"Bi… Apa tidak sebaiknya kita menikah dulu saja? Biar ikatan hubungan kita kuat," tawar Nadia yang lebih terdengar sebagai sebuah permohonan.
Sepertinya dia terkena karma karena selama ini sangat anti dengan wanita yang menyatakan cinta kepada laki-laki lebih dulu. Sekarang dia tidak hanya menyatakan cinta tapi justru melamar pria untuk menjadi suami.
"Nadia, bukannya aku tidak mau menikah denganmu. Hanya saja saat ini adalah waktu yang paling tepat untukku melanjutkan studi. Mumpung kedua orang tuaku bersedia membiayai pendidikan sekaligus biaya hidupku,” kata Abimanyu.
“Aku tidak akan menghalangimu untuk mengambil pendidikan spesialis paru di Malang, Bi. Aku hanya ingin agar hubungan kita diresmikan secara hukum pemerintah dan agama. Aku tidak akan menuntut apa-apa selama kamu masih menjalani pendidikan,” ucap Nadia berusaha meyakinkan sang kekasih.
Meskipun tidak pernah ada kata ikrar peresmian hubungan mereka namun baik Nadia maupun Abimanyu sudah merasa saling terikat secara hati satu sama lain. Kedekatan mereka selama menjalani coass di salah satu rumah sakit pemerintah satu tahun terakhir ini membuat Nadia merasa hubungan mereka sudah cukup serius. Apalagi sempat terucap dari lisan Abimanyu bahwa pria itu akan segera menemui orang tua Nadia begitu mereka sama-sama mendapat gelar dokter.
“Nadia, pernikahan itu bukan permainan. Hubungan ini adalah janji suci pria pada orang tua wanita di hadapan sang Pencipta. Janji untuk mengambil peran tanggung jawab lahir batin atas wanita. Ketika aku sudah mengucapkan ijab qobul dan disahkan para saksi, saat itulah aku sudah punya kewajiban menafkahi kamu lahir dan batin,” kata Abimanyu mulai memberi penjelasan.
“ Kamu tahu aku kan, Nadia? Aku selalu fokus dan berusaha totalitas dalam segala hal termasuk pendidikan. Jadi aku khawatir tidak bisa melakukan kewajibanku terhadapmu. Aku tidak menjadi pria pendosa yang menelantarkan istrinya,” lanjut Abimanyu.
“Nggak, Bi. Kamu nggak akan jadi pria seperti itu karena aku sendiri yang bersedia menjalani semua ini. Papa dan Mamaku juga pasti bisa akan mengerti dengan keadaanmu ini,” Nadia masih berharap Abimanyu berubah pikiran.
“Aku minta maaf, Nadia. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku tidak ingin pendidikanku tidak tenang jika sekarang aku menuruti apa yang kamu minta ini,” kata Abimanyu.
“Tapi, Bi. Bukannya kamu sendiri yang dulu berjanji akan menemui orang tuaku setelah kita menjadi dokter?” kata Nadia berusaha menagih janji Abimanyu.
Abimanyu tersentak. Dia baru ingat kalau pernah mengucap janji itu pada Nadia. Saat itu hubungan mereka memang sedang hangat-hangatnya. Abimanyu yakin bahwa Nadia adalah wanita pilihan Tuhan untuknya. Sehingga dia pun mantap akan melamar Nadia ke orang tuanya. Apalagi mereka berdua sudah punya rencana usaha yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan setelah menikah.
“Sekali lagi aku minta maaf, Nad. Saat itu aku memang yakin kita bisa berjuang bersama. Waktu itu pun aku masih belum ada kepastian untuk melanjutkan pendidikan atau tidak,” kata Abimanyu yang seketika membuat Nadia lemas.
“Tapi, Bi_”
“Nadia… Aku tidak ingin memaksamu untuk menungguku sampai aku selesai dengan pendidikan spesialisku ini. Tapi… jika nanti aku sudah menjadi dokter spesialis paru dan kita sama-sama belum menikah, aku janji kamu akan menjadi wanita pertama yang aku cari,” kata Abimanyu.
“Jangan mengucap janji baru saat kamu baru saja mengingkari janjimu yang lalu,” kata Nadia dengan pandangan kosong.
Abimanyu kembali tersentak. Kali ini pria itu langsung menunduk setelah mendengar hantaman kata tajam dari kekasihnya.
Rasanya Nadia sudah putus asa membujuk Abimanyu agar bersedia menikahinya lebih dulu sebelum melanjutkan pendidikan. Dia paham bagaimana sikap Abimanyu jika sudah yakin dengan keputusannya.
“Maafkan aku, Nad,” ucap Abimanyu.
Nadia berdiri kemudian memaksakan senyum, “Semoga pendidikanmu lancar, Abimanyu. Aku salah sudah berharap padamu. Mamaku benar, berharap pada manusia hanya menimbulkan kecewa,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Nad?” Abimanyu terkejut saat mendengar Nadia memanggilnya dengan nama lengkap. Tidak lagi dengan panggilan ‘Bi’ seperti sebelumnya.
Nadia secepat mungkin membalik badan karena sudah tidak lagi bisa menahan air matanya. Tidak mungkin dia menangis di tempat umum seperti ini. Setengah berlari dia menuju ke tempat mobilnya terparkir dan segera masuk di kursi kemudi begitu sampai di depan mobil putih kesayangannya.
Nadia menelungkupkan wajah pada tangannya yang bersandar pada kemudi. Bahunya bergetar mengiringi suara tangisnya yang berusaha ditahan. Dia tidak lagi memperdulikan jilbabnya yang basah karena derasnya aliran air dari indra penglihatannya.
Dalam hati Nadia terus merutuki dirinya sendiri. Dia memaki kebodohannya sendiri karena selama ini lebih mengutamakan perasaan dibandingkan nasihat dari kedua orang tuanya. Padahal selama ini kedua orang tuanya sudah mengingatkannya untuk tidak menjalin hubungan serius dengan pria manapun selain hubungan pernikahan.
Nadia mendongak saat mendengar ada ketukan di jendela pintu mobilnya. Wajah sendunya berubah datar melihat siapa pelakunya.
“Buka pintunya, Nad. Aku antar kamu pulang. Aku tidak mau terjadi sesuatu jika kamu menyetir dalam keadaan seperti itu,” teriak Abimanyu yang terlihat panik.
Meskipun Abimanyu merasa hubungan mereka untuk sementara waktu ini tidak bisa dilanjutkan, tapi perasaannya pada Nadia masih sangat besar.
Tatapan mata Nadia menajam. Dia tidak malu menunjukkan wajahnya yang masih menyisakan lelehan air mata. Tanpa menghiraukan kepanikan Abimanyu, Nadia justru memutar kunci untuk menyalakan mesin mobilnya.
“Nad! Buka, Nad! Turunlah! Biar aku yang mengemudi,” kata Abimanyu semakin keras mengetuk jendela dan memanggil Nadia.
Nadia memalingkan wajah dan tanpa ragu menginjak pedal gas. Rasanya dia sudah tidak ingin lagi ada kompromi diantara mereka. Bukannya Nadia sudah benci tapi rasa kecewanya terhadap Abimanyu terlalu besar. Selain itu dia juga tidak ingin menambah catatan kebaikan Abimanyu di hatinya yang berakibat dia semakin sulit melupakan pria itu.
Nadia rasa keputusan Abimanyu tadi sudah menjadi batas akhir hubungan mereka. Mengenai kemungkinan yang tadi Abimanyu ungkapkan, dia sama sekali tidak berharap hal itu akan terwujud.
Nadia mengendarai mobil seperti orang kerasukan. Saat jalan lengang dia mengemudi dalam kecepatan tinggi dan saat jalan penuh Nadia tak henti membunyikan klakson mobil. Bahkan saat di persimpangan lampu lalu lintas pun dia berkali-kali mengklakson mobil di depannya saat baru saja lampu berubah dari kuning ke hijau.
“Hei! Kalau kau tak sabar lewat jalan ini terbang sana! Baru juga setengah detik lampu berubah sudah klakson-klakson!”
Pengemudi mobil di depan Nadia bukannya langsung melaju, namun justru turun dari mobil karena kesal dengan sikap Nadia. Beruntung pria paruh baya itu segera kembali masuk ke mobil tanpa menghampiri Nadia.
“Ck! Apa sih Bapak itu. Nggak tahu apa aku sedang patah hati?!” kata Nadia tanpa merasa bersalah. Dia pun kembali melajukan mobil seperti sebelumnya.
“Aku benar-benar tidak menyangka Abimanyu akan melakukan hal ini. Selama ini dia selalu menjadi orang yang tepat janji. Dia sendiri sangat benci pada orang yang tidak bisa memegang janji. Tapi sekarang?”
“Ck! Bodoh! Aku memang bodoh karena tidak mendengarkan mama. Aku sangat bodoh karena terlalu percaya pada ucapan pria,”
Nadia terus mengomel dan mengutuk dirinya sendiri selama perjalanan sampai tidak terlalu fokus melihat jalan. Hingga tanpa disadari ada sebuah gerobak bakso yang sedang menyeberang di depanya. Nadia panik dan sebisa mungkin menghentikan mobilnya.
“Ya Allah. Gimana i-”
“Aaaaaaa…..!”