A Short Story
Cara air yang jatuh dari shower yang mengguyur seluruh tubuhnya hingga basah tak tersisa, itu adalah hal yang paling Drake sukai. Semuanya terasa lebih tenang dan lebih menyegarkan setelah lelahnya hari menguasai diri.
Drake, semua orang memanggilnya seperti itu. Entah itu di masa lalu atau di masa sekarang, hal itu tidak bisa dibedakan. Entah merasa sial atau bahkan beruntung, dia pun tidak tahu. Drake hanya bisa tersenyum samar dalam kepahitan hidup yang tidak pernah dia inginkan. Dia terlahir dari keluarga yang terbilang sederhana, karena ayah yang bekerja di salah satu perusahaan swasta dengan gaji standar. Namun, entah bagaimana hingga takdir mengubah semuanya saat Drake baru beranjak remaja.
Ayahnya terkena Pemutusan Hubungan Kerja yang membuat keseimbangan ekonomi keluarga terguncang. Di tahun itu semuanya terasa sulit. Bahkan kerap kali Drake merasa sedih karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk membantu ekonomi keluarganya. Hingga akhirnya pria beriris mata coklat itu memiliki mimpi yang dia pikir itu akan mudah dan membuat kondisi keluarganya kembali pada posisi semula.
Drake memutuskan untuk mendaftarkan diri di Akademi Militer Kerajaan Sandhurst, saat dia sudah dinyatakan lulus dari Sekolah Menengah Atas di usia delapan belas tahun. Dengan harapan yang begitu tinggi, Drake cukup yakin bisa melewati setiap tes yang diadakan sekolah tersebut. Namun sayang, mungkin khayalan itu terlalu indah yang membuatnya merasa buruk untuk diri dan juga keluarga. Drake gagal dalam tes yang membuat harapannya pupus saat itu.
“Tidak apa-apa, Nak. Kau bisa mencobanya lagi lain kali,” senyuman seorang ibu mampu menghangatkan hati Drake kala itu, lalu dibuat nyaman oleh tepukan ayahnya di punggung untuk menguatkan dirinya dalam menghadapi hidup yang keras.
“Tentu,” rasa sedih sekaligus haru membuat Drake tidak bisa menahan air matanya untuk menetes.
“Jangan banyak bersedih jika kau tidak ingin seperti Ayah. Kau masih memiliki masa depan, jadi kau harus tetap semangat. Ada Ayah dan Ibu di sini yang selalu mendukungmu,” ucap ayahnya.
“Iya, aku akan berusaha lagi,” Drake pun berusaha tersenyum pada kedua orang tuanya.
“Kau memang anak Ayah,” ucap ayahnya dengan bangga.
Meski ekonomi keluarganya masih belum stabil, Drake merasa bahagia memiliki keluarga yang begitu menyayanginya. Dia merasakan banyak kasih sayang dari kedua orang tuanya. Sampai dia tidak pernah merasa sendiri meski dalam keadaan terpuruk sekalipun. Bahkan selalu mendapat harapan baru untuk setiap langkah yang akan diambilnya.
Setelah hari yang mengharu biru itu, Drake semakin lebih keras dalam belajar dan melatih kemampuannya. Bahkan seolah hal lain tak berarti, hidup yang dia miliki dihabiskan oleh ambisi. Namun sayang, hal yang tidak dia inginkan terjadi lagi dan itu tidak hanya satu kali.
“Sebenarnya apa salahku? Kenapa selalu kegagalan yang aku dapatkan? Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk ini,” suara Drake terdengar parau, menahan rasa sedih yang menggebu setelah mendapatkan kabar bahwa dia tidak lulus, lagi.
“Mungkin belum saatnya. Jangan menyerah!” ayahnya berusaha menyemangati anak laki-lakinya.
“Bahkan ini sudah yang kesekian kali, Ayah!” Drake terlalu frustrasi saat ini untuk mendengarkan kata-kata mutiara.
“Ayah tahu. Kau harus ingat, jika usaha tidak akan mengkhianati hasil,” ucap ayahnya.
Bukan sekali ayah Drake mengatakan hal itu. Bahkan dia selalu mengatakan hal itu dari sejak anak laki-lakinya masih usia belia. Drake selalu mendengarkan semuanya dengan baik, meski apa yang dia jalani tidak sesuai dengan kalimat indah penuh makna itu.
“Apa yang kurang dariku?” Drake masih bergumam sambil menahan amarahnya yang ingin membuncah.
“Kau luar biasa, Nak! Kau hebat bisa sampai di titik ini. Ibu percaya padamu, kau bisa menjalaninya,” ucap ibu.
Semua kalimat itu begitu manis. Namun, Drake masih belum bisa menerima kenyataan. Jiwa dan raganya begitu lelah dan sakit. Semua ini sangat lebih dari cukup untuk membuat mentalnya hancur, bahwa dia tidaklah berguna bagi siapa pun.
Saat ini Drake tengah patah. Dia sedang tidak membutuhkan kalimat motivasi yang bermajas, bahkan sampai berdiksi. Namun, dia tidak tahu apa yang dia butuhkan. Dia hanya terlalu sedih hingga membuat mental yang dia bangun hampir hancur karena ini. Pria beriris coklat itu hanya menginginkan semua yang dia harapkan terwujud saat ini juga.
“Argh!”
Drake berusaha mengeluarkan semua sesak dalam d**a, hingga rasanya terlalu sakit untuk disimpan olehnya. Dia hanya berharap semua yang dialaminya segera membaik. Bahkan dia tidak peduli jika saat ini dia menjadi bahan tontonan di sebuah taman yang kala itu cukup ramai.
Drake tidak mengidahkan tatapan-tatapan aneh yang tertuju padanya, dan lebih memilih memainkan ponsel yang sedari tadi tersimpan di saku jaket. Tidak sengaja dia melihat sebuah iklan di salah satu media sosial. Mereka menyebutkan sebuah sekolah dengan beberapa jurusan yang salah satunya membuat rasa minatnya timbul. Hingga Drake memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di bidang ilmu teknologi informasi dan komunikasi.
Setelah dari bayang-bayang kegagalan, akhirnya Drake berhasil keluar dari keterpurukan. Keputusan yang dia ambil kini membuahkan hasil. Dia diterima di salah satu kampus di Greenwich yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Dia memilih untuk masuk jurusan computer engineering and cybernetics.
Di tahun pertama kuliah, semuanya baik-baik saja. Bahkan nilai akademik pun memuaskan. Selama itu, Drake pun mempelajari banyak hal tentang teknologi. Hanya saja di tahun kedua, salah satu mata kuliah yang dia ikuti mendapatkan nilai yang tidak pernah dia sangka. Lebih mengejutkannya lagi ternyata orang tuanya selama ini terlilit hutang.
Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Drake berusaha mencari pekerjaan sampingan saat jadwal kuliahnya senggang. Bahkan dia mencoba mengajukan permohonan beasiswa, agar dia bisa bertahan di kampus itu sampai dia bisa menyandang gelar sarjana. Namun, sayang Drake gagal masuk kualifikasi.
“Ah, sial! Kenapa hidupku seperti ini?” Drake merutuki nilai buruk itu sampai tangannya mengepal kuat, dan hampir saja merobek kertas yang dia pegang.
Drake semakin merasa buruk saat ibunya mulai sakit-sakitan dan butuh biaya tambahan untuk pengobatan. Bahkan saat dia baru sampai rumah setelah seharian kuliah, dia kerap kali melihat ayahnya dipukuli karena telat membayar. Drake tidak tega melihat orang tuanya dalam keadaan seperti ini. Dengan terpaksa, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti kuliah, walau saat itu Drake hampir memasuki ujian semester untuk masuk tingkat tiga.
“Kenapa kau mengambil keputusan itu, Drake!” teriak ayahnya yang baru mengetahui jika putranya memilih berhenti kuliah.
“Ayah pikir, aku akan membiarkan kalian seperti ini!” teriak Drake.
“Ayah seperti ini untuk kalian. Ayah masih mampu membayar hutang itu. Jadi, kau hanya perlu belajar dan mendapat gelar sarjana. Bukankah itu yang kau inginkan untuk membuat kami bangga padamu setelah kau gagal masuk Akademi Militer?” ucap ayah.
“Sudah, jangan ribut seperti ini,” lirih ibunya yang hampir menangis karena melihat pertengkaran yang ada.
“Maafkan aku, karena aku masih menjadi beban diusiaku sekarang,” setelah mengatakan itu Drake memilih pergi dari rumah untuk menenangkan diri. Bahkan teriakan ayah dan ibunya pun tidak diidahkannya. Rasa sesal dalam hati Drake terlalu mendominasi. Hingga dia tidak sanggup mengontrol diri dari emosi yang menguasainya.
Andai saja nilaiku tidak ada yang buruk, mungkin aku akan tetap menjadi mahasiswa, Ayah. Aku tidak bisa menjadi bebanmu, padahal uang kita sama sekali tidaklah cukup, batin Drake.
Drake menatap langit yang kini gelap tanpa bintang satu pun. Menjadi dewasa tidaklah mudah. Apalagi dengan hiruk pikuk kehidupan dengan berbagai tipe dan rasa. Batinnya terasa lelah memikirkan banyak hal.
Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Harus sampai kapan? Batin Drake.
Setelah hari itu, Drake pun mulai mendapatkan uang dengan melakukan beberapa pekerjaan, agar bisa membantu ayahnya melunasi hutang yang jumlahnya tidak sedikit. Penghasilan yang didapatnya hanya meringankan sekitar delapan persen dari total jumlah hutang yang seolah tidak pernah berkurang. Drake merasa frustrasi, bahkan hampir depresi. Apalagi saat melihat ibunya menangis karena ayah yang terluka, lagi dan lagi.
Seolah mendapatkan angin segar, senyum Drake mulai mengembang lagi setelah cukup lama terpuruk. Dia masuk pelatihan yang saat itu tengah dibuka untuk menjadi staf keamanan di sebuah perusahaan ternama, dengan bayaran yang cukup menggiurkan. Drake berusaha menjadi yang terbaik, agar kesempatan itu segera menghampiri.
Di tengah perjuangan dan juga harapan, Drake merasa bangga saat pemimpin mereka memintanya untuk menghadap seorang diri. Dia berjalan dengan penuh keyakinan mengikuti salah seorang staf khusus yang dia sendiri tidak tahu siapa orang itu. Hingga akhirnya dia sampai di sebuah ruangan yang begitu luas dengan tatanan rapi bernuansa monokrom didominasi putih.
Seorang pria paruh baya yang terlihat begitu gagah dan disegani tengah duduk di kursi kebesarannya, dengan sebuah cerutu yang diapit oleh kedua jari tangan kiri. Pria patuh baya yang diperkirakan berusia sekitar lima puluh tahun itu tengah menatap Drake dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dialah Tuan Armstrong, pemilik perusahaan ternama Armstrong Group.
“Senang bertemu denganmu, Drake,” sapa Tuan Armstrong.
Drake memberikan salam hormat pada memilik perusahaan Armstrong Group itu, “Saya juga sangat senang bertemu dengan anda, Tuan Armstrong.”
“Sesuai tawaran. Saya meminta jawabanmu sekarang,” ucap Tuan Armstrong yang langsung pada intinya.
Sebelum itu yang Drake perkirakan staf khusus yang mengantarkannya tadi, ternyata dia adalah orang kepercayaan Tuan Armstrong yang bernama Austin Cole. Dia memaparkan maksud Tuan Armstrong yang ternyata Drake diberi tawaran untuk sebuah pekerjaan.
“Saya terima tawarannya, Tuan,” jawab Drake dengan tegas.
“Kau yakin? Saya tidak ingin kau mundur jika kita sudah sepakat,” ucap Tuan Armstrong.
“Saya yakin, Tuan,” ucap Drake dengan tegas.
Ini adalah kesempatannya yang mungkin tidak akan datang dua kali. Bagi Drake menjadi pengawal tidaklah sulit, apalagi dia sudah dibekali ilmu bela diri yang dia pelajari beberapa tahun hingga saat ini.
“Hm, saya suka yang seperti ini,” akhirnya Drake melihat senyum sarkas itu, setelah beberapa kali mendengar bagaimana karakter pemilik Armstrong Group yang begitu digadang-gadangkan.
Setelah pembicaraan tempo hari dengan pemimpin Armstrong Group, Drake mulai bekerja sesuai arahan Austin. Awalnya Drake berpikir jika dia hanya akan menjadi pengawal biasa. Namun, pada kenyataannya semua diluar dugaan. Bahkan Drake harus menyembunyikan identitas dengan menghapus nama keluarga dari nama lahirnya.
Pekerjaan macam apa ini? Batin Drake dengan kedua alis yang hampir saling bertautan.
Drake mulai mempertimbangkan lagi atas keputusan yang pernah diambilnya. Dia merasa, kali ini keputusan yang dia ambil salah. Namun, dia ingat akan sesuatu jika dia tidak bisa mundur karena keterikatan kontrak kerja.
“Ah, sial!”
Akhirnya Drake menjalani pekerjaan dengan terpaksa, karena saat itu dia tidak memiliki pilihan lagi. Dia membutuhkan uang dengan segera dan pemimpin Armstrong Group menawarkan bayaran yang lebih dari cukup. Meski dia harus melakukan pekerjaan kotor untuk melindungi keluarga dan bisnis Armstrong Group.
Dalam kurun waktu dua bulan, Drake bisa melunasi hutang keluarga dan juga perawatan ibunya. Bahkan dia bisa membuat keluarganya kini hidup lebih dari kata layak. Semua yang Drake lakukan hanya demi keluarga. Walau mereka tidak tahu, jika nyawa putranya yang menjadi taruhan. Drake pun mulai terbiasa dengan karakter yang baru sebagai pria dingin dan tidak punya hati demi profesionalitas.
Di tahun kedua, pemimpin Armstrong Group menugaskan Drake untuk memegang kendali laju bisnisnya. Bukan tanpa alasan pemimpin Armstrong Group itu memberikan tugas yang bisa dikatakan lebih sulit dari seorang pengawal. Dia sudah menelusuri tentang Drake di masa lalu.
Pekerjaan barunya membuat Drake memiliki pengalaman baru. Dia memang sedikit kesulitan dengan itu. Namun, dia tidak menyerah begitu saja, karena dia sudah terbiasa dengan hal-hal sulit lainnya, yang mengharuskan dia menguras tenaga dan juga otak secara berlebih. Hingga tidak terasa jika hampir empat tahun Drake bekerja dengan Tuan Armstrong, pemilik Armstrong Group. Bahkan dia pun mulai menikmati hidup yang sekarang dia jalani, dengan banyaknya risiko yang harus diterimanya.
Semua ingatan itu tidak akan pernah Drake lupakan. Bagaimana dia berjuang hingga tidak pernah pulang. Menahan rindu hanya demi uang. Menahan rasa sakit hanya demi kemajuan hidup. Bahkan dia pun mengingat perkataan seseorang yang mampu membuatnya berpikir lebih keras akan sebuah keputusan. Dia begitu bangga pada dirinya yang mampu berusaha menekan ego, meski semuanya tidak selancar kata-kata motivasi.
Drake mengusap goresan luka di sisi perut kiri. Itu adalah salah satu bukti nyata atas perjuangannya untuk sebuah kehidupan. Bernostalgia akan sebuah luka, terkadang itu cukup buruk bagi kesehatan mental. Namun, itu tidak selamanya buruk.
Cukup lama Drake berdiam diri di bawah guyuran air. Setelah dirasa lega, dia pun mematikan shower lalu keluar dengan perasaan yang lebih baik. Kemudian mulai melilitkan handuk di pinggang, lalu keluar dari kamar mandi untuk segera berpakaian kembali. Tugasnya masih cukup banyak jika dia harus menambah durasi untuk menghabiskan waktu di dalam kamar mandi.