Normal Pov.
Kamis pagi, Rumah Sakit Medika Sentra berdenyut seperti jantung yang tegang.
Sinta Pratama masuk ruang operasi pukul tujuh lewat sepuluh menit. Ia melambaikan tangan dari atas brankar dengan gaya seorang ratu yang berangkat ke pekan raya—menolak terlihat takut, menolak didorong terburu-buru, dan sempat memarahi seseorang karena seprainya kusut. Kevin tertawa di sisi brankar itu sampai pintu operasi menutup, dan baru setelah pintu itu menutup ia bersandar ke dinding koridor dan mengosongkan paru-parunya seperti orang yang selesai berenang jauh.
Di saku kiri jasnya: sebuah kotak beludru kecil.
Operasi transplantasi ginjal memakan waktu empat sampai enam jam. Ruang tunggu keluarga di lantai lima mulai terisi: kerabat Pratama, dua eksekutif perusahaan, Nada yang datang membawa termos, Tono yang berdiri di sudut dengan alasan "kebetulan lewat" meski wilayah tugasnya dua puluh kilometer dari sana.
Jingga belum datang.
Ia berangkat pukul enam, seharusnya tiba pukul tujuh kurang—tapi jalan utama kota ditutup separuh karena sebuah kecelakaan truk, dan mobilnya terjebak di lautan kendaraan yang tidak bergerak. Ia menelepon Kevin pukul 07.40: "Aku terlambat. Jangan ke mana-mana. Aku harus bicara sebelum—" sambungannya terputus.
Pukul 08.00 tepat, seorang kurir masuk ke lantai lima dan menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal kepada perawat jaga. "Untuk Tuan Kevin Pratama. Ditunggu katanya."
***
Kevin Pov.
Amplop itu tidak ada pengirimnya.
Aku membukanya sambil berdiri, di sela-sela percakapan dengan seorang paman—setengah mendengarkan, setengah mengira ini laporan dari kantor. Isinya: dua puluh tiga lembar foto cetak. Kualitas bagus. Kertas mahal.
Lembar pertama membuatku berhenti mendengarkan sama sekali.
Itu foto sebuah halaman buku tulis. Tulisan tangan yang kukenal—aku pernah melihatnya menandatangani dokumen HA Express, menulis kartu untuk Ibuku, menulis namanya sendiri dengan huruf J yang melengkung seperti kail. Tulisan Jingga.
Tapi isinya.
"MEI ANJANI — target utama. Masuk klub malamnya dulu, cari pola. Semua orang seperti dia punya pola."
Lembar kedua. "Wasiat itu palsu. Buktikan. Karim tidak akan menyerahkan semuanya suka rela."
Lembar ketiga. Keempat. Tanggal-tanggal. Nama-nama. Sebuah peta—dunia melihatnya dari satu sisi selama ini, dan aku sekarang melihatnya dari sisi lain: bukan perempuan yang terseret ke dalam masalah, melainkan perempuan yang berjalan masuk dengan mata terbuka, membawa meterai dan penggaris.
Dan lembar terakhir. Lembar yang paling tua. Lembar yang tintanya paling pudar dan yang akan kuingat lebih lama dari apa pun yang pernah kutandatangani:
"Langkah tiga: dekati Kevin Pratama. Jadi kelemahannya. Dia pintu ke semua yang dipegang perempuan itu."
Aku membaca kalimat itu tiga kali. Koridor rumah sakit itu ramai—Nada di dekat jendela, Tono di sudut, kerabat berbisik-bisik—tapi suaranya semua menjauh, seperti radio yang dikeraskan pelan-pelan ke arah yang salah.
Dia pintu.
Konferensi pers tempat aku membelanya. Malam-malam aku menunggunya pulang. Gala amal itu, dansa itu, jawabanku pada wartawan. Berandanya. Ciuman itu. Kotak di saku kiriku.
Semua itu aku berikan pada seseorang yang menuliskan namaku sebagai langkah ketiga.
Tanganku mulai dingin. Lucu sekali—aku pernah menghadapi rapat pemegang saham yang ingin menelanku hidup-hidup, pernah menandatangani kontrak yang salah satu angkanya bisa membangun gedung, dan tidak pernah sekali pun tanganku dingin. Tapi dua puluh tiga lembar kertas murah dari percetakan pinggir jalan membuatnya terjadi dalam waktu kurang dari satu menit.
Aku teringat ibuku pernah berkata: luka paling dalam tidak datang dari musuh. Luka paling dalam datang dari arah yang tidak kamu jaga—karena kamu kira di situlah rumahmu.
"Tuan Kevin?" Suara perawat. "Anda tidak apa-apa? Wajah Anda—"
Aku tidak menjawab. Aku menatap pintu lift di ujung koridor, dan pintu itu baru saja terbuka, dan Jingga keluar dari dalamnya—napasnya memburu, rambutnya berantakan oleh perjalanan, matanya langsung mencari dan menemukan mataku.
Aku melihat persis detik ketika ia melihat amplop di tanganku.
Aku melihat persis detik ketika wajahnya tahu.
Dan aku berjalan ke arahnya, di koridor yang panjang itu, dengan dua puluh tiga lembar kertas yang tiba-tiba lebih berat dari apa pun yang pernah kuangkat.
***
Normal Pov.
Mereka berdiri berhadapan di tengah koridor. Orang-orang di ruang tunggu perlahan berhenti berbicara.
"Kevin—" Jingga mulai.
"Kamu datang untuk menceritakan sesuatu." Suara Kevin tidak tinggi. Itu yang membuat seluruh lantai lima mendengarkan. "Ada yang harus kamu ceritakan sebelum operasi Ibu mulai. Biar kutebak—ini?" Ia mengangkat lembar-lembar itu. "Ini yang mau kamu ceritakan? Atau ini yang mau kamu ceritakan karena kamu sudah tahu ini akan sampai ke tanganku?"
"Tidak. Kak, dengarkan aku—"
"Siapa kamu?" Kalimat itu keluar pelan, nyaris lembut, dan justru karena itu menghantam seperti palu. "Sungguhan. Aku ingin tahu. Karena perempuan yang kucintai tidak pernah ada, kan? Yang ada cuma ini. Langkah satu, langkah dua, langkah tiga."
"Perempuan yang kamu cintai ADA," suara Jingga akhirnya pecah. "Dia ada, dia berdiri di depanmu sekarang, dan dia sudah lama bukan orang yang menulis itu—"
"Tulisan tanganmu."
"Tulisan tanganku."
"Rencanamu."
"Ayahku dibunuh, Kevin!" Untuk pertama kalinya suara Jingga naik, dan setengah lantai terlonjak. "Perempuan itu meracuninya setahun penuh dan menari di atas kuburnya, dan aku sembilan belas tahun sendirian dengan kamar pengintai dan dendam—ya, aku menulisnya! Aku menulis semuanya! Aku menulis namamu seperti orang menulis nama jembatan yang harus kulewati! Tapi jembatan tidak bisa mencintai balik orang yang menyeberanginya, dan aku—" suaranya patah di tengah "—aku berhenti jadi orang itu di suatu tempat antara cangkir yang kutukar dan malam-malam yang tidak kurencanakan. Aku datang ke sini pagi ini untuk menceritakannya. Dengan suaraku sendiri. Itu satu-satunya kebenaran yang penting."
Kevin menatapnya. Lama. Dan ada satu detik—satu detik saja—ketika sesuatu di matanya goyah, ketika tangannya yang menggenggam kertas-kertas itu mengendur, ketika seluruh lantai lima menahan napas menunggu seorang pria memutuskan apakah ia akan memercayai cintanya atau lukanya.
Lalu lampu di atas pintu operasi berkedip. Pintu itu terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas maskernya, mencari wajah Kevin, dan tersenyum:
"Operasinya berhasil, Tuan. Ibu Anda selamat."
Kevin menutup matanya. Membukanya. Dan ketika ia berbicara lagi, suaranya sudah jauh—suara seseorang yang berdiri di dua kebahagiaan dan satu pengkhianatan pada jam yang sama, dan tidak punya ruang untuk ketiganya.
"Pergi, Jingga," katanya. "Aku harus menemui ibuku. Dan aku tidak tahu lagi siapa yang boleh ada di ruangan itu bersamaku."
Normal Pov End.