“Nadia!”
“Nadia!”
Suara teriakan Arsya mengagetkan seisi rumah.
“Astagfirullah! Ada apa, Mas? Kenapa kamu teriak-teriak?” Tanya Jihan menghampiri suaminya.
“Nadia mana, Ji?” Tanya Arsya dengan nada yang sudah lebih rendah tapi masih menyimpan amarah.
“Nadia belum pulang, Mas. Ini masih jam segini. Dia pasti masih di rumah sakit,” jawab Jihan.
Arsya melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu masih menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit.
“Tapi aku yakin tadi adalah mobil Nadia,” kata Arsya.
“Dimana, Mas? Memangnya apa yang terjadi sampai kamu sepertinya marah sekali pada Nadia?” Tanya Jihan yang belum mengerti hubungan Nadia dengan kemarahan Arsya.
“Ayo duduk dulu, Mas,” ajak Jihan berusaha meredakan emosi suaminya.
“Kamu tahu, Ji? Tadi aku lihat mobil Nadia ugal-ugalan di jalan raya. Bahkan hampir menabrak gerobak bakso. Untung saja tidak sampai terjadi kecelakaan,” Jelas Arsya.
“Alhamdulillah,” ucap Jihan lega.
“Kamu jangan Alhamdulillah dulu, Ji. Aku belum selesai cerita ini,” sergah Arsya.
“Oh, oke. Maaf. Gimana lanjutannya, Mas?” Tanya Jihan tenang. Dia paham bagaimana Arsya saat kesal. Ketimbang ikut emosi dia memilih untuk mendengarkan lebih dulu.
“Tadi memang tidak sampai terjadi tabrakan. Tapi gerobak baksonya sampai terguling dan semua isinya berserakan di jalan. Kamu bisa bayangkan gimana kacaunya di jalan tadi?”
“Astaghfirullah,” ucap Jihan sembari menutup mulut dengan tangan. Dia tidak menyangka jika sampai terjadi hal seperti itu.
“Nah kan. Makanya jangan lega dulu,” kata Arsya terlihat sedikit puas melihat sikap Jihan.
“Terus gimana, Mas? Apa Nadia bertanggung jawab?” Tanya Jihan penasaran.
“Itu… Itu yang bikin aku sangat marah, Ji. Mobil Nadia terus melaju tanpa peduli apa yang terjadi di belakangnya,” jawab Arsya.
“Ya Allah, Nadia,” ucap Jihan semakin tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Dia tidak mengira putri sulungnya bisa berbuat demikian.
Selama ini baik Arsya maupun Jihan cukup keras dalam mendidik karakter anak-anaknya. Terutama masalah tanggung jawab terhadap perbuatan. Apalagi jika perbuatannya sampai merugikan orang lain.
“Tapi, Mas, kalau memang itu mobil Nadia apa mungkin yang mengemudi adalah orang lain. Soalnya tadi pagi dia bilang akan pulang malam karena mau ikut dokter konsultannya operasi,” kata Jihan.
“Telpon! Telepon sekarang, Ji. Kita harus pastikan apakah itu benar Nadia atau tidak,” titah Arsya.
“Handphoneku di atas, Mas. Mas aja lah yang telepon,” kata Jihan.
“Oke,” ucap Arsya yang langsung mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
Beberapa saat Arsya menggeser dan menyentuh layar mencari nomor Nadia dan segera menelponnya. Namun hingga sekian menit tidak ada jawaban.
“Kemana anak ini? Kenapa panggilanku tidak diterima?” Gerutu Arsya.
“Mungkin Nadia memang masih di rumah sakit, Mas. Jadi bisa juga yang mengemudi bukan Nadia,” kata Jihan berusaha menenangkan suami juga dirinya sendiri.
“Ck! Coba kamu pastikan, Ji. Kamu punya nomor telepon beberapa temannya kan?” Tanya Arsya.
Jihan menghela nafas panjang. Memang seperti ini Arsya saat menghadapi masalah. Dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan informasi yang benar-benar pasti.
“Ngga ada beberapa sih, Mas. Cuma satu orang aja,” jawab Jihan.
“Siapa? Si Abimanyu itu?” Tebak Arsya.
“Iya,” jawab Jihan.
“Ya sudah telepon saja. Kalau dia juga tidak bisa dihubungi aku akan pastikan sendiri ke rumah sakit,” kata Arsya.
“Apa tidak sebaiknya kita tunggu Nadia pulang saja, Mas?” Tawar Jihan.
Dia khawatir Arsya benar-benar mendatangi rumah sakit dan tidak bisa menahan emosi. Bisa-bisa Nadia akan malu jika sampai itu terjadi.
“Kamu mau menelepon temannya atau aku langsung pergi ke rumah sakit?” Tanya Arsya menjadi jawaban pertanyaan Jihan.
“Oke. Oke. Aku coba telepon Abimanyu sekarang. Aku ambil ponsel dulu di atas ya. Mas Arsya tunggu di sini. Jangan kemana-mana,” kata Jihan cepat.
Kalau sudah seperti ini tidak ada yang bisa membelokkan pikiran Arsya. Menuruti perintahnya akan menjadi solusi terbaik saat ini.
Jihan mengambil ponsel Arsya sebelum naik ke kamar untuk mengambil ponselnya sendiri. Dia hanya ingin berjaga-jaga untuk membuat Arsya tidak keluar rumah sebelum dirinya kembali.
“Ngapain kamu bawa ponselku juga? Takut aku kabur?” Cibir Arsya saat Jihan sudah kembali bersamanya.
Jihan nyengir, “Hehehe, iya. Buat jaminan,” jawabnya jujur.
“Ck! Memangnya aku tahanan,” kata Arsya.
“Iya. Kamu memang tahanan di hatiku,” kata Jihan merayu sambil memeluk Arsya dari samping.
“Kamu ini, Ji,” kata Arsya meleleh. Kedua tangannya pun ikut melingkari tubuh sang istri.
Sepasang suami istri itu pun sejenak sama-sama menikmati pelukan. Hingga mereka lupa dengan masalah yang sedang mereka hadapi.
“Eh! Bukannya kamu tadi mau ambil ponsel?” Tanya Arsya masih dalam posisi mereka.
“Astaghfirullah! Iya, Mas. Jadi lupa,” jawab Jihan langsung melepas pelukan mereka.
Jihan naik ke lantai dua rumah mereka untuk mengambil ponselnya. Arsya yang tidak sabar menunggu di bawah memilih untuk mengikuti Jihan.
“Assalamualaikum, Abimanyu,”
“Apa Nadia masih di rumah sakit ya?” Tanya Jihan langsung.
Suara Abimanyu terdengar gugup. Akan tetapi pria itu tetap berusaha menjawab dengan tenang.
“Mohon maaf, Tante. Tadi Nadia memang ke rumah sakit. Tapi sekitar dua puluh menit yang lalu saya melihatnya pergi mengendarai mobilnya,” jawab Abimanyu.
“Jadi Nadia sudah keluar dari tadi?,” tanya Jihan lagi.
“Iya, Tante,” Jawab Abimanyu tanpa menceritakan apa yang baru saja terjadi pada mereka.
“Apa mungkin tadi yang hampir kecelakaan benar-benar Nadia?” Tanya Jihan lirih tapi masih bisa didengar Abimanyu.
“Apa, Tante? Nadia kecelakaan?” Tanya Abimanyu terkejut.
“Hampir, Abimanyu. Kalau begitu terima kasih ya informasinya. Assalamu'alaikum,”
“Tan-”
Ucapan Abimanyu terpotong karena Jihan sudah menutup sambungan telepon mereka.
“Gimana, Ji?” Tanya Arsya.
Jihan menggeleng, “Nadia sudah keluar dari rumah sakit sekitar dua puluh menit yang lalu,” Jawabnya.
“Bawa mobil?” Tanya Arsya lagi.
Jihan hanya mengangguk pelan.
“Tuh kan. Apa kubilang? Coba aku telpon lagi sekarang,” Kata Arsya kembali berusaha menghubungi Nadia.
“Assalamu'alaikum, Pa,” ucap Nadia begitu dia menerima panggilan Arsya.
“Kenapa baru diangkat?! Kemana saja kamu?” Tanya Arsya kembali emosi sampai lupa menjawab salam Nadia.
“Em… ini aku… eeee… aku,” jawab Nadia terbata.
“Jawab Nadia! Dimana kamu sekarang?!” Suara Arsya semakin meninggi.
“A-Aku di jalan, Pa,” jawab Nadia cepat.
“Pulang sekarang! Papa tunggu kamu di rumah!” Titah Arsya.
“I-Iya, Pa. Aku pulang sekarang,” jawab Nadia yang segera mengakhiri panggilan setelah mengucap salam.
Tidak lebih dari lima belas menit Jihan dan Arsya menunggu Nadia. Suara mobil yang sangat mereka kenal membuat keduanya gegas keluar.
Arsya bersedekap dengan pandangan mengintimidasi menunggu Nadia keluar dari mobil. Sedangkan Jihan bergelayut pada lengan suaminya dengan perasaan khawatir.
“Apa yang sudah kamu laku-”
“Mama….!”
Arsya belum menyelesaikan kalimatnya tapi Nadia sudah berlari sambil menangis menghampiri Jihan. Uluran tangan sang ibu membuat Nadia langsung memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu.
“Ayo masuk dulu, Kak Nad. Kamu jelaskan di dalam,” ucap Jihan dalam keadaan masih berpelukan.
Anggukan Nadia di bahunya memberi tanda untuk melepas pelukan dan berjalan beriringan ke dalam rumah.
“Loh, Nad. Papa belum selesai bicara ini,” protes Arsya yang tertinggal di belakang.
Jihan menoleh kepada Arsya lalu melambaikan tangan mengajak sang suami ikut masuk. Helaan nafas panjang dan langkah kakinya memberi isyarat bahwa dia hanya bisa menuruti instruksi sang istri.
“Sekarang Kak Nad coba cerita apa yang sebenarnya terjadi,” kata Jihan saat mereka bertiga sudah duduk dan emosi Nadia mulai stabil.
“Abi-Abimanyu, Ma,” jawab Nadia memulai ceritanya. Semua yang pembicaraannya dengan Abimanyu di rumah sakit disampaikan kepada kedua orang tuanya tanpa dikurangi apalagi ditambah.
Jihan dan Arsya mendengarkan cerita Nadia dengan seksama namun tidak hanya diam saja. Sesekali mereka menimpali dengan ungkapan kekesalan. Jihan yang awalnya tenang mulai ikut emosi.
“Bener-bener anak itu. Kamu tahu, Kak? Tadi Mama meneleponnya untuk menanyakan keberadaanmu. Tapi dia menjawab seolah tidak terjadi apa-apa sama kalian,” kata Jihan geram.
“Itulah kenapa Papa nggak pernah bisa suka dengan anak itu,” timpal Arsya.
Nadia hanya menunduk mendengarkan ucapan kedua orang tuanya. Antara sedih dan malu atas kesalahannya.
“Mulai sekarang kamu jangan ada hubungan lagi sama si Abimanyu. Kalau perlu kamu putuskan hubungan kalian,” perintah Arsya membuat Jihan dan Nadia serentak menoleh padanya dengan tatapan kaget.
“Papaaa!!!”
“Aku kan memang sudah bilang putus tadi,” protes Nadia.
“Oh udah ya?” tanya Arsya polos.
“Papa ini kebiasaan kalau diceritain,” kata Nadia kesal.
“Lalu rencana kamu sekarang apa, Kak?” Tanya Jihan.
“Masih belum tahu, Ma. Sebenarnya aku sudah malas ketemu Abimanyu lagi. Tapi aku masih ada dua bulan lagi di rumah sakit,” Jawab Nadia.
“Sebentar-sebentar. Sepertinya ada yang salah ini,” Kata Arsya tiba-tiba.
“Bukannya tadi aku mau marah dan minta penjelasan Nadia yang ngebut di jalan ya?” Lanjut Arsya.
“Aku permisi mandi dulu ya, Ma, Pa,” Pamit Nadia langsung kabur ke kamarnya.