No Choice
Prang!
Semua orang yang ada di sana pun terkejut mendengar suara tembakan yang mengenai kaca pintu gedung yang mengarah pada gudang. Dengan sigap, Drake pun bersiap memegang senjata api yang dia simpan di balik jasnya. Bahkan Austin dan beberapa penjaga lain pun sudah bersiap dengan senjata apinya. Mata mereka menelusuri setiap penjuru arena. Drake tidak menemukan tanda-tanda adanya penyusup. Namun, akhirnya dia tahu siapa yang membuat kegaduhan layaknya penyusup.
Kenapa dia selalu bertingkah seperti itu? batin Drake.
Lyra adalah satu-satunya orang yang tidak peduli dengan kegaduhan sekitar. Drake melihat dia tengah memainkan senjata api dengan santai. Hingga akhirnya Drake pun mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Drake melirik beberapa penjaga untuk memberikan isyarat jika keadaan dalam situasi aman. Dia pun melirik Austin dengan tatapan yang penuh arti. Dalam diam, Drake melepaskan pegangannya pada senjata api, lalu menetralkan kembali sikapnya saat Austin pergi meninggalkan tempat latihan. Tersisalah Drake, Lyra, dan beberapa penjaga arena tembak.
“Aku heran, kenapa Ayah bisa memilihmu untuk menggantikan Hugo dan Julian?” ucap Lyra saat jarak Drake hanya dua langkah darinya, “Aku tidak melihat apa kelebihanmu selain kau mampu menangkapku waktu itu.”
“Maaf, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya menjalankan apa yang diperintahkan. Saya sendiri tidak tahu kenapa Tuan Armstrong bisa memberikan tugas ini pada saya,” ucap Drake dengan sopan.
“Sebenarnya, aku sangat keberatan kau ada di sini. Kenapa kau tidak mencoba menolak tawaran Ayah?” Lyra pun mulai mengacungkan kembali senjata api yang dia pengang, tapi kali ini dia arahkan pada papan target yang sudah disediakan.
“Sayangnya itu bukanlah tawaran, Nona, melainkan permintaan sekaligus perintah yang tidak bisa saya tolak begitu saja tanpa alasan yang jelas,” Drake menjeda sejenak ucapannya, “Lalu, kenapa tidak Nona yang menolak permintaan Tuan Armstrong? Bukankah Nona putrinya.”
Mendengar akhir kalimat yang Drake ucapkan, seketika Lyra mengalihkan pandangannya sambil menodongkan senjata api pada Drake, “Kau berani memerintahku?”
“Tidak, Nona. Itu hanya sekedar saran,” ucap Drake dengan tidak tahu malunya.
“Saran? Aku merasa tidak meminta saran apa pun darimu,” ucap Lyra.
“Kalau begitu saya minta maaf atas kelancangan saya,” Drake sedikit menunduk lalu menatap lurus ke depan.
Sikap tenang yang ditunjukan Drake membuat Lyra berdecak kesal. Hingga dia menarik kembali senjatanya, dan mulai mengarahkan pada papan target yang berjarak sekitar lebih dari sepuluh meter. Luas arena tembak luar lebih dari dua hekto are, yang membuat seseorang berlatih pun cukup leluasa tanpa takut menyakiti, kecuali memang dia berniat menyakiti.
Drake hanya memperhatikan bagaimana cara Lyra membidik target. Sangat tidak diragukan bagi seorang putri pemimpin Armstrong Group. Lyra cukup terlatih dari bagaimana cara dia menggenggam senjata api tipe semi otomatis yang berasal dari Belgia itu dengan yakin. Tatapan matanya pun bak elang seolah mengunci target agar dia tidak lolos.
Suara tembakan demi tembakan terus terdengar yang cukup memekakkan telinga, sampai akhirnya Lyra pun berhenti menembak. Di saat itu Drake mengambil senjata api yang lain dengan jenis yang berbeda yang masih penuh dengan amunisi. Dia pun memberikan benda itu pada Lyra untuk menggantikan senjata sebelumnya. Tanpa diduga, Lyra malah mengeluarkan amunisi senjata buatan Amerika itu dan menyisakan satu di dalamnya.
“Apa kau suka dengan permainan?” tanya Lyra sambil memutar tabung revolver.
“Sejujurnya saya tidak terlalu suka, Nona,” ucap Drake.
Lyra pun tersenyum dengan sarkas, “Ternyata hidupmu terlalu serius, Drake.”
Bukannya tidak suka, Drake hanya tidak ingin bermain-main dengan Lyra. Dia tidak ingin tugasnya semakin sulit karena hal konyol. Namun sayangnya, entah itu tugas atau permainan semata, Drake hanya mampu mengikuti alur yang ada.
“Aku akan mengajakmu bermain sesuatu yang menarik. Aku yakin kau pasti suka dengan permainan ini,” tatapan Lyra pada Drake begitu penuh arti.
Drake cukup bisa merasakan jika akan ada hal yang tidak beres. Dan benar saja, dugaannya itu menjadi kenyataan. Kini Drake tengah berdiri di antara papan target dan juga Lyra.
“Apa Nona yakin?” Drake sedikit berteriak mengingat jaraknya dengan Lyra sekarang cukup jauh.
“Kapan aku tidak yakin dengan keputusanku?” balas Lyra dengan acuh.
“Sepertinya akan lebih menarik jika kita bersulang saja,” ucap Drake dengan datar.
“Aku akan bersulang seorang diri setelah kau tidak ada,” ucap Lyra.
“Kita tetap akan bersulang bersama meski ini adalah hari terakhir saya,” ucap Drake.
“Sialan!” tanpa aba-aba, Lyra pun menarik pelatuknya yang membuat Drake diam seketika.
Lyra menamai permainannya let’s to heaven. Kesepakatannya hanya butuh tiga kali tembakan. Jika semuanya kosong, berarti Drake selamat. Sebaliknya, jika ternyata tabung itu terisi, maka tamatlah Drake saat itu juga. Satu tembakan sudah dilakukan dan ternyata kosong. Masih ada dua tembakan lagi yang akan Lyra lakukan.
“Bagaimana? Menarik, bukan?” itu lebih terdengar sebuah cemoohan bagi Drake.
Situasi seperti ini sangat familiar bagi Drake pribadi. Jatungnya akan berpacu lebih cepat saat bahaya menghalaunya tiba-tiba. Namun, dia akan memiliki cara untuk menyelamatkan diri. Sayangnya, situasi sekarang berbeda. Otak dan tenaganya tidak berguna. Jika sampai tembakan itu ada yang terisi. Maka Drake akan mati sia-sia seperti seorang pecundang tanpa perlawanan.
Lyra tidak mendapatkan respon apa pun yang membuatnya menjadi kesal kembali. Dia begitu ingin memukuli Drake saat itu juga. Jadi, dia melanjutkan permainannya dengan segera.
Tembakan yang kedua pun kosong, tapi itu mampu menggertak Drake yang kaku dan datar. Hingga tiba tembakan yang ketiga, mata mereka berdua saling menatap dengan arti yang berbeda. Drake cukup mampu melihat gerakan bibir Lyra yang berarti ‘it’s your time’.
Sial! Batin Drake.
Seketika mata Drake terpejam saat suara tembakan yang ketiga itu terdengar, bahkan dia menahan napasnya seolah berusaha menahan tekanan peluru yang mengenai salah satu bagian tubuhnya. Hatinya terus berharap jika hari ini bukan hari terakhirnya, karena dia merasa jika kewajibannya belum selesai.
Hening. Itu yang bisa didengar Drake setelah suara tembakan terakhir menggema. Namun, ada hal yang aneh pada dirinya. Dia tidak merasakan apa pun di tubuhnya. Minimal dia memekik menahan rasa sakit dari serangan peluru, tapi ini tidak.
“Jangan menahan napasmu seperti itu. Kau bisa mati,” Lyra berbisik di telinga Drake yang begitu menggelitik bulu kuduknya.
Seketika Drake mengembuskan napasnya dengan kasar, yang membuat Lyra puas sudah membuat Drake tersiksa seperti itu. Drake dan Lyra saling menatap dengan ekspresi yang berbeda. Lyra sudah merencakan hal ini saat dia tengah membongkar semua peluru dalam senjatanya, dengan menghitung tembakan yang keberapa peluru itu keluar. Lyra tidak bermaksud membunuh Drake secara tiba-tiba seperti tadi tanpa alasan yang jelas. Itu bukan gayanya.
“Bagaimana? Menarik, bukan?” setelah mengucapkannya, Lyra pergi meninggalkan Drake begitu saja.
Drake hanya menatap punggung Lyra yang mulai menjauh. Tidak lama, Lyra pun berseru, “Latihanku belum selesai!”
Kejadian hari ini mengingatkan Drake atas ucapan seseorang, tingkat kesabaranmu harus tinggi jika menghadapi anggota keluarga Armstrong, karena kau akan ada di posisi serba salah dalam situasi apa pun. Maka dari itu, kau selalu dilatih dalam pilihan yang sulit, yang mana kau akan tetap dalam posisi tidak beruntung. Namun, jika jejakmu baik, maka dedikasi yang kau berikan tidak akan pernah hilang begitu saja.
Hingga detik ini, kalimat itu masih tersimpan rapi dalam ingatan Drake. Dulu, dia hanya menganggap ucapannya itu hanya kalimat motivasi seperti yang biasa dia dengar, agar dia melakukan yang terbaik untuk pekerjaannya ini. Namun, saat Drake mulai mencari arti kalimat itu dalam pekerjaannya, akhirnya dia pun mengerti jika ucapan itu saling bertautan. Itu bukanlah kalimat motivasi. Namun, itu kalimat peringatan.
Drake meminta penjaga untuk membereskan kekacauan yang Lyra buat, termasuk mengganti pintu kaca yang nasibnya sedang tidak beruntung hari ini. Setelah memastikan semuanya, Drake pun mengikuti ke arah mana Lyra pergi. Sesuai informasi yang diberikan Austin, Lyra akan berlatih hingga pukul enam sore dan ini masih pukul lima sore, masih tersisa enam puluh menit.
Lyra tiba di studio fitness lebih dulu, dan dia menuju arena kickboxing yang ada di sudut ruangan. Tidak berselang lama dari kedatangan Lyra, Drake pun memasuki tempat itu. Dia tidak mendapat arahan apa pun untuk ini. Jadi, dia hanya berdiri dengan sikap istirahat di sisi arena kickboxing, sambil memperhatikan Lyra yang kini tengah bersiap dengan handwrap-nya.
Sebenarnya, Drake tidak pernah menemani Lyra berlatih sebelumnya. Jadi, dia begitu awam untuk ini. Dia juga tidak sempat bertanya pada Hugo atau pun Julian karena dia begitu sibuk dengan pekerjaannya.
“Hey kau! Kenapa hanya diam di sana?” seru Lyra dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
Drake tahu panggilan itu diarahkan untuknya. Hanya saja apa yang salah dengan dirinya kali ini, hingga dia pun mencoba melirik salah satu penjaga studio itu sambil mengangkat sebelah alis.
“Julian selalu menjadi lawan Nona Lyra saat di arena,” ucap Mike dengan nada pelan. Dia salah satu penjaga yang ada di studio fitnes.
“Apa aku harus menjadi lawan Nona Lyra juga? Aku hanya ditugaskan untuk menemaninya saja, bukan menjadi lawannya,” jelas Drake.
“Karena Julian tidak ada, berarti kau yang harus menggantikannya kali ini,” ucap Mike.
“Tapi…” ucapan Drake langsung dipotong oleh Mike, karena dia tidak ingin mendapatkan amarah dari Lyra.
“Bersiaplah! Aku akan mengambilkan handwrap untukmu,” Mike berlalu ke salah satu lemari yang ada di sudut ruangan.
Drake mengembuskan napasnya pelan, lalu dia pun mulai bersiap dengan membuka jas dan dasi yang sedari tadi melekat di tubuhnya. Tidak lupa pula dengan sepatu pantofelnya. Disingsingkannya lengan kemeja putih hingga sebatas sikut, karena Drake sedang tidak memakai baju berlapis. Dia pun menerima handwrap yang diberikan Mike, lalu memasangkannya di kedua tangan.
“Apa kau membutuhkan pakaian lain?” Mike melirik pakaian formal yang dikenakan Drake, karena menurutnya sangat tidak cocok dipakai di situasi seperti saat ini.
Namun, sebelum sempat Drake menjawab, suara Lyra lebih dulu terdengar menggema mengisi ruangan tertutup itu, “Kau menghamburkan waktuku, Drake!”
Drake pun hanya melirik Mike, “Sepertinya tidak ada waktu lagi. Mungkin lain kali.”
“Baiklah,” ucap Mike sambil memperlihatkan seulas senyuman. Dia pun mempersilahkan Drake untuk naik ke arena.
Tidak membutuhkan waktu lama, Drake langsung naik ke arena dan berdiri di sisi lain yang berlawanan dengan Lyra. Masih dalam keadaan belum siap, tiba-tiba Lyra menyerang Drake tanpa aba-aba. Jelas saja, hal ini tidak menjadi masalah bagi Drake karena dia sudah terbiasa seperti ini.
Dilihat dari bagaimana Lyra bergerak, ini bukanlah latihan. Namun, pelampiasan dari kekesalan yang berkedok latihan. Bagi Drake ini tidak terlalu sulit, meski bisa dikategorikan jika kemampuan Lyra lebih dari seorang gadis.
Drake hanya bergerak ke sana dan kemari untuk menghindar dari serangan yang Lyra buat. Bahkan dia tidak melakukan serangan balik seperti yang seharusnya. Dia hanya menahan diri agar tidak melukai Lyra. Drake cukup tahu jika dia tidak boleh melukai Lyra meski saat ini dia lawannya.
“Apa kau sedang mempermainkanku?” sarkas Lyra dengan napasnya yang terengah.
“Tidak, Nona,” jawab Drake dengan datar.
“Lalu, kenapa kau hanya menghindar? Lawan aku!” ucap Lyra penuh penekanan.
“Maaf, Nona. Saya tidak bisa,” jawab Drake.
“Ck, lemah!” Lyra semakin kesal dibuatnya.
Mendengar hal itu Drake sedikit terpancing. Dia pun mulai mengubah pergerakannya. Bahkan tatapannya pun mulai menajam. Lyra yang melihatnya sedikit tertegun. Namun, latihan tetap berlanjut. Hingga saat Lyra akan menyerang wajah Drake, tangan Drake lebih cepat untuk menghalau gerakannya. Drake mengunci pergerakan Lyra dengan tangannya yang di lipat ke belakang tubuh. Drake pun sedikit menendang kaki Lyra agar dia berlutut.
“Apa saya lemah, Nona?” bisik Drake yang ikut berlutut di belakang Lyra.
Apa yang Drake lakukan cukup membuat Lyra sedikit meremang. Apalagi hawa panas dari tubuh Drake membuatnya sedikit tidak nyaman, karena punggungnya yang bersentuhan langsung dengan d**a bidang milik Drake. Tidak ingin di posisi tersudut, Lyra pun mulai mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan Drake. Namun, kuncian Drake terlalu kuat.
“Drake, lepaskan aku!” pekik Lyra.
“Bukannya ini yang Nona inginkan,” ucap Drake dengan santai.
“Tapi kau menyakitiku,” ucap Lyra.
Drake tahu jika Lyra hanya beralasan tentang itu, karena dia merasa semua pergerakannya tidak menyakiti Lyra sedikit pun. Hanya membuat Lyra sedikit kesal saja.
“Tidak ada pertarungan yang tidak saling menyakiti,” ucap Drake sambil mulai melepaskan cekalannya.
Lyra pun berbalik menghadap Drake dengan wajahnya yang ditekuk karena kesal dan juga lelah. Lyra memukul d**a Drake tapi itu bukan apa-apa baginya.
“Sialan kau!”
Setelah mengatakannya, Lyra pun pergi meninggalkan arena begitu saja. Dia gagal membuat Drake kesal seperti di arena tembak. Sekarang dialah yang kesal karena kelakuan Drake yang menurutnya lebih menyebalkan dari saat kejadian di Greenwich.
“Awas saja kau!” Lyra pun menggerutu saat dia tengah berjalan di lorong menuju kediaman Armstrong.
Drake mengembuskan napasnya kasar. Dia tidak berniat mengejar Lyra dan membiarkan Lyra kembali ke kediamannya seorang diri. Jam sudah menunjukan pukul enam lebih sepuluh menit, berarti tugasnya sudah selesai sepuluh menit yang lalu. Drake pun turun dan melepas handwrap yang melekat di pergelangan tangannya. Dia pun mengambil jas dan sepatu dengan cara dijinjing. Dia kembali ke ruangannya dengan segera untuk membersihkan diri.
Pukul tujuh tiga puluh, Drake bersiap keluar setelah mengecek perangkat kerjanya. Dia pergi ke salah satu resto seorang diri. Sejak tadi siang dia sudah tidak sabar mendengar suara yang dia rindukan. Untuk melepas rindu saja Drake harus menjauh dari lingkungan Armstrong. Ini demi privasinya tetap terjaga.
Obrolan hangat mengalir begitu saja meski hanya melalui sambungan telepon. Hubungan keluarga yang luar biasa. Setelah cukup lama, akhirnya sambungan telepon itu pun berakhir meski rasa rindu masih membuncah dari kedua belah pihak. Bersamaan dengan pesanan tambahan datang, ponsel Drake pun berdering.
“Halo!” sapa Drake lebih dulu.
“Aku rindu! Kapan kita bisa bertemu,” ucap seseorang di seberang telepon dengan nada riang.