"Sudah sampai," kata Galih setelah menghentikan motor di depan sebuah rumah.
"Hah?!"
"Iya sudah sampai," ulang Galih.
Nadia turun dari motor lalu menoleh ke kanan, kiri dan tempat awal di membonceng Galih. Jaraknya hanya sekitar tiga puluh meter.
"Ini beneran sudah sampai?" tanya Nadia memastikan.
"Iya. Ini rumah bapak kepala desa. Tujuan Anda ke sini kan?" tanya Galih.
Nadia mendengus, "Tahu gini aku jalan kaki aja dari tadi. Kenapa Mas Galih nggak bilang kalau rumahnya di sini? Belum juga anget aku naik motornya udah sampai aja," gerutunya.
Galih menggeleng kesal," Anda ini ternyata sangat tidak bersyukur sekali ya. Sudah baik saya mau bantu angkat koper dan harus kembali lagi untuk menjemput Anda. Bukannya berterima kasih malah marah-marah."
"Iya, iya maaf. Terima kasih banyak Mas Galih," ucap Nadia yang lebih terdengar seperti sebuah sindiran.
"Ck! Da-"
"Ini pasti dokter Nadia," Suara seorang pria memotong kata yang akan diucapkan Galih.
Kedua orang yang sedang berdebat di tepi jalan itu pun menoleh bersamaan ke sumber suara.
"Betul, Pak. Saya Nadia yang akan bertugas di desa ini dua tahun ke depan," sapa Nadia ramah sembari mengulurkan tangannya.
"Saya Aji. Kepala desa di sini," kata pria paruh baya itu memperkenalkan diri.
Galih memandang Nadia sinis. Ekspresi yang ditunjukkan wanita itu berbeda jauh dengan saat berbicara dengannya.
"Mari silahkan masuk dulu. Koper dokter Nadia sudah dimasukkan sama Galih ke dalam rumah," kata Aji mempersilahkan Nadia dan Galih masuk ke rumahnya.
Langit sudah mulai menggelap saat Nadia duduk hanya bersama Galih di ruang tamu Aji. Tidak berselang lama Aji kembali bersama seorang wanita yang Nadia duga adalah istrinya.
"Ini istri saya, Bu dokter," kata Aji
"Silahkan diminum dulu dokter, Galih. Dokter pasti lelah menempuh perjalanan panjang kemari, " kata Sri sambil meletakkan empat cangkir teh dan sepiring singkong goreng.
"Terima kasih, Bu Sri, Pak Aji. Perjalanannya memang melelahkan. Apalagi sopir travelnya tidak mau mengantar saya sampai di sini," jawab Nadia.
"Desa kami ini memang agak ke dalam, dokter. Jadi kendaraan umum hampir tidak ada yang berani masuk ke desa ini. Apalagi harus melewati hutan mahoni yang cukup panjang. Jadi banyak mengira tidak ada desa lagi di balik hutan," jelas Aji.
"Untungnya tadi ada Galih yang membantu dokter ya. Kalau tidak mungkin sekarang ini dokter masih jalan kaki di hutan," tambah Sri.
Nadia memandang Galih lalu hanya bisa tersenyum kikuk melihat wajah datar dan lirikan tajam pria itu.
"Aku yang kurang beruntung karena lewat di saat yang tidak tepat," kata Galih datar namun mengundang tawa Sri dan Aji.
"Huss, nggak boleh begitu, Le. Itu namanya jodoh. Kamu yang hari ini tiba-tiba harus ke kota bertepatan dengan kedatangan dokter Nadia ini pasti sudah diatur. Bapak yakin itu bukan semata-mata kebetulan," kata Aji.
'Jodoh?' batin Nadia memandang Galih ngeri. Amit-amit deh kalau dia sampai berjodoh dengan pria ketus seperti itu.
Pandangan Galih yang bertemu dengan tatapan Nadia menyiratkan ungkapan batin yang sama.
"Ngga mungkin lah, Pak. Aku ini cuma petani biasa," kata Galih.
"Dokter silahkan dimakan singkongnya mumpung masih hangat. Tehnya juga diminum biar hausnya mereda," kata Sri memutus tatapan tajam keduanya.
"Emmm mohon maaf sebelumnya, Bu Sri. Saya belum cuci tangan. Saya boleh minta ijin pakai kamar mandi untuk bersih-bersih dulu," kata Nadia.
"Oh iya, dokter. Mari saya antar," ucap Sri yang kemudian beranjak dari tempat duduk.
"Aku sekalian ijin pulang ya, Pak, Bu. Sudah lengket semua ini badan seharian kepanasan," kata Galih seraya berdiri.
"Makan malam di sini dulu, Galih. Ibu sudah masak banyak ini," cegah Sri.
"Lain kali mungkin, Bu. Aku sedang ingin segera tidur aja," tolak Galih.
"Ya sudah. Biar besok pagi saja diantar sama Ningsih ke rumahmu untuk sarapan," kata Sri yang mendapat anggukan dari Galih.
Tanpa berpamitan lagi Galih pun keluar dari rumah Aji dan mengendarai motor bututnya.
"Maaf ya, dokter Nadia. Jadi tertunda ke kamar mandinya. Mari ke arah sini," kata Sri beralih ke Nadia setelah kepergian Galih.
"Rumah desa rata-rata hanya seperti ini. Pasti sangat berbeda dengan tempat tinggal dokter di kota. Maklum hidup di desa, kalau kami buat terlalu bagus justru sayang karena pekerjaan kami yang selalu berhubungan dengan tanah," kata Sri dalam perjalanan menuju ke kamar mandi.
"Tidak apa-apa, Bu Sri. Rumah itu yang penting nyaman dan membuat keluarga betah. Bangunan yang mewah dan megah belum tentu menjamin kebahagiaan keluarga, " kata Nadia.
"Betul, dokter," Sri menyetujui pendapat Nadia.
"Ini kamar mandinya ya, dokter Nadia. Nanti dokter bisa menggunakan kamar yang itu untuk istirahat sebentar sebelum makan malam. Koper dokter Nadia sudah dimasukkan di sana semua sama Galih tadi," lanjut Sri menunjuk salah satu kamar di rumah ini.
"Baik. Terima kasih, Bu Sri," kata Nadia. Dia memutuskan masuk ke kamar dulu untuk mengambil baju ganti sebelum ke kamar mandi.
Kurang lebih dua puluh menit kemudian Nadia baru keluar dari kamar mandi. Bukan karena banyak yang harus dibersihkan melainkan dia belum terbiasa dengan kamar mandinya. Tidak ada meja atau tempat khusus untuk meletakkan perlengkapan mandinya. Tidak ada keran untuk mencuci tangan dan berwudhu. Hanya sebuah bak mandi yang terisi penuh dengan air.
"Dokter Nadia mau sholat?" suara Sri membuat Nadia berhenti berjalan menuju kamar.
"Iya, Bu Sri,"
"Tempat wudhunya di luar ya, dok,"
"Oh,"
"Mari. Lupa tadi saya memberitahu. Di sini kami mengisi air masih dengan menimba, jadi belum memungkinkan untuk memasang kran air di kamar mandi," cerita Sri.
"Oh begitu. Makanysa saya tadi tidak melihat kran untuk mengisi bak mandi," kata Nadia.
Sri tersenyum, "Ini, dokter untuk wudhunya. Perlu saya temani atau tidak?" tanyanya mengingat hari yang sudah gelap.
Nadia melihat sekeliling. Di depannya ada hamparan kebun jagung dan beberapa pohon melinjo. Lampu rumah tetangga juga cukup terlihat meskipun remang-remang.
"Tidak perlu, Bu. InsyaAllah saya berani," kata Nadia yakin.
"Baiklah, dokter. Saya di dapur kok. Nanti kalau ada apa-apa dokter teriak saja," kata Sri.
'Ada apa-apa? teriak?' tanya Nadia dalam hati. Dia tidak maksud Sri akan tetapi karena tidak ingin terlalu memikirkan, Nadia memilih untuk membuka penutup saluran air tempat wudhu dan membaca basmallah.
Nadia baru sampai membasuh sebagian kepala saat terdengar ada langkah kaki di atas serasah. Sejenak dia fokus mendengarkan namun suara itu tak lagi terdengar. Dia pun melanjutkan ke gerakan wudhu yang lain. Namun anehnya suara itu terdengar lagi.
Hingga pada saat membasuh kaki kanan, Nadia melihat sosok berkain putih dari sudut mata kirinya. Sosok diantara pohon melinjo yang mendekat perlahan ke arahnya. Dia pun mempercepat wudhunya dengan jantung berdebar.
'Apa ini yang tadi dimaksud 'apa-apa' sama, Bu Sri?' tanyanya dalam hati.
Tidak ingin mempertegas apa yang sekilas dilihatnya, Nadia memilih langsung berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Ada apa dokter?" suara panik Sri mendengar langkah cepat Nadia.
Nadia mengabaikan pertanyaan Sri dan langsung masuk ke dalam kamar. Dengan sembarangan dia membuka tas dan koper mencari mukena agar bisa segera melakukan sholat maghrib. Dia berharap ibadah ini bisa melindunginya dari makhluk-makhluk tak kasat mata yang berniat mengganggunya.
"Dokter Nadia?" panggil Sri sambil mengetuk pintu papan kamar Nadia. Namun karena tidak ada jawaban, wanita itu memilih kembali ke dapur dengan penasaran.
"Ya Allah, apa ya itu tadi? Masa iya itu..." Tanya Nadia setelah menyelesaikan rangakaian ibadah wajibnya. Dia tidak berani meneruskan ucapannya karena khawatir sosok itu akan terpanggil.
"Bismillah... Semoga bukan apa-apa. Semoga hanya perasaanku saja. Masa iya baru hari pertama di sini sudah disambut sama yang begituan," kata Nadia menenangkan diri.
"Allahuakbar!" Nadia terlonjak kaget mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Dokter Nadia, mari makan malam dulu," panggil Sri.
Nadia menghela nafas lega, "Iya, Bu."
Segera Nadia merapikan mukena dan keluar dari kamar. Sebelumnya dia melihat ada meja dengan empat kursi di dapur yang dugaannya adalah meja tempat keluarga ini makan bersama.
Namun, baru baru saja Nadia sampai di perbatasan antara dapur dan ruang tengah ada sesuatu yang membuatnya mematung. Senyuman Sri dan panggilan Aji yang sudah duduk di meja makan tidak dia hiraukan. Pandangannya terpaku pada sesuatu yang ada di belakang Sri. Sosok dengan rambut ikal yang tergerai sepanjang pinggang bergaun putih kusam sedang berdiri membelakanginya.
"Kun...kun..."