Normal Pov.
Seminggu penundaan itu menjadi minggu paling ramai dalam sejarah perkara itu.
Bukti T-14—salinan buku catatan Jingga—dipelajari majelis, diperiksa ahli tulisan tangan, dibandingkan dengan berkas kepolisian, dan dibahas di setiap meja makan di kota itu. Teori pengacara Mei menyebar seperti dirancang: kalau anak tiri itu merencanakan segalanya, siapa yang bisa membuktikan dia tidak merencanakan racunnya juga? Tidak banyak yang percaya—tapi keraguan tidak perlu banyak. Keraguan cuma perlu ada.
Dan pada hari Senin berikutnya, jaksa penuntut umum mengajukan satu permintaan yang tidak biasa: memanggil satu saksi tambahan. Bukan saksi baru. Saksi yang sudah ada di daftar sejak awal, yang namanya selalu dilewati karena dianggap hanya melengkapi berkas.
"Penuntut umum memanggil saksi Jingga Broto."
***
Jingga Pov.
Aku sudah menunggu panggilan itu sejak aku sembilan belas tahun.
Aku berjalan ke depan dengan perut tujuh bulan dan dagu yang Ayah wariskan, dan aku mengangkat sumpah dengan tangan yang tidak gemetar—aku sudah memeriksanya; dua belas tahun aku berlatih untuk tangan yang tidak gemetar.
Jaksa bertanya hal-hal yang sudah kami siapkan: kapan aku mulai curiga, apa yang kutemukan, bagaimana kaleng biru itu berpindah. Aku menjawab dengan tenang. Fakta-fakta. Tanggal-tanggal. Nada suara yang sudah kupilih sejak lama: bukan korban, bukan pahlawan—anak yang kehilangan ayah dan menolak berbohong tentang itu.
Lalu giliran pengacara Mei.
Ia mendekat dengan buku catatanku di tangannya—buku catatanku, dipegangnya seperti piala—dan ia tersenyum, senyum orang yang mengira dirinya baru saja diserahi sebilah pedang.
"Saudari Jingga," katanya lembut. "Anda menulis, dan saya kutip: 'Langkah tiga: dekati Kevin Pratama. Jadi kelemahannya.' Anda mengakui Anda merencanakan hidup orang-orang di sekitar Anda?"
"Aku mengakui aku menulisnya."
"Anda mengakui Anda mendekati keluarga Pratama dengan rencana?"
"Aku mengakui aku mendekati dengan rencana." Aku menatapnya. "Apakah Anda mau mendengar jawabanku sampai habis, atau cuma sampai kutipan yang bisa dijual?"
Hakim menegurku halus. Pengacara itu mengangguk, tersenyum lebih lebar, mengira ia menang.
"Maka jawablah. Apakah ada sesuatu dalam rencana Anda yang tidak Anda kerjakan? Apa pun. Satu saja."
Dan di situlah—di situlah—aku mengambil napas, dan mengeluarkan satu-satunya senjata yang tidak bisa dipotong dua puluh tiga foto mana pun:
"Ada," kataku. "Rencanaku memerintahkan aku membiarkan Kevin Pratama meminum racun yang disiapkan untuknya—dua kali—karena kematiannya akan membuat Mei kehilangan satu-satunya tali kendalinya ke Pratama Group, dan itu menguntungkan misiku. Rencanaku, Yang Mulia, membutuhkan Kevin mati atau cerai dalam kesulitan. Dan aku menukar cangkirnya. Dua kali. Dengan tanganku sendiri. Tanpa memberi tahu siapa pun. Karena di titik itu—" suaraku akhirnya bergetar, dan aku membiarkannya, karena dua belas tahun latihan tidak pernah mencakup bagian ini "—di titik itu aku sudah tidak sanggup membaca rencanaku sendiri."
Ruangan itu sunyi seperti gereja.
"Aku tidak keberatan buku itu dibaca siapa pun," kataku, menatap hakim, bukan pengacara itu. "Tapi bacalah sampai halaman terakhir. Jangan berhenti di halaman tiga. Orang yang berhenti di halaman tiga—" dan di sini, tanpa rencana, mataku menemukan Kevin di barisan kedua "—akan kehilangan seluruh cerita."
***
Normal Pov.
Mei Anjani mengambil sikap berdiri ketika diberi kesempatan bicara di akhir persidangan itu.
Ia tidak membantah racunnya—pengacaranya sudah menghitung bahwa membantah yang tidak bisa dibantah hanya menambah hukuman. Ia memilih panggungnya yang terakhir untuk hal lain.
"Saya hanya mau mengatakan satu hal, Yang Mulia," katanya, dan suaranya masih suara nyonya besar, masih mengisi ruangan seperti parfum mahal. "Selama dua belas tahun saya berdiri di rumah itu, semua orang melihat apa yang terjadi. Pelayan melihat. Sopir melihat. Pedagang obat melihat. Notaris melihat. Tidak ada satu pun yang bicara. Saya tidak menyesal atas apa yang kalian sebut kejahatan saya—sejarah tidak ditulis oleh yang menyesal. Saya cuma ingin tercatat: saya tidak pernah sendirian. Setiap orang yang diam adalah batu bata di rumah yang saya tinggali. Dan rumah itu—" ia menyapu ruangan dengan matanya, pelan, ke setiap wajah "—masih berdiri. Kalian tinggal di dalamnya."
Hakim mengetuk palu, menyatakan pembelaan ditutup, putusan dijadwalkan dua minggu.
Tapi kata-kata itu sudah dilepaskan, dan beberapa orang di ruangan itu—beberapa yang pernah menerima amplop, pernah menutup mata, pernah memilih gaji daripada suara—menunduk dan tidak mengangkat wajah lagi hari itu.
***
Normal Pov.
Malam itu, di teras rumah Broto, Kevin datang pukul lima seperti biasa—hari ke-36, tidak ada yang menghitung kecuali seluruh rumah—tapi kali ini Jingga tidak menunggu di teras.
Ia menunggu di gerbang.
Dan ketika Kevin turun dari mobil dengan termosnya, Jingga membukakan gerbang itu lebar—kedua sisinya—dan berdiri di tengahnya.
"Sepuluh menit," katanya.
Kevin membeku. "Apa?"
"Malam sebelum operasi Ibumu, aku mengetik pesan yang tidak pernah sempat kukirim: jangan marah sebelum aku selesai, aku butuh kamu diam sepuluh menit saja." Jingga menatapnya, lurus, tanpa perisai apa pun. "Kamu tidak pernah memberiku sepuluh menit itu. Jadi sekarang aku yang memberimu. Duduklah. Jangan bicara. Sepuluh menit—aku yang bicara, kamu mendengar, dan setelah itu kamu boleh pergi selamanya dan aku tidak akan memasang satu pun kamera untuk menunggumu."
Kevin duduk di kursi teras itu seperti orang yang duduk di tepi tebing.
Dan Jingga bercerita. Semuanya. Dari awal—dari malam ia mendengar ayahnya mati, dari kamar pengintai, dari tinta merah dan peta dan perempuan sembilan belas tahun yang mengira dendam itu sejenis iman. Dari langkah satu, dua, tiga. Dari cangkir-cangkir yang ditukar. Dari malam ia berhenti mencatat. Dari amplop, koridor, lift yang menutup. Dari dua garis merah muda dan klinik pinggir kota dan keputusan untuk tidak menelepon.
Sepuluh menit tepat. Tidak lebih. Ia mengakhirinya dengan kalimat yang sudah ia siapkan bertahun-tahun tanpa tahu untuk siapa:
"Aku tidak minta kamu percaya. Aku cuma menyerahkan halaman-halaman yang tidak sempat difoto siapa pun. Sekarang buku itu lengkap. Kamu boleh menilainya."
Lalu ia diam, dan hujan rintik mulai turun lagi, dan Kevin Pratama tidak pergi selamanya.
Kevin Pratama berlutut di teras itu, di depan perut tujuh bulan itu, menempelkan dahinya ke lutut perempuan itu, dan menangis seperti orang yang akhirnya diizinkan pulang.
Jingga Pov End.