“Mohon maaf, Mbak. Saya tidak bisa mengantar lebih jauh lagi. Saya sudah tidak sanggup mengendarai mobil di jalan seperti ini,” kata Hendra.
Setelah ketegangan yang Nadia tadi rasakan mereka langsung melanjutkan perjalanan. Rumah kayu tempat Hendra membawa Nadia tadi ternyata adalah rumah makan eksklusif yang memang hanya buka untuk pemesanan khusus saja. Demikian juga mobil yang ditumpangi Nadia yang ternyata paket Very Important Person. Siapa lagi yang mengatur jika bukan sang ayah. Pria yang terlihat paling tenang dengan kepergiannya namun kenyataannya paling khawatir.
“Tapi, Pak, ini kita belum bertemu rumah penduduk sama sekali sejak tadi. Lalu saya harus naik apa ke tempat tujuan?” tanya Nadia bingung.
Seharusnya dia memang sudah turun di perbatasan kota tadi. Akan tetapi karena tidak melihat kendaraan lain yang bisa mengantarkannya ke desa tujuan, dia meminta Hendra untuk terus jalan. Dia berjanji akan menambah ongkos jika sopir itu bersedia.
Hampir satu jam perjalanan melewati jalan berbatu, akhirnya sopir itu menyerah. Nadia bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Beberapa menit yang lalu ponselnya sudah tidak lagi menangkap gelombang sinyal. Kalaupun nantinya ada sinyal, dia juga tidak tahu siapa yang bisa dihubungi untuk membantunya.
“Sekali lagi saya mohon maaf ya, Mbak. Saya tidak bisa mengambil resiko berkendara di jalan seperti saat petang nanti,” ucap sopir itu lagi.
Nadia tidak ada pilihan selain mengangguk. Dia tidak bisa meyakinkan Hendra untuk tetap mengantar karena dia sendiri tidak yakin berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk sampai di desa.
“Baiklah kalau begitu, Pak,” kata Nadia.
Setelah mendengar persetujuan Nadia, Hendra itu kemudian membantunya mengeluarkan barang-barang. Butuh waktu hampir lima belas menit untuk memindahkan bawaan Nadia dari mobil ke tepi jalan. Sopir itu langsung memutar mobil dan meninggalkan Nadia setelah mendapat tambahan ongkos yang tadi sudah dijanjikan.
Nadia menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya jalanan sepi dan hutan mahoni yang dilihatnya. Waktu masih menunjukkan jam dua belas lebih dua puluh menit. Tapi sejak tadi dia tidak melihat seorangpun melewati jalan ini.
Pandangan Nadia beralih dari jalan ke jajaran koper dan kardus yang dibawanya. Tangan kanannya memijat pelipis sambil memikirkan bagaimana dia akan berjalan sambil membawa semua barangnya itu.
“Apa sementara aku tinggal disini aja ya? Nanti kalau sudah sampai di desa mungkin aku bisa minta bantuan warga untuk mengambilnya,” kata Nadia pada diri sendiri.
“Ah iya deh gitu aja,” ucapnya sambil menjentikkan jarinya.
Nadia pikir kalau dia harus segera mengambil tindakan. Berdiam diri disini sambil menunggu bantuan yang entah kapan bukan menjadi solusi menurutnya.
“Yang mana dulu ya yang harus kubawa?” tanya Nadia kembali berpikir.
Dia kemudian meneliti satu per satu barang bawaannya. Setiap tempat sudah diberi tulisan tentang isi masing-masing. Dia kemudian menyisihkan dua tas yang dianggapnya paling penting. Satu koper besar berisi sebagian pakaian, satu lagi tas berisi alat medis dan obat-obatan.
“Emm… yang lain aman nggak ya kalau ditinggal disini? Tapi aku juga nggak mungkin bawa semuanya sekarang. Aku nggak tahu berapa jauh jarak yang harus kutempuh,” kata Nadia bimbang.
Masih ada keraguan di benak Nadia untuk meninggalkan barangnya begitu saja.
“Ah iya. Gitu aja,” kata Nadia setelah mendapat ide.
Nadia mengeluarkan buku catatan dan bolpoin dari tas ranselnya kemudian menuliskan sesuatu di salah satu lembarnya. Setelah selesai menulis, dia merobek kertas tadi dan meletakkannya di atas salah satu tas yang dia tinggalkan.
“Bismillah… yang penting aku udah usaha. Perkara ini barang nanti balik atau nggak saya pasrah Ya Allah,” kata Nadia sebelum benar-benar berjalan.
Nadia tidak bisa berjalan cepat. Jalan yang dilaluinya sangat tidak mulus sehingga koper yang ditariknya juga tidak berjalan dengan lancar pula. Beberapa kali bahkan kopernya itu tersangkut batu yang menonjol terlalu tinggi.
“Astagfirullah…Apa ini gara-gara aku yang terlalu nekat dan melawan restu mama ya,” Nadia terus memikirkan penyebab kemalangan yang dialaminya ini.
Berdasarkan pengalaman juga cerita dari ibunya, ketika seseorang diberi ujian kemungkinannya ada dua. Antara ujian atau peringatan. Nadia pun saat ini memikirkan dua kemungkinan itu. Namun, mengingat kejadian sebelum berangkat, dia yakin kalau ini adalah peringatan. Oleh karena itu sepanjang perjalanan dia terus membaca istighfar dan berjanji akan kembali meminta maaf pada Jihan saat mereka bisa berkomunikasi lagi.
Peluh sudah membanjiri sekujur tubuh Nadia setelah dia berjalan hampir dua kilometer. Matahari yang masih berada di atas kepala seakan mendukung kulitnya terus mengeluarkan keringat untuk melakukan regulasi suhu tubuhnya.
Nadia berhenti saat berada di bawah kanopi pohon. Dia ingin sejenak mengatur nafas dan menikmati kesejukan dari oksigen dari pohon yang meneduhinya. Nadia duduk bersandar di batang pohon untuk mengistirahatkan otot kaki dan tangannya. Dia berharap asam laktat yang sudah menumpuk di jaringan ototnya segera berkurang setelah istirahat.
Deru mesin motor membangunkan Nadia. Niatnya beristirahat sebentar ternyata gagal karena dia tertidur di bawah pohon.
“Ya Allah! Jam berapa sekarang?” tanya Nadia terkejut dengan keadaan sekitar.
Suasana yang tadi terik sudah berubah menjadi lebih gelap. Nadia melihat jam tangan kemudian memperhatikan sekeliling. Dia sangat yakin tadi mendengar suara mesin kendaraan melewatinya.
“Loh itu kan-” Nadia tercengang setelah menemukan motor yang berjalan semakin menjauhinya.
“Woiiii berhenti! Itu barang-barangku!” teriak Nadia.
Sekuat tenaga dia mengejar motor yang melaju tidak terlalu kencang itu. Dia tahu betul tas dan kardus yang diikat di boncengan motor itu adalah miliknya.
“Woiii berhenti!” teriaknya lagi.
“Maliiiinggg! Maliiinggg!” teriak Nadia sambil terus berusaha mengejar pengendara. Biarlah dia berusaha meskipun entah siapa yang nanti akan membantunya.
Motor yang dikejar Nadia itu pun akhirnya berhenti. Pria yang mengendarainya menoleh ke belakang dengan tatapan mata tajam.
Nadia berdebar melihat cara pria itu memandangnya. Ada perasaan takut menyerang hatinya. Apalagi saat melihat sekeliling tidak ada orang selain mereka berdua. Nadia sempat berhenti sebentar karena ragu. Namun mengingat pentingnya isi tas-tasnya itu dia pun kembali memberanikan diri.
“Bapak mau bawa kemana barang-barang saya itu? Isi tas itu tidak akan bernilai untuk Anda, tapi sangat berharga bagi saya,” kata Nadia.
Meskipun ada perasaan gentar, namun dia berusaha menunjukkan kalau dia berani. Pria yang Nadia ajak bicara tidak segera menjawab. Laki-laki itu justru memandang Nadia lekat.
Nadia sudah bersiap-siap melangkah mundur untuk berjaga-jaga. Dia berpikir untuk segera lari jika pria tegap di depannya itu menunjukkan gerak-gerik mencurigakan.
“Kenapa Bapak diam saja? Tolong turunkan barang-barang saya itu dari motor Bapak atau-”
“Atau apa?” akhirnya pria berkulit coklat itu mengeluarkan suara.
“Atau saya berteriak ‘maling’ dan menelepon polisi,” kata Nadia cepat.
Pria itu tertawa mengejek dan membuat Nadia mulai emosi. Dia merasa kalau sedang diremehkan.
“Saya tidak main-main ya, Pak,” tantang Nadia.
“Silahkan teriak kalau memang ada yang mendengar. Silahkan juga menelepon polisi kalau memang bisa tersambung,” kata pria itu sambil berjalan mendekati Nadia.
Nadia perlahan mundur dengan waspada. Apalagi saat melihat satu tangan pria itu disembunyikan di balik punggungnya. Dia menduga ada senjata tajam di tangannya yang tak terlihat itu.
“Kamu mau apa?” tanya Nadia panik saat posisi mereka semakin dekat.
“Apa yang akan kamu lakukan?” Suara Nadia tercekat di tenggorokan.
Rasanya dia sudah tidak ada kesempatan hidup lagi saat melihat tangan pria itu bergerak hendak mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi disembunyikannya.
“Aaaaaaa! Tolooonng!” Nadia segera berjongkok. Kedua tangannya dinaikkan di atas kepala dan berharap bisa melindungi dirinya. Matanya terpejam rapat karena takut melihat hal mengerikan yang akan terjadi padanya.
Perlahan Nadia membuka mata saat menyadari tidak terjadi apa-apa padanya. Dia semakin bingung saat merasakan ada benda ringan mendarat di telapak tangannya yang terbuka.
“Ini-” Nadia menjeda ucapannya setelah mengetahui apa yang pria itu letakkan di tangannya.
“Iya. Bukannya itu tulisan Anda, Dokter Nadia?” tanya pria itu datar dan dingin.
Nadia menggaruk tengkuk kemudian nyengir, “Hehe… Iya. Ini tadi saya yang menulisnya,” kata Nadia malu.
“Jadi…Anda yang mau membantu saya?” tanya Nadia merasa tidak enak.
“Tadinya saya berniat seperti itu. Tapi sekarang saya berubah pikiran. Saya tidak mau diteriaki sebagai maling dan dilaporkan ke polisi,” kata pria itu sambil membuka ikatan yang mengikat tas Nadia di motornya.
“Eh jangan! Jangan diturunkan, Pak! Saya tidak akan melakukan itu,” kata Nadia mencegah pria itu melanjutkan niatnya. Dia bersyukur karena pria itu menurutinya.
“Saya mohon maaf. Saya salah. Sepertinya tadi nyawa saya belum kembali sepenuhnya setelah tertidur di bawah pohon. Jadinya saya mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya,” lanjut Nadia.
“Jadi bagaimana? Barang-barang ini saya angkut sesuai yang tertulis di kertas itu atau saya turunkan saja?” tanya pria itu tanpa menanggapi permintaan maaf Nadia.
“Emm…minta tolong diangkut saja ya, Pak,” jawab Nadia.
“Saya belum menikah apalagi punya anak. Jadi tolong berhenti memanggil saya ‘Bapak’ atau ‘Pak’” kata pria itu memperingatkan.
“Oh iya, maaf. Lalu saya harus memanggil Anda bagaimana?” tanya Nadia.
“Galih. Nama saya Galih. Anda bisa memanggil nama saja atau sapaan yang lain. Asalkan bukan Bapak,” kata Galih.
Nadia menganggukkan kepala, “Baik. Saya panggil Mas Galih saja ya. Meskipun belum jadi Bapak, tapi tetap saja Anda jauh lebih tua dari saya,” ucapnya.
Galih melotot. Dia merasa tidak terima. Dia sadar Nadia lebih muda darinya, tapi dia yakin kalau perbedaan usia mereka tidak terlalu jauh.
“Terserah kamu saja lah,” kata Galih kesal.
Pria itu kemudian menaiki motor lagi dan langsung menjalankannya. Nadia bingung melihat kekesalan Galih. Apalagi mendengar pria itu mengubah sapaan Anda menjadi kamu.
“Aku salah ya?” tanya Nadia bingung sambil menunjuk diri sendiri.
“Loh ini kok?” Nadia menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia baru sadar kalau Galih meninggalkannya sendiri di tempat ini.
“Mas Galiiihhhh! Tunggu saya…”