Seorang gadis tengah membawa nampan yang berisikan makanan para pembelinya, dia dengan langkah pelan mendekat ke arah meja pembeli dan menata makanan dengan rapih di atas meja itu.
"Jessica, ini pesanan meja nomor sepuluh" Gadis itu mengangguk kemudian dia membawa makanan kepada pelanggannya lagi.
Menjadi seorang pramusaji sangatlah melelahkan apalagi jika pelanggan yang membludak banyak, dan dia harus lembur hingga malam.
Perasaan lelah yang datang dengan secepat mungkin Jessica hilangkan dari benaknya karena dia harus bekerja dengan giat agar ibu tirinya tidak terus menerus memarahi dirinya.
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, dengan langkah gontai Jessica berjalan ke arah rumahnya, dia berharap dengan beberapa hari lembur gajih nya akan ada sedikit peningkatan daripada sebelumnya, apalagi sekarang banyak hal yang ingin dia beli.
Jessica memasuki rumah dengan keadaan kosong, dia menarik nafasnya dengan pelan karena ibu tirinya pasti sedang tidak ada di rumah, namun pikiran Jessica salah kini dia mendengar suara desahan dari kamar sang ibu.
Gadis itu meneguk ludahnya dengan kasar, ini bukan kali pertamanya dia mendengar dan melihat sang ibu yang tengah bercinta dengan laki-laki yang berbeda setiap malamnya, tapi Jessica tetap merasakan sakit yang mendalam karena alasan kematian sang ayah adalah sikap ibu tirinya yang serakah dan juga tidak pernah bisa puas akan satu pria.
Jessica membiarkan suara desahan itu tanpa mau mengurusi hal tersebut, dia masuk kedalam kamar dan melaksanakan ritual mandinya, setelah itu Jessica memakai baju dengan piyama kesayangannya.
Untunglah tadi di restoran dia makan terlebih dahulu sebelum pulang jadinya dia tidak harus menahan lapar hingga menjelang pagi, karena jika dia makan sekarang maka ibunya akan memarahi dirinya habis habisan.
Jessica membaringkan tubuh lelahnya setelah seharian penuh dia bekerja, apalagi hari ini pelanggan restoran sangatlah banyak jadi dia tidak bisa istirahat dengan leluasa.
Tok tok tok
Gadis itu kembali menghela nafasnya dan bangun dari kasur, dia berusaha menyembunyikan perasaan kesalnya, kemudian dia membuka pintu dan terlihat sang ibu yang berpakaian seksi dihadapannya.
"Kenapa bu" Ujar Jessica dengan suara pelan.
"Buatkan saya makanan" Gadis itu mengangguk dan kemudian berjalan ke arah dapur, dengan cekatan tangannya kini mengupas bawang dan memotong sayuran.
Selang setengah jam Jessica menuntaskan masakannya dan meletakan makanan itu di atas meja, dan memanggil ibunya terlihat seorang pria yang berperawakan tinggi juga perut yang sedikit buncit, Jessica menatap mual ke arah dua orang didepannya bahkan pria itu jauh lebih jelek daripada yang sebelum-belum nya.
Dengan pelan Jessica kembai kedalam kamar dan meninggalkan dua sejoli yang membuatnya jijik, entah kepuasan apa yang didapatkan oleh ibu tirinya bahkan sang ayah yang dulu sangatlah tampan jika dibandingkan dengan laki-laki yang selalu dibawanya ke rumah.
Jessica kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, kemudian gadis itu memejamkan matanya dan terbang ke alam mimpi.
Namun ketika memasuki alam mimpi Jessica melihat kembali kilasan masalalu nya yang dia ingin lupakan, kilasan itu semakin membayangi dan menyeramkan.
Jessica kecil dengan wajah sayu dan badan gemetarnya melihat wajah pucat bundanya yang sudah terbujur kaku dengan darah yang menggenang.
Anak perempuan itu semakin ketakutan dan menggoyangkan tubuh bundanya, namun tak ada sahutan ataupun ucapan lirih dari bundanya lagi.
Anak itu semakin histeris dan memanggil nama bundanya degan teriakan, dia ketakutan melihat banyaknya darah yang menggenang di jalanan aspal.
Kejadian itu bahkan masih terlihat sangat jelas di mana sang ibu tertabrak mobil dengan kecepatan tinggi dan tubuhnya melayang hingga membentur ke aspal yang sangat keras.
Jessica kecil hanya bisa menangis melihat itu semua, tangisan histeris yang membuat hatinya semakin teriris
"Hahhhh....!"
Dengan perasaan yang penuh ketakutan Jessica terbangun dari tidurnya, mimpi yang dia alami bukan sekali dua kali namun mimpi sudah terjadi selama bertahun tahun lamanya.
Jessica meminum air yang berada di samping ranjangnya, dia melihat jam yang sudah menunjukan pukul enam pagi, dengan gontai gadis itu berjalan ke arah kamar mandi.
Setelah berganti baju Jessica membersihkan rumah sekaligus memasak sarapan untuk dia dan ibunya, pagi ini dia harus langsung ke Restoran sehingga dia hanya memasak dan membawa bekal kemudian langsung berangkat ke restoran.
Restoran tempatnya bekerja memang sudah buka sekitar jam sepuluh namun para pegawai diwajibkan untuk stay dua jam sebelum restoran dibuka.
"Jes, tumben bawa bekel?" Tanya Amy sahabatnya yang memberikan dia pekerjaan di restoran ini.
"Iya, ngak sempet sarapan di rumah, aku lupa kalau hari ini berangkatnya harus pagi" Amy mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah restoran di buka memang tidak terlalu ramai kerena jam makan siang belum tiba, namun setelah jam makan siang maka pengunjung akan banyak karena memang restoran ini dekat dengan kantor-kanor besar.
"Jes, pesanan bangku dua belas" gadis itu mengangguk dan mengambil nampan yang berisi menu makanan yang dipesan oleh pelanggan.
Jessica menata makanan itu di atas meja namun dia sedikit risih dengan laki-laki yang memandanginya, memang ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan hal seperti itu, namun tetap saja dia selalu merasa risih.
"Cantik juga" gumam laki-laki di hadapannya.
Jessica hanya menunduk dan kembali ke dapur, tapi dia dicekal oleh pelanggannya itu.
"Maaf mas, saya harus kembali lagi bekerja" Ucap Jessica yang sudah sangat ketakutan.
Dia melihat sorot mata laki-laki dimatanya yang berwarna abu-abu pekat, Jessica meneguk ludahnya dan berusaha untuk tidak gugup.
"Baiklah.." Jessica bernafas lega ketika pria dihadapannya melepaskan cekalan tangannya.
Dia kembali kedapur dan berusaha menghela nafasnya dengan pelan, Amy yang melihat sahabatnya di goda oleh pelanggan hanya bisa menatap sedih karena inilah pekerjaan mereka, kalaupun dia melawan makan otomatis mereka akan kehilangan pekerjaan ini.
"Ngak papa kan?" tanya Amy
"Iya ngak papa, kita lanjut kerja" mereka berdua kembali kepada kerjaannya masing-masing takutnya sang bos akan melihat mereka dan memarahi keduanya.
Restoran kembali ramai ketika malam, apalagi sekarang adalah malam minggu, dimana banyak orang yang menghabiskan malam ini dengan pasangan atau keluarganya.
Meskipun tak seramai kemarin tapi cukup membuat Jessica lelah, hari ini dia pulang dengan keadaan lembur lagi, namun malam ini jalanan memang tidak terlalu sepi dan masih terasa ramai.
Jessica merasakan tubuhnya di dorong dan dia terbentur ke tembok yang berada di sepanjang jalan, dia melihat netra mata biru tadi ketika di restoran.
"Mau.. apa kamu?' Jessica sudah sangat ketakutan dan berusaha melepaskan diri, tapi laki-laki itu sangatlah kuat dibandingkan dirinya.
"Aku mau kamu" Jessica terkesima dengan suara laki-laki tersebut, dari perawakannya dan juga pakaian yang dikenakan oleh pria dihadapannya terlihat berasal dari keluarga kaya, bahkan wajah tampan dan juga mata indahkan mampu membuat dirinya terpesona seketika, namun dia kembali menyadarkan dirinya jika pria itu bukanlah orag yang baik.
"Saya mohon lepaskan saya" kini airmata akibat rasa ketakutannya sudah membasahi kedua pipinya.
"Sttt.. jangan menangis sayang, aku tidak akan menyakitimu" Jessica mematung ketika pria itu mengecup bibirnya dengan singkat.
Kemudian pria itu meninggalkan dirinya yang masih mematung dan terkejut.