Call Of Duty
“Nona Lyra, maaf sedikit menganggu. Saya hanya ingin menjemput Nona sesuai perintah Tuan,” ucap Drake saat baru sampai di salah satu rumah yang cukup mewah di Greenwich.
“Kenapa kau harus repot kemari lagi? Aku bisa pulang tanpa harus didatangi olehmu,” ucap Lyra.
“Saya hanya menjalankan perintah, Nona. Kalau begitu, mari! Tuan sudah menunggu,” Drake menengadahkan tangannya untuk mempersilahkan Lyra jalan lebih dulu keluar dari rumah.
“Aku tidak ingin ke mana-mana, Drake. Kau bisa kembali ke Manchester seperti sebelumnya,” Lyra pun berlalu begitu saja menuju salah satu sofa di ruang televisi.
“Maaf, kali ini Nona tidak bisa menolak,” ucap Drake.
Drake mempertaruhkan nyawanya kali ini, setelah dua kali gagal membawa Lyra pulang ke kediaman Tuan Armstrong. Ini kesempatan terakhirnya sebelum dia mendapatkan hukuman lagi dari Tuan Armstrong seperti sebelumnya. Yang pastinya hukuman kali ini akan jauh lebih mengerikan.
Ayah dan anak itu selalu bertengkar yang jika diperhatikan masalahnya tidak terlalu rumit. Mereka hanya terlalu keras kepala untuk saling mengalah. Bahkan sudah lebih dari sepuluh pengawal yang menjadi korban keegoisan mereka dalam kurun waktu dua bulan. Hanya tinggal memilih, di tangan siapa mereka akan berakhir. Di tangan Tuan Armstrong, atau di tangan Lyra Armstrong.
Dan sekarang giliranku untuk menentukan aku akan berakhir di mana. Sungguh mengerikan, bukan? Aku sangat tahu itu, batin Drake.
“Mau apa kau?” tanya Lyra saat Drake mulai mendekat ke arahnya.
Drake sudah memastikan sebelumnya jika di rumah ini Lyra hanya sendiri. Dia tidak ingin gagal lagi kali ini, sampai dia harus menguras otak dan tenaga lebih keras agar rencananya berhasil. Yang membuat sulit tugas kali ini ialah Drake tidak boleh melukai Lyra sedikit pun. Itu yang disampaikan Tuan Armstrong saat kali pertama Drake mendapatkan tugas ini.
“Berhenti di sana!” peringat Lyra dengan tegas sambil mengacungkan senjata api ke arah Drake.
Drake sudah memperkirakan sebelumya untuk hal ini, karena sejak awal hal yang seperti ini sudah terjadi sebelumnya. Dia berusaha mengulur waktu sambil berpikir, bagaimana cara untuk menyingkirkan benda itu dari tangan Lyra.
“Apa kau tidak ingin bekerja sama denganku?” ucap Drake.
“Tidak!” tolak Lyra penuh penekanan.
“Apa kau tidak kasihan padaku? Aku bisa mati hari ini,” ucap Drake dengan sengaja.
“Aku tidak peduli! Dan kenapa kau tidak berbicara formal padaku?” tanya Lyra.
“Untuk apa aku bicara formal padamu, jika nyawaku saja sudah diambang kematian sekarang. Aku hanya tinggal memilih di mana aku harus mati,” ucap Drake.
“Ya, kau benar. Kau bisa bicara sesuai keinginanmu kali ini,” ucap Lyra.
Drake hanya mengangguk sambil duduk di salah satu sofa yang berjarak sekitar dua meter dari sofa yang Lyra duduki.
“Kenapa kau malah duduk di sana? Cepatlah pergi dari rumahku! Aku tidak suka kau di sini,” ucap Lyra dengan nada teriak yang masih menodongkan senjata api ke arah Drake.
“Aku sedikit lelah karena perjalanan dari Manchester kemari. Aku hanya ingin beristirahat sejenak sebelum aku beristirahat selamanya,” ucap Drake dengan santai.
“Aku tidak peduli! Cepat pergi!” teriak Lyra lagi.
“Ayolah, Lyra! Apa kau tega padaku?” ucap Drake dengan nada membujuk.
“Pergi!” Lyra mengarahkan senjata api itu ke suatu benda yang ada di belakang Drake hingga pecah.
Seketika Drake mengangkat kedua tangan di sisi kepalanya, “Baiklah, jika kau tidak ingin bermurah hati padaku.”
Drake pun mulai berdiri dan berjalan menyamping. Tatapan matanya masih mengunci pergerakan Lyra yang kini sudah menatapnya dengan murka, “Aku pergi, Lyra.”
Namun, tiba-tiba deru mobil terdengar yang mulai berhenti di pekarangan rumah Lyra. Sejenak fokus Lyra teralihkan. Dalam hitungan detik, Drake langsung bergerak untuk menyingkirkan senjata api di tangan Lyra yang terlempar ke sembarang arah.
“Akh!” pekik Lyra.
Drake langsung membungkam mulut Lyra dengan tangannya, lalu digendongnya ke salah satu ruangan untuk bersembunyi dari orang yang baru saja tiba.
“Lyra, aku datang!” teriak seseorang.
Lyra berusaha melepaskan diri dari kuncian yang Drake lakukan. Namun, dia tidak ingin kalah kali ini. Drake berusaha menahan dan mematikan pergerakan Lyra tanpa menyakitinya sedikit pun.
Mata dan telinga Drake mulai fokus pada pergerakan seseorang di luar sana, karena perlawanan Lyra sudah mulai melemah. Namun, tiba-tiba saja Lyra menggigit sisi telapak tangan Drake dengan cukup kuat. Sepersekian detik dia terkejut atas tindakan Lyra. Dia pun berusaha untuk tidak memekik di situasi yang memang tidak seharusnya.
Ah, sial! Kenapa dia lama sekali? Batin Drake.
“Lyra, kau di mana?” teriak orang itu lagi yang tak kunjung memiliki jawaban.
Terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Tidak lama suara pintu rumah ini pun tertutup dan deru mobil yang mulai menjauh dari pekarangan rumah. Setelah dirasa aman, Drake melepaskan tangannya dari mulut Lyra.
“Sialan! Aku akan membunuhmu, Drake!” teriak Lyra dengan penuh emosi.
“Ya, Nona bisa membunuh saya kapan pun yang Nona mau, tapi tidak hari ini,” ucap Drake dengan nada acuh.
Drake berfokus lagi pada Lyra yang masih berusaha untuk melepaskan diri, dengan mulutnya yang terus memaki. Namun, dia hanya mencekal tanpa menyakiti Lyra karena Tuan Armstrong akan murka jika putri kesayangannya terluka.
“Jangan terus bergerak, Nona bisa menyakiti diri Nona sendiri,” ucap Drake.
“Kalau begitu lepaskan aku, Drake!” ucap Lyra yang sudah tidak sabaran.
“Maaf, Nona! Saya tidak bisa. Nona harus ikut dengan saya kali ini,” ucap Drake yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Lyra.
“Kenapa rasanya aku seperti tawanan sekarang?” keluh Lyra.
***
“Kenapa Ayah terus melakukan ini padaku?” ucap Lyra saat dia baru saja memasuki sebuah ruangan yang sangat besar, mewah, dan juga elegan.
Drake dengan setia berjalan dibelakang Lyra. Lalu, berdiri di sisi sofa yang di mana Lyra tengah duduk di atasnya. Tidak lupa, dia pun memberikan salam hormat pada Tuan Armstrong.
“Kau pergi dari rumah dalam keadaan marah. Ayah hanya khawatir,” ucap Tuan Armstrong pada putrinya.
Tuan Armstrong mengisyaratkan beberapa orang yang berada di ruangannya untuk pergi. Tersisalah Drake, Lyra, dan Tuan Armstrong di ruangan yang begitu lega, tapi terasa sesak untuk satu orang asing.
“Tapi tidak terus-menerus mengirimkan mereka padaku. Tidak bisakah Ayah bersikap seperti Ayah untukku?” ucap Lyra yang mulai merajuk.
“Apa yang salah dengan Ayah? Ayah sudah memberikan segalanya untukmu. Salah satunya fasilitas mewah,” ucap Tuan Armstrong yang terdengar begitu santai.
Hubungan ayah dan anak yang sedikit orang tahu bagaimana ini terjalin terasa cukup mengkhawatirkan bagi putrinya. Ini bukan kali pertama Drake melihat adegan ini tanpa sengaja. Namun, kali ini sedikit berbeda.
Sebelum mendapatkan tugas ini, Drake pernah menyaksikan bagaimana kesalahpahaman terjadi, bahkan hingga berselisih. Namun, dia lebih memilih menjadi orang yang seolah tidak tahu apa-apa, meski rasa iba sempat terlintas di benaknya. Drake teringat akan posisinya di tempat itu yang bukan siapa-siapa, dan dia tidak berhak untuk ikut campur atas masalah orang lain.
Perdebatan antara Lyra dan Tuan Armstrong masih berlanjut, yang membuat Drake hanya berdiri mematung.
“Ayah, dia bersikap kurang ajar padaku. Bahkan dia berbicara tidak formal sebelum datang kemari. Ayah harus menghukumnya!” dengan menggebu-gebu Lyra pun melaporkan Drake.
Tuan Armstrong seketika menatap nyalang Drake, “Benarkah begitu, Drake?”
“Benar, Tuan,” ucap Drake dengan tegas.
“Lihatlah, Ayah! Dia sudah melanggar aturan dan mengakuinya. Apa Ayah akan membiarkan dia begitu saja?” ucap Lyra dengan harapan apa yang dia inginkan terwujud.
Pandangan Drake tetap menatap lurus ke depan dengan sikapnya yang tenang, walau sebenarnya hatinya sedikit tidak karuan. Dia cukup tahu apa kesalahan yang dia perbuat, karena itu bagian dari rencana tambahan agar rencana utamanya bisa terlaksana. Jadi, dia sudah mempersiapkan diri untuk hal terburuk yang akan terjadi setelah ini.
Tuan Armstrong terkenal sangat kejam. Bahkan dia tidak memberikan toleransi sedikit pun atas kesalahan yang dilakukan pengawalnya. Apalagi jika dia terlibat dengan putrinya, Lyra Armstrong. Siapa pun akan merasakan konsekuensi yang tidak mudah jika sampai berani menyentuhnya, putri satu-satunya Tuan Armstrong.
“Saya harap laporanmu tidak mengandung kebohongan di sini,” Tuan Armstrong mulai menyandarkan punggungnya dengan santai, tapi tatapan matanya seolah tidak ingin melepaskan Drake.
Drake pun mulai berikan laporannya sedetail mungkin dengan apa yang terjadi saat di Greenwich tanpa takut apa pun. Rasa gugup pun kalah dengan keberaniannya, dan dia sudah siap menerima hukuman apa saja dari Tuan Armstrong. Namun, saat laporannya sudah selesai, Drake malah melihat seulas senyuman di wajah Tuan Armstrong. Senyuman yang belum pernah dia lihat sebelumnya, apalagi setelah para pengawal melakukan kesalahan.
Sejenak, Drake pun melirik Lyra yang tengah menatapnya dengan tajam, seolah ingin memangsa dirinya saat ini juga.
“Drake!” suara bariton itu menggema, yang membuat lutut siapa saja melemas seketika.
Drake pun langsung menatap Tuan Armstrong, “Iya, Tuan.”
“Ternyata hukuman yang kau dapat kemarin berguna. Untuk kali ini saya memaafkanmu, karena kau berhasil membawa putri saya pulang dalam keadaan baik. Kau bisa keluar dari ruangan ini sekarang,” ucap Tuan Armstrong dengan senyuman yang terlihat cukup ramah.
“Baik, Tuan. Terima kasih,” Drake memberikan salam hormat sebelum akhirnya dia membalikkan tubuh.
Drake masih dalam keadaan waspada saat dia mulai melangkah menjauhi dua orang yang patut ditakuti. Karena siapa yang tahu, jika saja dia diserang tiba-tiba dari arah belakang menggunakan senjata api atau senjata tajam oleh orang-orang yang sangat tidak terduga. Drake masih merasa ganjil dengan situasi yang dia alami sekarang.
“Apa yang Ayah katakan?” ucap Lyra tidak terima.
“Sudah, Lyra,” ucap Tuan Armstrong.
“Aku tidak terima kalau Ayah seperti ini,” ucap Lyra.
“Ayah merindukanmu. Apa kau tidak ingin menghabiskan waktumu bersama Ayah hari ini?” Tuan Armstrong mencoba menenangkan Lyra yang mulai emosi kembali.
Mereka bersesilih lagi dengan nada yang saling tidak mau mengalah. Drake yang saat ini sudah berada di luar ruangan pun merasa bersyukur karena bisa lolos dengan tenang seperti ini. Namun, rasa lega itu hanya bersifat sementara, mengingat bagaimana Lyra tidak terima dengan apa yang dia dapatkan.
Tidak ingin membuang waktu, Drake pun memutuskan untuk pergi ke salah satu bangunan yang masih bersebelahan dengan kediaman Armstrong. Dia menuju ruang kerja yang menyatu dengan ruangan pribadinya untuk memantau salah satu bisnis yang sudah dipercayakan Tuan Armstrong padanya.
Baru satu tahun Drake bekerja di bidang ini, karena pekerjaan awal dia adalah seorang pengawal. Mungkin karena alasan itu Tuan Armstrong memberinya tugas. Dan sekarang dia diberikan kesempatan untuk menjalankan tugas yang lain.
Drake begitu sibuk dalam menjalani harinya. Setelah kegagalan demi kegagalan yang didapat, dia pun memiliki prinsip untuk terus belajar setiap hari, berlatih setiap hari, dan bekerja setiap hari. Kesempatan ini harus dia manfaatkan dengan baik demi mempertahankan hidupnya dan juga keluarga.
Prinsipnya mengantarkan Drake untuk memiliki beberapa keahlian, agar dia bisa bertahan seperti hari ini. Dia merasa harus menjadi seseorang yang berharga karena perangai, kemampuan, dan kesetiaan. Semua keharusan itu yang akan membuatnya tetap hidup di dunia yang begitu kejam dan manipulatif.
Drake pun mengerjakan semua tugasnya dengan baik. Dia tidak melihat hal yang serius dari sistem berkas yang diperiksanya hari ini. Hidup yang dia jalani hanya tentang mencari uang dan bekerja, sampai dia tidak peduli sudah berapa lama kursi kerjanya dia duduki sambil menatap layar laptop dan dua buah monitor lain.
Dasi yang sedari tadi begitu mencekik leher pun diraihnya dan mulai dilonggarkan. Rasanya sedikit lega setelah seharian bekerja. Kini Drake sedang mengumpulkan semua data penting yang harus dia berikan pada Tuan Armstrong. Namun, fokusnya teralihkan saat pintu ruangan itu dibuka dengan cukup keras oleh seseorang.
Lyra, gadis itu datang dengan tatapan tajamnya, tatapan yang sama persis seperti ayahnya. Mengancam, menusuk seolah ingin mencabik-cabik, bahkan membunuh.
“Ternyata kau sedang bersantai di sini,” ucap Lyra yang mulai mengambil duduk di kursi yang tersedia di depan meja kerja yang berbentuk huruf L, sambil bersedekap d**a.
“Maaf jika saya kurang sopan, tapi sepertinya saya harus menelepon dokter untuk memeriksa mata anda, Nona,” ucap Drake.
Mendengar hal itu emosi Lyra pun muncul kembali, “Jangan besar kepala karena kau lolos dari Ayah, Drake! Ingat! Masih ada aku yang memburumu.”
“Saya tahu, Nona. Jadi saya akan tetap bersiap untuk itu,” ucap Drake dengan santai.
Sedikit demi sedikit Drake mempelajari sikap Lyra yang keras kepala dan juga sedikit kasar. Usia Lyra lima tahun lebih muda darinya yang sekarang sudah menginjak dua puluh delapan tahun. Usia Lyra tidak jauh berbeda dengan seseorang yang selalu membuat hati Drake rindu.
Drake tidak mengidahkan tatapan Lyra. Dia hanya bergerak untuk membuka jas yang sedari tadi melekat di tubuhnya. Rasa perih mulai terasa saat ujung lengan jas ini menyentuh sisi salah satu telapak tangannya. Drake melihat ada sedikit robekan di sana.
Ah, aku melupakan ini, batin Drake.
Hal itu tidak lepas dari perhatian Lyra, “Apa luka yang aku sebabkan itu sangat berharga untukmu, sampai kau enggan mengobatinya?”
Terdengar sarkas di telinga Drake, tapi dia tidak peduli soal itu.
“Nona bisa berpikir seperti itu jika Nona ingin,” Drake menjeda ucapannya yang membuat Lyra mengalihkan tatapannya, “Tapi sayang, saya hanya lupa soal ini.”
Mendengar ucapan Drake, Lyra pun bereaksi dengan kesal. Tanpa diduga, Lyra memukul ujung pena yang tergeletak di meja hingga terbang, lalu menjentiknya ke arah Drake. Dengan refleks, kepala Drake menghidar begitu saja dari serangan yang Lyra buat. Serangan Lyra meleset hingga mengenai kaca jendela yang berada di belakang Drake. Sejenak, Drake melirik kaca jendela yang tidak bersalah itu. Terdapat retakan kecil di sana yang membuat kaca itu tidak mulus lagi.
“Jangan terlalu sering bersikap kasar. Nona wanita yang cantik, jadi bersikaplah seperti itu,” ucap Drake.
“Tidak usah mengaturku. Aku tahu apa yang aku lakukan. Sepertinya kau lupa jika aku berbeda dengan banyaknya wanita yang kau kenal,” ucap Lyra lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan membanting pintu.
Drake hanya mengangguk samar sambil memberikan salam hormat, karena yang Lyra ucapkan benar adanya. Dia pun tidak memikirkan hal itu terlalu jauh. Dia hanya melanjutkan pekerjaan yang mungkin mengharuskannya untuk lembur kembali. Dan sepertinya dia juga harus menunda untuk menelepon seseorang lagi kali ini.
Aku harus menahannya lagi, I miss you, batin Drake.