The Doubt
Setelah malam itu, pikiran Drake terus tertuju pada apa yang baru dia ketahui. Itu sangat mengganggu pikirannya dalam menyelesaikan tugas. Drake tidak pernah seragu ini untuk membicarakan pekerjaan pada Tuan Armstrong, entah itu kabar baik atau bahkan buruk sekali pun. Dia selalu menerima apa pun konsekuensi dari pekerjaan yang sudah dia geluti cukup lama.
Sepertinya aku harus mencoba mencocokan datanya lagi, agar aku bisa membicarakan hal ini dengan yakin pada Tuan Armstrong. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman nantinya yang membuat posisiku terancam, batin Drake.
Posisinya kali ini cukup sulit. Drake harus benar-benar memikirkannya dengan matang. Hingga udara dingin pun terasa sejuk baginya yang kini otaknya terasa terbakar. Bulan ini adalah masa peralihan dari musim dingin ke musim semi. Walaupun salju sudah tidak turun lagi, tapi udaranya masih di bawah sepuluh derajat selsius.
Lamunannya terlalu dalam, sampai Drake tidak menyadari kedatangan seseorang yang beberapa saat lalu mulai memperhatikannya. Tatapan orang itu begitu menghunus, membuat siapa saja tidak berani menatapnya kembali. Pemilik manik biru indah itu begitu dipuja banyak wanita diluaran sana. Dialah Hugo, orang kedua setelah Austin yang cukup disegani di kalangan mereka.
“Kau begitu senang duduk seorang diri di sini, padahal udara sedang tidak bersahabat,” Hugo tiba-tiba saja duduk di sebelah Drake.
Kebetulan Drake saat ini tengah duduk di salah satu kursi taman yang tersedia di belakang gedung di mana dia tinggal. Dia hanya ingin menenangkan pikiran, sampai dia tidak peduli seperti apa cuaca hari ini. Bahkan dia tidak mengenakan mantel sekarang.
“Aku tidak sendiri,” ucap Drake acuh, tapi membuat Hugo mengalihkan pandangannya ke segala arah, “Ada kau yang menemaniku sekarang.”
Mendengar ucapan Drake, Hugo langsung menatap Drake nyalang, “Ck!”
Drake terkekeh sejenak tanpa mengalihkan pandangannya dari tanaman yang sedang bersiap untuk menyambut musim semi, “Tugasmu selesai?”
“Sejujurnya belum, aku hanya mengambil waktu sejenak untuk menghirup udara segar sebelum kembali menemui klien. Kau sendiri?” ucap Hugo.
“Kurang lebih sama, hanya objeknya yang berbeda,” jawab Drake.
Mereka pun mulai mengobrol yang sebenarnya tidak terlalu penting. Hanya obrolan ringan layaknya seorang teman. Sampai akhirnya mereka memilih diam dan menikmati ketenangan dalam dinginnya hari yang jarang bisa mereka rasakan.
Drake dan Hugo bukanlah sahabat karib. Hanya orang asing berbeda generasi yang tiba-tiba menjadi teman saat Drake baru bergabung dengan Armstrong Group, karena mereka sama-sama menginginkan kehidupan yang layak. Meski pekerjaan mereka berbeda, tapi beban tanggung jawab yang mereka pikul hampir sama beratnya.
“Sepertinya aku terlalu lama beristirahat,” Hugo mulai bersiap untuk bangkit dari duduknya.
“Aku juga harus kembali,” Drake pun ikut bangkit, “Kalau begitu aku duluan.”
“Ya, aku pun,” ucap Hugo dan setelahnya mereka pun berpisah dengan arah tujuan yang berbeda.
Hugo adalah bawahan Austin yang dulunya dia juga seorang pengawal. Bahkan dia sempat menjadi pengawal pribadi Lyra meski tidak lama. Seperti yang diketahui, Lyra merasa tidak nyaman terus diikuti oleh pengawal ke mana pun dia pergi. Jadi, Tuan Armstrong memilih untuk menyebar pengawal di jarak aman, dan membiarkan Hugo menjadi pengawal biasa.
Karena otaknya yang cerdas dan juga latar pendidikan yang patut diapresiasi, Tuan Armstrong mengangkat Hugo menjadi bawahannya Austin, untuk membantu tugas Austin yang pada saat itu urusan perusahaan semakin padat dari hari ke hari. Bahkan atas usahanya yang gigih, dia ditunjuk oleh Tuan Armstrong menjadi ketua di jajarannya, yang mana di jajarannya ada Julian dan beberapa orang lainnya. Tujuan dari itu, Tuan Armstrong menginginkan Austin agar bisa berfokus pada dirinya dan juga putri satu-satunya, Lyra Armstrong.
“Kau di mana? Kenapa lama sekali?” ucap Austin pada Hugo melalui sambungan telepon.
“Aku butuh ke kamar kecil, karena urusan ini tidak bisa diganggu gugat,” ucap Hugo yang sedikit mempercepat langkahnya menuju ruangan Tuan Armstrong.
“Cepatlah! Kau sangat terlambat. Jangan sampai Tuan Armstrong marah hanya karena kau membuang-buang waktunya,” peringat Austin.
“Ya, aku akan segera sampai,” Hugo langsung menutup teleponnya dan mulai berlari sekarang.
Di tempat lain Austin tengah mengumpat pada Hugo yang dengan beraninya menutup telepon tanpa basa-basi.
“Selalu seperti ini. Kenapa sikapnya semakin buruk saja?” gerutu Austin yang langsung beralih pada pintu besar ruangan pemimpin Armstrong Group.
***
Saat tiba di ruangannya, Drake langsung mencari beberapa berkas yang menurutnya ada hubungan dengan sistem asing malam itu. Dia pun membukanya satu persatu dan menampilkan semuanya dengan cara bersamaan. Matanya menelaah dengan jeli seolah tidak ingin melewatkan informasi apa pun.
“Ah, ini dia.”
Drake menemukan apa yang sejak tadi dia cari. Dia pun mulai mencocokan sampai ke akar permasalahannya. Begitu detail dia lakukan. Sampai akhirnya dia pun mulai bisa tersenyum, karena berhasil memecahkan masalah yang sejak lalu terus mengganggunya.
Setelah memikirkannya dengan matang, Drake pun mulai mengumpulkan bukti dan menyusunnya, agar memudahkan Tuan Armstrong dalam memeriksa laporan yang akan Drake berikan nanti. Drake pun menyiapkan diri untuk menghadapi Tuan Armstrong kali ini, karena dia sudah memperkirakan jika laporannya kali ini bisa saja menyinggung perasaan pemimpin Armstrong Group itu. Saat dia sudah siap dengan berkas-berkasnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Austin tertera sebagai pemanggil.
Kebetulan sekali, batin Drake.
Tadinya Drake berencana menghubungi Austin untuk mengetahui keberadaan Tuan Armstrong. Namun, siapa sangka orang yang akan dia cari ternyata malah mencarinya lebih dulu. Tanpa menunggu lagi, Drake langsung menyambungkan panggilan itu ke earpiece miliknya.
“Halo Austin! Kebetulan sekali kau memanggil. Aku perlu bicara denganmu untuk mempertanyakan di mana Tuan Armstrong sekarang,” ucap Drake lebih dulu.
“Ah, begitu rupanya. Aku memberitahumu jika Tuan Armstrong memanggilmu untuk ke ruangannya sekarang. Kau tidak perlu bertanya apa pun lagi padaku. Datanglah! Tuan Armstrong tengah menunggu. Ada yang perlu Tuan bicarakan padamu dan kau juga bisa menyampaikan tujuanmu nanti sekalian,” jelas Austin.
“Ah, seperti itu. Baiklah, aku akan segera sampai,” ucap Drake.
Sambungan panggilan itu pun terputus dan Drake langsung pergi dari ruangannya tanpa mengunci pintu. Dengan setengah berlari, akhirnya Drake sampai di depan pintu besar yang di jaga oleh dua pengawal. Drake pun langsung dipersilahkan masuk oleh pengawal yang berjaga di pintu itu.
“Selamat siang Tuan!” Drake memberikan salam hormat pada Tuan Armstrong saat dirinya sudah berdiri beberapa langkah dari meja kebesaran pemimpin Armstrong Group.
“Drake, sore ini kau ikut bersama saya dan juga Austin untuk menemui klien baru. Dia ingin perusahaan Armstrong sebagai pemasok utama senjatanya,” perintah Tuan Armstrong.
“Baik, Tuan. Kalau begitu saya akan menyiapkan beberapa berkas yang perlu diambil,” ucap Drake.
“Tidak perlu. Austin sudah menyiapkan segalanya,” ucap Tuan Armstrong.
“Saya memiliki salinan berkas yang diperlukan. Jadi, kita bisa langsung pergi menuju tempat klien,” jelas Austin.
“Baik kalau begitu,” Drake sedikit menundukkan kepalanya.
“Apa kau memiliki sesuatu untuk saya dengar?” sejak tadi Tuan Armstrong memperhatikan berkas yang ada di tangan Drake.
“Saya memiliki beberapa laporan tentang peretas itu, dan tiga hari yang lalu dia melakukannya lagi. Namun, seperti biasa, dia gagal menembus keamanan sistem,” jelas Drake.
Raut wajah Tuan Armstrong seketika menjadi kelam setelah mendengar ucapan Drake, “Kenapa kau baru melaporkannya?”
“Maafkan saya, Tuan. Saya hanya memastikan apa yang saya ketahui, karena saya tidak ingin ada kesalahan di dalamnya. Setidaknya akurasi yang saya dapatkan bisa mencapai delapan puluh persen,” jelas Drake.
“Austin, ambilkan berkasnya!” suara bariton itu menggema dengan aura kemarahan yang mulai muncul.
Dengan sigap Austin pun mengambil berkas yang Drake berikan, lalu memberikannya pada Tuan Armstrong. Mata Drake memperhatikan raut wajah Tuan Armstrong yang semakin mengernyitkan dahinya begitu dalam saat membaca deretan kalimat yang membuatnya sedikit tidak percaya.
“Kau yakin dengan laporanmu? Apa tidak ada tindakan manipulatif di sini?” tanya Tuan Armstrong yang masih menganalisis data yang Drake berikan.
“Saya yakin, Tuan,” mendengar jawaban Drake, seketika Tuan Armstrong menatap ke arahnya dengan penuh arti. Namun, Drake berusaha mengutarakan apa yang dia tahu sesuai fakta yang ada.
“Saya sudah mencocokan beberapa domain yang ternyata memiliki kemiripan, meski server yang dia gunakan ada beberapa. Jika di telaah ada kode tersembunyi dari deretan skrip yang bisa saya lacak. Saya rasa itu identitas yang akan mengantarkan kita padanya,” jelas Drake.
“Kalau begitu kita pergi ke sana nanti malam setelah pertemuan klien selesai,” ucap Tuan Armstrong.
“Baik, Tuan,” Drake pun mengangguk samar.
Drake, Tuan Armstrong, dan Austin mulai bersiap, lalu pergi meninggalkan kediaman Armstrong dengan beberapa pengawal lain yang selalu mengikuti ke mana pun Tuan Armstrong pergi demi keamanannya. Mengingat seberapa berpengaruhnya Tuan Armstrong dalam dunia bisnis. Saat mereka melintasi lorong demi lorong hingga sampai di pintu utama kediaman Armstrong, ada sebuah tatapan yang begitu menusuk memperhatikan mereka bertiga pergi meninggalkan kediaman yang begitu mewah dan besar itu. Pemandangan yang dia lihat cukup mengusik hati sampai dia menahan gejolak rasa yang bergemuruh di sana.
Ancamannya semakin dekat. Sepertinya aku harus berhati-hati dan mengatur strategi lain, batinnya.
Dia pun mulai pergi meninggalkan tempatnya sambil menempelkan ponsel di telinga. Tidak lama kemudian, sambungan telepon itu pun terjawab.
“Halo!”