Bagian dalam gedung Naga Hitam dingin dan senyap, seperti makam yang menunggu penghuninya.
Reno menerobos lobi, melumpuhkan penjaga yang menghadang dengan sengatan terkendali. Ia naik melalui tangga darurat, mengikuti denyut energi yang ia rasakan dari atas—getaran ungu yang kini sudah ia kenali. Hampa. Sahabat-musuhnya. Cermin retaknya.
Lantai teratas terbuka menjadi ruangan luas dengan dinding kaca yang menampilkan seluruh Kota Wirantara di bawah—lautan lampu, jutaan jiwa yang hidup dalam ketakutan. Di tengah ruangan, Dimas terikat di kursi, mulutnya dibekap, matanya melebar ketika melihat sosok bertopeng masuk. Ia tidak mengenali Reno. Bagi Dimas, ini hanya Bayangan yang misterius.
Dan di hadapan Dimas, berdiri Hampa.
"Kau datang," kata Hampa, suaranya bergema. "Aku hampir kecewa kalau kau tidak. Itu akan membuktikan kau tidak sebaik yang kau kira."
"Lepaskan dia," kata Reno. "Urusanmu denganku."
"Oh, urusanku denganmu jauh lebih dalam dari yang kau tahu." Hampa berjalan memutari Dimas perlahan. "Tapi pertama, aku ingin kau mengerti sesuatu. Aku tidak menculik temanmu karena dia umpan." Topeng putih itu menatap Reno. "Aku menculiknya karena dia tahu sesuatu. Tentang malam ledakan itu. Tentang senyawa biru. Tentang siapa yang merancang seluruh eksperimen."
Reno membeku. "Apa maksudmu?"
Hampa mengangkat tangan, dan layar-layar di dinding ruangan menyala, menampilkan dokumen, rekaman, data. "Ledakan di lab itu bukan kecelakaan, Bayangan. Itu dirancang. Sindikat mendanai proyek senyawa itu diam-diam. Mereka tidak ingin energi. Mereka ingin senjata. Mereka ingin menciptakan manusia berkekuatan yang bisa mereka kendalikan." Ia mengangkat tangannya yang berkilau ungu. "Aku adalah keberhasilan mereka—aku staf divisi energi yang mereka pilih, di sayap timur gedung itu, hanya beberapa puluh meter dari labmu malam itu. Kau..." Topeng itu seakan tersenyum. "Kau adalah kecelakaan. Variabel yang tidak mereka rencanakan."
Pikiran Reno berputar. Penghapusan CCTV. Perusahaan yang menutup mulut. Jendela divisi energi yang menyala di seberang malam itu. Orang-orang yang ikut dirawat lalu datanya ditutup. Semua masuk akal sekarang. Ledakan yang mengubahnya bukan kemalangan—itu bagian dari rencana yang lebih besar dan lebih gelap.
"Dan Dimas?" tanya Reno, suaranya gemetar.
"Sahabatmu menemukan dokumennya. Dia terlalu pintar untuk kebaikannya sendiri. Dia sudah tahu kebenaran sebelum aku menyentuhnya." Hampa mendekat ke Dimas. "Pertanyaannya, Bayangan—apa kau sanggup melindunginya, sekarang setelah kau tahu seluruh kota berdiri di belakangku?"
Saat itulah lampu-lampu ruangan menyala penuh, dan dari bayang-bayang muncul sosok yang selama ini hanya berupa suara. Tuan Garda. Pria berbadan tegap dengan rambut kelabu dan mata setajam pisau, mengenakan jas hitam sempurna. Di belakangnya, puluhan anak buah bersenjata mengisi ruangan.
"Akhirnya," kata Tuan Garda dengan senyum dingin, menatap Reno. "Sang Bayangan yang membuat kotaku gelisah. Aku sudah menunggu lama untuk ini." Ia mengangkat tangan. "Buka topengmu. Aku ingin lihat wajah orang yang mengira ia bisa melawan seluruh tatanan kota ini."
Reno menatap Dimas. Menatap Hampa. Menatap puluhan senjata yang teracung padanya. Ia kalah jumlah, dikepung, dengan musuh sekuat dirinya berdiri di antaranya dan sahabatnya. Setiap logika berkata ini akhir.
Tapi tangan Reno menyelinap ke kantong jaketnya, menyentuh alat kecil yang ia rakit dari residu senyawa biru—kartu terakhirnya. Energi biru mulai berdenyut di seluruh tubuhnya, semakin terang, semakin kuat, sampai seluruh ruangan dibanjiri cahayanya. Bohlam-bohlam mulai retak. Layar-layar berkedip. Bahkan Hampa mundur selangkah.
Reno mengangkat kepalanya, menatap Tuan Garda lurus melalui lensa topengnya.
"Kau ingin lihat wajahku?" katanya, suaranya bergema di atas dengung energi yang membangun. Jarinya menekan tombol alat di kantongnya, dan inti senyawa biru itu menyala, melipatgandakan arus yang mengalir dalam tubuhnya. Seluruh gedung Naga Hitam tiba-tiba bergetar, listriknya berkedip liar saat Reno menarik daya dari setiap kabel di bangunan itu. "Baiklah. Tapi setelah malam ini, bukan aku yang akan bersembunyi dalam bayangan."
Energi biru dan ungu mulai memenuhi ruangan saat dua manusia berkekuatan petir bersiap untuk benturan yang akan mengguncang seluruh kota. Dimas menatap ngeri. Tuan Garda menyeringai. Dan di luar dinding kaca, Kota Wirantara berkedip—jutaan lampu padam serentak, seakan kota itu sendiri menahan napas.
Lalu cahaya meledak.
(Bersambung...)