Pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Setelah malam yang penuh gairah dan penyesalan, Alessia terbangun sendiri di tempat tidur besar yang terasa kosong. Aroma Dimitri masih tertinggal di seprai—parfum kayu dan bunga yang membuatnya merindukannya sekaligus membencinya. Ia bangun perlahan, melihat ke jendela. Matahari bersinar cerah, menerangi taman dengan warna-warna yang indah. Tapi di sudut taman, mawar hitamnya tetap tumbuh di tempat yang gelap, seperti dirinya yang terperangkap di antara cinta dan kebencian.
Ia berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri dengan air hangat. Setelah itu, ia memakai gaun sederhana yang ia temukan di lemari—gaun sutra berwarna biru tua yang terasa lembut di kulitnya. Ia merapikan rambut panjangnya, menatap dirinya di cermin. Wajahnya terlihat pucat dan lelah, tapi ada kilau aneh di matanya—kilau cinta yang terlarang.
Saat ia keluar dari kamar, Viktor sudah menunggu di depan pintu. Wajahnya ramah, seperti biasa.
"Selamat pagi, Nona Alessia," katanya, tersenyum. "Tuan Dimitri sudah memberi tahu saya untuk mendampingi Anda hari ini. Beliau ingin Anda mengetahui aturan di vila ini."
"Aturan?" tanyanya, mengingat kata-kata Dimitri semalam.
"Ya," kata Viktor. "Tuan ingin Anda aman dan nyaman selama tinggal di sini. Tapi ada beberapa aturan yang harus Anda ikuti."
Mereka berjalan menuju tangga, turun ke lantai bawah. Di ruang makan, meja sudah ditutupi dengan berbagai macam hidangan—roti, telur, buah, dan jus. Alessia duduk di meja, Viktor berdiri di sisinya.
"Pertama," kata Viktor, "Anda tidak boleh keluar dari vila tanpa izin Tuan Dimitri. Ini untuk keamanan Anda. Banyak orang di luar sana yang ingin menyakiti Anda."
Ia mengangguk, sudah menduga itu. "Baik."
"Kedua," lanjut Viktor, "Anda tidak boleh berbicara dengan siapa pun tentang apa yang Anda lihat di taman. Ini adalah rahasia yang harus Anda simpan untuk diri sendiri."
Ia mengangguk lagi, merasa sedikit takut. "Baik."
"Ketiga," kata Viktor, "Anda harus menghormati seluruh staf—pengawas, pelayan, dan semua yang bekerja di sini. Jangan membuat masalah atau mengganggu mereka."
Ia mengangguk lagi, bertanya-tanya apa lagi yang akan datang.
"Keempat," kata Viktor, sedikit ragu, "Anda harus selalu bersikap terbuka dengan Tuan Dimitri. Dia ingin tahu apa yang Anda pikirkan dan rasakan. Jangan menyembunyikan apa pun darinya."
Kali ini, ia terdiam. Bersikap terbuka dengan pria yang membunuh ayahnya? Itu tidak mungkin. Tapi ia tahu ia tidak punya pilihan.
"Baik," katanya, akhirnya.
Viktor tersenyum lega. "Itu saja aturannya, Nona Alessia. Jika Anda mengikuti aturan ini, Anda akan aman dan nyaman di vila ini. Tuan Dimitri akan menjaga Anda dengan baik."
Ia makan sarapannya dengan lambat, pikirannya melayang. Ia tidak bisa mempercayai semua yang Viktor katakan. Dunia Dimitri pasti lebih dari yang ia lihat.
Setelah sarapan, Viktor mengajaknya berkeliling vila. Ia menunjukkan ruang tamu, ruang makan, perpustakaan, dan kolam renang. Vila itu seperti istana—indah, mewah, tapi juga dingin dan kosong. Ia merasa seperti terperangkap di dalam sangkar emas.
"Tuan Dimitri ingin Anda merasa seperti di rumah di sini," kata Viktor, melihat ke arahnya. "Jika Anda ingin mengubah sesuatu—mendekorasi kamar, menambahkan furnitur, apa pun—beri tahu Tuan, dia akan melakukan apa pun untuk membuat Anda senang."
"Terima kasih," katanya, tapi hatinya masih terasa berat. Apa gunanya semua kemewahan ini jika ia tidak bebas?
Viktor membawanya ke ruang melukis di kamarnya. Di sana, kanvas kosong, kuas, dan cat sudah diatur dengan rapi. Ia menyentuh kanvas itu, merindukan kebebasan yang ia rasakan saat melukis di apartemennya sendiri. Di sini, ia merasa seperti melukis sesuatu yang palsu—seperti berpura-pura bahwa ia bahagia.
"Tuan Dimitri bilang вам очень нравятся цветы—Anda sangat suka akan bunga," kata Viktor, tersenyum. "Dia sudah memesan bunga segar untuk Anda setiap hari. Apa bunga favorit Anda?"
"Mawar hitam," katanya, tanpa berpikir.
Viktor terdiam sejenak, seolah-olah ia mengatakan sesuatu yang salah. "Mawar hitam?" katanya. "Tuan Dimitri tidak pernah menyebutnya."
"Tidak apa-apa," katanya, merasa sedikit malu. "Saya yang akan mengaturnya."
Viktor pamit undur diri, meninggalkannya sendirian di kamar. Ia berjalan ke jendela, termenung. Ia tahu aturan-aturan ini hanya permulaan. Dunia Dimitri penuh dengan rahasia dan bahaya—dan ia terjebak di tengahnya.
Sore harinya, Dimitri kembali ke vila. Ia langsung pergi ke kamar Alessia, wajahnya tampak lelah.
"Bagaimana hari ini?" tanyanya, melihat ke arahnya.
Ia mencoba tersenyum. "Baik," katanya. "Viktor sudah menunjukkan semuanya kepada saya."
Dimitri mendekat padanya, menyentuh pipinya. "Apakah kamu baik-baik saja, Alessia?" katanya. "Apakah kamu merasa aman di sini?"
Ia mengangguk, meski itu tidak benar. "Ya," katanya. "Aku merasa aman."
Dimitri mencium keningnya, menatapnya dengan mata yang dalam. "Aku senang mendengar itu," katanya. "Aku akan melakukan apa pun untuk melindungimu."
Ia merasa bersalah karena berbohong padanya. Tapi ia tidak bisa mengeluarkan semua yang ia rasakan—tidak bisa memberitahunya bahwa ia tidak bisa mempercayainya sepenuhnya.
"Aku melukis sesuatu," katanya, mengalihkan perhatian. "Mau lihat?"
Dimitri tersenyum, mengikuti dia ke ruang melukis. Ia melihat kanvas yang baru selesai—lukisan Dimitri yang berdiri di tengah taman, dikelilingi oleh mawar hitam.
"Ini indah, Alessia," katanya, matanya berbinar. "Kamu benar-benar memiliki bakat yang luar biasa."
Ia merasa senang mendengar pujiannya. "Terima kasih," katanya.
Dimitri mendekat padanya, memeluknya dari belakang. Ia bisa merasakan kehangatan tubuhnya, dan jantungnya berdebar kencang.
"Aku merindukanmu semalam," bisiknya di telinganya. "Aku tidak bisa tidur tanpa kamu."
Ia merasa tubuhnya gemetar mendengar kata-katanya. Ia juga merindukannya, meski ia tidak mau mengakuinya.
"Aku juga merindukanmu," bisiknya, akhirnya.
Dimitri membalikkan tubuhnya, menatapnya dengan mata yang penuh hasrat. Ia mendekat padanya, mencium bibirnya dengan lembut.
"Aku tahu ini sulit untukmu, Alessia," katanya, di sela ciuman. "Aku tahu kamu tidak bisa mempercayaiku sepenuhnya. Tapi aku janji, aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkan kepercayaanmu."
Ia menciumnya kembali, melupakan semua keraguan dan ketakutannya. Ia hanya ingin merasakan cintanya, meski itu terlarang.
Mereka berciuman lama, saling meresapi satu sama lain. Tangan Dimitri bergerak perlahan di atas tubuhnya, menyentuh setiap bagiannya dengan lembut. Ia merasa badannya menjadi panas, dan ia tidak bisa menahan diri lagi.
Dimitri mengangkatnya, membawanya ke tempat tidur. Ia meletakkannya perlahan di atas seprai, menatapnya dengan mata yang penuh cinta.
"Apakah kamu yakin?" bisiknya, ragu.
Ia mengangguk, menariknya lebih dekat. "Aku yakin," bisiknya.
Dimitri menurunkan dirinya ke atasnya, tubuhnya menutupi tubuhnya. Ia bisa merasakan kekuatan dan kelembutannya pada saat yang sama, dan ia merasa seperti ada api di dalamnya.
Mereka berciuman lagi, lebih dalam dan lebih intens. Tangan Dimitri membuka gaunnya perlahan, menyentuh kulitnya dengan lembut. Ia merasa seperti terbang, melupakan semua masalah dan kekhawatirannya.
Malam itu, mereka tidur bersama, saling mencintai dengan sepenuh hati. Ia tahu hubungan mereka terlarang, tapi ia tidak bisa menahannya. Ia mencintai Dimitri, meski ia adalah orang yang membunuh ayahnya.
Keesokan harinya, Alessia bangun dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih dekat dengan Dimitri, tapi ia juga merasa lebih bersalah. Ia tahu ia tidak bisa terus seperti ini—ia harus membuat keputusan.
Saat ia sedang berpikir, pintu kamarnya terbuka. Dimitri masuk, wajahnya tampak serius.
"Ada masalah," katanya, tanpa basa-basi. "Wolf Pack menyerang salah satu markas kita. Mereka ingin membalas dendam karena kita sudah menangkap pemimpin mereka."
Hatinya berdebar kencang mendengar kata-katanya. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya, khawatir.
"Aku baik-baik saja," katanya. "Tapi aku harus pergi. Aku harus mengurus ini."
Ia mendekat padanya, memegang tangannya. "Hati-hati," katanya. "Aku tidak mau kamu terluka."
Dimitri menciumnya, menatapnya dengan mata yang dalam. "Aku akan kembali secepatnya," katanya. "Jangan khawatir."
Ia keluar dari kamar, meninggalkannya sendirian. Ia merasa cemas, takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.
Ia berjalan ke jendela, melihat ke taman. Mawar hitamnya tumbuh kokoh di tempat yang gelap, tapi ia merasa seperti mereka sedang layu. Ia tahu ia harus melakukan sesuatu—ia tidak bisa hanya tinggal diam dan menunggu.
Ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, mencari informasi tentang Wolf Pack. Ia ingin tahu siapa mereka dan apa yang mereka inginkan.
Di perpustakaan, ia menemukan banyak buku tentang mafia dan organisasi kriminal. Ia membaca dengan tekun, mencatat semua informasi yang ia dapatkan.
Setelah beberapa jam, ia merasa lebih tahu tentang Wolf Pack. Mereka adalah organisasi yang kejam dan berbahaya, yang tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Ia tahu ia harus memperingatkan Dimitri. Ia harus memberitahunya semua yang ia ketahui.
Ia keluar dari perpustakaan, mencari Viktor. Ia menemukannya di ruang tamu, sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
"Viktor," katanya, mendekat padanya. "Aku harus berbicara dengan Dimitri. Ini penting."
Viktor melihat ke arahnya, wajahnya tampak terkejut. "Tuan Dimitri sedang sibuk, Nona Alessia," katanya. "Dia tidak bisa diganggu."
"Ini tentang Wolf Pack," katanya. "Aku tahu sesuatu yang bisa membantunya."
Viktor terdiam sejenak, seolah-olah sedang berpikir. "Baik," katanya, akhirnya. "Aku akan menghubunginya. Tapi jangan pergi ke mana-mana. Tetaplah di sini."
Ia mengangguk, menunggu dengan cemas. Beberapa menit kemudian, Viktor kembali, wajahnya tampak tegang.
"Tuan Dimitri ingin berbicara denganmu," katanya. "Ikut aku."
Mereka berjalan ke ruang kerja Dimitri, ruangan yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Di dalam ruangan, Dimitri sedang duduk di mejanya, wajahnya tampak lelah.
"Apa yang ingin kamu katakan, Alessia?" katanya, tanpa basa-basi.
Ia menarik napas dalam-dalam, menceritakan semua yang ia ketahui tentang Wolf Pack. Ia memberitahunya tentang pemimpin mereka, strategi mereka, dan kelemahan mereka.
Dimitri mendengarkan dengan seksama, tanpa menyela. Saat ia selesai berbicara, ia terdiam sejenak, seolah-olah sedang mencerna semua informasi yang ia berikan.
"Terima kasih, Alessia," katanya, akhirnya. "Informasi ini sangat berharga. Kamu sudah membantuku banyak."
Ia merasa lega mendengar kata-katanya. "Aku senang bisa membantu," katanya.
Dimitri berdiri, mendekat padanya. Ia memegang tangannya, menatapnya dengan mata yang dalam.
"Aku tahu ini sulit untukmu, Alessia," katanya. "Aku tahu kamu tidak bisa mempercayaiku sepenuhnya. Tapi aku janji, aku akan melakukan apa pun untuk melindungimu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Ia menciumnya, melupakan semua keraguan dan ketakutannya. Ia hanya ingin merasakan cintanya, meski itu terlarang.
Malam itu, Dimitri tidak kembali ke vila. Ia merasa cemas, tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan tentang dia, berharap ia baik-baik saja.
Saat ia sedang berbaring di tempat tidur, pintu kamarnya terbuka. Viktor masuk, wajahnya tampak pucat.
"Nona Alessia," katanya, dengan suara gemetar. "Ada berita buruk."
Hatinya berdebar kencang mendengar kata-katanya. "Apa yang terjadi?" tanyanya, takut.
"Tuan Dimitri..." kata Viktor, berhenti sejenak. "Dia diserang oleh Wolf Pack. Dia terluka parah."
Ia merasa seperti ada petir yang menyambar dirinya. "Tidak!" teriaknya, tidak percaya. "Ini tidak mungkin."
"Maaf, Nona Alessia," kata Viktor, dengan suara sedih. "Tapi itu benar. Tuan Dimitri sedang dirawat di rumah sakit. Keadaannya kritis."
Ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis.