Normal Pov.
Ada satu malam yang tidak pernah masuk ke buku catatan mana pun.
Bukan karena disembunyikan—tapi karena ada hal-hal yang tidak bisa ditulis tanpa kehilangan separuh artinya. Seminggu sebelum operasi Sinta, di malam terakhir sebelum badai, Kevin dan Jingga berhenti berpura-pura bahwa waktu mereka masih panjang. Tidak ada janji besar, tidak ada kata-kata penting. Cuma dua orang yang sudah terlalu lama berdiri di tepi, dan malam itu memutuskan untuk tidak berdiri sendirian.
Pagi harinya, mereka tidak membicarakannya. Orang yang bahagia jarang membicarakan kebahagiaannya—ia mengira masih ada seribu pagi yang sama.
Tidak ada seribu pagi. Ada tepat satu.
Dan sembilan minggu setelah amplop pukul delapan itu, di sebuah klinik kecil di pinggir kota—klinik yang dipilih karena tidak ada satu pun orang di dalamnya yang akan mengenali wajahnya—Jingga Broto menatap dua garis merah muda di layar seorang dokter perempuan, dan dunia berhenti untuk kesekian kalinya.
***
Dokter Pov.
Pasien di depanku masih sangat muda. Dua puluh satu, paling jauh dua puluh dua.
"Sembilan minggu," kataku, membaca layar. "Denyut jantungnya sudah terlihat. Mau saya tunjukkan?"
Aku sudah melakukan ini ribuan kali, dan aku sudah belajar membaca jeda. Ada jeda yang berarti bahagia. Ada jeda yang berarti panik. Ada jeda yang berarti seorang perempuan sedang menghitung seluruh hidupnya ulang dalam tiga detik.
Pasien ini punya jeda yang berbeda. Ia menatap titik kecil yang berdenyut di layar itu, dan air matanya jatuh, dan tangannya terangkat ke perutnya sendiri—dan ekspresinya bukan panik, bukan bahagia. Ekspresinya adalah ekspresi seseorang yang baru saja diberi satu-satunya harta yang tersisa, tepat setelah semua hartanya yang lain dirampas.
"Dokter," katanya akhirnya, dengan suara yang berusaha datar dan gagal di dua tempat. "Kalau saya ingin anak ini sehat, apa yang harus saya berhenti lakukan?"
Bukan "apakah saya sanggup". Bukan "bagaimana dengan ayahnya". Pertanyaan pertamanya tentang anak itu adalah: apa yang harus dihentikan demi dia.
Aku menjawabnya seperti menjawab semua ibu muda: stres dulu yang dikurangi, Nak. Dan ia tertawa kecil—tawa yang basah—seperti orang yang baru mendengar lelucon paling mustahil di dunia.
***
Jingga Pov.
Aku tidak memberi tahu siapa pun selama tiga hari.
Bukan Nada. Bukan Bibi Sarah. Bukan Lisa. Aku menyimpan titik kecil yang berdenyut itu seperti menyimpan surat terakhir Ayah: di tempat yang paling dalam, ditutup dengan tawa dan rapat dan rapor bulanan HA Express.
Tapi rahasia punya bau, dan Bibi Sarah punya hidung yang ditempa empat puluh tahun di dapur.
Malam keempat, ia masuk ke kamarku tanpa mengetuk—hak istimewa yang hanya kuberikan pada dua orang, dan satu di antaranya sudah meninggal. Ia duduk di tepi ranjangku. Ia tidak bertanya. Ia cuma berkata:
"Sudah berapa minggu, Nak?"
Dan aku—yang dua belas tahun tidak pernah ditangkap basah oleh siapa pun—pecah seperti bendungan dari kayu lapuk. Aku menceritakan semuanya ke bahunya. Dua garis. Klinik itu. Denyut kecil di layar. Dan keputusan yang sudah kuambil bahkan sebelum dokter itu selesai bicara.
"Aku tidak akan memberi tahu Kevin, Bi."
Bibi Sarah tidak langsung menjawab. Tangannya mengusap rambutku, pelan, seperti mengusap sesuatu yang bisa retak.
"Bukan karena dendam," lanjutku. "Bukan karena gengsi. Tapi dengar aku baik-baik, Bi. Kalau aku datang sekarang, dengan berita ini, di tengah semua ini—apa yang akan dilihat dunia? Perempuan perencana yang menemukan langkah empat. Dekati Kevin Pratama. Gagal? Tidak apa-apa. Bawa anaknya. Aku tidak akan memberi mereka halaman itu. Anakku tidak akan lahir sebagai alat bukti, tidak akan jadi papan tawar, tidak akan jadi cara kembali ke rumah mana pun. Dia bukan langkah apa-apa. Dia—" suaraku pecah, dan kali ini aku membiarkannya "—dia milikku. Satu-satunya yang benar-benar milikku."
Bibi Sarah menarik napas panjang. "Dan kalau suatu hari dia bertanya siapa ayahnya?"
"Maka suatu hari aku akan menjawabnya. Dengan jujur. Semuanya." Aku mengangkat wajahku. "Tapi itu percakapan antara aku dan anakku, Bi. Bukan antara aku dan koran."
Perempuan tua itu menatapku lama sekali. Lalu ia berdiri, mengambil selimut, menyelubungkannya ke bahuku, dan berkata dengan nada seorang jenderal yang menerima keputusan perang:
"Kalau begitu mulai besok kamu makan dua kali lebih banyak. Dan pindah ke kamar bawah. Aku tidak mau cucuku naik tangga."
***
Normal Pov.
Di sisi kota yang lain, pada malam yang sama, Tono bekerja lembur di berkas yang seharusnya sudah selesai.
Ia tidak pernah melepaskan amplop pukul delapan itu. Percetakan yang mengantarnya sudah ditemukan—toko kecil, pembayaran tunai, pemesan memakai topi dan masker. Jalan buntu, kata laporan awal. Tapi Tono sudah dua belas tahun mengenal aroma pekerjaan orang yang sama.
Ia menyusun tiga hal di mejanya: laporan Danu Wirya. Berkas perceraian yang sedang berjalan. Dan jadwal operasi Sinta Pratama—yang diketahui persis, sampai ke jam dan lantainya, oleh mungkin dua puluh orang.
Dua puluh orang. Ditambah satu perempuan yang tidak ada di daftar itu—tapi yang kerabatnya masih punya mata di mana-mana.
Tono mengetuk-ngetukkan penanya ke meja.
"Kamu melanggar penangguhanmu, Mei," gumamnya pada berkas-berkas itu. "Entah bagaimana caranya, kamu melanggarnya. Dan begitu aku bisa membuktikan dari mana amplop itu datang..."
Ia menatap foto buku catatan yang diserahkan Tiara—sudah masuk berkas resmi, sudah tidak rahasia lagi—dan untuk pertama kalinya, ia membaca halaman paling tua itu dengan mata polisi, bukan mata publik. Langkah tiga. Ia membaca tanggalnya. Ia membaca halaman-halaman sesudahnya, yang makin lama makin jarang, makin pendek, sampai halaman terakhir yang cuma berisi satu kalimat tanpa rencana apa pun:
"Hari ini dia tertawa. Aku lupa mencatat apa pun."
Tono menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Astaga," katanya pelan pada ruangan kosong. "Dia berhenti merencanakan di tengah jalan. Buktinya ada di buku itu sendiri. Dan semua orang membaca buku itu kecuali halaman terakhirnya."
Ia mengangkat teleponnya, membuka nama Kevin, dan menatapnya lama.
Lalu ia menurunkannya kembali. Bukan urusannya—belum. Tugasnya sekarang: amplop, percetakan, dan seorang tersangka yang menari di pinggir hukum.
Cinta Kevin Pratama harus diperbaiki Kevin Pratama sendiri.
Normal Pov End.