“Sudah siap, Kak?” tanya Arsya begitu Nadia sampai di lantai satu rumah kakeknya.
“Sudah, Pa,” jawab Nadia mantap.
Nadia tersenyum kemudian menghampiri tempat semua anggota keluarganya berada. Sepertinya mereka semua sengaja berkumpul di ruang tengah untuk melepas kepergiannya.
Nadia berpamitan pada semua dengan menyalami satu persatu. Air mata pun tidak bisa dibendung dari mata masing-masing. Mereka saling memberi pesan satu sama lain. Hingga beberapa waktu kemudian Nadia mendapat telepon dari sopir travel yang akan menjemputnya.
“Siapa, Kak?” tanya Jihan setelah Nadia menutup sambungan teleponnya.
“Sopir travel, Ma. Sepuluh menit lagi mau sampai katanya,” jawab Nadia.
“Kalau begitu kita angkut barang-barangnya ke depan sambil menunggu travel yang mau jemput kamu ya, Kak,” tawar Arsya.
“Iya, Pa. Boleh,” jawab Nadia.
“Mas, kenapa kamu yang kayak ingin Nadia cepat pergi sih?!” protes Jihan.
“Bukan gitu, Ji. Yah kan daripada nanti sopir travel dan penumpang lain menunggu lama kan jadi nggak enak. Iya kalau mereka nggak buru-buru,” kata Arsya memberi penjelasan.
“Iya, Ma. Papa benar. Barang bawaanku kan sebanyak ini. Kalau nunggu mobil datang baru diangkut keluar kan jadi tambah lama nanti,” kata Nadia.
“Kalian berdua ini kenapa kompak banget sih hari ini,” kata Jihan kesal.
Nadia dan Arsya berpandangan lalu sama-sama nyengir.
Tidak berapa lama menunggu, mobil yang menjemput Nadia pun datang. Wanita itu meminta sopir membawa mobil masuk ke gerbang karena barang bawaannya yang terlampau banyak.
Arsya dan adik-adik Nadia yang laki-laki estafet memindahkan tas dari teras rumah ke bagasi mobil. Setelah semua barang masuk, Nadia kembali berpamitan pada seluruh anggota keluarganya.
“Pa, aku pergi dulu ya,” kata Nadia pada Arsya. Pria itu memang sengaja menjadi urutan terakhir menerima uluran tangan sang putri.
“Kak… Kalau kamu masih mau berubah pikiran, Papa siap lho bayar ganti rugi untuk pembatalan keberangkatan kamu ini,” ucap Arsya.
“Papa!!!”
Geram Nadia mendengar ucapan sang ayah. Pria itu sebelumnya terdengar sangat ikhlas dan mendukung rencananya. Tapi ini, saat semua sudah siap malah menawarkan pembatalan.
Arsya tergelak melihat kekesalan Nadia dan keheranan dari yang lain.
“Iya…iya. Pergilah. Papa hanya bisa mendoakan agar kamu tidak betah dan segera ingin pulang ke rumah,” lanjut pria itu.
“Pa!” Nadia hendak protes namun segera dipotong oleh kakeknya.
“Udah, Kak Nad. Kamu segera masuk mobil. Kamu bisa tidak jadi berangkat kalau menuruti ucapan papamu,” ucap Anton.
Nadia mengangguk dan menuruti perkataan kakeknya. Dia pun kemudian melambaikan tangan saat mobil mulai dijalankan. Air matanya sudah hampir meleleh jika tidak mendengar teriakan Anton seiring mobil yang mulai menjauh.
“Hati-hati, Nadia. Semoga doa papamu terkabul,” ucap pria tertua di keluarga ini yang membuat Nadia hanya bisa melongo.
“Keluarga Mbak Nadia sepertinya menyenangkan sekali ya. Apa ini pertama kalinya Mbak pergi jauh?” tanya sopir travel yang sebelumnya sudah memperkenalkan dirinya dengan nama Hendra.
“Tidak juga, Pak. Sebenarnya saya sudah berkali-kali keluar kota. Tapi entahlah kenapa kali ini mereka rasanya berlebihan,” jawab Nadia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada orang luar.
“Mungkin memang kali ini berbeda ya, Mbak?” tanya Hendra.
“Iya sih, Pak,” Jawab Nadia. Dalam hati Nadia memuji sikap Hendra yang santun saat berbicara dengannya.
“Ehhmm… ini penumpang yang lain kemana, Pak? Memang belum ada yang naik atau bagaimana?” Tanya Nadia saat menyadari dirinya masih satu-satunya penumpang di mobil ini. Padahal mereka sudah berjalan kurang lebih satu jam.
“Memang tidak ada yang lain, Mbak Nadia. Hari ini saya ditugaskan untuk mengantar Mbak saja,” jawab Hendra yang dalam perkiraan Nadia baru berusia sekitar tiga puluh tahunan.
“Kok bisa, Pak?! Saya kan kemarin bayar dengan tarif reguler. Kenapa sekarang seperti eksklusif?” tanya Nadia. Antara heran dan panik.
Dalam kondisi seperti ini dia rasa wajar untuk waspada. Apalagi perjalanan yang ditempuhnya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Jalan yang akan dilewati pun bukan hanya jalan kota. Tapi jalan desa yang kemungkinan besar jauh dari keramaian.
“Saya hanya menjalankan tugas, Mbak. Untuk masalah pesanan Mbak Nadia itu urusan kantor,” jawab Hendra.
Alis Nadia mengernyit tanda berpikir. Dia mengingat kembali pemesanan dan jumlah uang yang dibayarkan saat memesan tiket travel ini. Dia juga sudah memastikan jika perusahaan travel yang digunakannya saat ini sudah terpercaya. Sopir travel yang mengantarnya juga selalu memperkenalkan diri dan dilengkapi dengan kartu identitas yang dipajang di dashboard mobil agar semua penumpang bisa melihatnya. Nomor aduan pelanggan juga terpampang jelas di kaca mobil depan bagian atas.
“Baik, saya akan menelepon ke agen travel untuk memastikan,” ucap Nadia tegas.
Hendra hanya mengangguk lalu diam melanjutkan kemudinya. Sementara Nadia segera menyalakan ponsel pintarnya dan mencari nomor kantor agen travel.
Sudah dua kali Nadia mencoba menelepon tapi tidak ada yang menerima panggilannya. Kewaspadaan dan rasa paniknya mulai meningkat. Dia berpikir sejenak untuk mencari cara melarikan diri jika kecurigaannya terjadi. Nadia berusaha terlihat tenang meskipun keringat dingin mulai membuat telapak tangannya basah. Apalagi senyum miring Hendra yang sekarang sedang menelepon sempat dilihatnya dari kaca spion .
“Halo. Kamu sudah siapkan semuanya seperti yang diperintahkan bos? Kami sudah hampir sampai. Kira-kira dua puluh menit sudah di lokasi. Kamu bersiaplah! Jangan mengulur waktu dan langsung kerjakan tugasmu dengan cepat!” kata Hendra pada seseorang yang sedang dihubunginya.
Percakapan Hendra di telepon membuat jantung Nadia berdetak cepat. Dia yakin yang dibicarakan oleh Hendra adalah dirinya. Entah dengan siapa pria itu berbicara. Sayup yang didengarnya adalah suara berat seorang pria di seberang sana.
“Oke! Kita sudah dibayar dengan harga jauh lebih tinggi dari biasanya untuk pekerjaan ini. Jangan sampai mengecewakan. Kita harus menunjukkan kalau kita betul-betul profesional,” Lanjut Hendra sebelum menutup telepon sekian detik kemudian.
“Kenapa nomor kantor yang saya hubungi tidak ada yang merespon ya, Pak? Apa ada nomor lain yang bisa saya hubungi untuk memastikan?” tanya Nadia berusaha terlihat tenang meskipun perasaannya sangat tidak karuan.
“Mungkin operatornya sedang tidak di tempat, Mbak. Atau mungkin sedang melayani tamu,” jawab Hendra.
Nadia mengumpat dalam hati. Sesaat kemudian terpikir olehnya untuk mengirim pesan dan membagikan lokasinya pada Arsya. Dia yakin ayahnya itu akan segera bertindak jika mengetahui dirinya dalam bahaya.
Namun belum sempat Nadia membagikan posisinya, dia justru jadi tahu jika jalan yang ditempuh Hendra tidak sesuai jalur yang seharusnya. Nadia sejak awal memang membuka peta untuk selalu mengetahui berapa lama waktu yang harus ditempuhnya.
“Loh kita mau kemana ini, Pak?!” tanya Nadia tidak lagi menyembunyikan kepanikan.
“Bukankah seharusnya kita masih di jalan raya propinsi? Kenapa malah masuk ke hutan seperti ini?” tanyanya lagi saat mereka memasuki jalan yang sepi dan diapit hutan pinus di kanan kiri.
“Iya, Mbak Nadia. Tapi atasan kami memerintahkan untuk membawa Mbak ke satu tempat terlebih dahulu,” jawab Hendra.
“Kenapa, Pak?! Bukannya itu menyalahi aturan? Bapak seharusnya segera mengantar penumpang ke tujuan. Bukannya membelokkan kami ke jalan lain yang tidak sesuai seperti ini. Sangat tidak profesional sekali!” kata Nadia emosi.
“Tapi ini memang sudah sesuai dengan prosedur yang harus kami lakukan, Mbak Nadia. Atasan kami meminta kami mengantarkan Anda ke satu tempat ini sebelum mengantar ke tujuan,” jelas Hendra.
“Kenapa atasan Anda semaunya sendiri seperti ini? Saya hanya pesan tiket untuk langsung ke desa Pelambon tanpa singgah di manapun,” kata Nadia dengan nada meninggi.
“Mohon maaf, Mbak Nadia, sekali lagi saya hanya melaksanakan perintah atasan,” jawab Hendra.
“Tap-”
“Kita sudah sampai, Mbak Nadia. Mari silahkan turun,” kata Hendra memberi senyum sebelum pria itu turun dari mobil dan berjalan ke pintu tempat Nadia berada.
Nadia melihat sekeliling dengan panik melihat pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Di depannya hanya ada satu bangunan dari kayu yang cukup besar dengan seorang pria besar pula berdiri di depan pintu masuk.
“Silahkan, Mbak Nadia,” ucap Hendra membukakan pintu untuknya.
Nadia sontak mundur bersamaan dengan pintu mobil yang terbuka. Di hadapannya saat ini ada dua pria tersenyum manis namun justru menakutkan baginya.
“Apakah aku diculik?!” batinnya.