No Way!
Pagi ini Drake bangun tanpa gangguan. Hingga dia merasa menjadi manusia normal pada umumnya, yang bisa terlelap di kala malam dan terbangun di kala matahari terbit. Bahkan pagi ini hatinya terasa nyaman dan bahagia meski malam itu telah berlalu.
Seperti biasa, saat dirinya sudah siap dengan pakaian formal, Drake pun mulai duduk di depan monitor. Ini masih pukul tujuh lebih tiga puluh menit, yang pastinya masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi menuju jam kerja. Namun, Drake sudah bersiap dengan segalanya. Bahkan sekarang dia tengah menyiapkan beberapa berkas untuk diberikan pada Tuan Armstrong.
Ini tentang laporan perkembangan bisnis di bidang industri senjata. Perusahaan di bawah naungan Armstrong Group ini sudah berdiri lebih dari dua puluh lima tahun. Bahkan Tuan Armstrong bekerja sama dengan pemerintah kerajaan sebagai pemasok senjata untuk pasukan militer Inggris.
Katakanlah, Drake cukup berperan penting dalam bisnis ini. Dia mengemban tanggung jawab yang cukup berat, yang membuat dirinya tidak boleh lengah sedikit pun. Bahkan berkas-berkas penting tentang bisnis ini pun Drake yang menyimpannya. Tanpa Drake sadari Tuan Armstrong begitu mempercayainya, dan itu cukup membuat orang iri padanya.
“Austin, apa jadwal Tuan Armstrong pagi ini?” tanya Drake dalam sambungan telepon melalui earpiece.
“Tuan Armstrong akan keluar dari kediamannya pada pukul delapan lebih lima belas menit untuk beberapa pertemuan penting pada pukul sembilan pagi,” jawab Austin.
“Baiklah, sekitar sepuluh menit lagi aku akan menghadap,” ucap Drake.
Drake pun mulai bersiap dengan beberapa berkas di tangan. Dia pun pergi menuju ruangan Tuan Armstrong di kediamannya. Membutuhkan lebih dari tiga menit untuk melintas dari satu gedung ke gedung yang lain meski mereka masih satu area yang terpisahkan oleh taman.
Saat Drake sudah melintasi lorong penghubung, matanya menangkap seorang gadis yang tengah berdiri di dekat pintu utama kediaman Armstrong sambil tersenyum. Langkahnya mulai melambat saat dia melihat Tuan Armstrong menghampiri gadis itu dengan senyum hangat layaknya seorang ayah. Dia pun memutuskan untuk menghentikan langkahnya, dan berdiri di dekat pilar agar keberadaannya tidak terlalu mencolok.
“Kau yakin akan meninggalkan Ayah?” tanya Tuan Armstrong pada putrinya, Lyra.
“Aku akan pulang jika ada waktu. Aku harus menyiapkan beberapa berkas untuk pendidikan S2-ku dengan segera,” ucap Lyra.
“Padahal kau sudah cukup sibuk mengurus bisnis keluarga kita,” Tuan Armstrong mengelus puncak kepala Lyra dengan sayang.
“Aku harus menjadi yang terbaik,” ucap Lyra dengan nada membujuk.
“Putri Ayah akan selalu menjadi yang terbaik sampai kapan pun,” ucap Tuan Armstrong.
Lyra tersenyum pada Tuan Armstrong yang selalu menyayangi dan memperlakukannya dengan baik bak seorang ratu. Dia pun memeluk Tuan Armstrong yang langsung disambut dengan pelukan hangat. Lalu sebuah kecupan pun mendarat di pipi Tuan Armstrong yang dibalas dengan sebuah kecupan di kening Lyra.
“Ayah akan mengantarmu ke Greenwich,” ucap Tuan Armstrong.
“Tidak Ayah, aku akan pergi sendiri,” tolak Lyra.
“Kau sudah menolak pengawal yang ayah berikan dan kau masih menolak untuk ini?” Tuan Armstrong cukup keberatan dengan keputusan putri satu-satunya itu.
“Ayah tidak usah drama. Aku tahu jika Ayah menyebar pengawal di sekitarku dengan jarak yang menurut ayah aku tidak akan tahu,” Lyra menatap ayahnya penuh arti yang cukup membuat Tuan Armstrong terkekeh, karena perbuatan yang direncanakannya diketahui Lyra.
“Kau memang putri Ayah,” Tuan Armstrong berusaha menyelesaikan kekehannya yang belum kunjung selesai sebelum akhirnya dia berkata lagi, “Ya sudah, berhati-hatilah!”
“Baik, ayah,” ucap Lyra dengan wajah ceria.
Kenapa Austin tidak mengatakan soal ini? Batin Drake.
Saat sudah cukup melihat adegan yang mengharukan, Drake berencana kembali ke ruangannya dan menunda laporan. Namun, saat baru saja dia memutar haluan, tiba-tiba seruan Tuan Armstrong membuatnya untuk tetap di tempat.
“Drake!” panggil Tuan Armstrong.
Seketika Drake menghadap Tuan Armstrong, lalu melangkah menghampiri dan memberikan salam hormat pada pemimpin Armstrong Group itu, “Selamat pagi Tuan!”
“Kau akan pergi ke mana, Drake?” tanya Tuan Armstrong yang saat itu sudah tahu dari Austin jika Drake akan menemuinya pagi ini.
“Saya berencana kembali ke ruangan saya, karena sepertinya Tuan tengah sibuk. Saya tidak ingin mengganggu waktu anda dengan Nona Lyra,” ucap Drake.
“Prioritas saya sudah akan berangkat, tapi pekerjaan tetap nomor satu,” ucap Tuan Armstrong.
“Maafkan saya, Tuan,” Drake sedikit menganggukkan kepalanya.
“Tunggulah sebentar! Saya ingin menunggu Lyra terlebih dahulu,” ucap Tuan Armstrong.
“Baik, Tuan,” setelahnya, Drake pun mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang pada Tuan Armstrong dan juga putrinya.
Tanpa Drake sadari, Lyra tengah menatapnya diam-diam dengan raut wajah yang tadinya begitu cerah kini kelam seketika.
“Ayah, kalau begitu aku pergi,” Lyra mengecup pipi Tuan Armstrong sekali lagi sebagai tanda perpisahan mereka, sebelum Lyra menyibukkan dirinya di Greenwich.
Lyra pun mulai melangkah mendekati mobil sport-nya yang sudah disiapkan oleh pengawal lain. Namun, saat dirinya hendak masuk ke dalam mobil, mata Lyra bertemu dengan mata Drake beberapa saat. Mereka saling tatap dalam diam. Hingga akhirnya mereka sama-sama memutus kontak mata. Drake yang menatap ke sembarang arah dan Lyra yang langsung masuk ke dalam mobil miliknya.
Membutuhkan waktu kurang lebih empat jam untuk sampai di Greenwich. Lyra mengemudi seorang diri tanpa sopir pribadi seperti apa yang dia inginkan. Lyra merasa akan tetap aman, karena dia hidup dalam teritori ayahnya.
Bukan tanpa alasan Lyra memutuskan hal ini. Sejak dulu dia ingin hidup menjadi gadis biasa. Kehidupan gadis pada umumnya yang bisa hidup dengan bebas sesuai keinginannya, dan juga bisa berteman dengan siapa saja. Namun, sayangnya, takdir Lyra sedikit berbeda dengan apa yang dia harapkan.
Ditengah fokusnya mengemudi, tiba-tiba ponsel Lyra berdering yang dia simpan di atas dashboard mobil. Dia meraih ponsel itu untuk melihat siapa peneleponnya. Setelah tahu, dia pun mulai memasang earphone lalu mulai menyalakannya.
“Halo Felix! Ada apa?” tanya Lyra lebih dulu.
“Apa kau masih di Manchester?” tanya Felix dari seberang telepon.
“Tidak, aku kembali hari ini dan sekarang aku sedang di jalan,” jelas Lyra.
“Kau membuatku khawatir dengan menghilang tiba-tiba. Bahkan kau sulit sekali aku hubungi,” nada bicara Felix terdengar sedikit merajuk.
“Maaf, itu sangat tidak terencana,” sesal Lyra.
“Baiklah, lupakan. Yang terpenting kau baik-baik saja,” ucap Felix.
“Terima kasih,” ucap Lyra.
“Ngomong-ngomong, kapan kau akan tiba?” ucap Felix.
“Ini masih terlalu panjang. Mungkin sekitar tiga jam lagi,” ucap Lyra dengan nada tidak yakin.
“Ah, kalau begitu, bagaimana jika kita bertemu? Kebetulan aku sedang di London saat ini,” ucap Felix yang membuat Lyra langsung mengernyitkan dahinya.
“Sedang apa kau di sana?” Lyra sedikit penasaran dengan itu.
“Hanya bertemu teman lama, bukankah orang yang sama-sama kesepian bisa saling menghibur?” ucap Felix.
“Kau terlalu menyedihkan jika cerita seperti ini,” cibir Lyra.
“Ck, kau tega sekali,” ucap Felix dengan nada yang dibuat sedih.
Lyra tertawa mendengar Felix merajuk, “Berikan alamat lengkapnya sekarang, aku tidak ingin tersesat saat sampai di sana.”
Felix pun seketika ceria kembali, “Aku akan mengirimkannya melalui pesan dan juga berbagi lokasi.”
“Baiklah,” ucap Lyra.
“Kalau begitu, sampai nanti,” ucap Felix.
Setelah mendengar ucapan perpisahan dari Felix, Lyra pun memutus sambungan teleponnya lebih dulu. Dia pun mulai fokus kembali pada jalanan yang mungkin cukup membuatnya lelah.
Felix Halbert, dia adalah satu-satunya teman Lyra yang melihat dia apa adanya. Mereka sudah berteman sejak masa kuliah, meski usia Felix lebih tua dua tahun dengan Lyra. Lyra merasa nyaman berteman dengan pria beriris biru ini, begitu juga sebaliknya.
Melihat latar belakang Lyra, tidak mudah menjadi seorang anak dari pemilik Armstrong Group. Untuk mendapat teman yang benar-benar tulus itu bagaikan mencari sebuah jarum di tumpukan jerami. Lebih menyulitkannya lagi saat usia Lyra sepuluh tahun. Dia melihat ayahnya terluka karena sebuah pekerjaan sekaligus menewaskan ibunya. Yang membuat kepribadian baru Lyra mulai terbentuk.
Kerap kali Lyra berpikir bahwa dunia bisnis sangatlah mengerikan, yang membuatnya begitu ingin menghindar dari kehidupan yang dia miliki sejak lahir. Namun, ini takdirnya. Takdir yang harus dia jalani sebagai seorang pewaris tunggal dari Armstrong Group.
“Akhirnya kau tiba juga. Aku sempat berpikir jika kau tersesat atau semacamnya,” ujar Felix saat dia melihat Lyra baru saja turun dari mobilnya.
“Kehidupan ini sudah modern, Felix. Apa kau berpikir aku tengah berjalan di hutan?” ucap Lyra.
“Ya, kau memang gadis pemberani Lyra,” puji Felix sekaligus cibiran bagi Lyra.
“Ya, itu aku,” jawaban yang sangat percaya diri dari Lyra, yang cukup membuat mereka tertawa sejenak. Mereka pun menikmati waktu beberapa jam ke depan sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Greenwich.
“Felix, di mana laptopku?” teriak Lyra saat dia mencari barang itu dari tempat satu ke tempat lain.
Sesampainya di Greenwich, Felix memilih untuk menginap di rumah Lyra karena jarak ke tempat tinggalnya membutuhkan sekitar dua puluh menit lagi. Felix pun masuk ke ruang kerja Lyra di mana gadis itu berada sambil membawa laptop di tangannya, “Aku meminjamnya sebentar untuk mengkopi berkas yang baru dikirimkan manajerku. Maaf!”
“Ah, tidak apa-apa,” Lyra pun menerima laptop yang diberikan Felix.
“Terima kasih,” ucap Felix.
“Tidak masalah,” ucap Lyra sambil menyimpan laptop itu di atas meja kerjanya.
Lyra mulai membuka laptopnya, lalu mengecek satu persatu email yang masuk. Memilah dan memilih mana email yang penting dan mana yang bukan. Dia pun mengangkes beberapa situs yang dia rasa perlu. Setelah di rasa cukup, Lyra pun beralih pada Felix yang kini tengah sibuk di dapur.
***
Di tempat lain, Drake tengah melakukan peregangan otot-ototnya yang kaku. Dia sudah duduk berjam-jam di depan monitor yang cukup membuatnya jenuh. Dia pun melihat jam yang melingkar di tangannya. Pukul sepuluh malam lebih lima belas menit, yang artinya dia sedikit terlambat untuk makan malam.
“Pantas saja perutku terasa lapar,” gumam Drake sambil beranjak dari kursi yang membuatnya lupa akan kehidupan.
Drake pun pergi ke lantai bawah di mana dapur umum tersedia. Bisa dibilang fasilitas gedung yang bertingkat lima ini sangat lengkap. Bahkan ada pelayan khusus yang selalu menyiapkan makanan di jam makan yang seharusnya.
Gedung yang ditinggali Drake sama dengan gedung yang ditinggali Austin, Hugo, dan Julian. Mereka hanya berbeda ruangan saja. Gedung itu sangat berbeda jauh dengan gedung perusahaan pada umumnya. Gedung yang dibangun khusus oleh pemilik Armstrong Group untuk pengawal dan pegawai khususnya. Ini merupakan sebuah penghargaan bagi mereka yang berprestasi dan loyal.
Gedung itu juga berbeda dengan gedung perusahaan milik Armstrong Group yang ada di luar kawasan kediaman Armstrong. Ruang kerja yang langsung diberi fasilitas kamar layaknya kamar hotel bintang tiga. Hanya saja yang tinggal di gedung itu tidak memiliki waktu kerja yang saklek. Bisa disebut satu kali dua puluh empat jam mereka harus siap kapan pun dibutuhkan. Anggap saja semua itu setara dengan apa yang didapat dan juga diberikan.
“Kau baru datang?” sapa pelayan pria yang bernama Liam selaku koki di gedung itu.
Liam adalah koki profesional yang dipekerjakan Tuan Armstrong. Usianya sekitar tiga puluh tiga tahun. Dia sudah bekerja di tempat itu hampir sepuluh tahun. Tidak hanya Liam, ada tiga koki lain yang bekerja di gedung yang sama dengannya.
“Seperti yang kau lihat,” Drake pun duduk di salah satu kursi yang tersedia di meja pantry.
“Kau selalu sibuk, hingga jam makanmu pun sampai tidak teratur,” ucap Liam sambil membereskan beberapa peralatan dapur yang sekiranya tidak akan dipakai lagi malam ini.
“Aku hanya terlalu menikmati pekerjaanku,” ucap Drake seadanya.
“Cukup terlihat. Kau ingin makan apa malam ini?” tanya Liam.
“Yang sudah kau sediakan saja,” ucap Drake.
“Sayangnya semua yang aku sediakan sudah tidak tersisa,” ucap Liam.
“Sepertinya aku sangat terlambat,” ucap Drake.
“Kau cukup tahu itu,” Liam pun terkekeh.
“Apa aku boleh meminta sesuai apa yang aku pikirkan?” tanya Drake.
“Tentu, katakan saja,” ucap Liam.
“Roasted beef, bagaimana dengan itu?” ucap Drake.
“Segera tersaji,” ucap Liam yang langsung mengambil bahan makanan di dalam lemari es.
Drake terkekeh sejenak melihat karakter Liam yang sedikit jenaka. Itu cukup membuatnya terhibur. Bahkan dia merasa nyaman jika sudah mengobrol dengan Liam seperti tadi. Rasanya hidup Drake sedikit berwarna.
Membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit sampai akhirnya menu makan malam Drake terhidang di hadapannya. Rasa lapar semakin menjadi saat aroma dari daging panggang itu mendesak hidungnya. Bahkan tampilannya pun tidak kalah menggoda.
“Aku merasa beruntung mala mini,” ucap Drake.
“Kau akan selalu beruntung,” ucap Liam sambil mempersilahkan Drake untuk menikmati masakannya.
Tidak lupa Drake pun berterima kasih pada Liam, sebelum akhirnya dia pun menyantap makanannya dengan lahap. Baru saja dia merasa senang dengan makanan, tiba-tiba ponselnya memberikan sinyal yang membuat Drake mendesah lelah.
“Tugas?” ucap Liam yang tidak sengaja melihat reaksi Drake.
“Sepertinya aku harus segera kembali,” ucap Drake.
“Padahal makanmu belum selesai,” ucap Liam.
“Mau bagaimana lagi? Kalau begitu aku pergi. Terima kasih untuk makan malamnya,” ucap Drake yang hampir meninggalkan kursinya. Namun, Liam lebih dulu menghentikannya.
“Bawalah ini ke ruanganmu,” Liam memberikan roasted beef yang sengaja dia bungkus tadi, karena dia sudah cukup tahu bagaimana keadaan orang-orang yang tinggal di gedung itu. Apalagi tentang Drake yang bukan hanya sekali dia meninggalkan makanannya.
“Terima kasih,” Drake pun menerima bungkusan itu dan bergegas pergi ke lantai atas di mana ruangannya berada.
Setelah sampai di ruangannya, Drake menyimpan bungkusan makanan itu di sisi meja lain. Dia langsung beralih pada beberapa layar monitor yang menyala, lalu mengeceknya satu persatu. Seketika dahinya mengernyit melihat sistem asing masuk dengan paksa. Namun, penyusup itu tidak berhasil seperti biasanya dan hanya meninggalkan jejak seperti sebelumnya.
“Apa ini? Tidak mungkinkan?” gumam Drake yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.