Unexpected
Akhirnya mobil yang membawa mereka bertiga pun tiba di The Edwardian Manchester, A Radisson Collection Hotel diiringi oleh tiga mobil pengawal. Kedatangan mereka langsung disambut cukup hangat oleh orang kepercayaan klien tersebut. Namun, diam-diam orang tersebut mengamati siapa saja yang datang bersama pemilik Armstrong Group itu. Setelah dirasa cukup, dia pun mulai mengantarkan mereka ke salah satu ruangan seorang naratetama di hotel tersebut.
“Selamat datang Tuan Armstrong!”
Seorang pria paruh baya memutar tubuhnya dari pemandangan kota yang sangat indah itu dengan senyum khasnya. Bisa diperkirakan usianya hampir sama dengan pemimpin Armstrong Group yang kini tengah berdiri dengan gagahnya di ruangan itu.
“Terima kasih untuk sambutannya, Tuan Anderson,” Tuan Armstrong tersenyum dengan ramah, tapi bukan dalam artian sebenarnya.
Pemimpin Anderson Group adalah teman dekat pemimpin Armstrong Group tiga belas tahun yang lalu. Mereka memiliki mimpi yang sama, yaitu menguasai dunia bisnis, terutama dalam sektor persenjataan. Hanya saja karena keegoisan dan juga keserakahan membuat pertemanan yang terjalin selama bertahun-tahun itu pun hancur seketika. Meski hubungan pertemanan mereka begitu erat layaknya saudara. Siapa sangka mereka menjadi orang asing sekarang, bahkan diam-diam saling menjatuhkan.
“Lama tidak berjumpa,” Tuan Anderson menghampiri sofa yang tersedia, lalu duduk sambil memegang segelas wine di salah satu tangannya.
“Sepertinya anda sangat merindukan saya, sampai dibuatkan kejutan seperti ini. Saya sungguh tersanjung,” Tuan Armstrong melangkah sedikit demi sedikit sambil mengamati setiap sudut ruangan.
Bukan tanpa alasan Tuan Armstrong mengajak Drake serta dalam hal ini. Dia sudah memperhitungkan semuanya, bahkan tipuan konyol ini. Tuan Armstrong sengaja menerima tawaran dari musuhnya, dia hanya ingin tahu seberapa hebat pemimpin Anderson itu sekarang.
Awalnya Drake tidak mengerti saat mendapat isyarat dari Austin untuk bersiap dengan nada peringatan saat masih di luar hotel. Namun, kini dia mulai mengerti dengan keadaan yang sebenarnya. Bahkan posisinya sudah dalam keadaan waspada jika saja tiba-tiba keadaan di tempat itu menjadi tidak kondusif.
“Anda akan mendapat keuntungan besar jika bekerja sama dengan saya, Tuan Armstrong. Dan anda tidak akan mati konyol seperti dulu,” ucap Tuan Anderson dengan angkuh.
“Sayang sekali, sepertinya anda harus menyimpan harapan anda, Tuan Anderson. Maaf, saya tidak menyetujui hubungan kerja sama ini. Mungkin di lain waktu,” Tuan Armstrong beranjak dari duduknya, “Kalau begitu saya permisi!”
“Berhenti!” seru Tuan Anderson yang membuat langkah Tuan Armstrong seketika mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan tempat yang sangat tidak nyaman itu.
“Jangan besar kepala Armstrong! Kau tidak ada apa-apanya hingga detik ini. Kau tetaplah pecundang seperti dulu,” ucap Tuan Anderson penuh penekanan.
“Jika aku pecundang, lalu kau apa? Bahkan kau menawarkan kerja sama denganku sampai mencoba memanipulasi orang-orangku dengan identitas palsu. Jadi, yang pecundang di sini siapa, Anderson?” ucap Tuan Armstrong yang membuat Tuan Anderson semakin naik pitam.
“Sialan kau, Armstrong!” Tuan Anderson langsung mengacungkan senjata api yang telah dia sembunyikan di bawah sofa sebelumnya.
Melihat pergerakan yang dilakukan kubu Anderson Group, Drake langsung bersiap dengan senjatanya untuk melindungi Tuan Armstrong yang kini tengah terkekeh mencemooh.
“Satu hal lagi, Anderson. Kau tidak akan bisa mencuri data milikku, meski kau memiliki peretas handal sekali pun,” tawa Tuan Armstrong menggema di ruangan yang kini begitu tegang dengan todongan beberapa senjata api dari dua kubu.
Mendengar ucapan Tuan Armstrong, Drake begitu takjub dengan sosok pemimpin Armstrong Group itu. Dia belum melaporkan satu pun identitas pasti tentang penyusup tempo hari karena dia masih memastikan keabsahan atas laporannya. Dia hanya memberikan identitas menurut domain yang ada dan titik lokasi di mana perangkat itu diakses. Namun, di sini Tuan Armstrong sudah mengetahuinya lebih dulu.
“Kau harus mati hari ini, Armstrong!” sorot mata Tuan Anderson begitu menusuk seolah ingin mencabik-cabik tubuh Tuan Armstrong hingga hancur.
Tiba-tiba suara tembakan menggema dan itu membuat keadaan menjadi ricuh seketika. Drake dan Austin langsung mengambil posisi untuk melindungi Tuan Armstrong. Bahkan para pengawal dari dua kubu pun tengah mengadu kekuatannya di berbagai sudut. Suara pekikan demi pekikan membuat situasi menjadi bising.
Keadaan hotel semakin tidak baik. Austin pun langsung memberikan perintah melalui earpiece-nya pada pengawal lain yang sudah bersiap lebih dulu di lokasi saat beberapa mobil dari kediaman Armstrong belum sampai. Mereka bertiga menyelinap untuk menyelamatkan diri tanpa di ketahui oleh siapa pun.
“Ke mana dia?” mata Tuan Anderson menelusuri setiap sudut dan dia tidak menemukan keberadaan Tuan Armstrong.
“Sialan!” teriak Tuan Anderson sambil menembakkan senjata apinya ke arah pengawal yang dia kira milik Tuan Armstrong, yang ternyata tembakannya salah sasaran pula.
Mobil sudah terparkir di tempat aman yang sudah di tentukan oleh Tuan Armstrong. Mereka pun masuk ke dalamnya dengan tergesa dan langsung melesat pergi tanpa aba-aba.
“Tarik kembali pengawal kita! Jangan sampai dia berhasil membuat pengawal kita berkurang,” perintah Tuan Armstrong.
“Sesuai perintah!” Austin pun langsung memberikan perintah pada pengawal yang masih berada di dalam hotel tersebut untuk segera pergi.
“Sepertinya kita harus menunda keberangkatan,” mata Tuan Armstrong berfokus pada lengan atas kanan dan napas Drake yang terlihat cepat.
Drake hanya mengangguk sebagai jawaban, karena dia tengah menahan rasa sakit akibat tembakan yang mengenai lengannya. Dia berhasil menyelamatkan Tuan Armstrong lagi dari serangan seperti beberapa tahun yang lalu. Akhirnya dia mengerti alasan kenapa dia diikutsertakan dalam tugas ini, bahkan tanpa berkas yang biasa dia pegang. Dan ternyata keikutsertaannya untuk melindungi pemimpin Armstrong Group dari musuhnya.
Drake masih ingat, dia pernah mendapatkan pujian atas tugasnya sebagai pengawal. Bahkan dia mendapatkan hadiah khusus dari Tuan Armstrong. Dia tidak akan melupakan hal penting itu meski sudah berlalu. Hal yang setimpal dengan apa yang dia korbankan.
Hari sudah berganti malam, pemimpin Armstrong Group itu memilih kembali ke kediamannya untuk beristirahat. Drake memilih kembali ke ruangannya sejenak sebelum pergi ke rumah sakit untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di lengannya. Dia mengecek sebentar perangkat kerjanya. Namun, suara ketukan pintu membuyarkan fokusnya.
“Masuk!” seru Drake.
Pintu itu pun terbuka dan menampilkan Austin yang kini tengah berjalan ke meja kerja Drake setelah menutup kembali pintunya.
“Kenapa kau malah duduk di sana?” Austin menautkan kedua alisnya sambil memasukan tangan ke saku celana bahannya.
Tanpa mengalihkan pandangan, Drake pun menjawab, “Seperti biasa.”
“Kau butuh dokter. Jadi, tinggalkan itu sejenak,” ucap Austin.
“Aku akan ke sana setelah ini selesai,” jawab Drake acuh.
“Kau masih tetap sama,” Austin terus memperhatikan Drake yang tidak kunjung menatapnya.
“Ini perintah Tuan Armstrong. Apa kau akan bersikap acuh seperti itu?” kata-kata Austin sukses membuat Drake menatapnya.
Austin pun menyunggingkan senyum sarkas, “Pergilah! Apa kau perlu aku temani?”
“Aku tahu kau pun lelah. Istirahatlah!” Drake mengunci semua monitornya, padahal dia belum selesai memeriksanya.
“Aku akan membersihkan diri. Kau pergilah dengan Julian. Mungkin beberapa saat lagi dia akan sampai,” ucap Austin.
“Aku akan pergi sendiri. Aku baik-baik saja. Terima kasih,” ucap Drake yang mulai beranjak dari kursinya.
“Aku tahu kau hebat. Makanya Tuan Armstrong mempercayakan nyawanya padamu,” ucapan Austin membuat Drake menatapnya lagi, “Jadi, segera obati lukamu, kau harus selalu baik-baik saja.”
Austin mengepalkan sebelah tangannya, lalu mengangkatnya ke hadapan Drake. Drake menatap Austin yang kini tengah tersenyum hangat padanya. Didetik kemudian, Drake pun menyunggingkan senyum yang teramat tipis dan membalas kepalan Austin, layaknya tos ala pria.
Tidak lama terdengar seruan seseorang dari luar ruangan Drake.
“Drake, aku datang!” Julian langsung membuka pintu ruangan Drake, meski Drake belum mengizinkannya.
“Oh, sedang berkumpul ternyata,” ucap Julian dengan tidak berdosanya.
“Lain kali jika kau datang ke ruangan orang lain jangan asal masuk, Julian. Aku sudah peringatkan hal ini padamu,” ucap Austin.
“Ah, maafkan aku, tapi sepertinya Drake tidak pernah masalah soal ini. Bukan begitu?” Julian meminta persetujuan Drake, tapi sayangnya harapan itu hanyalah sebuah harapan.
“Sayangnya ucapan Austin benar,” ucap Drake.
“Ck, baiklah. Maafkan aku, Drake,” ucap Julian yang membuat kedua pria itu sedikit terkekeh.
“Segeralah bersiap! Aku takut jika lukanya semakin dibiarkan akan menjadi infeksi,” ucap Austin.
“Hm, ayo Drake! Jangan biarkan bapak satu ini terus berkicau,” ajak Julian yang membuat Austin mengepalkan tangannya.
“Kau!” Austin menatap tajam Julian yang membuat dia membungkuk beberapa kali.
Melihat adegan itu Drake langsung berinisiatif mengajak Julian keluar, “Ayo kita pergi!”
Julian hanya mengangguk sebagai jawabannya. Austin yang melihat kelakuan Julian hanya bisa menggelengkan kepala seraya mengikuti mereka keluar dari ruangan Drake.
Akhirnya Drake dan Julian pun sampai di salah satu rumah sakit swasta di Manchester dengan Julian yang mengemudi mobil sedan hitam. Rumah sakit tersebut bekerja sama dengan Armstrong Group. Jadi, jika ada yang terluka seperti Drake saat ini, sudah menjadi hal yang wajar bagi pihak rumah sakit.
Setelah menjalani operasi kecil pada lengannya, Drake baru diizinkan pulang besok pagi.
“Aku sudah tidak apa-apa,” Drake bersikukuh pada Dokter Simon dan juga Julian.
“Kau masih perlu istirahat untuk memulihkan lenganmu,” ucap Dokter Simon.
“Aku bisa istirahat di kamarku,” jawab Drake.
“Hanya satu malam, Drake,” ucap dokter yang berusia sekitar empat puluh tahun.
Drake sudah bersiap untuk menjawab Dokter Simon, tapi suara Julian lebih dulu terdengar karena gemas melihat perdebatan alot ini.
“Untuk malam ini jangan keras kepala, Drake. Jika kau tidak ingin sendiri di sini, aku bisa menemanimu,” peringat Julian.
“Tapi aku baik-baik saja, Julian,” Drake masih tetap pada pendiriannya.
Dokter Simon sudah menyerah jika berhubungan dengan Drake. Ini bukan kali pertama dia menangani Drake saat terluka. Jadi, dia mempersilahkan Julian untuk menghadapi kekeras-kepalaan temannya.
Julian langsung menyambungkan earpiece-nya untuk menghubungi Austin. Tidak membutuhkan waktu lama, karena Austin sudah bersiap tentang ini.
“Sepertinya pria keras kepala ini membutuhkan perintah, Austin.”
Mendengar ucapan Julian, seketika Drake memberhentikan pergerakannya yang hendak turun dari brangkar.
“Baru saja aku mengatakan hal ini, pria keras kepala ini langsung patuh,” ucap Julian lagi.
“…”
“Baiklah,” ucap Julian di akhir percakapannya dengan Austin.
Julian pun langsung beralih pada Drake yang kini tengah merebahkan tubuhnya di atas brangkar. Dia terkekeh melihat Drake begitu patuh dalam diamnya. Dokter Simon hanya menggelengkan kepala melihat sikap Drake yang menurutnya luar biasa membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu gemas. Setelah dirasa aman, Dokter Simon pun pamit keluar ruangan itu bersama salah satu perawatnya.
Julian mengambil duduk di kursi yang sudah tersedia di sisi brangkar. Pria beriris coklat gelap itu mulai menyandarkan tubuhnya dengan nyaman, dan mulai memejamkan matanya karena dia merasa cukup lelah setelah menghadapi hari yang cukup padat baginya. Namun, dia tidak benar-benar tertidur.
“Kau bisa kembali jika kau mau,” Drake menatap langit-langit ruangan itu yang bercat putih dengan lampu temaram.
“Berhentilah untuk bersikap seperti itu! Nyatanya kau butuh seorang teman untuk membantumu,” jelas Julian yang tetap memejamkan matanya.
“Aku hanya tidak ingin memberimu beban,” ucapan Drake begitu menggelitik telinga Julian yang membuat dia dengan terpaksa membuka matanya.
“Terkadang kau harus menyulitkan orang lain. Jangan hanya kau yang selalu disulitkan. Dan ingat! Aku sudah terbiasa menanggung beban seberat apa pun. Apalagi hanya untuk menemanimu yang menurutku tidak ada apa-apanya,” Julian mengerti ke mana arah pembicaraan yang Drake maksud, “Aku tahu kau merasa sedikit canggung padaku, tapi itu terserah kau. Kau bisa menganggap keberadaan kita di sini adalah tugas yang harus selesai. Aku rasa pemikiran itu lebih baik untukmu.”
Julian pun mulai memejamkan lagi matanya dan membiarkan Drake istirahat, meski dia tahu pria keras kepala itu masih saja terjaga. Drake dan Julian pernah berseteru saat menjalankan tugas bersama. Hingga cukup membuat keduanya bersi tegang. Walaupun hari itu sudah berlalu, tapi hal itu cukup membuat Drake waspada pada Julian.
“Maaf untuk itu, dan terima kasih atas bantuannya,” ucap Drake tiba-tiba saat keadaan tengah hening melebihi pemakaman.
“Tidak masalah. Aku hampir melupakan kejadian itu,” Julian menjeda ucapannya sejenak, “Namanya di dunia pekerjaan, apalagi tugas yang kita emban tidaklah mudah. Itu menjadi hal yang lumrah jika ada pendapat yang berbeda. Ingin menjadi yang terbaik di mata pemimpin kita, itu juga sudah menjadi hal yang terlalu biasa. Hanya saja kau harus ingat, terkadang yang menurut kau lawan ternyata kawan, dan yang menurut kau kawan ternyata lawan. Kau harus bisa menelaah hal ini dalam fokusmu.”
“Ya, kau benar. Yang perlu kita lakukan adalah menyelesaikan tugas dengan sangat baik,” ucap Drake.
Julian bangun dari posisi nyamannya. Dia pun mengangkat salah satu tangannya yang dia kepal ke hadapan Drake, yang langsung Drake sambut dengan suka cita.
“Istirahatlah! Mataku sudah sangat lelah sekarang,” ucap Julian.
Mendengar hal itu Drake tiba-tiba berinisiatif menawarkan sambil melirik bagian brangkar di sampingnya yang terlihat kosong, “Apa kau ingin tidur di sini bersamaku?”
“Maaf, Drake. Aku lebih suka wanita,” ucapan Julian sukses mencairkan suasana yang sudah tidak mengenakan itu.
“Sialan kau!” Drake pun mengepalkan tangannya yang di mana luka itu berada, “Akh!”
Julian hanya terkekeh sambil mulai memejamkan matanya kembali, dan Drake pun mulai terlelap dalam tidurnya.