Cahaya itu menelan segalanya.
Inti senyawa biru di tangan Reno melepaskan arus yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—bukan aliran, tapi banjir. Seluruh listrik gedung Naga Hitam tersedot ke dalam tubuhnya dalam sepersekian detik, dan ketika ia tak sanggup menampung lagi, ia melepaskannya. Gelombang biru meledak dari pusat tubuhnya ke segala arah, menghantam dinding kaca, melemparkan anak buah Sindikat seperti boneka kain.
Kaca setinggi tiga meter retak, lalu pecah berhamburan ke luar, menghujani jalanan jauh di bawah. Angin malam menyerbu masuk. Bohlam-bohlam meledak satu per satu. Layar-layar di dinding padam dengan letupan kecil. Dan di seluruh Kota Wirantara, lampu-lampu lenyap serentak, menjadikan kota itu lautan hitam yang menahan napas.
Reno terhuyung. Energinya melonjak terlalu jauh, terlalu cepat. Ia merasakan kulitnya panas dari dalam, seakan tubuhnya sendiri akan terbakar oleh kekuatan yang ia bebaskan. Tapi ia tak punya waktu untuk roboh.
"Dimas," desisnya.
Ia melesat ke arah sahabatnya yang masih terikat di kursi, tubuh Dimas terlempar miring oleh ledakan. Reno menyentuh tali di pergelangan tangan Dimas dan mengalirkan sengatan tipis yang membakar simpulnya. Dimas terkulai, pingsan, kepalanya terkena pecahan.
"Bangun. Ayo, bangun—" Reno menariknya ke bahu.
Di tengah kepulan asap dan debu, Reno mendengar suara Tuan Garda, parau tapi tenang mengerikan. "Tahan dia! Jangan biarkan dia keluar!"
Sosok-sosok bangkit dari kekacauan. Reno melihat kilau merah-keunguan menyala di seberang ruangan—Hampa, terhuyung tapi berdiri, energinya pulih lebih cepat dari yang manusia biasa bisa. Topeng putih itu menatap Reno melalui debu.
"Kau membakar dirimu sendiri," kata Hampa, suaranya nyaris terdengar geli. "Aku bisa merasakannya dari sini. Kau tak akan sampai ke pintu."
Reno tak menjawab. Ia menarik daya dari satu-satunya sumber yang tersisa—panel cadangan di sudut yang masih berkedip lemah—dan menggunakan sisa kekuatannya untuk melompat. Ledakan dorong dari kakinya melontarkannya melewati kerumunan anak buah yang baru bangkit, membawa Dimas di punggungnya, menembus pintu tangga darurat yang terbuka.
Sebuah pukulan energi ungu menghantam dinding tepat di samping kepalanya. Beton pecah. Reno tak menoleh. Ia menuruni tangga dalam kegelapan total, dua anak tangga sekali lompat, tubuh Dimas berat di bahunya, paru-parunya membara.
"Kelana!" gema suara Garda dari atas. "Tutup semua pintu keluar!"
Tapi gedung itu padam. Sistem keamanan elektrik yang biasanya mengunci setiap lantai kini mati, ironisnya, karena Reno sendiri yang mematikannya. Pintu-pintu baja yang seharusnya mengatup tetap terbuka. Untuk sekali ini, kegelapan yang ia ciptakan menjadi jalan keluarnya.
Lima belas lantai. Dua puluh. Kakinya nyaris tak terasa. Setiap kali ia mengisi diri dari kabel di dinding, yang ia dapat hanya percikan—gedung itu sekarat sama seperti dirinya. Ketika ia mencapai lobi, anak buah di sana masih kebingungan dalam gelap, meraba-raba dengan senter ponsel. Reno menyelinap di antara mereka seperti hantu, melumpuhkan dua yang menghadang dengan sentuhan terakhir yang nyaris menguras habis dirinya.
Lalu udara malam. Jalanan. Bebas.
Ia berlari menyusuri gang sempit di belakang gedung, menjauh dari deru langkah yang mulai mengejar. Kota gelap gulita membentang di sekelilingnya, hanya diterangi bulan dan lampu mobil sesekali yang panik. Untuk pertama kalinya, kegelapan Wirantara terasa seperti perlindungan, bukan ancaman.
Beberapa blok jauhnya, ketika ia yakin tak ada yang mengikuti, kaki Reno akhirnya menyerah. Ia terjatuh berlutut di balik tumpukan peti pasar yang tutup, Dimas terbaring di sampingnya. Napasnya tersengal. Garis-garis cahaya di bawah kulitnya, yang biasanya berdenyut biru terang, kini hanya berkedip redup seperti bara yang nyaris mati.
Ia menempelkan dua jari ke leher Dimas. Denyut. Lemah, tapi ada. Hidup.
Reno menundukkan kepala, dadanya naik turun. Inti senyawa biru sudah habis—lebur, hangus, tak berguna lagi di kantongnya. Kartu terakhirnya terbakar. Tapi Dimas selamat. Tuan Garda lolos. Hampa lolos. Dan ia, Bayangan yang katanya melindungi kota, kini hanya seonggok tubuh kelelahan di balik peti sayuran, terlalu lemah bahkan untuk berdiri.
Di kejauhan, sirene mulai meraung menembus kota yang padam. Lampu darurat berkedip di beberapa gedung. Kota Wirantara perlahan menyalakan dirinya kembali, satu jendela demi satu jendela, seperti makhluk yang bangun dari pingsan.
Reno menatap tangannya yang gemetar, cahaya birunya yang nyaris habis.
"Belum selesai," bisiknya pada gelap, suaranya hampir tak terdengar. "Tapi malam ini... cukup."
Lalu ia mengangkat Dimas sekali lagi, dan dengan langkah terseret, menghilang ke arah satu-satunya tempat yang aman: gudang tua di pinggir kota.