Jingga Pov.
Aku tidak pergi.
Kalian harus tahu itu. Aku tidak berbalik dan berlari seperti di cerita-cerita. Aku berdiri di koridor itu, di depan lelaki yang baru saja memintaku pergi, di depan separuh keluarganya, di depan Nada yang menangis diam-diam di dekat jendela—dan aku menyelesaikan apa yang datang untuk kukatakan.
"Aku tahu kamu tidak akan mempercayai apa pun hari ini," kataku. Suaraku gemetar, tapi tidak berhenti. "Jadi aku tidak meminta kamu percaya. Aku cuma mau satu hal ini tercatat di udara, biar suatu hari, kalau kamu siap, kamu bisa menemukannya lagi: aku datang ke rumah itu untuk menghancurkan Mei. Benar. Aku mendekatimu karena kamu ada di peta. Benar. Tapi di suatu malam—aku bahkan tidak bisa menunjuk malam yang mana, Kak, dan itu bagian yang paling jujur—kamu berhenti jadi pintu. Kamu jadi rumah."
Kevin tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Ia memegang kertas-kertas itu seperti orang memegang pecahan.
"Kalau aku masih orang yang menulis buku itu," lanjutku, "aku tidak akan datang pagi ini. Aku akan membiarkan amplop ini sampai dan menyiapkan pembelaan. Orang yang merencanakan selalu menyiapkan pembelaan, Kak. Kamu tahu itu—kamu pernah menikahi orang seperti itu. Aku datang dengan tangan kosong. Itu bedanya. Itu satu-satunya bukti yang kupunya, dan aku tahu hari ini nilainya nol."
Lalu aku membungkuk—pelan, dalam, ke arah pintu operasi tempat ibunya sedang dijahit kembali—dan berkata hal terakhir:
"Sampaikan pada Ibu: terima kasih sudah membela orang asing sejak hari pertama. Doanya didengar."
Aku berbalik. Berjalan ke lift. Dan Kevin Pratama tidak memanggilku, tidak sekali pun, sepanjang koridor yang panjang itu—dan bunyi pintu lift yang menutup di depanku adalah bunyi yang akan kudengar di kepalaku selama bertahun-tahun setelahnya.
***
Normal Pov.
Berita itu pecah dua hari kemudian, dan pecahnya dengan presisi seorang ahli bedah.
Bukan foto-foto buku catatan itu yang tersebar—Mei terlalu pintar untuk melempar barang bukti yang bisa dilacak ke percetakan. Yang tersebar cukup ceritanya: "Sumber terpercaya: Jingga Broto mengatur pertemuannya dengan Kevin Pratama sejak awal. Ada bukti tulisan tangan. Konferensi pers, gala, semua bagian dari rencana."
Publik—yang dua minggu lalu membela Jingga mati-matian setelah selang rem—berbalik lagi dengan kecepatan yang menjijikkan dan manusiawi sekaligus. Televisi memutar ulang foto-foto gala dengan narasi baru. "Perempuan itu merencanakan semuanya." "Kasihan Kevin Pratama, dua kali tertipu." "Dari pembunuh bayaran ke perencana cinta—keluarga Broto memang penuh cerita."
HA Express kehilangan dua klien dalam seminggu. Lisa menolak dua wartawan di gerbang kantor. Dan di ruang kerjanya, Jingga duduk mendengarkan semua itu dengan wajah orang yang sudah menghitung harga ini sejak lama—karena ia memang sudah. Ia cuma tidak menyangka harganya dibayar sekaligus.
"Kita lawan," kata Lisa, suaranya bergetar karena marah. "Kita bisa jelaskan—"
"Jelaskan apa?" Jingga menatap layar. "Bahwa buku itu nyata? Buku itu memang nyata, Lisa. Aku tidak bisa melawan kebenaran. Aku cuma bisa menunggu orang-orang lelah menghakimi kebenaran. Itu biasanya butuh... lama."
***
Kevin Pov.
Ibuku bertanya pada hari kelima setelah operasinya.
Kami sudah menjaganya dari berita—perawat menyimpan koran, televisi di kamar rawat "rusak" secara ajaib. Tapi Ibuku adalah perempuan yang membangun Pratama Group dari sebuah ruko; ia membaca wajahku seperti membaca laporan keuangan.
"Mana Jingga," katanya. Bukan pertanyaan.
Aku menceritakannya. Semuanya. Buku itu. Langkah tiga. Amplop pukul delapan. Kata-kataku sendiri di koridor—aku tidak menghapus satu pun, bahkan yang paling menyakitkan, karena aku sudah terlalu lelah untuk tampil baik bahkan di depan ibuku sendiri.
Ibuku mendengarkan sampai habis. Ginjal barunya bekerja dengan baik; wajahnya sudah punya warna yang belum pernah kulihat bertahun-tahun. Tapi matanya menatapku seperti aku baru saja menyerahkan laporan yang salah hitung.
"Jadi," katanya akhirnya, "perempuan itu datang untuk menghancurkan orang yang membunuh ayahnya."
"Dan aku adalah langkah tiganya."
"Kevin." Ibuku mencondongkan tubuh, dan untuk sesaat suaranya adalah suara yang dulu membuat direktur-direktur mundur teratur. "Kamu bertemu ayahnya dua kali. Kamu tidak tahu apa artinya kehilangan orang tuamu di tangan seseorang dan dibiarkan hidup untuk menonton pelakunya tertawa. Aku juga tidak. Tapi aku tahu ini: perempuan itu menyelamatkan nyawamu dua kali sebelum dia punya alasan apa pun untuk peduli padamu. Cangkir itu, Kevin. Rencana tidak menukar cangkir. Rencana membiarkan cangkir itu diminum."
Aku diam.
"Dan satu lagi," kata Ibuku, lebih pelan. "Dia datang ke rumah sakit untuk mengaku. Sendirian. Pagi-pagi. Kamu tahu apa yang dilakukan perempuan bersalah di hari operasi? Tidak datang. Dia datang, Kevin. Amplop itu datang pukul delapan tepat—pukul delapan TEPAT—di rumah sakit tempat kita semua berkumpul. Kamu tidak bertanya-tanya siapa yang tahu jadwal operasi ibumu sedetail itu?"
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak koridor itu, sebuah retakan muncul di permukaan keyakinanku—kecil, tipis, tapi cukup untuk membuat segala sesuatu di baliknya berbunyi.
***
Normal Pov.
Retakan itu tidak mengubah apa pun hari itu. Retakan tidak pernah langsung mengubah apa pun.
Kevin tetap tidak menelepon. Jingga tetap tidak mengirim pesan. Dua orang yang saling mencintai berdiri di dua sisi kota yang sama, sama-sama menunggu yang lain bergerak duluan, dan di antara mereka, waktu bekerja seperti waktu selalu bekerja: mengubah luka menjadi jarak, dan jarak menjadi kebiasaan.
Sidang wasiat dimulai dua minggu lagi. Sidang perceraian sebentar lagi. Musim hujan mulai turun di kota itu, sore demi sore, seperti rutinitas yang tidak peduli pada siapa pun.
Dan di kamarnya yang sunyi, Jingga Broto mulai muntah di pagi hari.
Awalnya ia mengira itu stres. Lalu ia mengira itu maag. Lalu suatu pagi, di depan cermin kamar mandi, ia berhenti mengira apa-apa—karena kalender di ponselnya menunjukkan sesuatu yang tidak bisa dibantah oleh dua puluh tiga halaman rencana mana pun.
Ia duduk di tepi bathtub, di rumah besar yang sunyi, dan menatap tanggal-tanggal itu sangat lama.
"Ya Tuhan," bisiknya pada cermin. Pada perutnya yang masih rata. Pada hidupnya yang baru saja menambahkan satu halaman yang tidak pernah ada di buku catatan mana pun.
Jingga Pov End.