BAB 2: Bau Kayu dan Sup Garam
Aruna bersedekap, mencoba menutupi tubuhnya yang bergetar. Kedinginan dan demam membuat pandangannya berbayang, tetapi harga dirinya yang tersisa menolak terlihat lemah di depan pria asing yang berdiri di terasnya.
"Aku tidak butuh bantuan," kata Aruna. Suaranya serak, nyaris tak lebih keras dari gesekan daun trembesi di luar. "Aku bisa panggil tukang kayu lain nanti. Kamu bisa pergi."
Bara tidak bergerak. Mata cokelat gelapnya yang tenang menatap Aruna tanpa ekspresi menghakimi, membuat ketegangan Aruna makin menjadi-jadi. Pria itu menyandarkan sebelah bahunya ke tiang teras, memperhatikan Runa seperti seorang tukang kayu yang sedang mengukur ketahanan sebatang balok yang retak.
"Di desa ini cuma ada dua tukang kayu," kata Bara datar, suaranya tenang dan teratur. "Yang satu Pak Lik Usman, umur enam puluh delapan tahun dan sekarang lagi encok. Yang satu lagi saya. Dan kalau kamu pikir kamu bisa membiarkan teras ini tanpa pintu sampai nanti malam, angin laut bakal merobohkan sisa atap sengmu."
Bara tidak menunggu jawaban. Ia berbalik melangkah ke jalanan tanah, mendekati sebuah mobil bak terbuka tua berwarna hijau kusam yang terparkir beberapa meter dari warung. Dari bak belakang, ia mengangkut kotak perkakas kayu besar berbingkai besi dan dua balok kayu jati mentah yang tampak berat. Ia membawanya seolah barang-barang itu tak berbobot sama sekali, lalu meletakkannya dengan dentuman berat di atas lantai teras.
"Pintu ini gak bisa dipasang lagi di engsel lama," kata Bara sambil berlutut di dekat pintu yang terlepas. Tangannya yang kasar meraba pinggiran kayu jati tua yang terkikis. "Kecuali kamu mau bingkainya sekalian jebol minggu depan."
Aruna menggerakkan bibirnya, hendak memprotes keras, tetapi rasa pening mendadak menghantam belakang kepalanya bagai pukulan benda tumpul. Pandangannya berputar sejenak. Dunia bergetar liar, dan lututnya lemas begitu saja.
Ia tidak jatuh ke tanah karena tangannya refleks meraih sudut meja kayu terdekat. Napasnya memburu, peluh dingin meluncur di pelipisnya meski tubuhnya terasa membara.
Bara berhenti mengamati pintu. Ia berdiri perlahan, matanya terpaku pada tangan Aruna yang mencengkeram meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kamu sakit," kata Bara. Bukan pertanyaan, melainkan fakta sederhana.
"Cuma capek," tangkis Aruna cepat, memaksakan dirinya berdiri tegak, meskipun bahunya gemetar hebat. "Berapa harga kayu dan jasamu? Aku... aku bakal bayar. Tapi sekarang aku mau sendiri."
Bara menatapnya selama beberapa detik dalam keheningan yang menyesakkan. Ada keheningan yang ganjil pada diri pria itu—sebuah ketenangan yang tidak terburu-buru, sangat kontras dengan hiruk-pikuk orang-orang Jakarta yang pernah mengelilingi Aruna. Adrian selalu berbicara cepat, memotong kalimat, dan menuntut respons instan. Bara justru bergerak seolah waktu berjalan dua kali lebih lambat di sekitarnya.
"Dua ratus lima puluh ribu buat dua balok jati dan engsel baru," kata Bara. Ia meraih botol minum kaleng tebal dari dalam kotak perkakasnya, membukanya, lalu mengulurkannya pada Aruna. "Minum dulu. Air putih dingin."
Aruna menatap botol kaleng itu dengan penuh kewaspadaan. "Aku gak butuh—"
"Tenggorokanmu kering dan bibirmu pecah-pecah," potong Bara tanpa menaikkan nada suaranya sedikit pun. "Kalau kamu pingsan di dalam warung yang gak ada pintunya ini, saya gak bakal seret kamu ke puskesmas. Saya tukang kayu, bukan suster."
Penjelasan yang dingin dan tanpa romantisme itu anehnya justru melumpuhkan benteng pertahanan Aruna. Jika Bara bertindak sok pahlawan atau menunjukkan rasa kasihan, Aruna pasti akan langsung mengusirnya. Tapi Bara hanya bertindak rasional—hampir terkesan acuh tak acuh, namun sangat efektif.
Aruna merebut botol itu dengan jemari gemetar, lalu meneguk air di dalamnya serakah. Air dingin itu membasahi tenggorokannya yang terasa bagai gurun pasir.
Bara mengalihkan pandangan saat Aruna minum, memberinya privasi kecil yang tak diucapkan. Pria itu kembali berlutut, meraih pahat dan palu kayu dari kotaknya, lalu mulai bekerja membersihkan sisa-sisa engsel tua yang tersangkut di bingkai pintu.
Tok. Tok. Tok.
Suara pahat kayu beradu teratur mengisi udara pagi, menggantikan bisingnya pikiran di kepala Aruna.
Aruna duduk di salah satu kursi rotan tua yang masih utuh di dalam warung. Ia mengamati Bara yang bekerja di teras depan.
Pria itu bekerja dengan kepresisian yang familier di mata Aruna. Cara Bara mengukur kedalaman celah engsel dengan jangka kayu, cara matanya menilai keselarasan sudut, dan cara jemarinya mengelus permukaan kayu untuk memastikan kehalusannya—semua itu adalah bahasa ketelitian yang sangat dipahami Aruna. Di dapur fine-dining, Aruna melakukan hal yang sama pada daging, saus, dan potongan sayurannya. Ada rasa hormat mendalam yang terpancar dari seorang pengrajin yang menguasai alat kerjanya.
Setelah setengah jam mengamati ritme kerja Bara, Aruna menyadari satu hal: perutnya mencengkeram perih.
Ia belum makan apa pun sejak kemarin pagi. Rasa mual demamnya perlahan terkikis oleh rasa lapar yang tajam. Aruna berdiri, melangkah dengan kaki limbung menuju area dapur di bagian belakang warung.
Dapur Bu Mul adalah sebuah gubuk kayu kecil yang menempel di bangunan utama. Di tengahnya terdapat meja batu tua dengan kompor minyak tanah dua sumbu yang berkarat, sebuah kuali besi hitam tebal, dan rak kayu tempat piring-piring seng tersusun kusam. Di sudut ruangan, terdapat gentong tanah liat berisi air bersih yang baunya segar.
Aruna memeriksa rak-rak kusam itu dengan putus asa.
Tidak ada bahan makanan mewah seperti yang biasa ia olah. Tidak ada truffle butter, tidak ada potongan wagyu, tidak ada caviar, atau bumbu-bumbu impor berharga jutaan rupiah. Di rak kayu tua itu hanya ada:
* Satu kaleng seng berisi garam krosok (garam laut kasar) yang agak lembap.
* Beberapa siung bawang merah dan bawang putih yang sudah mulai bertunas dalam wadah bambu.
* Tiga buah cabai rawit tua yang mengering.
* Semangkuk kecil beras lokal bermerek tidak dikenal di dalam gentong beras kecil.
Ini adalah perbandingan yang menyedihkan. Seminggu lalu, Aruna memimpin sepuluh sous-chef di dapur berteknologi tinggi bernilai belasan miliar rupiah. Sekarang, seluruh dunianya menyusut menjadi garam kasar dan beras lokal di dapur beratap serabut kayu.
Air mata panas kembali mendesak di sudut matanya, namun Aruna dengan cepat menyapunya kasar menggunakan punggung lengan.
Tidak, batinnya tegas. Aku gak boleh menangis lagi karena lapar.
Aruna menyalakan kompor minyak tua itu setelah beberapa kali mencoba memantik pemantik api kayu. Bau minyak tanah menyengat memenuhi udara saat api biru keorangan mulai menyala.
Ia mengambil panci enamel kecil, mencucinya hingga bersih dengan air gentong, lalu mengisinya dengan air dan segenggam beras. Aruna berencana membuat bubur paling sederhana yang bisa ia ciptakan.
Saat air mulai mendidih dan beras pecah perlahan, Aruna mengupas dua siung bawang putih dan satu siung bawang merah. Tangan kanan yang memegang pisau dapur tua Bu Mul refleks bergerak dengan kecepatan dan kepresisian luar biasa—chiffonade halus, iris tipis tanpa cela. Bahkan dalam kondisi demam dan dengan pisau murah yang tumpul, memori otot seorang chef kelas dunia tidak bisa bohong.
Ia menumis bawang itu sebentar dengan sedikit minyak kelapa tua di wajan lain, lalu memasukkannya ke dalam bubur. Terakhir, Aruna mengambil sejumput garam krosok dari kaleng tua itu.
Ia mengamati kristal garam kasar di telapak tangannya. Garam ini tidak dimurnikan secara modern; ukurannya tidak seragam dan warnanya sedikit keruh. Aruna memasukkannya ke dalam bubur, menyendok sedikit kuahnya, lalu mencicipinya di punggung tangan.
Rasa asinnya tajam, kasar, tetapi gurih dan jujur. Ada karakter tanah dan laut yang kuat di dalamnya.
Di teras depan, Bara baru saja menyelesaikan pemasangan engsel kedua ketika bau tumisan bawang dan aroma gurih bubur menyeruak keluar dari celah dinding kayu.
Bara menghentikan gerakan tangannya. Matanya melirik ke arah pintu dapur belakang. Ia berdehem pelan, lalu kembali melanjutkan menyekrup pintu kayu ke bingkai barunya.
Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki pelan terdengar mendekat.
Aruna muncul dari dalam warung. Ia memegang sebuah mangkuk enamel berisi bubur panas beruap, dan sebuah gelas seng berisi teh manis hangat yang baunya harum melati.
Aruna berjalan mendekati Bara, lalu meletakkan gelas teh dan cawan kecil berisi sedikit bubur itu di atas meja teras di dekat kotak alat Bara.
"Aku gak punya uang tunai cukup sebelum ke ATM di kota," kata Aruna datar, tidak menatap mata Bara. "Tapi kamu sudah kerja dari pagi. Ini... bukan bayaran jasamu, cuma sekadar ganjal perut."
Bara menatap mangkuk bubur polos di depannya. Di atas permukaan bubur yang putih kental itu hanya ada taburan bawang goreng tipis dan sedikit irisan cabai rawit. Kelihatannya sangat sederhana, bahkan terkesan miskin.
"Saya sudah sarapan tadi di rumah," kata Bara pelan.
"Makan saja," potong Aruna dingin. "Atau kamu takut masakan orang asing?"
Bara menatap Aruna sejenak, melihat determinasi yang aneh di mata perempuan yang matanya masih sembap itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Bara menyapu serbuk kayu di tangannya ke celana, lalu duduk di kursi kayu di teras.
Ia meraih sendok bebek seng dan menyendok bubur panas itu.
Begitu bubur itu menyentuh lidahnya, Bara berhenti bergerak.
Matanya berkedip sekali. Rasa bubur itu tidak seperti bubur ayam biasa yang dijual di pinggir jalan. Tekstur berasnya lembut sempurna tanpa menjadi cair, gurih bawang putihnya meresap hingga ke tiap bulir, dan rasa asin garam krosoknya meledak lembut di pangkal tenggorokan—seimbang, hangat, dan sangat menenangkan. Itu adalah bubur paling lezat yang pernah ia rasakan seumur hidupnya dari sebuah sajian yang hanya berisi air, beras, dan garam.
Bara menyendoknya lagi. Kali ini lebih cepat. Lalu sendok ketiga, dan keempat, hingga cawan kecil itu kosong tak tersisa dalam hitungan detik.
Pria itu meletakkan sendoknya kembali, lalu menyeruput teh manis hangatnya. Ia memejamkan mata sebentar, merasakan rasa hangat meluncur turun ke perutnya.
"Kamu..." Bara mendongak, menatap Aruna yang berdiri bersedekap beberapa langkah darinya. "Kamu bukan cuma bisa merusak pintu rupanya."
Sebelah alis Aruna terangkat. "Apa?"
"Bubur ini," kata Bara, suaranya tetap datar tetapi ada kilat kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan di matanya. "Bahkan Bu Mul gak pernah bikin bubur serasa ini. Kamu belajar masak di mana?"
Pertanyaan sederhana itu mendadak meremas d**a Aruna.
Di sekolah kuliner Le Cordon Bleu Paris, jawab batinnya pahit. Di dapur bernilai miliaran rupiah yang sekarang dikuasai oleh pria penipu.
Aruna memalingkan wajahnya ke arah jalanan tanah yang mulai mengering disiram matahari pagi. "Cuma bubur biasa. Jangan berlebihan."
"Saya gak pernah berlebihan," balas Bara tenang sambil berdiri dari kursinya. Ia meraih pintunya yang kini sudah terpasang sempurna pada engsel baru, lalu mendorong dan menariknya beberapa kali.
Sreeek. Klak.
Pintu kayu tebal itu bergeser mulus tanpa suara berderit sedikit pun, mengunci dengan pas pada bingkainya.
"Pintunya sudah selesai," kata Bara sambil merapikan perkakasnya kembali ke dalam kotak. "Engselnya garansi seumur hidup. Kalau lepas lagi, saya pasang gratis."
Aruna menatap pintu yang kini berfungsi sempurna itu. Ada rasa aman kecil yang tak terucapkan ketika melihat pintu itu bisa terkunci rapat kembali.
"Berapa sisanya yang harus kubayar?" tanya Aruna.
Bara menutup kotak besi perkakasnya dengan bunyi klik yang nyaring. Ia menatap Aruna lurus-lurus.
"Dua ratus lima puluh ribu minus mangkuk bubur tadi," kata Bara. "Sisa seratus lima puluh ribu. Bayar kalau kamu sudah ke kota."
Pria itu mengangkut kotak peralatannya, berjalan menuju mobil bak hijaunya, lalu memasukkannya ke belakang. Sebelum naik ke kursi pengemudi, Bara menoleh kembali ke arah Aruna yang masih berdiri di teras.
"Satu hal lagi," kata Bara dari balik jendela mobilnya. "Atap sengmu bocor di tiga titik. Nanti malam diperkirakan hujan deras lagi. Kalau kamu mau atap itu bertahan, jangan panjat sendiri dengan kondisi demam begitu."
"Aku bisa mengurus diriku sendiri," balas Aruna tegas.
Bara hanya mengangguk tipis, seolah sudah menduga jawaban itu. "Kita lihat saja nanti malam, Chef."
Mobil bak hijau itu menderu hidup, mengeluarkan asap tipis, lalu perlahan melaju meninggalkan warung, menyisakan jejak ban di atas tanah basah dan bau kayu manis yang tertinggal di udara.
Aruna terpaku di teras. Kata 'Chef' yang diucapkan Bara tadi menggantung di udara, membuat dadanya bergetar antara rasa takut dan sedikit kehangatan yang asing.