BAB 3: Badai Pertama dan Atap yang Bertahan
Sore hari tiba dengan tergesa-gesa. Langit di atas desa pesisir itu tidak berganti menjadi oranye kemerahan seperti biasa, melainkan meredup cepat menjadi warna abu-abu kebiruan yang kelam. Angin laut bertiup lebih kencang, membawa aroma garam yang pekat bersanding dengan bau tanah basah.
Aruna berdiri di tengah warung, mengamati langit-langit kayu yang dipenuhi noda air melingkar.
Peringatan Bara pagi tadi tentang atap bocor bukan sekadar gertakan. Di tiga titik utama—tepat di atas meja makan tengah, di dekat kompor dapur, dan di area sudut tempat ia menggelar tikar—seng-seng tua itu tampak melengkung dan berkarat parah.
Dengan sisa tenaga dan kepala yang masih sedikit berat akibat demam, Aruna mulai berbenah. Ia menggeser meja kayu tebal ke sudut yang lebih kering, mengumpulkan ember-ember plastik kusam dan baskom seng tua milik Bu Mul, lalu menatanya presisi di bawah titik-titik kebocoran yang berpotensi meluap.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah nomor asing dari Jakarta tertera di layar.
Aruna menatap layar itu selama beberapa detik. Jantungnya berdegup kencang, membawa sensasi panas dingin yang merambat ke lehernya. Ia tahu siapa yang kemungkinan besar menghubungi atau menyuruh orang mencarinya. Tanpa menggeser tombol hijau, Aruna mematikan ponselnya total, membenamkan perangkat hitam itu ke dalam bagian terdalam kopernya yang rusak.
Aku tidak berada di Jakarta lagi, bisiknya pada diri sendiri, seolah kata-kata itu adalah mantra perlindungan. Aku di sini.
Malam jatuh bersamaan dengan meletusnya badai.
Hujan tidak sekadar turun; air seperti ditumpahkan dari langit dengan tekanan tinggi. Angin kencang menghantam dinding-dinding kayu Warung Bu Mul hingga berderit nyaring, memunculkan suara raungan pilu dari celah-celah papan.
Ting! Ting! Plak!
Tetasan air pertama mulai menghantam baskom seng di sudut ruangan. Dalam waktu singkat, irama tetesan itu berubah menjadi aliran kecil yang konstan. Ember di dekat kompor dapur terisi cepat. Aruna terpaksa bolak-balik mengangkat ember penuh itu untuk dibuang ke luar lewat celah bawah pintu belakang.
Tubuhnya yang belum pulih total mulai kelelahan. Telapak tangannya yang halus—biasa memegang pisau presisi dan sendok cicip bergagang perak—kini lecet dan memerah karena mengangkut beban berat berturut-turut.
Pukul sembilan malam, bencana yang sebenarnya terjadi.
Sebuah dentuman keras bergema dari arah atap dapur. ANGG... CRACK!
Angin kencang berhasil menyelip di bawah lembaran seng tua bagian belakang, merobek paku-paku berkarat yang menahannya. Sebagian seng terangkat dan terlipat ke atas, meninggalkan celah selebar dua meter. Air hujan langsung menyembur masuk tanpa penghalang, menghantam kompor minyak tanah dan meja batu dapur.
"Tidak, tidak, tidak!" jerit Aruna.
Ia berlari ke dapur, berusaha menyelamatkan gentong beras dan kaleng garam krosoknya. Air hujan dingin mengguyur tubuhnya dalam sekejap, membasahi pakaian dan rambutnya hingga lepek. Dapur kecil itu berubah menjadi kubangan air deras.
Rasa frustrasi yang sangat besar meluap dari dalam dadanya. Ini bukan lagi soal warung yang rusak; ini adalah metafora sempurna dari hidupnya. Tidak peduli seberapa keras ia mencoba bertahan, tidak peduli seberapa rapi ia bersiap, badai akan selalu menemukan cara untuk menghancurkan segalanya.
Aruna terduduk di atas lantai tanah dapur yang tergenang air dingin. Ia memeluk kaleng garamnya erat-erat di d**a, membiarkan hujan deras mengguyurnya.
"Kenapa..." bisiknya parau di tengah riuh angin. "Kenapa semuanya harus hancur?"
Di tengah deru hujan dan raungan seng beradu angin, suara gedoran keras terdengar dari pintu depan.
BAM! BAM! BAM!
Aruna tidak bergerak. Ia berpikir itu hanya helusan angin kencang yang menghantam teras. Namun gedoran itu terdengar lagi, diikuti suara lantang yang menembus gemuruh badai.
"Aruna! Buka pintunya!"
Itu suara Bara.
Aruna menatap ke arah ruangan depan dengan mata kabur. Ia menyapu air dari wajahnya, lalu merambat berdiri. Dengan kaki gemetar dan baju basah kuyup, ia berjalan ke depan dan menggeser selot pintu jati yang baru dipasang pagi tadi.
Pintu terbuka.
Bara berdiri di sana, terbungkus jas hujan plastik kuning tebal yang mengkilap disiram air. Di tangannya, ia memegang lampu sorot besar bermaterai baterai dan sebuah terpal plastik tebal berwarna biru yang tergulung rapi. Di bahunya, tergantung sabuk perkakas besi lengkap dengan palu dan paku-paku seng berukuran besar.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Bara melangkah masuk, menyapu pandangannya ke arah dapur yang tergenang air.
"Seng bagian mana yang terangkat?" tanya Bara cepat. Suaranya tegas, profesional, dan sepenuhnya fokus pada masalah.
"D-dapur..." jawab Aruna, giginya bergelatuk kedinginan. "Sengnya terlipat angin."
Bara mengangguk pendek. Ia meletakkan lampu sorot di atas meja tengah, mengarahkannya ke ceiling dapur sehingga seluruh ruangan mendadak terang benderang. Ia lalu menyodorkan sebuah senter kecil berbentuk pena pada Aruna.
"Pegang ini. Sorot ke arah tangga nanti," perintah Bara.
"Kamu mau ke mana?" tanya Aruna bingung.
"Ke atap."
"Di luar badai kencang sekali!" seru Aruna, ketakutan mendadak menyelusup ke dadanya. "Kamu bisa jatuh!"
Bara menatap Aruna lurus-lurus di bawah pendar lampu sorot. Mata cokelatnya yang tenang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
"Saya anggota tim SAR daerah ini selama enam tahun, Aruna," kata Bara pelan namun mantap. "Memanjat atap di tengah hujan biasa bukan masalah. Tapi kalau seng itu biarkan terbuka sampai pagi, struktur kayu dapur nenekmu bakal lapuk total dan roboh."
Bara keluar ke teras, mengambil tangga kayu lipat dari bak mobilnya yang terparkir di bawah pohon, lalu membawanya ke samping gubuk dapur.
Aruna berdiri di bawah guyuran hujan di samping gubuk, memegang senter dengan tangan gemetar. Ia menyorotkan cahaya ke arah tangga saat Bara memanjat dengan cekatan, membawa terpal biru dan palu di pinggangnya.
Atap seng yang licin dan berangin kencang adalah medan yang sangat berbahaya. Namun gerakan Bara sangat terukur. Pria itu merayap perlahan, menggunakan berat tubuhnya untuk menahan hempasan angin.
Dengan kekuatan lengannya, Bara menarik kembali lembaran seng yang terlipat, meratakannya secara paksa, lalu membentangkan terpal tebal di atas area yang bocor sebagai pelindung ganda.
TAK! TAK! TAK!
Dentuman palu Bara yang menghantam paku seng mengalahkan suara badai. Setiap pukulan terdengar mantap, mengikat kembali atap yang nyaris lepas itu ke balok-balok kayu di bawahnya.
Aruna menatap sosok pria itu di atas sana. Di tengah kegelapan malam, dinginnya air hujan, dan kehancuran yang menyelimutinya, ada sesuatu yang bergeser di dalam d**a Aruna.
Bara tidak sedang berpura-pura menjadi pahlawan. Pria itu tidak memberikan ceramah motivasi yang dangkal atau mengucapkan kalimat-kalimat manis untuk menenangkannya. Bara hanya hadir, bekerja keras tanpa mengeluh, dan memastikan bahwa bangunan tempat Aruna bernaung tidak rubuh dihantam zaman.
Setelah dua puluh menit yang menegangkan, Bara turun dari tangga. Tubuhnya basah kuyup, tangannya yang berurat dipenuhi noda karat seng dan lumpur.
"Atapnya aman sampai badai reda," kata Bara sambil mengibaskan air dari jas hujan plastiknya di teras. "Besok pagi baru kita ganti sengnya dengan yang baru."
Aruna membawa dua cangkir enamel berisi air hangat ke meja teras. Pakaian basahnya sudah diganti dengan kaus longgar kusam milik mendiang neneknya dan celana kain tebal.
Ia meletakkan satu cangkir di depan Bara yang kini duduk di bangku kayu, sudah melepaskan jas hujan plastiknya.
"Terima kasih," kata Aruna pelan. Kali ini, tidak ada nada dingin atau dinding pertahanan di suaranya. Hanya ada ketulusan yang polos.
Bara menyesap air hangat itu, mengamati uap tipis yang membumbung. "Garamnya aman?"
Aruna tertegun sejenak sebelum mengangguk tipis. "Aman. Aku sempat mengamankannya ke ruangan depan."
Bara tersenyum kecil—sebuah senyuman tipis yang sangat jarang muncul di wajah kaku itu, membuat sudut matanya berkerut halus. "Baguslah. Sayang kalau bahan bubur enak pagi tadi sampai hanyut."
Hening merayap di antara mereka. Di luar, hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis, menyisakan suara tetesan air dari daun-daun trembesi ke tanah.
"Kenapa kamu melakukan ini, Bara?" tanya Aruna akhirnya, menatap cangkirnya sendiri. "Kamu tidak kenal aku. Aku cuma orang asing yang datang membawa masalah dan bersikap galak sejak pagi tadi."
Bara bersandar pada dinding kayu warung, menatap kegelapan jalanan tanah di depan mereka.
"Dua tahun lalu," kata Bara pelan, suaranya mengalir tenang menyatu dengan suara gerimis, "saya kehilangan adik laki-laki saya di laut. Kapal nelayannya dihantam badai saat mencoba menyelamatkan jaringnya yang tersangkut."
Aruna menahan napas. Ia tidak menyangka cerita itu akan keluar dari mulut Bara.
"Waktu itu saya berpikir, kalau saja ada orang yang ada di sana buat menahan talinya, atau sekadar mengingatkannya buat pulang lebih awal, dia mungkin masih ada," lanjut Bara tanpa nada dramatis. "Sejak hari itu, saya belajar satu hal: di tempat ini, kita tidak bisa menahan angin atau menghentikan hujan. Tapi kita selalu bisa memilih untuk memegang tangga buat orang lain."
Bara menoleh, menatap Aruna lurus-lurus.
"Saya tidak tahu apa yang bikin kamu melari dari Jakarta sampai ke warung tua ini dengan koper pecah dan mata bengkak, Aruna," kata Bara datar. "Dan saya tidak bakal bertanya sebelum kamu mau cerita. Tapi selama kamu ada di sini, kamu tidak usah takut warung ini roboh. Kayunya masih kuat. Dan saya punya cukup paku."
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada romantis. Itu adalah janji seorang pengrajin kayu—sebuah komitmen praktis yang sangat jujur.
Namun bagi Aruna yang selama ini hidup dalam dunia tipu daya, manipulasi, dan janji-janji manis bersyarat di industri Jakarta, kejujuran sederhana dari Bara terasa jauh lebih berharga dari segalanya.
Untuk pertama kalinya dalam seminggu, Aruna merasakan air matanya menetes bukan karena keputusasaan atau kemarahan.
Ia menangis karena perlahan, di dalam kegelapan warung tua itu, ia mulai merasa bahwa dirinya mungkin masih berhak untuk selamat.