Normal Pov.
Sidang pembunuhan berencana itu dibuka pada hari Senin, dan kota itu datang seperti datang ke pemakaman atau pertunjukan—sulit membedakan keduanya.
Ini bukan lagi sidang tentang selembar wasiat. Ini perkara yang dua tahun menggantung di udara kota seperti bau sesuatu yang busuk di balik dinding: kematian Karim Broto, pengusaha ekspedisi, dermawan, ayah—yang dulu ditulis sebagai "serangan jantung" di semua koran, dan yang sekarang duduk di meja persidangan sebagai kata-kata yang berbeda: dugaan pembunuhan berencana dengan cara peracunan berkelanjutan.
Mei Anjani memasuki ruang sidang dengan pakaian terdakwa dan kepala tegak, dan wartawan memotretnya seperti memotret ratu yang turun takhta. Ia menolak kursi roda yang ditawarkan. Ia berjalan sendiri.
Di barisan pengunjung: Jingga—tujuh bulan, duduk di samping Bibi Sarah, dengan Sinta di sebelahnya lagi seperti benteng kedua. Kevin dua baris di depan, tidak menoleh, tapi tangannya di lutut mengepal sepanjang pembacaan dakwaan.
***
Normal Pov.
Jaksa membacakannya pelan-pelan, dan setiap pasal terdengar seperti langkah kaki di koridor yang panjang.
Bahwa terdakwa, selama kurang lebih sebelas bulan, secara berencana dan berkelanjutan mencampurkan zat antikoagulan ke dalam makanan dan minuman almarhum Karim Broto—suaminya sendiri—dengan takaran yang diatur sedemikian rupa sehingga kematiannya akan tampak seperti kegagalan jantung alami. Bahwa terdakwa memperoleh zat itu melalui empat kali pembelian di Apotek Kurnia menggunakan nama orang lain. Bahwa terdakwa mengawasi perkembangan kondisi korban melalui mata-mata bayaran—saksi Danu Wirya—yang diperintah mencatat, antara lain, "berapa kali korban muntah". Dan bahwa pada malam kematian korban, terdakwa adalah satu-satunya orang yang menyiapkan dan menyajikan makan malam korban, yang dari endapannya—diuji ulang atas perintah penyidik—ditemukan sisa zat yang sama.
"Terdakwa tidak membunuh dengan pisau, Yang Mulia," kata jaksa, menutup mapnya. "Terdakwa membunuh dengan kalender. Sebelas bulan, sedikit demi sedikit, sambil menyiapkan wasiat palsu untuk menyambut mayatnya. Kami akan membuktikan bahwa ini bukan kehilangan. Ini panen."
Di kursi terdakwa, Mei tersenyum tipis—senyum orang yang mendengar ramalan cuaca.
Pengacaranya membuka pembelaan dengan rapi: tidak ada saksi mata, zat yang sama bisa diperoleh dari banyak sumber, dan almarhum—katanya—adalah lelaki dengan stres berat yang kesehatannya memang sudah lama menurun. Jaksa menyanggahnya tanpa meninggikan suara: menurun karena sakit, atau menurun karena diturunkan? Itu, katanya, yang akan dibuktikan para saksi.
***
Normal Pov.
Saksi-saksi datang seperti iring-iringan.
Dokter Gunawan membawa map cokelatnya dan dua puluh tahun persahabatan, dan kali ini ia tidak gemetar: ia membacakan tanggal demi tanggal pemeriksaan, gejala demi gejala, dan mengakhiri dengan kalimat yang membuat satu juri menunduk—"Saya dokternya. Tapi saya gagal jadi temannya. Hari ini saya menagih kegagalan itu."
Danu Wirya dibawa dari tahanan dengan borgol, dan ia bersaksi tanpa mengangkat wajah: motor, amplop, laporan mingguan, dan malam-malam ketika ia mengira dirinya cuma mengawasi seorang suami yang sakit—"sampai saya sadar saya sedang menghitung mundur kematian orang."
Pak Darmadi, pemilik Apotek Kurnia, menyerahkan buku besar aslinya dengan tangan yang berkeringat, dan mengakui di depan hakim hal yang selama setahun tidak berani ia akui: bahwa ia pernah didatangi "seorang nyonya berkerudung" yang memintanya menghapus halaman—dan bahwa ia, takut dan serakah, cuma menyembunyikan buku itu, bukan melapor.
Bi Imah menangis saat bersaksi, dan tangisnya bukan kelemahan: "Saya yang menyajikan makanannya, Yang Mulia. Saya. Tangan ini. Kalau saya tahu—kalau saya tahu—" dan seluruh ruangan membiarkannya selesai menangis, karena tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang sanggup menyuruhnya cepat-cepat.
***
Mei Pov.
Mereka menyusunnya dengan rapi. Harus kuakui—dengan sangat rapi.
Setiap saksi adalah satu bata, dan jaksa itu membangun dinding di sekelilingku bata demi bata, sambil sesekali melirikku untuk memastikan aku melihatnya. Notaris. Pembantu. Mata-mata. Dokter. Pedagang obat. Bahkan Angelica kecilku—Tiara—duduk di barisan saksi dengan wajah yang sudah kumaafkan sejak lama, karena orang lemah tidak perlu dimaafkan; mereka cuma perlu dipahami, seperti memahami cuaca.
Tapi dinding punya satu pintu. Selalu ada.
Pengacaraku sudah kuberi tahu di mana pintunya, dan sore itu, di akhir sidang, ia membukanya dengan satu kalimat yang sederhana:
"Yang Mulia, pihak terdakwa mengajukan satu fakta yang selama ini disembunyikan jaksa: bahwa Jingga Broto—pelapor, ahli waris, dan satu-satunya orang yang diuntungkan oleh perkara ini—telah terbukti menjalankan operasi balas dendam terselubung terhadap terdakwa sejak sebelum perkara ini ada. Kami mengajukan salinan buku catatannya sebagai bukti T-14."
Ruangan itu bergemuruh seperti kandang dilempar batu.
Aku menyandarkan punggungku dan menikmatinya. Kalian lihat, Yang Mulia? Kalian membangun dinding dari saksi-saksiku. Aku membangun pintu dari saksi kalian.
Karena kalau gadis itu datang untuk menghancurkanku—dengan rencana, dengan buku, dengan dua puluh tiga halaman kebencian yang rapi—maka siapa yang bisa membuktikan bahwa semua ini, dari awal, bukan karyanya? Bahwa racun itu bukan idenya? Bahwa aku cuma perempuan tua yang dijebak oleh anak tiri yang membenciku?
Kebenaran tidak perlu menang di pengadilan. Yang perlu menang cuma keraguan.
Dan keraguan, Yang Mulia, baru saja masuk ruangan lewat pintu T-14.
***
Normal Pov.
Sidang ditunda seminggu untuk mempelajari bukti T-14.
Di luar gedung, wartawan mengepung Jingga sampai Mang Asep dan dua pengawal harus membuka jalan. Pertanyaan-pertanyaan itu datang seperti lemparan: "Benar Anda merencanakan semuanya?" "Apakah perkara ini balas dendam?" "Mbak Jingga, Anda yang meracuni—"
Pertanyaan terakhir itu tidak selesai, karena seorang lelaki menembus kerumunan dan berdiri di antara Jingga dan kamera, dan lelaki itu adalah Kevin Pratama, dan suaranya ketika bicara tidak tinggi—tapi seluruh pelataran mendengarnya:
"Buku itu ada di berkas resmi kepolisian sejak empat bulan lalu. Anda semua bisa membacanya. Saya sudah. Sampai habis—dua kali, karena saya pernah gagal sekali. Dan kalau Anda membaca sampai habis, Anda akan menemukan halaman terakhirnya, yang tidak akan pernah diberitakan karena tidak menjual: halaman tentang orang yang berhenti merencanakan karena jatuh cinta. Sekarang minggir. Dia sedang mengandung cucu ibu saya."
Ia membuka pintu mobil untuk Jingga. Dan kali ini, di depan lima puluh kamera, Jingga Broto tidak menolak tangannya.
Normal Pov End.