"Diminum lagi tehnya, Dok. Tangan dokter masih dingin sekali, " kata Sri kembali menyodorkan teh hangat pada Nadia.
Nadia melambaikan tangan tanda penolakan, "Sudah cukup, Bu. Saya tidak apa-apa. Hanya perlu mengatur nafas dan emosi saja agar suhu tubuh saya kembali normal, " ucapnya.
"Maaf ya Dok. Ningsih itu sebenarnya sudah saya ingatkan untuk selalu mengikat rambut kalau di rumah. Baju itu juga sebenarnya sudah mau saya buang. Tapi nggak boleh sama dia," kata Sri sambil melirik Ningsih.
Ningsih yang sejak tadi menunduk mulai buka suara," Ini kan baju kesayanganku, Bu. Sampai kapanpun tidak akan aku buang," ucapnya.
"Iya Ningsih. Tapi baju itu kan sudah sejak kamu SD. Sekarang sudah mau lulus SMA masih saja kamu pertahankan. Nanti dikira orang kami ini tidak mampu memberi kamu pakaian yang layak," kata Sri lanjut menasihati.
Ningsih cemberut. Postur tubuhnya memang tidak banyak berubah sejak usia sekolah dasar jadi sebagian besar pakaian masa kecilnya masih muat sampai sekarang.
"Ini tu bukan hanya bajunya yang nyaman dipakai, Bu. Tapi juga karena baju ini dikasih sama Mas Galih," gerutu Ningsih.
"Kenapa memangnya kalau dikasih sama Galih? Itu kan cuma sekedar hadiah ucapan terima kasih saat pertama kali dia kembali ke desa ini," kata Sri.
"Ya biar aja," kata Ningsih.
Nadia hanya memperhatikan perbincangan ibu dan anak itu. Berdasarkan apa yang didengarnya dia membuat kesimpulan sementara jika Galih memiliki arti yang cukup penting untuk Ningsih.
"Mohon maaf, Bu Sri, Ningsih. Saya pamit masuk ke kamar dulu ya. Mau istirahat," pamit Nadia karena merasa perbincangan Sri dan Ningsih akan berlangsung lama.
"Eh! Tapi kan dokter belum makan malam. Makan dulu, Dok. Baru istirahat," cegah Sri.
"Emm... tapi..." Nadia sebenarnya memang lapar. Tapi karena Sri dan Ningsih sejak tadi sibuk berdebat jadi dia memilih tidur untuk menahan lapar sekaligus melepas penat.
"Tidak ada tapi ya, Dokter. Mari kita makan dulu," kata Sri memutuskan.
Dalam hati Nadia bersorak karena panggilan perut kosongnya bisa terpenuhi. Untungnya ide pamit tidur tadi berhasil kalau tidak pasti dia juga tidak akan bisa tidur nyenyak karena kelaparan.
"Baiklah kalau begitu, Bu," ucap Nadia.
Selama makan malam Sri, Aji, Ningsih, dan Nadia berbincang untuk saling mengenal. Beberapa hal yang ditangkap panca indra Nadia memberikan perasaan bahwa keluarga petinggi desa ini adalah orang-orang baik. Sedikit banyak dia juga mulai mendapatkan informasi tentang kondisi desa dan masyarakatnya yang bisa digunakan Nadia untuk menyusun strategi agar pengabdiannya di desa ini bisa optimal dan mencapai tujuan.
Niat Nadia untuk langsung tidur setelah makan tidak bisa diwujudkan. Keramahan keluarga Aji ini membuatnya bertahan hingga hampir pukul sepuluh malam.
"Ningsih! Biarkan dokter Nadia istirahat. Ibu yakin kamu masih punya banyak waktu lagi untuk ngobrol dengan dokter Nadia," Sri memotong pembicaran Ningsih karena melihat Nadia yang lebih sering menguap. Meskipun tamunya itu masih terlihat antusias, namun tanda kelelahan tetap terlihat.
"Betulkah, Dok?" tanya Ningsih, "Rencananya Dokter berapa lama tinggal di sini?"
"Emmm... Berdasarkan kontrak yang aku tandatangani sih minimal satu tahun, Ningsih," jawab Nadia.
"Dokter yakin akan bertahan sampai waktu itu?" selidik Ningsih.
"Insya Allah yakin, Ningsih. Karena kalau melanggar kontrak ada konsekuensi yang harus dipenuhi. Dan aku tidak mau mengambil resiko kehilangan sesuatu yang sudah aku pejuangkan hanya karena melanggar sebuah kontrak," jawab Nadia.
"Tapi kalau setelah beberapa bulan dokter ternyata tidak betah seperti yang sebelumnya bagaiamana?" tanya Ningsih.
"Oh ya? Memangnya dokter sebelum aku ada yang seperti itu?" tanya Nadia penasaran. Rasa kantuknya jadi hilang mendengar pertanyaan Ningsih.
"Bukan ada lagi, Dok. Tapi semua dokter yang katanya mau mengabdi hanya bertahan sebentar saja di desa ini," jawab Ningsih.
"Huss, Ningsih kamu tidak boleh begitu. Tidak semuanya. Ada beberapa yang bertahan sampai masa pengabdiannya habis bahkan menikah dengan warga desa ini. Tapi ya memang sudah lama, Dokter. Saat Ningsih masih kecil. Setelahnya banyak dokter yang datang dalam waktu singkat dan pergi begitu saja," kata Sri menjelaskan.
"Kalau boleh tahu alasannya kenapa ya, Bu?" tanya Nadia.
"Ibu sendiri kurang tahu pastinya. Karena setiap dokter yang pamit pada kami, esoknya sudah langsung pergi meninggalkan desa. Jadi kami tidak sempat menanyakan secara jelas penyebabnya. Padahal Bapak selaku kepala desa sangat terbuka jika ada keluhan atau hal yang tidak berkenan bagi para dokter. Jika mereka bersedia menyampaikan masalah maka pasti akan dicari solusi yang terbaik untuk semua. Karena kami pun punya harapan besar setiap warga kami bisa hidup sehat dan sejahtera," jawab Sri panjang lebar.
"Mungkin nanti dokter Nadia bisa tahu sendiri penyebabnya. Atau kalau mau dokter juga bisa bertanya pada Galih mengenai hal ini. Bapak rasa dia tahu lebih banyak tentang alasan beberapa dokter yang tidak bertahan lama tinggal di desa ini", kata Aji yang tiba-tiba berada diantara mereka.
"Mohon maaf, Pak. Apakah Bapak tidak pernah bertanya pada Mas Galih tentang hal ini?" tanya Nadia penasaran.
"Sudah. Dan Bapak pasti selalu bertanya jika ada dokter yang tiba-tiba pulang. Hanya saja Galih jarang menceritakan detail yang diketahuinya," jawab Aji.
"Lah kok bisa Mas Galih tidak mau menceritakan yang sebenarnya ke Bapak? Harusnya kalau dia mau bantu, dia cerita apa adanya sama Pak Aji sebagai pemangku kepentingan. Apa Bapak sudah pernah menegur Mas Galih karena tidak mau berkata jujur?" tanya Nadia mulai curiga.
Aji menggeleng, "Bapak tahu dia pasti punya pertimbangan sendiri dengan keputusannya. Selama ini Galih selalu mengutamakan kami, jadi Bapak yakin dia tahu apa yang perlu dibahas dan mana yang tidak."
"Tapi kan Bapak adalah kepala desa di sini. Jadi menurut saya setiap yang terjadi di desa ini Pak Aji harus mengetahuinya," kata Nadia tidak setuju dengan sikap Galih dan Aji.
Aji tersenyum, "Sepertinya dokter Nadia sudah sangat lelah. Sebaiknya ibu antar ke kamar dan kita semua juga bisa istirahat," katanya.
Nadia terdiam sejenak. Dia baru beranjak saat Sri mengajaknya pergi untuk kedua kalinya. Dia paham jika Aji tidak ingin membahas masalah ini terlalu panjang.
"Iya, Bu,"
Tubuh Nadia sudah merebah namun pikirannya masih terjaga. Mengapa Aji yang memiliki posisi paling tinggi di desa ini justru patuh pada seorang warganya? Apa karena memang dia yang terlalu percaya pada warganya? Atau memang Galih yang memiliki sesuatu untuk mengendalikan Aji?
Entah seberapa penting kenyataan ini baginya. Hanya saja rasa penasaran yang tinggi membuatnya ingin tahu yang sebenarnya.
Nadia masih terus berusaha menganalisa hingga sebuah suara membuyarkan fokusnya. Sebuah langkah kaki menginjak serasah yang terdengar dari luar. Semakin lama semakin dekat.
Jantung Nadia berdebar. Antara takut dan waspada. Selimut yang tadinya hanya sampai perut dinaikkan perlahan. Suara ketukan di kaca jendela membuatnya menggenggam selimut semakin erat. Dalam hati dia membaca sholawat dan surat-surat pendek sebisanya.
Akhirnya suara ketukan berhenti namun berganti sebuah sapaan suara berat.
"Halo, Dok!"