Gudang tua itu menyambut mereka dengan bau besi berkarat dan debu yang sudah Reno kenal seperti rumahnya sendiri.
Ia membaringkan Dimas di atas tumpukan terpal di sudut, lalu menyalakan satu lampu kerja yang ia hubungkan ke aki cadangan—satu-satunya cahaya di seluruh kota gelap itu, mungkin. Tangannya masih gemetar saat ia membersihkan luka di pelipis Dimas dengan kain dan air seadanya. Sepanjang malam ia berjaga, terlalu lelah untuk tidur, terlalu cemas untuk diam.
Menjelang pagi, Dimas mengerang. Matanya terbuka perlahan, bingung, lalu melebar dalam panik.
"Tenang. Kamu aman." Reno menahan bahunya. Ia sudah melepas topengnya berjam-jam lalu—tak ada gunanya, tak ada tenaga untuk memakainya, dan tak ada lagi yang ingin ia sembunyikan dari satu orang ini.
Dimas menatap wajahnya. Sekali. Dua kali. Lalu ekspresinya berubah, dari lega menjadi kebingungan, menjadi sesuatu yang Reno takut melihatnya: pengkhianatan.
"Ren?" suaranya serak. Matanya beralih ke jaket hitam dengan lambang busur petir yang tergeletak di samping Reno, ke topeng serat karbon di atas peti. Lalu kembali ke wajah sahabatnya. "Kamu... kamu Bayangan?"
Reno tidak menjawab. Diam itu sudah jawaban.
Dimas mendorong tubuhnya menjauh, meringis menahan sakit di kepala. "Sejak kapan?" Suaranya naik. "Sejak ledakan itu? Ledakan yang nyaris membunuh kita berdua? Kamu punya... kamu bisa... selama ini?" Ia tertawa, tapi tawa yang pahit, nyaris putus asa. "Aku tanya kamu berkali-kali, Ren. Aku tanya kenapa kamu pulang tengah malam, kenapa badanmu memar, kenapa tanganmu terbakar. Dan kamu bohong. Tiap kali. Ke mukaku."
"Aku melindungimu," kata Reno pelan.
"Melindungiku?" Dimas memukul terpal di sampingnya. "Aku diculik, Ren! Aku diikat di kursi di puncak gedung Naga Hitam! Aku hampir mati! Itu yang kamu sebut melindungi?"
Kata-kata itu menghantam Reno lebih keras dari pukulan Hampa mana pun. Karena Dimas benar. Tembok yang ia bangun untuk melindungi sahabatnya justru membuat Dimas buta pada bahaya yang mengintainya. Rahasia itu tak pernah jadi perisai bagi Dimas. Hanya bagi Reno.
"Kamu benar," kata Reno, dan suaranya pecah. "Aku salah. Aku pikir kalau kamu nggak tahu, kamu aman. Tapi aku cuma... aku cuma takut, Dim. Takut kehilangan kamu. Kamu satu-satunya yang aku punya. Kalau Sindikat tahu kamu dekat denganku, kalau Hampa tahu—" Ia berhenti, menarik napas. "Mereka memang tahu. Dan itu terjadi karena aku nggak cukup hati-hati, bukan karena kamu tahu rahasiaku."
Hening panjang. Hanya dengung lampu kerja dan tetesan air dari atap bocor.
Dimas menundukkan kepala. Bahunya turun. Ketika ia berbicara lagi, kemarahan di suaranya sudah surut, digantikan sesuatu yang lebih lelah. "Kamu tahu aku nyaris gila waktu kamu menjauh? Aku pikir kamu sakit. Aku pikir kamu kena depresi setelah ledakan. Aku datang ke apartemenmu berkali-kali cuma buat mastiin kamu masih makan." Ia mengusap wajahnya. "Dan ternyata kamu di luar sana, melawan Sindikat, sendirian, tiap malam. Sendirian, Ren."
"Aku harus."
"Kenapa harus sendirian?" Dimas mengangkat kepalanya, matanya merah. "Itu yang aku nggak terima. Bukan kamu jadi Bayangan. Itu... itu sebenarnya luar biasa. Tapi kamu memutuskan menanggung semuanya sendiri, dan nggak ngasih aku kesempatan buat ada di sampingmu."
Reno menatap sahabatnya, dan untuk pertama kalinya sejak ledakan itu, sesuatu di dalam dadanya yang selama ini menegang—rahasia, kebohongan, kesepian—mulai mengendur. Bukan karena masalahnya selesai. Tapi karena ia tak lagi sendirian menanggungnya.
"Maaf," katanya. Hanya itu. Tapi ia mengucapkannya dengan seluruh hatinya.
Dimas menatapnya lama. Lalu, mengejutkan, ia tertawa kecil—lelah, basah oleh air mata yang tak ia akui. "Dasar bodoh. Insinyur paling pintar yang aku kenal, tapi paling bodoh soal percaya orang." Ia menyandarkan punggungnya ke dinding gudang. "Ceritakan. Semuanya. Dari awal. Dari ledakan itu. Aku mau tahu semua yang kamu sembunyikan dariku."
Dan di gudang tua itu, di bawah satu lampu kerja sementara kota di luar perlahan menyalakan dirinya kembali, Reno bercerita. Tentang garis cahaya di bawah kulitnya. Tentang latihan di gudang ini. Tentang aturan yang ia buat. Tentang Hampa, cermin retaknya. Tentang Tuan Garda dan kebenaran ledakan yang dirancang.
Dimas mendengarkan, kadang terbelalak, kadang mengumpat pelan. Dan ketika Reno selesai, langit di luar sudah mulai abu-abu. Pagi pertama setelah kota padam.
"Jadi," kata Dimas akhirnya, suaranya sudah tenang sekarang. "Kita lawan mereka. Bersama."
Reno menatapnya. "Dim, ini berbahaya. Kamu nggak punya kekuatan—"
"Kamu juga nggak punya otak yang bisa mikir jernih kalau lagi marah," potong Dimas. "Aku tahu, aku sudah lihat. Kamu butuh orang yang bisa mikir waktu kamu nggak bisa." Ia mengulurkan tangannya. "Aku nggak akan jadi petarung. Tapi aku jadi orang dalammu. Otaknya. Kamu petirnya, aku yang ngarahin. Deal?"
Reno menatap tangan yang terulur itu. Tangan sahabatnya. Saudara yang dipilih, bukan yang ditakdirkan.
Ia menjabatnya. "Deal."