Gedung Riset Adhicakra di malam hari tampak seperti monumen bagi kesalahan yang ingin dilupakan.
Reno mengamatinya dari atap gedung seberang, topeng menutupi wajahnya, jaket Bayangan menyatu dengan kegelapan. Tempat yang dulu menjadi keseharian biasa-biasa saja kini terasa asing dan bermusuhan. Lampu-lampu di sebagian besar lantai padam. Tapi tidak gelap sepenuhnya. Di lobi, dua sosok berjaga. Di pagar, dua lagi. Bukan satpam dengan seragam biru lusuh yang dulu ia sapa setiap pagi. Ini orang-orang dengan postur waspada, tangan tak jauh dari pinggang.
"Dua di lobi, dua di gerbang utara, kemungkinan dua lagi di belakang," suara Dimas berbisik di telinganya lewat earphone kecil—alat komunikasi rakitan Dimas, hasil tiga hari ia bongkar dua radio bekas. "Arsip lama ada di lantai dasar, sayap barat. Ruang B-12. Aku pernah ke sana waktu rapikan dokumen. Sebelum semuanya didigitalkan, semua proposal proyek diarsipkan fisik di sana."
"Kamu yakin proposal Prometheus masih ada?" Reno berbisik balik, matanya tak lepas dari penjaga.
"Nggak yakin," jawab Dimas jujur. "Tapi kalau Sindikat sebersih itu, mereka nggak akan repot jaga gedung ini ketat-ketat. Mereka jaga karena ada yang mereka takutkan ketahuan. Itu artinya ada sesuatu yang tertinggal."
Logika itu masuk akal. Reno menarik napas. "Aku masuk."
"Ingat rencananya. Jangan lewat depan. Jendela ventilasi sayap barat, lantai dasar, yang menghadap gang. Aku sudah matikan sensornya dari sini—untungnya sistem keamanan gedung ini tua dan aku tahu jalurnya. Tapi cuma sensor jendela itu. Yang lain masih aktif. Jangan menyimpang."
Reno melompat dari atap, ledakan kecil di kakinya melembutkan pendaratan di gang sempit di samping gedung. Ia bergerak dalam bayang, menghindari kerucut cahaya lampu jalan, sampai ke jendela ventilasi yang Dimas maksud. Sebuah sentuhan jari, sengatan tipis pada kait logam, dan jendela itu terbuka tanpa suara.
Bagian dalam gedung lembap dan berbau dokumen tua. Koridor sayap barat membentang gelap. Reno bergerak cepat dan senyap, melewati pintu-pintu berlabel angka. B-08. B-09. Ia menempelkan punggung ke dinding setiap kali mendengar langkah penjaga berpatroli di koridor utama.
"B-12 di ujung, kiri," bisik Dimas.
Pintu B-12 terkunci. Bukan gembok elektronik—itu mudah—tapi gembok logam tua yang berat. Reno mengalirkan listrik ke mekanismenya, memanaskan tumbler di dalam sampai melembek, lalu memutar paksa. Klik. Pintu terbuka.
Ruangan itu penuh rak besi tinggi, deretan map dan kotak arsip berdebu. Bertahun-tahun proyek perusahaan tersimpan di sini, dilupakan. Reno menyalakan senter kecil dan mulai menyusuri label di tepi kotak. Tahun. Divisi. Kode proyek.
"Cari kode P-7," kata Dimas. "Itu kode internal yang aku ingat dari proposal."
Reno menyusuri rak demi rak, jantungnya berdebar setiap kali mendengar suara dari koridor. P-3. P-5. P-6. Lalu—celah. Antara P-6 dan P-8, ada ruang kosong di rak. Debu di sana membentuk persegi panjang yang bersih, bekas kotak yang baru saja diangkat.
Perutnya mengencang. "Dim. Kotak P-7 hilang. Baru diambil. Debu di sekitarnya masih ada bekasnya."
Hening sejenak di earphone. "Sial," gumam Dimas. "Mereka sudah lebih dulu. Mereka bersihkan jejaknya."
Reno mengepalkan tangan. Sejauh ini, untuk apa? Datang ke tempat yang menciptakannya, mempertaruhkan segalanya, hanya untuk menemukan rak kosong. Ia menatap celah itu dengan kemarahan yang dingin—
Lalu sesuatu menarik perhatiannya. Di lantai, di bawah rak, terselip selembar kertas. Mungkin terjatuh saat kotak diangkat tergesa-gesa. Ia memungutnya. Sebuah lembar daftar isi—indeks kotak P-7. Dan di pojok bawah, sebuah catatan tulisan tangan: "Salinan rangkap dikirim ke arsip pusat / Dr. S. Wibawa, pengawas proyek."
"Dim," bisik Reno, jantungnya berdetak cepat. "Kotaknya diambil. Tapi mereka tinggalkan daftar isinya. Ada catatan—salinan rangkap dikirim ke seseorang. Dr. S. Wibawa. Pengawas proyek."
"Wibawa..." Dimas mengulang nama itu, suaranya berubah. "Ren, nama itu... aku pernah lihat di proposal. Dia salah satu ilmuwan utama. Kalau dia punya salinan sendiri—"
Sebuah suara memotong. Langkah kaki. Dekat. Lalu cahaya senter menyapu celah pintu B-12.
"Siapa di situ?" suara penjaga, tajam.
Reno melipat kertas itu, menyelipkannya ke dalam jaket, dan memadamkan senternya. Ia tak punya waktu untuk lebih banyak. Kebenaran lama mungkin hilang dari gedung ini—tapi ia kini punya benang baru. Sebuah nama.
Pintu B-12 terbuka lebar. Penjaga itu mengangkat senter, dan dalam sekejap cahayanya jatuh pada sosok bertopeng yang berdiri di antara rak.
"Bayangan—!"
Reno bergerak sebelum kata itu selesai.