Tiga hari berikutnya, gudang tua itu berubah.
Dimas, yang seumur hidup tak bisa diam jika otaknya menemukan masalah, mengubah sudut gudang menjadi semacam ruang kerja darurat. Ia membawa laptop tuanya, beberapa papan tulis bekas, dan kebiasaan menggambar diagram di mana saja ada ruang kosong. Reno yang terbiasa bekerja sendiri dalam senyap kini harus terbiasa dengan suara sahabatnya yang berpikir dengan lantang.
"Jadi begini," kata Dimas pada malam ketiga, menempelkan kertas-kertas ke dinding. "Kamu selama ini melawan Sindikat kayak orang main petak umpet. Gagalin perampokan di sini, hajar penagih di sana. Itu bagus buat moral rakyat, tapi nggak menyentuh akarnya. Tuan Garda nggak akan goyah cuma karena beberapa anak buahnya babak belur."
Reno bersandar di meja kerja, lengannya terlipat. Tubuhnya masih lelah—tiga hari belum cukup memulihkan apa yang ia bakar di gedung Naga Hitam—tapi otaknya tajam. "Lalu apa yang harus kita sentuh?"
"Kebenaran." Dimas mengetuk satu kertas. "Garda menguasai kota lewat ketakutan dan rahasia. Selama orang nggak tahu siapa dia sebenarnya, apa yang dia lakukan, dia nggak tersentuh. Tapi kalau kebenaran soal eksperimen senyawa itu bocor—kalau orang tahu Sindikat mendanai proyek yang mengorbankan nyawa pegawai buat bikin senjata hidup—itu bisa meruntuhkan dia. Bukan dari otot. Dari dalam."
Reno menegakkan tubuhnya. "Kamu tahu soal eksperimen itu. Hampa bilang kamu menemukan dokumennya. Itu sebabnya kamu diculik."
Wajah Dimas berubah serius. Ia duduk di peti, menatap tangannya sejenak sebelum bicara. "Beberapa minggu sebelum aku diculik, aku ditugaskan rapikan arsip lama divisi energi. Pekerjaan membosankan, scan dokumen tua biar diarsip digital. Tapi ada satu folder yang harusnya nggak ada di situ. Salah taruh, mungkin. Atau memang ada yang ceroboh." Ia menelan ludah. "Isinya proposal pendanaan. Proyek namanya 'Prometheus'. Tujuannya jelas-jelas tertulis: mengembangkan subjek manusia dengan kemampuan menghasilkan dan mengarahkan energi. Dan penyandang dananya bukan pemerintah, bukan investor resmi. Cuma kode. Tapi aku lacak kodenya, dan ujungnya..."
"Naga Hitam," Reno menyelesaikan.
Dimas mengangguk. "Aku copy beberapa halaman ke flashdisk. Aku mau lapor, tapi aku nggak tahu harus ke siapa. Polisi? Mereka dibeli. Atasan? Mereka mungkin bagian dari itu. Aku ragu beberapa hari. Dan di hari aku akhirnya memutuskan mau cari wartawan yang bisa dipercaya..." Ia mengangkat bahu dengan pahit. "Mereka datang ke apartemenku duluan."
"Flashdisknya?"
"Mereka ambil. Geledah seluruh kamarku. Hapus laptopku." Dimas menghela napas. "Tapi mereka nggak tahu satu hal."
Reno menatapnya. "Apa?"
Senyum tipis muncul di wajah Dimas, yang pertama sejak malam itu. "Aku ini paranoid, Ren. Kamu tahu itu. Aku nggak cuma simpan di flashdisk. Aku ingat. Beberapa bagian penting—nama proyek, kode penyandang dana, tanggal, beberapa nama yang disebut—aku hafal di luar kepala. Kebiasaan lama dari kita kerja di lab: jangan pernah percaya satu salinan."
Reno merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan: harapan yang punya bentuk. "Jadi kebenaran itu nggak hilang."
"Sebagian. Cukup buat jadi awal." Dimas berdiri, menempelkan kertas baru ke dinding tempat ia menulis dari ingatan: Proyek Prometheus. Naga Hitam. Beberapa nama. "Tapi ingatan bukan bukti, Ren. Nggak ada hakim yang akan terima 'aku hafal'. Kita butuh dokumen aslinya. Atau salinannya. Sesuatu yang fisik, yang bisa ditunjukkan ke orang yang tepat."
"Yang aslinya sudah disita Sindikat."
"Yang itu, ya. Tapi proposal sebesar itu nggak cuma ada satu salinan." Mata Dimas berkilat dengan logika yang khas. "Proyek resmi punya jejak. Pasti ada arsip di gedung riset, di sistem lama sebelum semuanya digital. Sebelum Sindikat sempat bersihkan semua."
Reno menatap nama yang tertulis di dinding. Prometheus. Manusia yang mencuri api dari para dewa, dan dihukum selamanya karenanya. Seseorang di Sindikat punya selera ironi yang gelap.
"Gedung Riset Adhicakra," kata Reno pelan. "Tempat semuanya bermula. Tempat aku berubah jadi ini."
"Tepat." Dimas menatapnya. "Dan kabar buruknya, sejak ledakan, gedung itu dijaga ketat. Bukan satpam biasa. Orang-orang Sindikat. Mereka tahu apa yang mereka sembunyikan di sana."
Reno mengambil topengnya dari atas peti, memutarnya pelan di tangannya. Untuk pertama kalinya, ia tak menatapnya sebagai beban kesepian. Ia menatapnya sebagai alat. Dan di sebelahnya, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tahu—yang berdiri di sisinya, bukan di balik kebohongan.
"Kalau begitu," kata Reno, "kita harus masuk ke tempat yang menciptakanku. Dan mencuri kembali kebenaran yang mereka kubur."
Dimas menyeringai, meski matanya cemas. "Sekarang kita ngomong. Tapi kita lakukan dengan benar, Ren. Dengan rencana. Bukan kamu lompat ke dalam api lagi." Ia menunjuk papan tulis. "Duduk. Kita susun ini. Langkah demi langkah."
Dan Reno duduk. Untuk pertama kalinya sejak ia memakai topeng, ia tak merencanakan sendirian.