(Bagian : Penentu Kedaulatan)
Bagian II: Kabut Beracun Sebelum Fajar.
Malam sebelum Babak Final Tanding Cita Rasa Agung terasa begitu panjang dan mencekam di kawasan Pasar Tua Karang Keraton. Langit hitam tanpa bintang menyelimuti benteng kota, sementara angin utara membawa hawa dingin dari pelabuhan yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di halaman dalam gudang rempah tua, api di dua belas tungku tembikar Banyu tetap menyala samar, memancarkan pendar keemasan yang menembus sisa-sisa embun malam.
Gendis duduk bersimpuh di depan tungku utama. Kain blacu berukir resep Aruna terbentang luas di atas paha dan lututnya. Jemari gadis itu mengusap lembut barisan tulisan jelaga tua yang kini telah bertambah rapat oleh catatan perjalanan mereka dari Pesisir Barat, Lembah Hijau, hingga Lembah Kelab