata indah itu berusaha terbiasa dengan cahaya yang masuk ke retina.
Tangannya mengusap mata yang masih setengah tertutup. Satu tangannya meraba kasur di sampingnya.
Kosong.
Sedikit melirik ke arah jam dinding yang menunjuk pukul tujuh pagi. Pantas saja daddynya sudah tidak ada, dengan cepat Juno keluar kamar mencari keberadaan sang ayah yang ternyata sibuk dengan ponsel pintar di genggamannya.
Namjoon terlihat sudah rapih dan siap untuk pergi bekerja, namun Juno mengerut saat melihat koper merah milik ayahnya sudah berdiri cantik di samping tubuh tinggi itu.
"Dad"
Secepat itu pula Namjoon menoleh. "Morning, my captain" sebuah kecupan dia berikan sebagai ucapan selamat pagi yang disambut ceria.
"Daddy mau kemana?"
"Ah iya. Maaf daddy lupa bilang, hari ini daddy harus pergi ke Jeju, jadi Juno sementara waktu tinggal di rumah ayah ya?"
Wajah ceria si manis berubah 180°. "Memang kenapa harus ke Jeju?"
"Ada sesuatu yang harus dad ur..." Ucapannya terpotong dengan dering ponselnya. "Sebentar, daddy angkat telepon dulu" Namjoon berjalan menjauh sampai batas sang anak tak dapat mendengar percakapannya, membuat sang anak badmood seketika. Tolong ingatkan jika ini masih pagi!
"Halo Jungkook, bagaimana dengan keberangkatanku?"
'Keberangkatan? Keberangkatan apa hyung?'
"Jangan bilang kau lupa bahwa aku memintamu menyiapkan tiket untuk ke Jeju hari ini"
'Bukankah sudah kukatakan jika semua tiket habis hari ini. Kau berangkat besok jam 12 siang, hyung'
"Jam 12? Tidak ada yang lebih cepat? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"
'Semua habis hyung, inikan sudah masuk musim liburan sekolah. Aku sudah mengatakannya padamu dan kau menjawabnya dengan ok'
"Kapan?"
'Kemarin, saat kau sedang menghubungi Presdir Choi'
Namjoon memutar otak pintarnya, mengingat apa yang telah terjadi kemarin, dan benar saja sesuatu yang menjanggal kemarin itu...?
Inilah jawabannya.
Saat dia sedang berbincang via telepon dengan koleganya, tiba-tiba Jungkook masuk dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa yang Jungkook katakan. Jadi dia hanya mengangguk saja dengan memberi tanda 'ok' dengan tangannya.
Ah, kenapa jadi seperti ini? Lalu apa kabar dengan perusahaannya di Jeju? Salahkan Jungkook juga yang mengatakan hal itu saat dia sedang sibuk. Helaan nafas terhela bersamaan dengan perasaan kesalnya.
"Baiklah kalau begitu. Atur jadwalku ulang dan jangan lupa kirim laporan kemarin sekarang"
'Baiklah hyung akan aku usahakan'
"Aku tidak mau tau, Tuan Jeon. Aku mau SEKARANG!"
Pip
Dengan seenak jidat Namjoon memutuskan sambungan, tidak peduli jika saat ini Jungkook sedang menyumpah serapahkan dirinya. Pikirannya sangat kacau.
Juno memiringkan kepala, menatap sang ayah yang terlihat lesuh. "Ada apa, dad?"
Namjoon mencoba memamerkan senyumnya. "Tidak apa-apa, daddy batal pergi ke Jeju hari ini," raut wajah Juno kembali ceria, senyumnya mengembang senang. Berarti dia bisa menghabiskan waktu bersama sang ayah, membayangkan saja Juno terlampau senang. "Tapi besok daddy tetap harus pergi" seketika rahang Juno jatuh bersama harapan yang bergejolak di hatinya.
Kenapa sehari hanya ada 24 jam, kenapa seminggu hanya 7 hari, dan kenapa waktu terus berjalan dengan cepat? Tidakkah ini semua menyedihkan? Juno ingin bersama sang ayah sebentar saja.
"Maafkan daddy ya sayang, daddy janji pulang nanti akan daddy bawakan banyak mainan"
Juno menunduk, tak lagi mampu menyampaikan perasaannya dengan kata-kata.
"Jagoan daddy selalu pintar, jadi Juno harus tetap baik-baik, ok?" Apa merasa kesepian itu hal yang baik? Apa perasaan rindu dan membutuhkan orang tua juga baik? Apakah selama ini dia sendirian menurut ayahnya adalah sesuatu yang baik? Hey, kebaikannya adalah bersama dengan keluarganya!
Juno tidak butuh mainan banyak, rumah besar, pakaian keren, atau apapun yang berlimpah, jika dia sendiri saja kekurangan kasih sayang, minim akan kebersamaan, dan kosong akan kebahagiaan. Juno butuh ayahnya, Juno butuh ibunya. Juno tidak butuh uang ayahnya ataupun ibunya. Juno hanya butuh ayahnya tetap di sampingnya tanpa laptop, tanpa kertas, tanpa pena, tanpa berkas, dan tanpa berjabat tangan dengan orang besar. Dan Juno juga butuh ibunya terus di sisinya, menemani tumbuh kembangnya, bukan malah pergi keliling dunia, membuat konser besar bersama pianonya, dan ditonton oleh orang-orang besar dan ternama.
JUNO BUTUH MOM DAN DAD!
"Lebih baik Juno sarapan, daddy sudah siapkan roti bakar untuk Juno"
"Apa daddy akan pergi sekarang?" Juno malah mengalihkan perbincangannya.
Namjoon terdiam, walaupun dia batal ke Jeju, tapi tugas kantornya masih menumpuk dan dia harus mengejar target. Dia harus menyelesaikan semua tugasnya disini sebelum ke Jeju.
"Dad," panggilnya lirih. "Juno cuma mau daddy dan mommy disini. Juno hanya ingin daddy dan mommy menemani Juno. Juno takut sendirian dad..."
"Tapi disini ada bibi, saya..."
"Juno butuh daddy dan mommy, bukan bibi! Juno mau daddy ada waktu buat Juno, Juno iri dengan teman-teman Juno yang sering diantar jemput oleh mommy atau daddynya." Tak terasa muara sungai terbentuk di pipi chubbynya. "Pasti mom dan dad juga tidak akan datang ke acara kelulusan Juno senin besok! Juno benci daddy dan mommy!" Teriaknya sebelum membanting pintu kamar.
"Juno," panggil Namjoon di depan pintu kamar anaknya, "buka pintunya sayang" tangan lentiknya mengetuk pintu dengan gusar. "Juno maafkan daddy, daddy bukan bermaksud untuk meninggalkan Juno sendirian, tapi daddy memang har..." Ucapannya terhenti saat ponselnya berbunyi dan ternyata dari koleganya.
Juno menatap nanar mobil mewah ayahnya yang menjauh dari pekarangan rumah. Ini yang dinamakan bukan bermaksud membuat Jeno sendiri? Baru ditelepon saja ayahnya sudah meninggalkannya. Apa orang-orang berdasi itu lebih penting dari pada dirinya?
Besok Juno akan berdasi jika itu yang membuat daddynya ingin betah bersamanya.
Tik tik tik
Hanya detikkan jam yang menggema di ruang tengah kediaman Kang. Juno menelungkupkan kepala di atas sandaran sofa sembari menatap sendu setiap jengkal dinding rumahnya yang terdapat banyak foto-foto keluarga.
Foto ayahnya bergaya lucu, foto ayahnya bergaya formal, foto ibunya bermain piano, foto dirinya waktu kecil, hingga foto-foto mereka bertiga. Juno rindu waktu itu, waktu dimana dia masih kecil. Karena saat itulah kedua orang tuanya selalu berada di dekatnya. Hah, andai saja Juno terlahir kembali, dia tidak mau memilih Daddy Namjoon dan Mommy Naya untuk menjadi orang tuanya. Mungkin dia ingin menjadi anak dari Ayah Jin atau mungkin Bibi Haru.
Hahh,
Suara telepon tiba-tiba berbunyi, membuatnya menoleh. Siapa yang berani mengganggunya disaat seperti ini?
"Juno sayang, bisa kau angkat teleponnya? Bibi sedang menggoreng ikan" kata Bibi Hong, pembantu keluarga Kang, dari arah dapur.
"Baiklah" jawab Juno malas.
"Halo"
'Halo, apa benar ini Kang Namjoon?'
Pasti teman kerja daddy.
"Ini dengan siapa?"
'Saya Pengacara Goo yang menangani perusahaan di Jeju, bisa saya berbicara dengan Tuan Kang Namjoon?'
Benarkan
"Maaf Anda salah sambung"
Dengan sepihak Juno mematikan telepon tersebut. Malas sekali dia berurusan dengan orang-orang perusahaan ayahnya, mana dia mengerti apa itu pengacara, perusahaan di Jeju lah, segala macam.
Kringgg
Sekali lagi telepon rumah berdering, dan Juno bersumpah jika itu dari orang yang sama dia akan menyeprotnya tanpa ampun.
"Apa lagi!?"
'Halo... Juno?'
Mommy?
'Juno, kau kah itu? Ini mommy sayang'
"MOMMY!!!"
'Iya sayang ini mommy. Juno apa kabar? Mommy rindu sekali dengan Juno'
"Mommy kapan pulang? Juno juga rindu mommy"
'Maafkan mommy sayang, mommy juga tidak tahu. Jika semua sudah selesai mommy mungkin akan pulang senin.'
"Oh begitu"
Rautnya berubah, dia tidak mungkin mengatakan soal kelulusannya senin nanti, bahkan mommynya sendiri akan pulang di hari sakral itu.
'Maafkan mommy, mommy harus latihan lagi. Nanti malam mommy akan bermain untuk Ratu Inggris, mommy jadi tidak sabar. Doakan mommy sukses ya sayang. Love you'
"Okay, love you too, mom"
Tut tut
Juno menghela nafas, meletakkan gagang telepon kembali. Susah memang memiliki orang tua yang terkenal.
Ibu Juno bernama Ryu Naya, seorang pianis ternama di Korea Selatan bahkan hingga Internasional, tak jarang dia bermain di depan orang-orang besar dan melakukan konser tunggal keliling dunia. Bakatnya inilah yang menurun pada sang buah hati. Sejak umur Juno dua tahun, Naya sudah mengajarkan Juno bermain piano dan ternyata anak itu cepat tanggap dan juga menyukainya. Jadilah Juno ingin mengikuti jejak sang ibu.
Namun, jika mengingat piano, Juno jadi membencinya. Membenci kenangan yang sudah orang tuanya tinggalkan di setiap Juno melihat piano. Sejak kecil dengan telaten Naya dan Namjoon mengajarkan Juno cilik agar mahir berpiano, hingga akhirnya saat Juno sudah menduduki umur lima tahun, saat itulah mereka telah sibuk dengan urusannya masing-masing.
Namjoon yang sukses dengan perusahaannya dan Naya yang menjadi semakin terkenal di dunia.
Ahh, Juno benci ini.
"Juno, ayo makan sayang, ikannya sudah siap" teriak Bibi Hong membuat Juno mau tidak mau bergegas mendekatinya.
Selepas makan, Juno kembali duduk di ruang tengah, mengusir rasa bosan dengan menonton tv. Namun, matanya tidak fokus, sesekali melirik ke arah piano yang berada di pojok ruangan.
Hatinya bimbang, kembali menimang permintaan sang guru. Apa dia harus menerima saja permintaan sang guru? Tapi dia gengsi karena sudah berkata tidak, tapi dia juga masih mau untuk menerimanya, tapi tapi tapi...
Ah, Juno pusing.
---
Namjoon bersandar pada kursi kebesarannya. Malam sudah mulai berlarut, setelah meeting, berjumpa kolega, dia kembali berkutik pada laptop tersayang. Matanya terasa panas dan batang hidungnya terasa lelah menahan beban kacamata. Tangannya terus memijat pelipis yang terasa penat.
Bukan hanya karena pekerjaan saja, tapi juga perkataan anaknya. Semua kata-kata itu terngiang dengan jelas di otaknya dan terus berputar bagai kaset kusut. Ada perasaan menyesal juga saat dia kembali meninggalkan sang anak hari ini.
Namjoon jadi pusing.
Pria tampan itu mulai masuk ke dalam rumah dengan suara sepelan mungkin agar tak mengganggu tidur si anak. Tujuan awalnya adalah kamar Juno untuk melihat bahwa anaknya baik-baik saja.
Namjoon membuka pintu sepelan mungkin, kepalanya menyusup masuk memperhatikan anaknya yang sudah tertidur pulas, ada perasaan lega melihat anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Katakan saja bahwa Namjoon adalah ayah yang keterlaluan, meninggalkan anak berumur enam tahun sendirian di rumah. Tapi apa boleh buat, pekerjaan menuntutnya.
Tanpa suara dia mulai menjauh dari kamar sang anak, tapi matanya tertuju ke arah piano di pojok ruangan. Pada akhirnya dia mengesampingkan rasa lelahnya hanya untuk mengingat kembali semua kenangan di piano tua itu.
Jarinya bergesekan, menyeret kembali memori untuk dikenang. Dari awal pertama petemuan Namjoon dengan Naya hingga akhirnya pria kaya tersebut jatuh hati pada tetangganya sendiri saat mengintip permainan piano wanita tersebut. Dilanjut dengan pernikahan mereka yang dirapalkan dengan dentuman melodi indah dari jari-jari lentik Naya yang mengiringi setiap waktu berharga mereka, hingga memiliki anak bernama Juno dan mereka dengan telaten mengajarkan sang anak bermain piano. Sungguh bahagia waktu itu.
Tapi tangannya terhenti saat menabrak benda yang sangat asing baginya. Buku piano? Namjoon yakin tak ada buku piano yang tersisa di rumah ini, semua sudah dikemas di dalam koper Naya saat akan melakukan tour. Karena Namjoon sendiri yang memasukkannya, jadi ini punya siapa?
Setelah membolak-balik cover buku, dengan ragu Namjoon membukanya.
Tertera beberapa judul alunan terkenal seperti Canon yang diperkenalkan oleh Johann Pachelbel, melodi-melodi Mozart hingga Beethoven, dan juga ada melodi dari pianis Yiruma, pianis kesukaan Namjoon dan Naya. Namun ada yang membuatnya terharu, disetiap judul melodi tersebut ada sebuah nama orang-orang yang Namjoon rasa Juno sayangi.
Daddy, Mommy, Ibu guru, Ayah Seokjin, Bunda Miyoung, Bibi Hong, Bibi Haru, Nenek, Kakek, Grannie, Grandpa, Twins, Jaejin Hyung, Hayoung noona, Hara.
Yang membuat terenyuh, nama Namjoon ada di jajaran pertama. Membuat hati Namjoon berbunga-bunga. Berlebihan memang, tapi siapa orang tua yang tidak senang saat anaknya memproriataskan dirinya terlebih dahulu. Sebuah kebanggaan besar buat Namjoon, ini membuktikan bahwa Juno masih berharap banyak padanya.
---
Pagi kembali tiba, matahari kembali menerik, membuat siapa saja akan terjaga karena sinarnya.
"Juno," panggil pelan sang kepala keluarga.
Pergumulan bocah kecil itu terusik, membuatnya bergerak kesana kemari dengan tak nyaman.
"Ayo bangun sayang, kita ke rumah ayah" usapan dilayangkan ke kepala batok itu. "Daddy harus ke bandara jam 9" Namjoon kembali keluar kamar Juno untuk melanjutkan packing arsip yang sempat tertunda.
Mau tidak mau Juno turun dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi walau dengan dengusan sebal.
Mobil mewah Namjoon sudah terparkir apik di depan gerbang rumah bercat pink.
"Ayo sayang kita keluar" ajak Namjoon. Dengan malas Juno keluar mobil.
Namjoon menggandeng Juno, namun ditepis oleh sang anak. Dia masih malas dengan sang ayah, toh setelah ini juga daddynya akan meninggalkannya lagi.
Namjoon tersenyum pasrah. Iya, dia sadar diri, dia sendiri yang membuat anaknya seperti itu. Pintu gerbang rumah itu terbuka, sepertinya ada tamu, pikir Namjoon.
Mereka memasuki pakarangan rumah, terdengar dua orang yang berbincang.
"Kumohon hyung"
"Kau lihat sendiri kan Jim, bagaimana kondisi rumah ini sekarang?"
"Hyung aku tidak tahu harus kepada siapa lagi meni..."
"Permisi" Namjoon memotong pembicaraan mereka, membuat kedua pria yang sedang beragumen melemparkan tatapan ke arah pintu masuk.
"Namjoon Hyung?" Seru lelaki yang diyakini sebagai tamu.
"Ayahhh" teriak Juno sembari berlari ke arah lelaki dengan marga yang sama dengannya, Kim.
"Juno sayang" si pria dengan senang hati membuka lengan untuk menerima pelukan Juno.
Ayah yang dimaksud adalah Kang Seokjin, ya mereka begitu dekat. Bahkan waktu terbanyak Juno habiskan dengan si ayah ketimbang si daddy.
Mulai dari sini daddy dan ayah berbeda.
"Selamat pagi, Jimin kau ada disini juga" seru Namjoon yang kini mengambil duduk di samping pria yang tengah memangku putri kecilnya. "Halo manis" sapa Namjoon pada anak Jimin, Ahra, tapi diabaikan.
"Ayah, Jaejin hyung dimana?" Tanya Juno.
"Ada di dalam" setelah memberikan kecupan perpisahan dengan Jin, Juno beringsut masuk ke dalam rumah yang terdengar riuh bersama Ahra yang sebelumnya harus dibujuk.
"Hey tuan-tuan kau lihat sendirikan bagaimana rumahku? Ini bukan tempat penitipan anak. Aku juga sudah sibuk dengan ketiga anakku dan sekarang ditambah tiga bocah lagi yang harus aku asuh. Aku bukan baby sitter kalian, sampai kapan kalian akan seperti ini? Mereka anak-anak kalian" curhat Jin membuat Jimin dan Namjoon menunduk.
"Aku juga ingin seperti itu. Tapi pekerjaanku menuntutku, hyung. Aku tidak bisa kabur dari permasalahan yang ada, aku seorang polisi, hyung" jawab Jimin dengan nada bersalah.
Namjoon mengangguk menyetujui "Benar kata Jimin, pekerjaan menuntut kita"
"Terus apa pekerjaan lebih penting dari anak-anak kalian?"
"Aku kerja demi Juno juga hyung, demi masa depannya"
"Kau memberi masa depan padanya tapi tidak memberi masa kembangnya sekarang. Apa dengan uang cukup membuatnya bahagia? Apa kau pikir semua barang mahal, rumah mewah, dan segala fasilitas yang kau berikan padanya bisa menggantikan rasa rindu akan kasih sayang orang tuanya? Jika menurut kalian anak kalian bahagia karena kekayaan kalian, kalian salah besar. Mereka butuh kalian"
Jimin dan Namjoon semakin menunduk, menampung semua ucapan sang tetua dan mencernanya.
Ponsel Jimin berbunyi membuat sang empu harus mengangkatnya, dan dimenit berikutnya dia sudah berpamitan untuk pergi ke kantor. Menyisakan Namjoon dan Jin berdua di ruang tengah.
"Namjoon, bukannya aku tidak mau menjaga Juno, tapi jika kau sering menitipkannya disini aku juga tidak bisa" ucap Jin melembut.
"Bukankah dulu hyung sendiri yang mengatakan jika aku bisa menitipkan anakku padamu"
"Iya, tapi tidak sesering ini. Jika kau menitipkan sekali dua kali aku tidak masalah. Aku juga punya tanggung jawab, Jun. Anakku tiga dan Miyoung sebentar lagi melahirkan, aku juga harus kerja. Aku tidak tega melihat Miyoung harus menjaga ketiga jagoanku ditambah dengan Juno, Jisung, dan Ahra. Kau ayahnya, seharusnya kau yang selalu ada di sampingnya..."
"Aku juga mau, tapi bagaimana pekerjaanku hyung? Sekarang saja perusahaanku di Jeju lagi ada kendala, aku harus kesana hari ini juga."
"Aku mengerti, kau punya tanggung jawab sebagai kepala keluarga untuk menafkahi anakmu, tapi bisakah kau menyisakan waktu lebih banyak lagi untuk anakmu? Istrimu sibuk, kau juga sibuk, lantas kepada siapa lagi Juno bersandar?" Jin menghela nafas, temannya memang harus diberi pencerahan ratusan kali agar paham. "Kau tahu? Saat aku menjemput anakmu waktu itu?" Namjoon mengangguk, tentu saja, dia yang memohon pada Jin untuk menjemput Juno.
"Juno tidak berkembang seperti anak pada umumnya, dia menjadi anak yang pendiam, tertutup, dan penyendiri. Dia tidak punya teman. Tapi beruntunglah gurunya pengertian, dia selalu mendekati anakmu hingga Juno menjadi terbuka padanya dan sering bercerita tentang dirinya yang kesepian" Jin menghela nafas, "Namjoon, dia butuh perhatianmu, bisakah sebentar saja kau dan istrimu luangkan waktu untuknya? Dia akan senang jika kalian berada di sisinya."
Kembali terdiam, tidak ada jawaban dari Namjoon maupun seruan Jin, hanya ada suara riuh dan tawa di ruang tengah rumah Jin. Terlihat begitu bahagia mereka saat bersama, terlebih Juno yang sering memperlihatkan tawa dan senyumnya. Membuat Namjoon berpikir ratusan kali mengenai ucapan Jin. Mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan lelaki yang sudah dia anggap keluarga ini, Juno butuh orang tuanya ada bersama dirinya, menghabiskan waktu bersama. Namjoon jadi merasa bersalah. Tapi pemikirannya tak bertahan lama saat ponsel berbunyi. Nama Jung Jungkook tertera di ponsel.
"Ya Jungkook,"
"Baiklah aku kesana sekarang"
Namjoon berdiri, memasukkan kembali ponsel ke jas mahal yang dia kenakan. "Hyung, aku harus pergi sekarang. Aku titip Juno"
"Bukankah memang Juno sering kau titipkan padaku?"
Rada menyindir tapi Namjoon tetap tersenyum, Namjoon paham dengan sikap Jin yang terus terang. Tapi dia juga harus berterima kasih karena Jin, dia dapat tenang meninggalkan anaknya.
"Juno," panggil Namjoon menghampiri sang anak. "Daddy pergi dulu, jangan nakal ya. Patuh pada ayah mengerti?"
Juno hanya mengangguk sebagai jawaban, walaupun dalam hatinya dia ingin sekali memeluk sang ayah dan menahannya agar tetap tinggal. Apa boleh buat? Toh daddynya pasti akan menjawab 'daddy harus pergi, Juno'
Basi
Setelah meninggalkan beberapa kecupan perpisahan Namjoon keluar rumah diantar oleh Jin.
Tepukan Jin di bahu membuat Namjoon sedikit terkejut, "besok adalah hari kelulusan Juno, jangan sampai lewatkan hari terakhirnya di TK, dia akan bermain piano. Jika kau tak datang, aku tidak akan segan-segan membunuhmu, daddy" katanya mengancam.
Namjoon hanya terdiam, menerima semua ancaman palsu Jin dengan tenang. Walaupun dalam hati ada beribu perasaan yang berkecamuk. Senyumnya mengembang, "aku pergi"
Bunyi klakson adalah salam perpisahan dari si empu mobil hitam yang sudah mulai menjauh. Membuat Juno menghela nafas pasrah. Dia mengintip dari balik jendela sebelum kepergian sang ayah. Ingin rasanya dia berteriak dan berlari meminta ikut, tapi pasti ayahnya akan menolak dan memintanya untuk tetap di sini.
Hah, Juno harus bagaimana?
"Juno? Kenapa disini?" Tanya Jin yang baru saja masuk rumah.
"Ahaha tidak, yah."
Senyum Jin melembut, usakan tak lupa dia berikan di rambut lembut itu. "Ayo main lagi sana"
"Iya ayah. Hmm..." Ingin sekali dia menanyakan ini. "Apa daddy dan mommy akan datang besok?"
Bingung. Jin tidak tahu jawabannya, karena Namjoon tidak memberi kepastian Ya atau Tidak.
"Pasti mereka datang" Jin kembali tersenyum meyakinkan Juno.
Cengiran manis terpatri membuat Jin tak segan mencubit kedua pipi Juno dan menciumnya.
---
Jam menunjukkan pukul 8 pagi, kursi-kursi yang berjejer di aula sudah mulai dipenuhi para wali murid yang akan melihat hari terakhir anak mereka di TK. Acara pun akan dimulai, tapi Juno sama sekali belum melihat batang hidung ayah maupun ibunya, yang ada malah Ayah Jin yang rela izin tidak masuk kerja dan Bunda Miyoung beserta kedua anak kembar mereka.
Berterimakasihlah Leehyun pada Jin, karena telah membujuk Juno agar mau menerima tawaran bermain piano di acara perpisahan, bahkan dia akan menjadi opening acara. Sungguh tidak sabar.
"Juno sudah siap sayang?" Tanya Leehyun saat melihat sang murid terus menatap kearah para penonton dari pinggir panggung.
Juno menoleh, dengan ragu dia mengangguk. Tidak tahu, apakah dia masih bisa bermain piano dengan baik tanpa kedua orang tuanya?
"Baiklah, ayo duduk di posisi, acara akan dimulai" Leehyun mengantar Juno hingga murid itu terduduk di depan piano. Dia berlutut di depan Juno "Jangan gugup, Juno pasti bisa. Ibu guru sayang Juno" ucapannya membuat si manis memeluknya dan menenggelamkan wajah mencari kehangatan untuk sebentar saja.
Dia gugup dan rasanya ingin menangis, tapi dia tidak boleh cengeng, dia harus tetap menampilkan yang terbaik.
Teriakan 'Ayo, Stand by' membuat tautan mereka terlepas.
"Juno pasti bisa" Leehyun mengecup kening Juno sebelum pergi meninggalkan Juno di atas panggung.
Tatik nafas buang tarik nafas buang, Juno melakukannya terus-menerus sampai tirai panggung tersibak menampakkan dirinya yang terlihat anggun duduk di depan piano dengan balutan kemeja formal.
Sebelum benar-benar memencet tuts piano, sekali lagi dia menoleh memperhatikan para hadirin, siapa tahu ada keajaiban kedua orang tuanya ada di sana.
Dan keajaiban pun datang, di barisan kedua di samping Ayah Jin, sudah duduk pria dan wanita yang sangat Juno sayangi tengah melambaikan tangan padanya dan membisikkan kata semangat.
Senyuman mengembang, tak pernah hatinya sebahagia ini. Dengan gerakan lamban jari ahlinya mulai memencet tuts-tuts piano menjadi sebuah melodi indah.
Canon
Judul melodi itu. Melodi ini sering sekali dimainkan sang ibu dan membuatnya menyukai melodi ini. Setiap tekanan pada tuts, disetiap itu pula dia merasakan hatinya menghangat, mengingat kembali saat dimana sang ibu mengajarinya dengan sabar hingga dia benar-benar menguasainya.
Melodi yang dimainkan selesai, tepuk tangan menyambutnya dengan hangat, membuat senyum manisnya mengembang sempurna. Tanpa babibu Juno berlari menuruni panggung menuju bangku kedua orang tuanya.
Naya dengan sigap menangkap tubuh si kecil, membawanya dalam kehangatan yang nyata, tangan terus mengelus lembut punggung sempit Juno, beribu kecupan memenuhi wajah Juno, membuat si kecil terisak haru.
"Maafkan mommy, sayang, maafkan" beribu maaf selalu terbisik di telinga Juno. "Juno memang hebat, mommy bangga pada Juno" Naya menarik tubuh si kecil menjauh, mengusap air mata yang tak dapat Juno bendung lagi. "Mommy benar-benar menyesal meninggalkan Juno, mommy janji akan terus bersama Juno mulai hari ini"
Juno mengusap air mata asal. "Be hiks benarkah?" Naya mengangguk.
"Mommy janji, mommy akan selalu bersama Juno" Naya memeluk Juno lagi dengan erat.
Tangan Namjoon tak tinggal diam, dia mengusap rambut Juno dengan sayang. "Daddy tidak dipeluk?"
Juno mengangkat kepala, melihat lesung pipi ayahnya yang dirasa semakin dalam. Dengan cepat dia beralih ke tubuh sang daddy dan memeluknya erat.
"Maafkan daddy juga ya, maaf daddy tidak pernah ada untuk Juno. Daddy menyesal. Daddy sayang Juno"
"Juno juga sayang daddy" pelukannya semakin erat pada leher Namjoon.
Walaupun leher Namjoon sakit, tapi tak membuat si ayah merenggangkan pelukan itu justru semakin terkait erat setelah mendengar jawaban sang anak yang menggetarkan jiwa.
Baru kini Juno sadari bahwa dia tidak butuh waktu kecilnya lagi, dia hanya butuh waktu bersama kedua orang tuanya lebih lama lagi, waktu dimana tidak akan pernah bisa dia ganti dengan apapun bahkan dengan berlian sekalipun.
Tak ada yang lebih berharga selain menghabiskan waktu dengan keluarga.
"You owe me, daddy" bisik Jin pada Namjoon yang duduk di sampingnya. Membuat Namjoon menyikut perut Jin. "s****n" bisik Jin (lagi) sangat pelan agar tidak terdengar sang istri, Namjoon terkekeh sebagai penutup kebahagiaan mereka.