Di usianya yang ke-28, Aruna "Runa" Paramita telah mencapai puncak impian setiap juru masak: menjadi executive chef sekaligus pemegang saham restoran fine-dining paling bergengsi di Jakarta. Namun, dalam semalam, seluruh hidupnya dihancurkan. Adrian—tunangan sekaligus mitra bisnis yang paling ia percayai—bekerja sama dengan para investor untuk membuang Runa. Tidak hanya melucuti hak atas restoran dan resep-resep kreasinya, Adrian memfitnah Runa sebagai sosok yang tak stabil secara mental serta melakukan penggelapan dana.
Terusir dari ibu kota dengan tabungan habis untuk biaya hukum dan reputasi hancur total, Runa melarikan diri ke sebuah desa pesisir kecil di pesisir Jawa Tengah. Satu-satunya aset tersisa hanyalah bangunan kayu tua beratap bocor peninggalan mendiang neneknya: Warung Makan Bu Mul. Di dalam ruang berbau tanah dan air mata itu, Runa jatuh ke titik terendah keputusasaan, merasa harga dirinya sebagai manusia telah habis tak berbekas.
Di tengah puing-puing hidupnya, Runa bertemu dengan Bara Aksara (31 tahun), seorang tukang kayu lokal dan sukarelawan SAR yang hidup tenang namun memendam luka masa lalunya sendiri. Bara tidak datang sebagai pahlawan yang memanjakan atau menyelesaikan masalah Runa. Sebaliknya, Bara berdiri di sampingnya—mengajari Runa memegang martil untuk memperbaiki atapnya sendiri, menyediakan kayu yang kokoh, dan menjadi tempat bersandar saat trauma Runa membakar dadanya.
Melalui olahan masakan berbahan dasar lokal, keringat perjuangan, dan garam kehidupan, Runa perlahan merangkak naik. Dari warung kayu sederhana itu, ia membangun kembali nilai dirinya (self-worth)—bukan lagi berdasarkan pengakuan elit perkotaan, melainkan dari ketangguhan jiwanya sendiri. Bersama Bara yang menjadi jangkarnya, Runa bersiap menghadapi bayang-bayang masa lalunya untuk mengambil kembali kehormatannya.