Ancaman Hampa bukan gertakan.
Tiga hari kemudian, Dimas menghilang.
Reno tahu saat sahabatnya tidak membalas pesan sepanjang hari—hal yang tak pernah terjadi. Lalu sebuah pesan masuk ke ponsel Reno dari nomor tak dikenal: sebuah foto Dimas, terikat di kursi, di sebuah ruangan gelap. Di bawahnya hanya satu baris teks: "Gedung Naga Hitam. Tengah malam. Datang sebagai Reno, atau sebagai Bayangan. Pilihanmu. Tapi datang sendiri."
Tangan Reno gemetar memegang ponsel. Lampu apartemennya berkedip liar mengikuti gejolak emosinya, beberapa bohlam pecah. Ia memejamkan mata, memaksa dirinya tenang, persis seperti latihannya. Panik tidak akan menyelamatkan Dimas. Kepala dingin yang bisa.
Tapi di balik kepala dingin itu, hatinya hancur. Inilah mimpi buruk yang selalu ia takuti sejak ia memakai topeng. Inilah harga dari rahasia. Ia menyembunyikan kekuatannya untuk melindungi Dimas—dan justru karena itu, Dimas tidak pernah tahu bahaya yang mengintainya, tidak pernah bisa melindungi dirinya.
Reno duduk lama dalam gelap, menimbang. Ia tahu ini jebakan. Datang ke jantung kekuasaan Sindikat, sendirian, dengan Hampa menunggu—itu hampir pasti kematian. Setiap logika menyuruhnya mencari cara lain, bala bantuan, rencana.
Tapi tak ada bala bantuan. Tak ada siapa pun. Hanya ada dia.
Ia teringat kata-kata Dimas: "Kita cuma punya satu sama lain, Ren. Sejak dulu." Dan itu benar. Sejak orang tuanya tiada, Dimas adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Saudara yang dipilih, bukan yang ditakdirkan. Jika Reno kehilangan Dimas karena kekuatan ini, lalu apa gunanya kekuatan ini? Apa gunanya menyelamatkan kota jika ia tak bisa menyelamatkan satu orang yang paling berarti baginya?
Ia bangkit. Mengenakan jaketnya. Topengnya.
Sebelum berangkat, ia menulis sesuatu di buku catatannya—sebuah pesan, untuk berjaga-jaga. Lalu ia membuka laci tempat ia menyimpan wadah kaca kecil berisi residu senyawa biru yang ia selamatkan diam-diam dari lab di malam ledakan itu—residu yang sama yang sudah berminggu-minggu ia pelajari di gudang tua. Dari residu itu, beberapa malam terakhir, ia merakit sebuah alat kecil: sebuah inti yang, jika ia hitung benar, bisa melepaskan dan memperkuat lonjakan energinya sendiri sekali saja. Ia memasukkannya ke kantong jaket. Ia tak tahu apakah alat itu akan bekerja. Tapi malam ini, ia mungkin butuh kartu terakhir.
Di perjalanan menuju gedung Naga Hitam, melintasi kota yang tidur dalam ketakutannya, Reno merenung. Selama ini ia bertarung untuk orang-orang asing. Untuk gadis di bawah jembatan, untuk pedagang di pasar, untuk rakyat yang bahkan tak tahu wajahnya. Ia melakukannya tanpa ragu. Tapi malam ini berbeda. Malam ini ia bertarung untuk Dimas. Dan untuk pertama kalinya, ia siap melepaskan apa pun—bahkan rahasianya, bahkan nyawanya—demi satu orang.
Mungkin itulah arti sebenarnya dari kekuatan. Bukan seberapa banyak yang bisa kau hancurkan. Tapi seberapa banyak yang rela kau korbankan.
Gedung Naga Hitam menjulang di hadapannya, hitam dan dingin, jantung dari semua ketakutan di Kota Wirantara. Lampu-lampunya yang sedikit menyala seperti mata predator. Di suatu tempat di dalam sana, Dimas menunggu. Dan Hampa menunggu. Dan mungkin, di balik bayang-bayang, Tuan Garda sendiri menunggu untuk akhirnya melihat siapa Bayangan sebenarnya.
Reno berdiri di seberang jalan, menatap gedung itu, energi biru berdenyut pelan di bawah kulitnya. Ia menarik napas panjang, menenangkan badai di dalam dadanya.
"Tahan, Dim," bisiknya. "Aku datang."
Lalu ia melangkah ke dalam cahaya lampu jalan—Bayangan yang siap mempertaruhkan segalanya—dan berjalan menuju sarang sang naga.